NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pecundang di Bawah Langit

​​PLAK!

​Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Wang Dahu. Tubuh buncitnya terhuyung, lalu ambruk ke tanah.

​Karung kecil di pelukannya terlepas. Beras di dalamnya tumpah ruah, bercampur debu dan lumpur jalanan.

​"Dasar sampah! Kau pikir jalanan ini milik keluargamu, hah?!"

​Pria yang menamparnya mengenakan jubah biru berhias bordiran pedang di dada. Di usianya yang baru dua puluh tahun, gelombang energi spiritual berputar samar di sekeliling tubuhnya.

​Dialah Zhao Kui—murid luar Sekte Pedang Awan tingkat kedua Pengumpulan Qi.

​Sementara pemuda yang tersungkur di hadapannya hanyalah manusia biasa. Jangankan bertarung, merasakan energi spiritual saja ia tak mampu.

​Wang Dahu. Delapan belas tahun. Tubuh gemuk, perut buncit, dan pipi tembam yang membuatnya tampak kekanak-kanakan.

​Di dunia tempat kekuatan adalah segalanya, Wang Dahu hanyalah seekor semut yang siap diinjak kapan saja.

​"Maaf... aku tidak sengaja menghalangi jalanmu," gumam Dahu buru-buru bangkit. Ia tak berani menatap mata Zhao Kui. "Aku akan segera pergi... tolong jangan marah."

​Namun, bukannya memberi jalan, Zhao Kui justru menginjak karung beras di tanah.

​KRAK!

​Butiran beras hancur di bawah tapak sepatunya.

​Tubuh Dahu seketika membeku.

​Itu adalah beras yang ia beli dari upah tiga hari mengangkut barang. Beras yang rencananya akan ia bawakan untuk sang ayah, yang sejak kemarin hanya meneguk air bubur encer.

​"Mau pergi ke mana?" Zhao Kui menyeringai kejam. "Siapa yang mengizinkanmu pergi?"

​Dahu mengepalkan tangannya rapat-rapat.

​Pukul dia! Suara di hatinya menjerit. Hantam wajahnya!

​Namun, begitu matanya menangkap pijar cahaya spiritual yang berputar di jemari Zhao Kui, keberanian Dahu mendadak uap.

​Perbedaan mereka terlalu jauh. Zhao Kui sanggup menghancurkan batu kali dengan satu pukulan, sedangkan Dahu bahkan kerap terengah-engah hanya karena memikul karung beras.

​"Berikan aku satu alasan kenapa aku tak boleh mematahkan kakimu," ancam Zhao Kui dingin.

​Dahu menundukkan kepala makin dalam. "Aku... aku tidak punya alasan."

​Gelak tawa seketika meledak dari kerumunan orang yang menonton.

​"Hahaha! Lihat wajah penakutnya!"

​"Benar-benar pecundang! Bahkan tak berani menegakkan kepala!"

​"Sampah seperti itu untuk apa tetap hidup di dunia kultivasi?"

​Zhao Kui tertawa puas. "Benar juga. Untuk apa membuang waktu meladeni sampah sepertimu?"

​Tanpa aba-aba, ia mengayunkan kakinya.

​BUK!

​Tendangan keras mendarat tepat di perut Dahu. Tubuh gemuknya terguling di tanah basah.

​Rasa sakit menjalar hebat dari perut hingga dadanya, menyiksanya sampai sulit bernapas. Namun, Dahu tak mengaduh.

​Hal pertama yang ia lakukan justru merangkak menuju butiran beras yang berserakan. Dengan tangan gemetar, ia mencoba mengumpulkannya kembali.

​"Berhenti!"

​Hentak!

​Zhao Kui sengaja menginjak punggung tangan Dahu.

​Dahu menggigit bibirnya erat-erat hingga rasa asin darah terasa di lidah. "Jangan... tolong... beras ini untuk ayahku..."

​Zhao Kui mengangkat alisnya. "Ayahmu?"

​"Dia sudah tua... sejak kemarin belum makan makanan layak." Dahu mendongak, matanya merah menahan tangis dan amarah. "Tolong, biarkan aku membawanya pulang..."

​Suasana mendadak hening sejenak. Namun, hal itu justru membuat Zhao Kui tertawa makin keras.

​"Hahaha! Jadi kau mau memberi makan ayahmu dengan beras kotor ini?!"

​KRAK!

​Zhao Kui menyepak beras itu hingga berhamburan makin jauh ke dalam lumpur.

​"Kalau begitu, suruh ayahmu menjilat tanah! Siapa tahu dia bisa kenyang!"

