Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
. ISTRI HANS YANG MEMAR
Anak remaja yang membuka pintu. Badannya tinggi, rambutnya cokelat muda, matanya berwarna hazel, dan kulitnya putih pucat.
"Iya, siapa ya? Dan cari siapa, Kak?" tanyanya dengan sopan.
_Apakah ini anaknya Hans?_ ucapku dalam hati.
"Apakah benar ini rumah milik Manajer Hans?" tanyaku.
"Mom...! Sebentar ya," anak itu memanggil ibunya.
Lalu anak itu masuk ke dalam. Aku menunggu di luar. Tidak lama, anak itu kembali dan menyuruhku masuk. Aku memperhatikan sekeliling rumah Hans, ada foto keluarga yang terpampang sangat besar. Mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis.
_Oh, anak cantik tadi anaknya Hans,_ ucapku dalam hati.
Tidak lama kemudian datang seorang wanita tinggi. Rambutnya cokelat muda, kulitnya putih kemerahan, dengan bola mata biru yang menyala. Dengan dress elegannya, berlian yang bergelantungan di leher, serta sepasang anting kecil yang menempel di daun telinganya. Membuatnya terlihat sangat cantik. Tapi kenapa ada tanda memar di lengan dan wajahnya?
_Apa mungkin ini ulah Hans?_ ucapku dalam hati.
"Silakan duduk," ucapnya dengan senyuman yang sangat ramah.
Akupun duduk, dan ada seorang wanita datang menghantarkan minuman. Mungkin dia ART di rumah Hans. Lalu istri Hans menyuruh putrinya masuk ke kamar, yang sedari tadi berada di ruang TV.
"Ada apa datang? Kamu Naya, kan? Kami tidak perlu menjelaskan semuanya. Aku sudah tahu kamu difitnah dan dari yang kulihat, kamu bukan wanita seperti itu yang rela menjual tubuhnya demi popularitas."
Aku diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku. _Bagaimana dia bisa tahu?_ ucapku dalam hati.
"Jika sudah tahu, berarti aku tidak perlu menjelaskan lagi maksud dan tujuanku datang ke rumah ini. Apakah kamu hanya diam saja melihat tingkah suamimu yang memfitnahku demi tidur dengan wanita lain?"
Lalu istri Hans tersenyum.
"Aku sudah terbiasa dengan semuanya. Jika tidak ada yang perlu disampaikan lagi, silakan pergi," ucapnya sambil menyodorkan tangan.
Dia mengusirku dan mengantarku sampai depan pagar. Kami bersalaman sambil menyelipkan kartu nama dan berbisik di telingaku.
"Jika ada yang ingin kau tanyakan tentang Hans, hubungi aku," ucap istri Hans.
Aku berjalan menuju jalan utama. Tempat tinggal Hans adalah klaster perumahan elit Tangong, di daerah kota Shanghai.
"Guk! Guk! Guk!" tiba-tiba ada anjing menghampiriku dan mengikutiku. Badannya pendek gempal, bulunya cokelat.
"Hussh... hussh... sana pergi, aku bukan pemilikmu," aku mengusir anjing itu.
Anjing itu terus mengikutiku sampai aku tiba di jalan utama dan memberhentikan taksi.
"Hussh! Hussh! Aku akan pergi, berhenti mengikutiku." Aku menatap mata anjing itu, seolah anjing itu ingin aku memilikinya dan menjadi tuannya. Akhirnya aku bawa anjing itu.
"Semoga kau benar-benar anjing liar tanpa pemilik. Aku tidak mau dianggap pencuri," gumamku.
Akhirnya aku masuk ke dalam taksi dengan membawa anjing itu. Mobil berjalan dan aku menuju tujuan, Taman Luosifen. Mobil pun berhenti, mengartikan bahwa sudah sampai.
Setibanya di Taman Luosifen, mataku berbinar terang bak matahari yang terbit di pagi hari, dengan semua jenis makanan yang aku suka dan aroma yang sangat lezat. Aku berjalan sambil cap cip cup, bingung mana dulu yang akan kumakan. Aku pergi ke penjual latiao, rasanya pedas manis, lalu ke kedai burger, kedai tanghulu, kedai mochi, dan kedai mooncake.
Dari makanan pedas manis dan makanan manis membuat dopaminku meningkat pesat.
"Uhuukk!" Aku tersedak.
"Dari tadi aku hanya makan tapi belum membeli minum," aku bicara sendiri.
Lalu aku pergi membeli cola-cola.
"Ek!" Setelah semua makanan dan minuman yang masuk ke mulutku, sendawa kecil tak tertahankan lolos.
Aku menengok ke bawah untuk melihat anjing yang kubawa tadi, tapi tidak ada. Aku celingak-celinguk.
"Kemana anjing gempal itu?" ucapku sambil mencarinya.
Anjing Naya berlari menuju pria berpakaian jas hitam. Wajahnya tampan, berbadan tinggi besar, berkulit cokelat eksotis, dan bola mata berwarna hazel.
"Hei, anjing milik siapa kamu? Apakah kamu tersasar?" ucap pria tampan itu.
