Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Sementara itu, di ruangan lain yang jauh dari hiruk pikuk halaman belakang sekolah, Revano masih bergulat dengan rumus dan pikirannya sendiri.
Revano saat ini sedang ada di ruangan khusus untuk peserta olimpiade. Mata pelajaran yang ia ikuti adalah fisika dan matematika - dua bidang yang selalu membuatnya tertantang tapi juga nyaris membuat kepalanya meledak.
Di ruangan itu, ada empat murid lain yang duduk melingkar, masing-masing tenggelam dalam coretan rumus di buku catatan mereka. Di depan, seorang guru dengan sabar menjelaskan soal-soal yang sempat membuat mereka kebingungan. Suaranya tenang, ritmenya teratur, seolah angka-angka yang rumit itu hanyalah teka-teki sederhana yang bisa dipecahkan dengan logika yang tepat.
Revano berusaha mengikuti, matanya mulai berat tapi masih bisa di tahan. Ia sudah belajar sejak pagi, dan otaknya sudah mulai menolak memproses satu simbol lagi.
Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya guru itu menutup spidolnya. "Oke," katanya sambil menatap satu per satu murid di hadapannya. "Untuk sementara, cukup sampai di sini. Kalian bisa istirahat sebentar sebelum lanjut ke sesi latihan soal berikutnya."
Khasan -teman Revano -langsung meregangkan tubuhnya sambil menghela napas panjang. "Akhirnya juga," gumamnya setengah lega, "kalau lima menit lagi, otak gue bisa gosong."
Revano terkekeh kecil. "Padahal baru dua jam, bro."
Khasan meliriknya malas. "Dua jam ngerjain fisika itu setara seharian nulis skripsi."
Keduanya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana serius yang menempel di ruangan itu. Tapi di balik tawa tipis itu, ada rasa cemas yang sama.
Khasan menatap Revano yang masih sibuk dengan buku nya "Lo gak bosen apa belajar mulu? Ini waktu istirahat, nanti juga full lagi belajar" ucapnya terdengar malas . Melihat teman nya begitu perfeksionis dalam segala hal. Revano tersenyum kecil . Sebelum menyibukkan diri nya kembali " jika Lo lapar bisa duluan aja, gue bawa bekel jadi gue gak akan ke kantin" ucapnya.
Khasan berdehem " gue ke kantin ya" . Setelah itu ruangan menjadi sepi karena beberapa murid yang mengikuti olimpiade mengistirahatkan pikiran mereka di luar. Menyisakan Revano dan satu gadis yang tidak ia kenal.
" Hei ,kamu Revano ya" sapanya tiba-tiba. Revano menunda aktivitas nya. Karena merasa tidak sopan jika di acuhkan. " Iya " singkat nya.
"Kamu kenal aku kan?" Tanya lagi. Dan sudah pasti Revano tak mengenal. Dia menggeleng kecil sebagai jawaban.
" Aku rea Aprillia, salam kenal" Revano hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. " Kamu rajin banget " tiba-tiba . Revano mengalihkan perhatian nya pada rea.
"Kalau aku ,aku terpaksa. Kalau bukan karena ortu" ucapnya.
"Kadang aku Cape , tau gak . Mereka selalu menuntut inilah itulah tetapi jika ingin menyeruak kan keinginan. Pasti jawabannya demi kebaikan lah . Apalah " ucapnya tanpa sadar ia terus berbicara . Menceritakan semua yang ia alami yang menurut nya malang. Banyak ekspresi yang ia keluarkan . Saat cerita sedih dia akan terlihat sedih dan saat marah dia menunjukkan hal serupa. Itu sedikit menghibur bagi Revano.
"Kalau kamu , orang tua mu seperti apa?" Tanya nya. Revano terdiam beberapa saat, sebelum tersenyum kecil " mereka baik" singkat nya.
"Itu aja? Yahh mungkin cuman aku yang malang memiliki orang tua seperti itu " lirih nya terdengar sedu.