​Tawa kerumunan kembali meledak.

​Dahu terdiam. Tangannya terhenti di udara. Ia tak lagi berusaha memunguti beras. Ia hanya duduk tertegun di atas tanah, menatap butiran-butiran putih yang kini bernoda lumpur hitam.

​Zhao Kui berlalu pergi bersama rombongannya. Bagi mereka, menindas Dahu hanyalah hiburan semata sebelum kembali ke sekte.

​Namun bagi Dahu, butiran beras yang hancur itu adalah peluh dan darahnya selama tiga hari.

​Ia menunduk. Air mata menetes tanpa suara, menyerap ke dalam tanah.

​Dunia kultivasi memang tidak pernah menyisakan tempat bagi mereka yang lemah.

​Di Benua Canglan, para kultivator sanggup terbang membelah awan, menghancurkan gunung, dan memperpanjang usia. Sekte-sekte besar menguasai wilayah, dan keluarga kultivator memiliki kekayaan tak terbatas. Bahkan raja di istana pun harus membungkuk hormat pada mereka.

​Namun bagi rakyat biasa tanpa bakat, keajaiban itu adalah kutukan. Mereka bekerja paling keras, tetapi tetap kelaparan. Mereka menunduk paling dalam, namun tetap diinjak-injak.

​Dahu telah menanggung penderitaan ini selama delapan belas tahun.

​Sejak kecil, ia dicap tidak berguna. Ketika anak-anak lain mulai merasakan aliran energi spiritual, tubuhnya tak merespons sama sekali. Ketika yang lain memasuki Ranah Penempaan Tubuh, ia gagal di latihan dasar. Seorang tabib bahkan pernah memvonis bahwa meridian tubuhnya terlalu rapuh untuk menampung energi.

​Sejak hari itu, harapannya runtuh.

​Ia sudah mencoba bekerja lebih keras. Ia berlatih lebih lama dari siapa pun. Ia bahkan pernah berlutut semalaman di depan kuil tua, memohon keajaiban.

​Namun langit tetap tuli. Bagi dunia, ia tetaplah Wang Dahu—si gemuk, bodoh, dan tak berguna.

​Satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya rendah hanyalah sang ayah.

​Senja mulai temaram ketika Dahu sampai di depan gubuk kayunya yang reyot di pinggiran desa. Atapnya bocor di sana-sini, dan jalannya dipenuhi semak belukar.

​Seorang pria paruh baya bertubuh bungkuk sedang duduk di pelataran sambil memperbaiki cangkul patah. Rambutnya sudah memutih, tangannya penuh kapalan tebal.

​Dialah Wang Shun.

​"Dahu, kau sudah pulang?" Wang Shun menyambutnya dengan senyum hangat. Namun senyum itu perlahan memudar saat melihat pakaian putranya yang kotor berlumur tanah dan tangannya yang memar.

​"Apa yang terjadi?"

​"Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya tersandung." Dahu buru-buru menyembunyikan tangannya di balik punggung.

​Namun Wang Shun bukan orang bodoh. Ia melihat mata putranya yang memerah dan karung kosong di genggamannya.

​"Kau... dirundung lagi?"

​Dahu menunduk, membisu.

​Wang Shun menghela napas berat. Ia tidak bertanya siapa pelakunya—bukan karena tak peduli, melainkan karena ia sadar betapa tidak berdayanya diri mereka. Pria tua seperti dirinya tak akan pernah bisa menuntut keadilan dari seorang kultivator.

​Wang Shun merangkul bahu putranya. "Masuklah. Ayah obati lukamu."

​Dengan kain basah, Wang Shun membersihkan luka di tangan Dahu dengan amat perlahan.

​Menatap rambut putih ayahnya, dada Dahu mendadak terasa sesak menahan nyeri.

​"Ayah..."

​"Hm?"

​"Ayah sudah makan?"

​Wang Shun tersenyum lembut. "Sudah. Ayah makan sebelum kau pulang tadi."

​Dahu melirik ke arah meja kayu. Di sana hanya ada satu mangkuk bekas air bubur encer dan sisa batangan sayur liar.

​Ayahnya berbohong lagi.

​Sejak ibunya meninggal, Wang Shun selalu memberikan porsi makanan terbaik untuk Dahu. Bahkan ketika tak ada beras tersisa, sang ayah selalu mengaku kenyang demi dirinya.

​"Ayah... maafkan aku," bisik Dahu pelan.

​Gerakan tangan Wang Shun terhenti. "Maaf untuk apa?"

