NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Pagi harinya, setelah memastikan kondisi Jovan cukup stabil, Darren mulai bergerak menyelidiki kecelakaan yang menimpa adiknya.

Sebagai seorang anggota kepolisian, ia tidak ingin menerima begitu saja kesimpulan bahwa kecelakaan tersebut murni akibat kelalaian Jovan.

Ada terlalu banyak kejanggalan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya zat psikoaktif di dalam tubuh Jovan.

Rem mobilnya juga mengalami kerusakan.

Dan yang paling mengganggu pikiran Darren adalah satu pertanyaan sederhana.

Bagaimana zat itu bisa masuk ke tubuhnya Jovan?

Darren berdiri di ruang pemeriksaan sambil memperhatikan beberapa rekaman CCTV yang berhasil dikumpulkan anak buahnya.

"Putar dari tiga jam sebelum kecelakaan."

"Siap, Pak."

Rekaman pertama menampilkan Jovan yang mengendarai mobil sportnya memasuki sebuah ruas jalan raya baru di Jakarta.

Jalan tersebut baru saja selesai dibangun. Aspalnya masih mulus, membentang lebih dari lima kilometer dengan ruas yang sangat lebar.

Namun, tempat itu rupanya telah menjadi lokasi favorit para penggemar balap jalanan.

Darren menghela napas panjang.

"Adikku memang tidak pernah kapok."

Iptu Darma yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum kecut.

"Jovan memang terkenal suka melakukan hal-hal seperti itu, Pak."

Darren menatap layar dengan wajah serius.

"Balapan liar tanpa izin bisa membuatnya berurusan dengan hukum."

Di layar, Jovan turun dari mobilnya.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil lain datang.

Pengemudinya adalah Acong, salah satu teman sekaligus rival Jovan dalam dunia balap.

Acong keluar sambil tertawa. "Lo yakin mau balapan sekarang?"

Jovan menyeringai.

"Kenapa? Takut kalah?"

"Ngimpi!"

Keduanya masuk kembali ke mobil masing-masing. Beberapa menit kemudian, dua mobil sport itu melaju kencang.

Suara mesin meraung memenuhi jalanan yang masih sepi.

Darren memperhatikan rekaman tersebut dengan seksama.

"Berapa lama mereka berada di sana?"

"Kurang lebih satu jam, Pak."

"Setelah itu?"

"Mereka berpisah."

Darren mengangguk.

"Teruskan."

Rekaman berikutnya memperlihatkan Jovan menuju sebuah tempat hiburan di Jakarta.

Malam itu, Jovan baru saja memenangkan balapan.

Ia bersama Acong dan beberapa orang lainnya merayakan kemenangan tersebut di sebuah diskotik.

Darren kembali menghela napas.

"Dasar anak ini..."

Iptu Darma menahan senyum.

"Bad boy banget, Pak."

Darren meliriknya.

"Jangan ikut-ikutan membelanya."

Ia kembali memperhatikan layar.

Namun ada sesuatu yang membuat Darren berhenti mengeluh.

Jovan terlihat tidak terlalu banyak minum.

Bahkan ketika salah satu temannya menyodorkan minuman keras, Jovan hanya mengambil satu sloki.

"Untuk kemenangan malam ini!" Jovan mengangkat gelas.

"Cheers."

Ia meneguknya sekali. Hanya satu tegukan.

Setelah itu, gelas tersebut diletakkan di atas meja. Darren memperbesar rekaman tersebut.

"Tunggu."

Petugas yang mengoperasikan komputer menghentikan rekaman.

"Putar ulang bagian itu."

Rekaman diputar kembali. Jovan terlihat berbicara dengan Acong. Kemudian seseorang mendekati meja mereka.

Pria itu mengambil gelas Jovan ketika perhatian Jovan sedang teralihkan.

Gerakannya sangat singkat. Namun cukup untuk membuat Darren menyipitkan mata.

"Perbesar."

Gambar diperbesar.

Meski kualitas CCTV tidak terlalu jelas, terlihat tangan seseorang berada di dekat gelas Jovan.

Darren langsung berdiri.

"Siapa orang itu?"

"Belum diketahui, Pak."

"Cari tahu."

"Siap."

Darren kembali menatap layar.

"Periksa semua orang yang berada di meja itu. Termasuk pelayan, teman-temannya, dan orang yang terlihat mendekati gelas Jovan."

Ia kemudian menunjuk layar.

