Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JARAK DIRUMAH SENDIRI
Pada malam ketujuh setelah mereka pindah, Maxime menemukan Elma sedang berdiri di dekat jendela ruang keluarga. Hujan turun di luar rumah. Lampu taman memantulkan cahaya keemasan pada permukaan jalan yang basah. Elma mengenakan pakaian rumah sederhana. Rambutnya tergerai di punggung, sementara kedua tangannya memegang secangkir teh yang mulai kehilangan kehangatannya.
Maxime menghampirinya. "Kau belum tidur?"
Elma menggeleng. "Sebentar lagi."
Pikiran Elma sedang melayang jauh memikirkan kasus Evelyn yang ternyata tidak sesederhana yang ia kira. Setelah mempelajari kasus itu, Elma menarik kesimpulan jika Evelyn memang telah melakukan kesalahan.
Maxime berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandang istrinya ke halaman rumah. Ia tidak tahu masalah yang sedang di pikirkan istrinya tersebut. Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengarkan suara hujan.
"Aku tidak suka kau tidur di kamar lain," kata Maxime akhirnya.
Elma tidak segera menjawab, namun kemudian ia kembali berkata "Aku tahu."
Maxime menoleh. "Kau tahu?"
"Ya. Tapi aku juga tidak suka tidur di samping seseorang yang membuatku merasa ada begitu banyak hal yang tidak boleh kutanyakan."
Maxime menunduk sesaat. "Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu."
"Aku percaya." Sambung Elma.
Jawaban tersebut membuat Maxime mengangkat wajah. Elma menatap hujan dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Aku percaya bahwa kau tidak bermaksud menyakitiku, Max. Tapi bukan berarti aku tidak terluka."
Maxime tidak mampu menjawab. "Kadang-kadang, seseorang tidak perlu berniat menyakiti kita untuk membuat kita kecewa," lanjut Elma. "Cukup dengan terus menghindari sesuatu yang penting bagi kita."
Perempuan itu meletakkan cangkirnya di atas meja kecil. "Aku tidak tahu kenapa kau tidak ingin menjelaskan tentang foto itu, padahal itu adalah diriku. Aku tidak tahu kenapa kau menyimpannya. Dan aku juga tidak tahu apa yang membuatmu begitu sulit membicarakannya."
Elma berbalik menghadap suaminya. "Tapi aku menduga dua kemungkinan. Pertama mungkin aku pernah melakukan kesalahan hingga kau membenciku dan ingin membalasku atau mungkin kau diam- diam mengagumiku"
Maxime terkejut mendengar ucapan istrinya, ia menatapnya lekat. "Kamu salah paham" Ucapnya.
"Aku tidak peduli apapun alasanmu. Aku tidak bisa terus menjadi satu-satunya orang yang berusaha memahami pernikahan ini."
Kali ini, Elma tidak terlihat marah. Justru ketenangan itulah yang membuat Maxime merasa tidak berdaya.
"Aku ingin kau merasa nyaman denganku," lanjut Elma. "Aku ingin suatu hari nanti kita bisa berbicara tanpa harus memikirkan apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau percaya."
Ia berhenti sejenak. "Tapi aku tidak bisa membuatmu mempercayaiku jika kau sendiri tidak mau memberiku kesempatan."
Maxime mengepalkan tangannya di sisi tubuh.
Ia ingin meraih tangan Elma, namun ia khawatir istrinya akan marah karena saat ini dia sedang kecewa padanya.
"Baiklah. Aku akan bicara jujur padamu" Ucapnya kemudian. "Tapi tidak sekarang"
Elma mengembuskan napas perlahan. "Baiklah."
Maxime menatapnya, mencoba mencari tanda bahwa perempuan itu masih bersedia menunggunya. Namun, Elma tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Aku akan tidur sekarang," ujar Elma. Ia melangkah melewati Maxime, tetapi berhenti sejenak ketika mereka hampir bersisian.
"Max?"
"Ya?"
Elma menatapnya. "Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita sebelum kau siap. Aku akan menunggu, tapi jangan terlalu lama. Karena kesabaranku ada batasnya."
Tatapannya melembut, meski kekecewaan itu masih terlihat jelas.
"Jangan berharap aku bisa terus bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa."
Setelah itu, Elma berjalan meninggalkannya. Maxime tetap berdiri di dekat jendela, mendengarkan langkah istrinya yang semakin menjauh. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi pintu kamar yang ditutup. Malam itu, Maxime merasa seolah-olah sebuah pintu lain baru saja tertutup di antara mereka. Pintu yang tidak akan terbuka hanya karena ia menginginkannya. Maxime harus melakukan sesuatu, tapi masalahnya ia bingung harus mulai dari mana.
