Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setuju
Hanis menantikan reaksi Rino yang meledak marah dan mengata-ngatainya karena hendak menawarkan ide gila itu. Namun beberapa detik berlalu dan tidak ada reaksi apapun dari Rino. Menit berikutnya, Rino justru bangkit dari posisinya, terduduk di atas kasur.
“Nggak apa-apa, Han,” bisik Rino pada akhirnya.
Hanis tersentak hebat. Matanya membelalak tak percaya. “Mas... Mas Rino bilang apa?”
“Nggak apa-apa,” ulang Rino, kali ini suaranya sedikit lebih jelas.
“Nggak apa-apa gimana?”
“Ambil aja, Han. Kalau memang dia janji bakal sekolahin anak-anak kita,” ujar Rino.
“Mas…” Tangis Hanis pecah seketika. Ia tidak pernah merasa sehancur ini seumur hidupnya. Penolakan atau kemarahan Rino mungkin akan membuatnya merasa bersalah, tetapi persetujuan dari suaminya yang telah hancur ini justru membuat hatinya tersayat ribuan pedang tak kasat mata. Ia melihat bagaimana suaminya membunuh jiwanya sendiri demi memberikan anak-anak mereka hidup yang lebih baik.
Hanis merangkak maju, memeluk tubuh suaminya. “Maafin aku, Mas…”
Rino menggeleng kuat-kuat di dalam dekapan istrinya. Ia membalas pelukan Hanis dengan erat. Tidak ada kata-kata yang keluar. Keduanya menangis dalam diam hingga Seno menginterupsi.
“Bu… Ayah… Kapan Seno sekolahnya?” tagih si anak sulung lagi.
Pelukan keduanya terlepas perlahan. Hanis menyeka air matanya dengan punggung tangan secara asal.
“Sebentar lagi, Seno. Sebentar lagi, ibu janji.”
Rino diam. Hatinya sakit, tidak rela, tapi ia harus ikhlas, demi masa depan anak-anak mereka. Toh ia sendiri tidak mampu berbuat apa-apa.
“Kamu masih ingat rumahnya, Han?” tanya Rino sembari mengusap wajahnya kasar.
Hanis mengangguk. “Dia ngasih nomor ponsel.”
Perlahan Hanis bangkit, menuju ke lemari, membuka laci dan mengeluarkan lembaran notes kecil berisi nama dan nomor telepon Sean. Kertas yang pria itu berikan saat mereka bertemu bulan lalu.
Rino menerimanya. Membaca dan memasukkan nomor tersebut ke ponselnya. Berusaha menelpon.
Tidak ada jawaban.
“Orang kaya begitu biasanya nggak mau terima telepon dari nomor asing, Mas,” ucap Hanis, menerka kemungkinan yang masuk akal. Karena memang Hanis belum memberikan nomor Rino pada Sean untuk disimpan terlebih dahulu.
Rino mengangguk pelan. Ia berdiri dengan tertatih, seolah tubuhnya mendadak menua puluhan tahun dalam waktu beberapa menit. Ia berjalan menuju sudut ruangan, mengambil kemeja flanelnya yang paling bersih meski ujungnya sudah berserabut, lalu mengenakannya.
“Siap aja, Han. Kita kesana. Mandi dan pakai bajumu yang paling pantas,” titah Rino tanpa menoleh, tangannya sibuk mengancingkan kemeja dengan cepat. “Aku pinjam motor Mas Birin. Aku... aku sendiri yang akan mengantarmu kesana. Ke rumah pria itu.”
Jantung Hanis serasa berhenti berdetak sesaat. “Mas Rino mau mengantarku? Mas... Mas nggak perlu... Aku bisa jalan kaki atau naik angkot. Mas Rino di rumah saja jaga anak-anak. Aku nggak mau Mas sakit hati.”
Rino membalikkan badan, menatap Hanis dengan sorot mata yang penuh penderitaan namun tak terbantahkan. “Aku suami yang gagal, Han, tapi aku masih suamimu. Aku antar kamu. Aku yang serahkan kamu ke dia. Biar dia tahu, dari siapa dia ambil kamu. Biar aku lihat juga, seperti apa dia.”
Kata-kata itu meluncur begitu tajam dan mengiris hati. Hanis tak sanggup lagi membantah. Ia mengangguk pasrah. Berganti pakaian dan menyisir rambut panjangnya.
Dari pantulan cermin, Hanis melihat ketiga anak laki-lakinya yang tengah duduk melingkar di lantai semen rumah kontrakan mereka itu. Ketiganya tengah bercanda, tertawa.
Hanis memantapkan diri. Ia akan melakukannya. Demi anak-anak. Demi Seno, Dini, Dori dan Icha bisa bersekolah nantinya.
...****************...