"Dan cari rekaman dari kamera lain. Jangan hanya yang ada di dalam diskotik. Aku ingin tahu siapa yang mengikuti Jovan sebelum dan sesudah dia datang ke tempat itu."

Iptu Darma mengangguk.

"Baik, Pak."

Darren kembali bersandar di kursinya.

Kini potongan-potongan kejadian mulai tersusun.

Jovan sebelumnya berada dalam kondisi sehat. Ia bahkan akan bertolak ke Australia dalam beberapa hari untuk mengikuti musim kedua Formula One.

Sebagai pembalap profesional, Jovan tentu harus menjaga kondisi tubuhnya.

Meskipun dikenal sebagai sosok urakan dan mendapat julukan bad boy, Darren tahu betul bahwa adiknya memiliki batas.

Jovan memang suka bersenang-senang.

Tetapi menjelang balapan, ia tidak akan mengambil risiko yang dapat membahayakan kariernya.

Dan malam itu, Jovan hanya meneguk satu sloki minuman.

Darren menatap layar dengan serius.

"Jadi bukan Jovan yang mengonsumsi obat itu dengan sengaja."

Iptu Darma mengangguk.

"Kemungkinan besar zat tersebut dimasukkan ke minumannya."

Darren mengepalkan tangannya.

"Kalau begitu, orang yang melakukan ini memang sudah merencanakannya."

Ia kemudian berdiri.

"Periksa juga mobilnya. Aku ingin tahu kapan kerusakan rem itu terjadi."

"Siap."

Darren mengambil ponselnya.

"Dan cari Acong."

"Acong, Pak?"

"Iya. Dia orang terakhir yang terlihat bersama Jovan sebelum kejadian."

Darren menatap kembali rekaman CCTV.

"Kalau seseorang memang sengaja menjebak adikku, kita harus tahu siapa."

Ia menghela napas.

"Karena malam itu, bukan hanya Jovan yang menjadi korban." Tatapan Darren berubah tajam. "Riki juga kehilangan nyawanya."

Ruangan mendadak hening.

Darren sadar, kasus ini jauh lebih besar daripada sekadar kecelakaan lalu lintas.

Seseorang telah memasukkan zat terlarang ke tubuh Jovan. Seseorang juga diduga membuat rem mobilnya blong. Dan pada akhirnya, sebuah keluarga kehilangan seorang suami sekaligus ayah.

Darren mengepalkan tangannya.

"Temukan orang yang berada di balik semua ini."

"Siap, Pak."

"Bagaimanapun caranya, aku akan bongkar semuanya."

Namun, Darren belum mengetahui bahwa orang yang terlihat mengambil gelas Jovan dalam rekaman CCTV itu akan menjadi petunjuk pertama menuju dalang sebenarnya.

Darren masih terpaku di depan layar komputer.

Rekaman CCTV dari dalam diskotik diputar kembali secara perlahan.

Kali ini, Darren meminta petugas menghentikan gambar tepat ketika seorang pelayan wanita melewati meja Jovan.

"Berhenti."

Gambar dibekukan. Darren memperhatikan gerakan wanita itu dengan saksama.

"Putar lagi."

Rekaman kembali berjalan.

Pelayan wanita itu terlihat membawa beberapa gelas minuman. Ketika melewati Jovan, tangannya bergerak sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik, sebuah benda kecil dikeluarkan dari genggamannya dan dituangkan ke dalam gelas milik Jovan.

Setelah itu, wanita tersebut langsung berlalu seolah tidak terjadi apa-apa.

Darren menyipitkan matanya.

"Rupanya pelakunya lebih dari satu orang!"

Iptu Darma terkejut.

"Maksud Bapak?"

"Perempuan ini yang memasukkan zat ke dalam minumannya Jovan." Darren menunjuk layar.

"Tapi kalau begitu, siapa yang membuat rem mobil Jovan blong?"

Ia meminta petugas memeriksa rekaman CCTV dari area parkiran. Beberapa menit kemudian, rekaman dari kamera luar diskotik muncul. Terlihat mobil sport Jovan terparkir di sudut area.

Tidak lama kemudian, seorang pria bertubuh atletis muncul. Pria tersebut mengenakan jaket gelap dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Ia berjalan mendekati mobilnya Jovan. Darren memperbesar gambar.

Pria itu beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya.

Kemudian ia berjongkok di dekat bagian depan mobil. Tangannya terlihat melakukan sesuatu di sekitar bagian roda dan sistem pengereman.

Darren langsung berdiri.

"Berhenti!"

Gambar dibekukan.

"Perbesar wajahnya."