​"Karena aku... tidak berguna." Air mata Dahu mulai menetes. "Aku sudah delapan belas tahun, tapi tidak bisa berkultivasi. Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, apalagi mencari uang untuk Ayah..."

​Suaranya bergetar hebat. "Kalau saja aku bukan anak Ayah... Ayah pasti tidak perlu hidup menderita seperti ini."

​PLAK!

​Wang Shun menampar pelan pipi Dahu.

​Dahu terkejut dan mendongak. Namun sebelum ia sempat berkata-kata, Wang Shun langsung menariknya ke dalam pelukan hangat.

​"Jangan pernah bicara seperti itu lagi!" suara pria tua itu gemetar menahan tangis. "Kau adalah putraku! Kau tidak perlu menjadi kultivator hebat hanya untuk menjadi anak yang baik!"

​Pertahanan Dahu hancur total. Ia menangis terisak-isak di dada ayahnya seperti anak kecil.

​Wang Shun mengelus punggung putranya lembut. "Maafkan Ayah, Dahu... Ayah yang terlalu lemah hingga tak sanggup melindungimu dari orang-orang itu..."

​Kalimat itu justru makin menyayat hati Dahu. Ia sama sekali tidak menyalahkan ayahnya. Justru karena tahu betapa keras sang ayah berjuang, Dahu kian membenci ketidakberdayaan dirinya sendiri.

​Malam itu, mereka berpura-pura kenyang di hadapan mangkuk bubur yang hampir kosong. Di luar gubuk, angin malam berembus dingin menusuk tulang.

​Keesokan harinya, Dahu membuat keputusan nekat. Keputusan yang selama ini hanya tersimpan rapat di dadanya.

​Ia berniat mengungkapkan perasaannya pada Liu Ruyan.

​Liu Ruyan adalah putri dari Keluarga Liu—keluarga kultivator terpandang di wilayah tersebut. Wajahnya jelita, bakatnya luar biasa, dan sudah mencapai tingkat ketiga Pengumpulan Qi di usia muda.

​Bagi Dahu, Liu Ruyan adalah setitik cahaya yang pernah menerangi hidupnya yang kelam.

​Dua tahun lalu, ketika Dahu terjatuh di pasar dan dihina orang-orang, Liu Ruyan pernah mengulurkan tangan dan membantunya berdiri. Hanya satu tindakan kecil. Namun bagi pemuda yang tak pernah dihargai siapa pun, kebaikan itu tertanam abadi di dadanya.

​Sejak hari itu, Dahu selalu mencari cara untuk melihatnya. Ia mengumpulkan buah-buahan liar, membantu pekerjaan berat di pasar, dan menabung sekeping demi sekeping uang receh selama bertahun-tahun demi membeli sebuah jepit rambut sederhana.

​Ia tahu dirinya tak sepadan. Namun jauh di lubuk hatinya, ada bisikan harapan kecil: mungkin jika ia tulus, wanita itu mau menerima hatinya.

​Pagi itu, Dahu berjalan menuju lapangan desa membawa kotak kayu kecil. Di sana, Liu Ruyan sedang dikelilingi oleh para pemuda kultivator.

​"Lihat siapa yang datang! Si babi gemuk desa kita!" seru salah seorang pemuda terkekeh.

​Langkah Dahu sempat terhenti. Jarinya menggenggam kotak kayu itu makin erat. Namun melihat sosok Liu Ruyan, ia memaksakan kakinya terus melangkah.

​"Nona Liu... aku... ada sesuatu yang ingin kusampaikan."

​Liu Ruyan menatapnya dengan dahi berkerut jijik. "Apa?"

​Dahu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. "Aku... aku menyukaimu!"

​Lapangan seketika hening.

​Detik berikutnya, tawa meledak riuh.

​"Hahaha! Dia bilang apa tadi?!"

​"Babi ini benar-benar tidak tahu diri!"

​Wajah Dahu memerah bakar. Namun dengan tangan gemetar, ia menyodorkan kotak di genggamannya. "Aku tahu aku bukan kultivator... keluargaku juga miskin. Tapi aku sungguh-sungguh menyukaimu. Aku akan bekerja keras, suatu hari aku—"

​"Cukup!" potong Liu Ruyan dingin. Wajah cantiknya menyiratkan keangkuhan yang tajam. "Kau menyukaiku?"

​Dahu mengangguk pelan.

​Liu Ruyan memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu terkekeh sinis. "Apakah kau pernah bercermin?"

​Dahu membeku.

