Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan
Malam kian larut, namun keheningan di dua tempat yang berbeda itu sama sekali tidak membawa ketenangan bagi keduanya. Julian dan Elena sama-sama terjaga, terperangkap dalam pusaran pikiran mereka sendiri dengan alasan yang berbanding terbalik bumi dan langit.
Di apartemennya, Julian mondar-mandir gelisah di dekat jendela kamar. Ponselnya sudah ia genggam sejak tadi. Jarinya berulang kali mengetik lalu menghapus pesan untuk Elena, ragu-ragu. Ia ingin memastikan sahabatnya itu sudah tidur dengan nyenyak, ingin mendengar suaranya sekali lagi, namun ia takut kehadirannya justru mengganggu waktu istirahat Elena setelah hari yang melelahkan.
Rasa rindu dan protektif bercampur aduk di dadanya, membuatnya terus menatap layar ponsel yang menyala dalam gelap.
Sementara itu, di kamar tidurnya yang temaram, Elena justru bergulat dengan rasa bersalah yang kian mencekik. Isakannya sudah mereda, berganti dengan tatapan kosong penuh siksaan batin.
Didorong oleh rasa rindu yang salah tempat dan rasa bersalah yang teramat besar karena merasa telah "mengotori" ingatannya tentang Nathaniel, jemari Elena yang gemetar dengan cepat meraih ponsel di atas nakas.
Ia tahu ini bodoh. Ia tahu ini menyiksa dirinya sendiri.
Nomor WhatsApp-nya sudah lama diblokir. Akun Instagram-nya pun bernasib sama. Tak ada lagi jalan untuk menyapa pria itu, kecuali satu celah terakhir yang luput dari daftar hitam Nathaniel: TikTok.
Dengan napas yang tercekat dan air mata yang kembali menetes, Elena membuka aplikasi tersebut. Ia mencari akun milik Nathaniel—melihat profil pria itu yang terasa begitu jauh, seolah hidup di belahan dunia lain yang tak tersentuh. Tanpa memedulikan kewarasannya, Elena mulai mengetik pesan demi pesan di kolom direct message.
“Nath... kamu apa kabar?”
“Kenapa tega banget sama aku?”
“Aku kangen...”
Pesan-pesan itu dikirimkan beruntun, meskipun ia sangat sadar bahwa kemungkinan besar pesan itu hanya akan menjadi angin lalu, menumpuk di kotak masuk yang tidak akan pernah dibuka, atau sekadar dibaca sekilas lalu diabaikan begitu saja oleh
Nathaniel pria yang bahkan sudah lama mengubur kenangan mereka, sementara Elena justru menyiksa dirinya sendiri di atas reruntuhan masa lalu, tepat di hari saat ia baru saja menyerahkan hatinya sepenuhnya pada pelukan Julian.
Sepanjang perjalanan pulang hingga kakinya melangkah masuk ke dalam apartemennya yang sepi, Julian merasakan keanehan luar biasa yang menggerogoti dadanya.
Pria itu melepas kunci mobil dan melemparnya sembarangan ke atas meja glass. Ia menyandarkan punggungnya di sofa, memejamkan mata rapat-rapat, namun bukannya ketenangan yang didapat, bayangan Elena justru makin gila memenuhi kepalanya.
Sisa-sisa kenikmatan dari keintiman mereka di kamar hotel tadi masih tertinggal jelas di tiap jengkal kesadarannya. Tatapan pasrah Elena, helaan napasnya, hingga aroma khas tubuh gadis itu yang soft dan manis perpaduan wangi vanila dan sabun bayi seolah masih berseliweran dan tertinggal di indra penciumannya.
Dzz... dzz...
Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Julian merogoh benda pipih itu dan mendapati beberapa pesan masuk dari Claire. Wanita itu mengirimkan beberapa foto sexy mengenakan lingerie renda hitam, disusul pesan godaan yang biasanya akan langsung direspons cepat oleh Julian.
Namun malam ini, jemari Julian berhenti di atas layar.
Tak ada gairah. Tak ada ketertarikan. Foto-foto syur dari wanita yang selama ini mengisi hari-harinya itu sama sekali tak mampu mengalihkan fokusnya. Dengan wajah datar, Julian hanya mengunci kembali layar ponselnya dan melemparnya ke samping.
Pikirannya benar-benar telah tersapu bersih, menyisakan satu nama yang mendominasi seluruh poros hidupnya saat ini: Elena.
Sementara itu, di sudut kamar lain yang berjarak beberapa kilometer dari sana...
Elena meringkuk di atas kasurnya. Pintu kamar sudah terkunci rapat, lampu utama dimatikan, menyisakan temaram lampu tidur di sudut meja. Di bawah gulungan selimut tebalnya, tubuh mungil Elena gemetar hebat.
Suara tangisnya tak terdengar ia membungkam mulutnya sendiri menggunakan sudut bantal, membiarkan air mata meleleh deras membasahi pipi hingga membasahi seprai.
Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya tanpa ampun. Di tengah hangatnya gelang emas yang melingkar di tangannya dan sisa sentuhan Julian yang masih membakar kulitnya, hati kecil Elena justru menjerit. Ia merasa telah melakukan sebuah pengkhianatan terbesar.
Merasa telah menodai kesucian janji dan kenangan masa lalunya bersama Nathaniel, pria yang pernah menjadi pusat semesta fisiknya selama enam tahun.
Padahal, kenyataan pahitnya amat sangat jelas: Nathaniel sudah lama melangkah pergi.
Pria itu bahkan sudah tak pernah lagi melirik atau peduli apakah Elena masih bernapas atau tidak di dunia ini. Namun logikanya kalah telak oleh ikatan emosional masa lalu yang masih mencengkeram jiwanya.
Di dalam kegelapan kamar itu, Elena menangis terisak dalam diam terjebak di antara rasa nikmat yang baru saja ia rasakan bersama Julian, dan jurang rasa bersalah pada bayang-bayang pria yang telah membuangnya.
ayo tor lanjutin update nya