Petugas mencoba memperjelas gambar, tetapi wajah pria tersebut masih tertutup sebagian.

"Belum cukup jelas, Pak."

Darren mengepalkan tangannya.

"Tapi gerakannya jelas mencurigakan."

Iptu Darma mengangguk.

"Berarti benar. Ada orang yang sengaja merusak mobilnya Jovan."

Darren menghela napas sejenak.

"Dan orang yang merusak mobilnya bukan orang yang sama dengan perempuan yang memasukkan obat."

Ia menatap layar dengan serius.

"Dua pelaku. Mungkin dua orang yang bekerja untuk satu dalang."

"Bagaimana kita menemukan mereka, Pak?"

"Mulai dari pelayan wanita itu. Cari identitasnya."

Darren menunjuk rekaman. "Periksa juga pria di parkiran. Aku ingin tahu kendaraan apa yang dia gunakan, dari mana dia datang, dan ke mana dia pergi."

"Siap, Pak."

Darren menatap layar sekali lagi. "Kalian ingin mencelakai Jovan..." Ia mengepalkan tangannya. "...tetapi justru seorang Riki yang menjadi korban."

Sementara itu, di kamar rawatnya Jovan, suasana berubah mencekam.

Jovan yang sejak tadi berbaring tiba-tiba mendengar suara langkah kaki dari luar.

Pintu kamar terbuka.Seorang pria dan wanita memasuki ruangan. Jovan langsung terbelalak.

"Daddy..."

Kemudian matanya berpindah kepada wanita di samping pria tersebut.

"Mommy?"

Tuan Marcelino berjalan masuk dengan wajah penuh kemarahan.

Sementara Nyonya Marcella berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh kebencian.

Jovan langsung menegakkan tubuhnya.

"Daddy, Mommy... kenapa kalian datang?"

"Kau masih bertanya?"

Suara Tuan Marcelino terdengar berat.

"Kami melihat beritanya."

Jovan terdiam.

"Berita tentang kau menabrak seseorang hingga tewas."

Nyonya Marcella menyilangkan tangan di dada.

"Pah, sekarang kau sudah tahu, kan, si anak haram ini kelakuannya seperti siapa?"

Jovan langsung menundukkan kepalanya.

Marcella melanjutkan dengan nada penuh kebencian.

"Sama persis dengan ibunya."

Darren yang baru saja masuk ke kamar langsung menghentikan langkahnya.

"Mommy...."

Wanita itu menoleh.

"Apa?"

"Jangan bawa-bawa ibunya dalam masalah ini."

Marcella tertawa sinis. "Kenapa? Bukankah itu kenyataannya?"

Jovan tetap diam. Ia sudah terlalu sering mendengar hinaan tersebut sejak kecil.

Marcella menatapnya tajam. "Siapa yang tidak tahu bagaimana ibumu menghancurkan rumah tangga kami?"

Jovan mengepalkan tangannya di bawah selimut. Ia tahu. Ia memang lahir dari seorang wanita yang selama ini dianggap sebagai penyebab kehancuran rumah tangga ayah dan ibu tirinya. Namun, semua itu bukan kesalahannya.

Sayangnya, sejak kecil Jovan selalu menjadi tempat pelampiasan kemarahan Marcella.

Tidak peduli seberapa keras ia berusaha menjadi anak yang baik, hinaan itu selalu mengikutinya.

Anak haram.

Anak pembawa masalah.

Anak yang lahir dari wanita perebut suami orang.

Jovan sudah terbiasa mendengarnya.

Namun malam ini, dalam kondisi tubuh yang lemah dan setelah kehilangan nyawa seseorang, kata-kata itu terasa semakin menyakitkan.

Darren melangkah maju.

"Cukup Mom."

Marcella menatap Darren.

"Kau selalu membelanya."

"Karena Jovan adikku."

"Adikmu yang membuat keluarga orang lain kehilangan suami!"

Darren menahan emosinya.

"Dan karena itu pula, kami sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Marcela terdiam. Tuan Marcelino akhirnya angkat bicara.

"Apa maksudmu?"

Darren menatap ayahnya.

"Kecelakaan ini tidak sesederhana yang terlihat."

Jovan mengangkat wajah. Kemudian Darren melanjutkan,

"Jovan ditemukan mengonsumsi zat psikoaktif yang tidak seharusnya ada di tubuhnya. Selain itu, rem mobilnya juga diduga sengaja dirusak."

Marcelino terdiam.

"Apa?"