Lalu pria itu menggendong anjing cokelat itu. Aku mencari anjing cokelat itu sambil berjalan, dan aku melihat ada pria asing menggendong anjing. Anjingnya persis dan sangat mirip dengan anjing yang aku bawa. Aku perhatikan, ternyata memang benar itu anjing gempal yang aku bawa.
Aku berteriak, "HEEEYYY! Kau, itu anjing miliku! Kau akan mencuri anjingku, kan?"
"A-a-aku..." gagapnya sambil memegang dadanya, "Mencuri anjingmu? Anjing ini milikmu? Hey, anjingmu yang menghampiriku, jangan asal menuduhku," ucap pria tampan itu.
"Mana ada maling ngaku," ucapku sambil merebut anjing yang sudah menjadi milikku.
Aku pergi meninggalkan pria itu. Pria itu hanya diam. Lalu aku berjalan menuju rumah.
Kreeekk... suara pintu rumah dibuka. Aku masuk dan berbaring di ruang tamu. Suasana rumah sangat hening, tidak ada Puri dan Alex, hanya ada suara detik jam yang terus mengelilingi angka.
Entah kenapa aku sangat kepikiran dengan istri Hans. Dia terlihat baik dan sepertinya hatinya lembut, tapi kenapa wajah dan lengannya penuh dengan memar? Apa itu ulah Hans? Aku terus kepikiran. Apa aku harus menolongnya atau aku bertanya kepadanya langsung jika itu ulah Hans?
Duh, kepalaku pusing memikirkannya. Aku teringat dia memberiku kartu nama. Aku membuka tas dan mengambil kartu nama istri Hans. Ternyata ada tulisan nomor telepon yang ditulis menggunakan pulpen. Apakah istri Hans bisa diajak kerja sama untuk memberi pelajaran kepada mafia seperti Hans? Apa aku jahat memanfaatkan penderitaan istri Hans jika memang benar semua tanda memar itu ulah Hans?
"Aarghh... semua ini membuatku sakit kepala!" Naya sambil mengacak rambutnya. Sementara anjing itu tidur di bawah sofa tempat aku berbaring. Aku belum memikirkan nama anjing cokelat ini. Aku beri nama dia Choco karena warnanya yang cokelat. Semoga Puri dan Alex tidak keberatan aku memelihara anjing di rumah ini. Dasar pria tadi, kelakuannya tidak sama dengan tampangnya, bisa-bisanya dia ingin mencuri Choco. Tapi kenapa wajahnya sangat tampan.
Bremmm... Tut! Tut! Suara klakson. Puri dan Alex pulang dari bekerja. Aku harus menyembunyikan Choco dulu. Aku takut Puri dan Alex akan marah jika aku tidak izin dulu. Aku membawa Choco ke ruangan kecil di samping kamar mandi seperti gudang.
"Choco, kamu diam di sini jangan keluar, jangan berisik jika aku tidak membukakan pintu." Kutup pintu agar Choco tidak keluar.
Kreeekk... suara pintu rumah. Puri dan Alex masuk ke dalam dan melepas atribut pekerjaannya.
"Hufttt..." Puri mengeluh sambil duduk.
"Kenapa kalian lesu?" tanyaku kepada mereka.
"Kami tidak bekerja di bagian yang sama lagi," jawab Alex.
"Lalu?" tanyaku.
"Aku dipindahkan di bagian entertainment pemberitaan," jawab Alex.
"Bagaimana kamu, Puri?" tanyaku.
"Aku tetap sebagai staf tapi di bagian humas," jawab Puri.
Aku pergi mengambilkan mereka minum dan menyuguhkan makanan yang kubeli tadi.
"Naya tunggu, kenapa makanan ini banyak sekali? Tidak mungkin kamu yang masak, kan?" tanya Puri.
Aku tersenyum.
"Iya, aku tadi pergi ke rumah Hans, dan sekalian mampir ke Taman Luosifen untuk membeli makanan," jawabku.
Alex yang mendengar menyemburkan air minum yang kusuguhkan.
"Kamu pergi ke rumah Hans?" tanya Alex.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Naya kamu sudah gila! Itu bahaya, Naya!" ucap Puri dengan ekspresi khawatir.
"Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir. Aku malah kasihan melihat istrinya Hans," jawabku.
"Kenapa dengan istri Hans?" tanya Alex dan Puri.
"Entahlah, wajahnya dan lengannya banyak sekali tanda memar. Mungkinkah itu ulah Hans?" ucapku.
Kami berbincang sambil makan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Puri yang selesai duluan lalu pergi membersihkan badan, dan terdengar suara Choco.
"Kalian mendengar suara anjing tidak?" tanya Puri.
"Anjing! Kamu jangan ngaco, Puri, sejak kapan di rumah kita ada anjing?" jawab Alex.
Aku hanya diam dan waswas takut Choco ketahuan. Setelah kami semua selesai membersihkan badan, aku dan Puri ke kamar, Alex pun di sofa ruang tamu. Semua lampu sudah dimatikan. Sebelum tidur aku mengecek Choco dan memberinya makan agar tidak berisik.
Tiba-tiba Puri berteriaaak...
*B E R S A M B U N G . . .*
*Catatan Penulis:* Ada yang tau kenapa Puri teriak tengah malam? Apa Choco ketahuan?! Atau ada yang lebih seram? Komen di bawah ya!