" Menurut ku mereka tidak seburuk itu. Mereka hanya menjurung mu agar terus maju .dan masih memberikan arahan tanpa menuntut . Itu udah cukup "
"Dan Lo bilang , gak papa gak berhasil . Itu berarti mereka tidak menginginkan keberhasilan Lo. Tetapi pengalaman Lo dalam menghadapi rintangan nya." Ucapnya panjang lebar. Rea melotot dengan mulut sedikit terbuka . " Aku tau kamu pinter tapi ini kebangetan rev" ucapnya dramatis.
revano menggeleng kecil. Melihat tingkah konyol rea " Lo Hanya perlu berpikir positif , itu aja. . jangan terlalu di lebih-lebih kan" ucapnya.
Rea mengangguk kecil ," kamu dewasa bener ya, kalau aku pasti akan tetap berpikir seperti ini- kok Lo bisa berpikir positif seperti itu, apa tips nya"
Revano terdiam kembali , sejujurnya dia juga tidak tau . Karena kenyataan itu bukanlah pikiran positif . Tetapi penyangkalan atas segala kekecewaan. " Aku gak tau" ucapnya tak beduli.
"IHH ,kok pelit banget!!" Ucapnya terdengar kesal . Rea merotasi matanya malas dan kembali membenamkan wajahnya dalam buku. Dia sebal dengan lelaki itu.
Revano masih terdiam di tempatnya. Dengan buku di tangan nya. Diam-diam dia membawa hp miliknya yang berada di dalam saku. Dan membuka notifikasi pesan yang belum terbaca sejak tadi.
Dari ayahnya. Dia membuka ruang percakapan dan di sana banyak pesan yang belum terbuka karena ia terlarut dalam belajar.
Jangan lupa jaga kedua adik mu. Kamu harus jadi kakak yang baik .
Jangan bergaul dengan teman-teman mu itu. Daddy tidak mau martabat keluarga Dharmawangsa rusak hanya karena kau salah pergaulan.
Kau harus bisa menjadi nomor satu. Agar masa depan mu lebih cerah .dan gampang di arahkan.
Ingat walaupun Daddy jauh , Daddy tetap memantau mu
Selalu sama. Ayahnya terlalu gila akan martabat dan kesempurnaan. Hingga terkadang membuat nya buta akan kebenaran. Bahwa dia memiliki masa depannya sendiri.
Rangga memang tidak secara terang-terangan menuntut. Namun dengan segala tingkah nya ia tau dia menginginkan sosok anak yang bisa meneruskan perusahaan nya. Meneruskan semua martabat. Dan semua yang ia punya.
Namun Revano berpikir lain. Karena ia lebih menginginkan menjadi seorang dokter daripada seorang pengusaha. Ia sudah sempat membuka pendapat nya. Namun jawaban nya di tolak mentah-mentah. Dengan alasan demi kebaikan. Tapi apa itu benar-benar yang terbaik? Itu yang selalu ada di benak nya. Yang setiap tahun menjadi bayangan nya dalam kehidupan sehari-hari. Yang perlahan berubah menjadi penyangkalan .' Mungkin ini yang terbaik'.
Satu pesan telah di baca, dia membuka satu pesan lagi dari ibunya.
Bang jangan lupa obat Vian di dalam kamarnya, takut Vian kelupaan gak makan.
Bang , persiapan juga perlengkapan Vian dan ass . Takut mereka gak bisa .
Jangan lupa suruh makan mommy takut ass tidak makan karena kelupaan kayak dulu.
Bang, ingat sebagai Abang . Abang harus jadi panutan bagi adik-adik nya.
Dan ibunya juga sama. Jika ayahnya gila akan martabat . Ibunya gila akan rasa patuh dan hormat. Tanpa sadar dia mendidik Revano untuk selalu patuh dalam segala hal. Tanpa bisa mengutarakan apa yang ia rasakan. Dia selalu mendidik Revano agar selalu mengerti dan bersikap dewasa karena dia anak sulung di keluarga. Jangan membantah. Ikuti perkataan orang tua. Bantu adik-adik. Dan selalu ada bersama mereka jika mereka butuhkan.
Sedangkan di saat dia membutuhkan. Dia punya siapa? Karena dia tidak boleh mengeluh karena ia sudah di anggap dewasa . Dan harus terlihat kuat dan kokoh untuk menjadi garda pelindung adik-adik.
Kadang Revano bingung dan juga sedih.
Untuk apa ia hidup?