Maxime menatap pantulan dirinya pada kaca jendela. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyalahkan keadaan, masa lalu, atau siapa pun atas masalah yang sedang terjadi dalam pernikahannya. Kali ini, ia tahu siapa yang harus bertanggung jawab, yaitu dirinya sendiri karena ia tidak bisa berkata jujur pada istrinya. Andai suatu hari Elma tahu jika di masa lalu ia adalah pria yang pernah bermasalah dengannya dan hampir menghancurkan karirnya, apakah Elma akan tetap berdiri disampingnya.
Malam selanjutnya, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Elma baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika mendapati Maxime duduk di sofa ruang keluarga. Pria itu meletakkan ponselnya begitu melihat sang istri melintas.
"Elma."
Langkah Elma terhenti. "Ya?"
"Kita perlu bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang sikapmu akhir-akhir ini."
Elma mengembuskan napas pelan. "Sikapku? Menurutmu, apa yang salah dengan sikapku?"
"Kau semakin menjauh."
"Aku hanya sedang memberikan ruang untuk diriku sendiri."
"Di rumah ini?"
Elma tersenyum tipis. "Memangnya rumah ini hanya milikmu?"
Maxime mengeraskan rahangnya. "Jangan memutarbalikkan ucapanku."
"Aku tidak memutarbalikkan apa pun, Max. Aku hanya mulai memahami bahwa tidak semua hal harus kupaksakan."
"Jadi, sekarang kau memilih bersikap seperti ini?"
"Seperti apa? Aku tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai istrimu. Aku tidak pernah mengabaikan kewajibanku. Hanya saja, aku tidak lagi merasa harus selalu menjadi orang yang memulai segalanya."
"Kau sedang mengabaikanku, Elma. Kau membiarkan aku tidur seorang diri tanpa istriku disisiku" Ucap Maxime penuh penekanan.
Elma diam.
Maxime berdiri. "Pernikahan bukan tentang siapa yang lebih dulu mengalah."
"Benar. Tapi juga bukan tentang siapa yang paling berhak menentukan segalanya." Sela Elma.
"Aku tidak pernah memaksamu mengikuti semua keinginanku."
"Tidak secara langsung. Kau hanya terbiasa menganggap keputusanmu selalu benar."
"Karena aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Dan itulah masalahmu, Maxime. Kau terlalu yakin dengan dirimu sendiri sampai lupa bahwa kau sedang hidup bersama orang lain, bukan sedang mengatur seseorang."
Tatapan Maxime mengeras. "Kau juga memiliki ego yang sama besarnya denganku, Elma."
"Setidaknya aku tidak pernah meminta seseorang memahami sesuatu yang bahkan tidak bersedia kujelaskan."
"Jadi, sekarang semua kesalahan ada padaku?" Tanya Maxime.
"Aku tidak sedang mencari siapa yang salah. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa aku juga punya prinsip. Aku tidak akan terus-menerus mengorbankan perasaanku hanya demi menjaga keadaan tetap terlihat baik-baik saja."
Maxime terdiam sesaat sebelum kembali bicara.
"Kau istriku. Seharusnya kita bisa menyelesaikan masalah tanpa saling menjauh."
Elma menatapnya lekat.
"Menjadi istrimu bukan berarti aku harus kehilangan diriku sendiri."
"Dan menjadi suamimu bukan berarti aku harus selalu mengikuti caramu."
"Aku tidak pernah memintamu mengikuti caraku. Aku hanya ingin kau belajar mendengarkan."
"Aku sudah mendengarkan."
"Tidak, Max. Kau hanya menunggu giliran untuk membantah."
Kalimat itu membuat suasana semakin hening.
Maxime mengalihkan pandangan sebentar, lalu kembali menatap istrinya.
"Kau selalu punya cara untuk membuatku terlihat seperti pria yang buruk."
"Dan kau selalu punya cara untuk membuatku merasa seperti perempuan yang terlalu banyak menuntut."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?"
Elma terdiam beberapa detik. "Aku ingin memiliki suami, Maxime. Bukan seseorang yang tinggal serumah denganku, tetapi selalu membuatku merasa sendirian."
Raut wajah Maxime berubah. Namun, sebelum pria itu sempat menjawab, Elma sudah lebih dahulu melangkah menuju tangga.
"Elma, kita belum selesai." "Aku tahu. Tapi aku lelah berbicara dengan seseorang yang hanya ingin menang dalam setiap perdebatan."
"Jangan pergi begitu saja."
Elma berhenti tanpa berbalik. "Aku tidak pergi ke mana-mana, Max. Aku masih tinggal di rumah ini."
Ia melanjutkan langkahnya seraya berucap "Sayangnya, akhir-akhir ini aku merasa seperti orang asing di dalamnya."
Pintu kamar tertutup sementara Maxime masih berdiri di ruang itu. Pria itu memutar otak, ia pikir masalah ini harus segera di selesaika sebelum rumah tangganya hancur.
"Andai kau tahu aku pernah jahat padamu, Elma. Aku harap saat itu kamu tidak semakin membenciku".
☆