"Aku sedang menyelidikinya."

Darren kemudian menatap Jovan. "Dan dari rekaman CCTV, ada indikasi lebih dari satu orang terlibat."

Jovan menatap kakaknya dengan mata penuh harap.

"Jadi... gue benar-benar dijebak?"

Darren mengangguk.

"Sepertinya begitu."

Untuk pertama kalinya malam itu, Jovan merasa sedikit lega. Namun, rasa lega tersebut tidak menghapus rasa bersalahnya kepada Riki. Ia tetap menundukkan kepalanya.

"Walaupun gue dijebak, Kak..."

Suaranya lirih.

"Riki tetap meninggal karena mobil gue."

Darren terdiam. Ia tahu adiknya benar.

Hukum dan penyelidikan akan menentukan siapa yang bersalah atas rencana tersebut.

Tetapi bagi Jovan, rasa bersalah karena kematian Riki mungkin akan menjadi luka yang jauh lebih sulit disembuhkan.

Darren kemudian menatap kedua orang tuanya.

"Untuk sekarang, Jovan membutuhkan ketenangan."

Marcella mendengus.

"Aku tidak peduli."

Darren menatapnya tajam.

"Tapi aku peduli."

Ruangan mendadak sunyi.

Darren berdiri di samping Jovan. "Dan kali ini, aku akan memastikan kebenarannya terungkap."

Jovan menatap kakaknya. Untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, hanya Darren yang berdiri di sisinya.

Sementara itu di balik semua penghinaan yang selama ini ia terima, Jovan menyimpan satu keyakinan sederhana. Ia mungkin tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya. Namun, ia selalu memiliki seorang kakak yang tidak pernah meninggalkannya.

Bersambung...

1
Teh Yen
aku ragu kalau Marcella bisa berubah sih 🤔
Teh Yen
ternyata dalangnya ibunya Darren sendiri yah
Nar Sih
semagat serina ,alm suami mu sdh memberi izin padamu ,jemput bahagia mu dan farel bersama jovan
Teh Yen
siapa lagi orang yg ingin menghancurkan hidup Jovan yah
Teh Yen
wah farel sudha mengagumi om Jovan yah ,,kl ibunya gmn tuh??? 😁
fatmawati (pipit)
jovan udah ada bibit jatuh cinta nih, tinggal perjuangan jovan untuk membuka hati serina untuk menerima dirinya (jovan)
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
fatmawati (pipit): /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Serina, bukalah hatimu untuk Jovan, demi Farel 🥰🥰
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Syukurlah ngga sampai nikah paksa saat itu juga. Yawda Jovan, kamu harus cepat pulang ya... besok apel lagi 😅
Nar Sih
untung nya pejelasan mu berhasil diterima warga dan pk rt ya jovan,dan ngk jdi di nikahin dadakan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: selamet mereka berdua🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
nah kan pasti bntr lgi di nikahin dadakan
fatmawati (pipit)
jovan harus tegas dong sama orang orang yg suka julid jangan sampai farel mendengar omongan yg tidak baik.....
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
fatmawati (pipit)
itu ada tetangga julidnya seharusnya pak RT tegas kepada warga jangan hanya dengar dari desas desus gosip murahan dong kayak serina itu apa. bapak Rt gk pernah tahu apa yg dialami serina, farel dan jovan setelah riki meninggalkan jadi coba pikir bagaimana serina ingin memberikan terbaik buat farel
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
kebiasaan bgt asal labrak,bisa mikir dlu ngk sih sebelum bertindak,pantesan ngk maju2 pemikirannya pada kuno
fatmawati (pipit)
jovan ingin mengungkapkan perasaan kepada serina namun dia masih bergelut dengan luka yang ditinggal riki.
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Abang adik jadi saingan nih untuk dapatkan Serina
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Hadir disini Thor 👍🥰
Awal cerita sudah sedih .... 😭
aroem
bagus
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih, kak
total 1 replies
Nar Sih
kasihan dareen ya ,cinta pertama nya kandas sblm terungkap ,telat sih ngomong nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak, telat mulu dia 🤣🤣🤣
total 1 replies
fatmawati (pipit)
posisi darren tidak mudah dia masih mencintai wanita cinta pertamanya sedangkan jovan ingin menikahi karena fitnahan dari mommy tirinya dan juga hatinya mulai ada benih benih cinta namun blm disadari 🤣🤣🤣🤣
Nar Sih
kmu kurang gercep sih pak polisi daren jdi keduluan kan oleh adik mui
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!