Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi hitam
Langkah kaki Fattah menuntun Elena menyusuri pelataran parkir universitas dengan perlindungan penuh—pria itu berjalan di sisi luar, memastikan Elena terlindung dari kerumunan lalu-lalang mahasiswa.
Tak jauh dari sana, terparkir sebuah mobil Mercedes-Benz convertible berwarna putih bersih dengan atap terbuka yang terlihat elegan dan kontras dengan suasana kampus.
Fattah membuka pintu penumpang depan dengan gerakan sigap namun lembut, memberikan gestur mempersilakan Elena masuk tanpa sedikit pun memaksakan interaksi verbal di tengah isakan tangis gadis itu yang mulai mereda.
Elena duduk di kursi kulit mobil tersebut, menarik napas dalam-dalam saat angin sore kampus menyapu wajahnya yang masih menyisakan jejak air mata.
Begitu Elena dipastikan duduk nyaman, Fattah berputar ke sisi pengemudi dan masuk ke dalam kabin.
Atap mobil terbuka itu membiarkan udara sore berhembus bebas, merayap masuk dan sedikit demi sedikit melonggarkan rasa sesak di dada Elena. Mesin Mercedes itu menderu halus, membawa mereka meluncur meninggalkan kawasan kampus menuju jalanan kota Medan.
Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang menenangkan. Fattah tidak melontarkan satu pun pertanyaan interogatif atau mencoba memaksa Elena berbicara. Pria itu paham betul, yang dibutuhkan Elena saat ini bukanlah nasihat, melainkan ruang aman untuk bernapas dan menetralkan batinnya yang sedang porak-poranda.
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, mobil mewah itu berbelok memasuki area sebuah restoran privat berkonsep outdoor yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan besar dan taman hijau yang asri. Suasana di tempat itu terasa jauh dari hiruk-pikuk kota—tenang, sejuk, dengan alunan musik akustik instrumen yang mengalir lembut di udara.
Fattah mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Elena dengan senyum tipis yang penuh pengertian.
"Kita sampai, Elena," ucap Fattah lembut, membuka pintu mobil dari sisi luar untuk membantu gadis itu keluar.
"Di sini tenang. Kamu bisa duduk, menatap pohon-pohon, atau menangis lagi kalau memang itu yang bikin dada kamu lega. Tidak ada yang akan mengganggu kita di sini."
Fattah membimbing Elena menuju salah satu meja kayu di sudut taman outdoor yang rindang, terlindung di bawah naungan pohon rindang yang membuat suasana terasa begitu privat dan sejuk.
Setelah memastikan Elena duduk dengan nyaman, Fattah memanggil waiter yang sigap menghampiri meja mereka. Dengan gestur yang sangat tenang dan berpengalaman, Fattah langsung membolak-balik menu sejenak.
"Secangkir black coffee tanpa gula dan seporsi fresh garden salad untuk saya," pesan Fattah singkat pada waiter tersebut.
Kemudian, pria itu mengalihkan pandangan penuh kelembutan ke arah Elena yang duduk di hadapannya. Fattah merapatkan kedua tangannya di atas meja, menatap Elena dengan sorot mata yang hangat dan sama sekali tidak terburu-buru.
"Kamu mau pesan apa, Elena?" tanya Fattah dengan nada suara yang sangat halus. "Di sini minuman hangat dan dessert-nya lumayan enak buat memulihkan energi. Atau kalau kamu cuma mau minum air putih atau teh hangat dulu, bilang saja, biar saya pesankan."
Elena menarik napas perlahan, mencoba merilekskan bahunya yang masih terasa tegang. Ia menatap menu sebentar sebelum akhirnya mengangkat wajah, membalas tatapan Fattah dengan senyuman tipis yang tampak sedikit melemah.
"Aku nggak begitu suka makanan atau minuman yang terlalu manis, Mas," jawab Elena dengan suara lembut yang masih menyisakan sedikit serak bekas tangisan tadi. "Jadi... aku cuma mau pesan segelas fresh milk hangat sama semangkuk sup ayam kampung kuah bening aja."
Fattah mengangguk paham. Ada binar pengertian di dalam sorot matanya yang dewasa menghargai pilihan sederhana Elena yang justru terkesan menenangkan dan nyaman untuk perut yang sedang tidak karuan.
Pria itu kemudian menoleh ke arah waiter yang masih berdiri mencatat pesanan.