​"Kau gemuk, bodoh, dan tidak punya energi spiritual. Kau tidak punya ketampanan, bakat, ataupun status!" Liu Ruyan menunjuk dirinya sendiri. "Atas dasar apa aku harus menerima sampah sepertimu?"

​Dahu membuka mulutnya, tapi tenggorokannya mendadak tercekat.

​"Aku lebih sudi menikah dengan petani tua bangka daripada menjadi pasanganmu!"

​Tawa para pemuda di sekelilingnya makin membahana.

​Liu Ruyan merebut kotak kayu dari tangan Dahu, mengeluarkannya, lalu melempar jepit rambut sederhana itu ke tanah.

​KREK!

​Tumit sepatu indahnya menginjak jepit rambut itu hingga hancur berkeping-keping.

​Dahu menatap pecahan itu tanpa berkedip.

​Uang yang ia tabung selama berbulan-bulan... rasa lapar yang ia tahan... dan seluruh harapan kecilnya... hancur lebur di bawah tapak sepatu wanita itu.

​"Jangan pernah mendekatiku lagi," bisik Liu Ruyan tajam sebelum berbalik. "Kau membuatku jijik."

​Dahu tidak ingat bagaimana caranya ia berjalan pulang. Yang terngiang di telinganya hanyalah suara tawa yang memekakkan telinga dan tatapan jijik Liu Ruyan.

​Matahari mulai tenggelam ketika ia sampai di gubuknya.

​Wang Shun yang menunggu di depan pintu langsung menghampiri putranya. "Dahu, ada apa?"

​Dahu berusaha tersenyum, tapi bibirnya tak sanggup berbohong.

​BRUK!

​Ia jatuh berlutut di atas tanah.

​"Ayah... kenapa aku begitu tidak berguna?!" jerit Dahu emosional. "Aku sudah berusaha! Aku berlatih sampai tubuhku sakit, aku bekerja sampai tanganku berdarah! Kupikir jika aku jadi orang baik, akan ada yang menghargaiku!"

​Ia memukul tanah dengan kepalan tangannya hingga kulitnya terkelupas. "Tapi tidak ada yang peduli! Tak ada seorang pun!"

​Wang Shun ikut berlutut dan memeluk erat tubuh putranya.

​Di dalam pelukan sang ayah, Dahu menumpahkan seluruh air mata dan rasa sakit yang selama ini ia pendam sendiri. Ia menceritakan segalanya tentang hinaan Liu Ruyan dan perlakuan orang-orang.

​Wang Shun mendengarkan dalam diam, matanya sendiri meneteskan air mata tak berdaya.

​Setelah tangisan Dahu mereda, Wang Shun mengusap kepala putranya. "Dahu... pernahkah Ayah menceritakan legenda Danau Pengabul Keinginan?"

​Dahu menggeleng pelan.

​"Di sebelah utara desa, ada danau purba. Konon, siapa pun yang telah kehilangan seluruh harapannya dapat menyampaikan permintaan di sana." Wang Shun menatap kegelapan di luar. "Namun... legenda juga mengatakan ada iblis mengerikan yang disegel di dasarnya. Karena itulah Ayah selalu melarangmu mendekatinya."

​Wang Shun memegang bahu Dahu erat-erat. "Dahu, Ayah tidak tahu legenda itu benar atau tidak. Tapi Ayah tidak mau kehilanganmu."

​Dahu mengangguk lemah.

​Malam itu, Dahu berbaring menatap langit-langit gubuknya yang retak.

​Kata-kata Liu Ruyan terus bergema di kepalanya bagai kutukan.

​Kau tidak punya ketampanan, bakat, ataupun status.

​Kau membuatku jijik.

​Dahu memejamkan mata erat-erat. Tangannya mengepal hingga kukunya menancap di telapak tangan.

​Aku tidak mau hidup sebagai sampah lagi.

​Di luar, bulan purnama menggantung di atas langit malam.

​Jauh di utara desa, permukaan Danau Pengabul Keinginan yang telah tenang selama ratusan tahun mendadak bergolak hebat. Air danau beriak, seolah-olah sesuatu yang tertidur lelap di dasarnya baru saja terbangun... mendengar jeritan hati sang pemuda.

​Ketika nafas ayahnya teratur dalam tidur lelap, Wang Dahu bangkit secara perlahan.

​Ia melangkah keluar menuju kegelapan malam, menuju danau terlarang itu.

​Apa pun harganya... apa pun tumbalnya... ia bersumpah tak akan pernah menjadi pecundang lagi!

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!