"Tambah satu gelas fresh milk hangat dan satu mangkuk sup ayam kampung kuah bening. Tolong pastikan supnya disajikan selagi hangat, ya."
"Baik, Mas. Segera kami siapkan," jawab waiter itu ramah sebelum akhirnya beranjak meninggalkan meja mereka.
Sembari menunggu pesanan datang, suasana di bawah rindangnya pepohonan taman itu kembali dikuasai oleh keheningan yang menenangkan. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Elena.
Fattah menyandarkan punggungnya pada kursi, sengaja tidak melemparkan pertanyaan berat atau memaksakan percikan topik baru agar Elena bisa menikmati ruang kosong itu untuk menjernihkan pikirannya.
"Terima kasih ya, Mas Fattah," ucap Elena pelan, memecah sepi sambil menatap lurus ke arah cangkir kosong di depannya.
"Maksudnya... makasih udah bawa aku ke sini, dan maaf kalau tadi kamu jadi saksi kerecokan yang nggak penting."
Fattah tersenyum tipis, sorot matanya meneduh. "Kamu nggak perlu minta maaf untuk hal yang bukan salah kamu, Elena. Anggap saja ini jeda singkat buat melepaskan semua beban yang terlalu lama kamu simpan sendirian."
Fattah mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir Elena dengan kesabaran penuh. Pria itu tetap bergeming di kursinya, memberikan space yang cukup agar Elena tidak merasa terpojok atau tersudutkan di tengah kerapuhannya.
Di antara desir angin sore dan alunan musik instrumental restoran yang samar, Elena tiba-tiba menyunggingkan senyum hangat sebuah senyuman tipis yang justru sarat akan kepasrahan dan rasa lelah yang mendalam.
"Nathan itu sebenarnya pria yang baik banget, Mas..." bisik Elena pelan, menatap cangkir di hadapannya dengan sorot mata yang kosong namun hangat. "Aku nggak bisa sepenuhnya salahin dia kalau akhirnya dia milih pergi dan nemuin kebahagiaan lain. Mungkin... dia cuma udah lelah menghadapi sikap aku. Hubungan kami hancur dan berantakan kayak gini, bisa jadi memang karena aku yang nggak cukup baik buat dia."
Suara Elena terdengar begitu tenang, namun setiap kata yang diucapkannya dipenuhi rasa bersalah yang terus-menerus ia tumpuk di atas bahunya sendiri.
Mendengar penuturan itu, Fattah sempat tertegun sejenak. Ada denyut empati yang menyengat dadanya saat menyaksikan bagaimana gadis semandiri dan secerdas Elena bisa begitu tega menyudutkan dirinya sendiri demi merawat ingatan baik tentang seseorang yang telah menyakitinya.
Namun, Fattah tidak lantas memotong percakapan dengan nada menggurui. Pria S2 Teknik itu tidak buru-buru menyanggah, memarahi, atau memberi ceramah panjang lebar soal betapa jahatnya ucapan Nathan tadi.
Dengan gerakan yang teramat tenang, Fattah menyesap sedikit black coffee-nya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Elena dengan sorot mata yang teduh, matang, dan penuh validasi.
"Memvalidasi rasa sakit itu wajar, Elena," ucap Fattah dengan suara beratnya yang mengalun rendah dan hangat. "Nggak apa-apa kalau saat ini kamu merasa bersalah, atau kalau kamu masih mau melihat dia sebagai sosok yang baik. Itu artinya kamu punya hati yang sangat tulus dan besar buat memaafkan."
Fattah merapatkan jemarinya di atas meja, memberikan tatapan yang begitu menenangkan tanpa ada penghakiman sedikit pun.
"Tapi jangan lupa..." lanjut Fattah pelan, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati agar tidak terkesan menasehati. "Perasaan kamu, rasa sakit kamu, dan usaha kamu selama mempertahankan hubungan itu juga nyata. Kamu nggak perlu terus-menerus memikul seluruh beban kesalahan itu sendirian hanya untuk membenarkan cara dia meninggalkan kamu."
Kalimat singkat namun sarat akan kedewasaan dari Fattah itu melayang di udara, meresap perlahan ke dalam relung hati Elena memberikan rasa hangat yang amat langka, yang belum pernah ia dapatkan baik dari keposesifan Julian maupun dinginnya sikap Nathan.
ayo tor lanjutin update nya