NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Fajar menyapu puncak tertinggi Sekte Awan Azure dengan cahaya kemerahan, dan empat tetua mendarat satu per satu di depan gerbang kayu yang menjaga dataran kepala sekte.

Pedang-pedang terbang mereka berhenti dengan dengung pelan, dan embun yang membeku tipis di tanah retak di bawah sepatu mereka. Tetua Shen turun paling akhir dengan tongkat di tangan dan sebuah gulungan catatan terselip di dalam lengan jubahnya, dan matanya menyapu gerbang itu sekali sebelum ia berdiri di barisan paling belakang.

Tetua Huo melangkah paling depan dengan jubah merahnya yang bersulam api berkibar kasar, dan wajahnya masih mengeras seperti kemarin. "Ketua Xuan Ming! Kami datang bukan untuk membangkang, tetapi persoalan Yu Tian tidak bisa dibiarkan menggantung. Satu murid hancur dantiannya, dan Ketua mengangkatnya menjadi murid pribadi? Kami butuh penjelasan!"

Tidak ada jawaban. Angin pagi hanya menggoyangkan tirai putih di kejauhan, dan bunyi itu terdengar jelas di tengah kesunyian. Tetua Wen, lelaki kurus dari Paviliun Obat yang dahinya selalu berkerut, mengusap janggut perak tipisnya dan berbisik.

"Biasanya Ketua menjawab sebelum kita selesai bicara." Tetua Jiang dari Puncak Pedang hanya menyipitkan mata ke arah paviliun tanpa berkata apa-apa, dan tangannya turun ke gagang pedang di pinggangnya.

Mereka menunggu beberapa tarikan napas lagi. Tetua Huo mengulang panggilannya, lebih keras, dan hanya gema yang menjawab dari dinding tebing. Tetua Shen memperhatikan sekeliling dengan teliti.

'Tidak ada burung di puncak ini. Tidak ada murid pelayan. Dan segel gerbang tidak menyala.' Ia melangkah maju melewati bahu Tetua Huo, menaruh telapak tangannya di daun gerbang, dan mendorongnya perlahan. Gerbang itu terbuka tanpa perlawanan sedikit pun. Tidak terkunci.

Bau amis darah yang sudah lama mengering menyambut mereka di balik daun gerbang. Tetua Shen berhenti di ambang, dan punggungnya mengeras. Di tengah dataran batu, di depan paviliun, seorang lelaki berjubah putih keperakan terbaring telentang dengan lengan terentang.

Matanya terbuka lebar menatap langit, dan darah hitam yang sudah mengering melekat di sekitar hidung, telinga, kelopak mata, dan sudut mulutnya. Sebilah pedang tergeletak di samping tangan kanannya, dan teh yang tumpah di meja paviliun sudah mengering menjadi noda cokelat.

"Ketua!" Tetua Huo berlari menyeberangi dataran dengan jubah berkibar, dan langkahnya terhenti hanya sejengkal dari tubuh itu. Wajahnya pucat pasi.

Tetua Jiang menyusul dengan pedang terhunus setengah dan mata menyapu setiap sudut, sedangkan Tetua Wen berlutut di sisi jasad dan menempelkan dua jari di leher Xuan Ming dengan tangan gemetar. Ia menunggu lama sekali, lalu menggeleng pelan. "Sudah dingin. Mungkin sejak kemarin sore."

Hening menimpa mereka. Tetua Huo mundur selangkah, dan telapak tangannya yang menggenggam jubah gemetar tak terkendali.

"Mustahil. Ketua Xuan Ming adalah Jiwa Baru. Tidak ada orang di sekte ini yang bisa..." Suaranya pecah. Tetua Jiang menatap sekeliling dengan napas tertahan, sementara di balik bahu mereka Tetua Shen berdiri diam dan hanya memandangi dinding tebing di belakang paviliun.

Pintu batu bergurat di sana terbuka lebar. Gelap, dingin, dan kosong. Tetua Shen berjalan mendekat tanpa suara, menatap rak-rak batu yang telanjang dan peti-peti kayu hitam yang sudah terbalik tanpa isi. Tidak satu pun batu roh, tidak satu pun botol pil, dan tidak sebuah gulungan pun yang tersisa.

Ia menoleh ke belakang, dan suaranya rendah dan terkendali. "Gudang pusaka sekte. Dikosongkan semuanya."

Tetua Wen mengangkat pandangan dari tubuh Xuan Ming dengan wajah yang menegang. Ia menekan perut jasad itu dengan telapak tangan dan memejamkan mata sebentar.

"Dantiannya hancur. Qi di dalamnya terpecah-pecah, sama persis dengan Bai Zhuo, tetapi jauh lebih dalam." Ia membuka mata dan menatap satu per satu wajah para tetua. "Hanya satu orang di seluruh sekte yang bisa melakukan ini."

"Yu Tian." Nama itu keluar dari bibir Tetua Huo dengan nada jijik, dan api merah menyambar dari telapak tangannya, membakar tirai putih paviliun sampai hangus menjadi abu. "Iblis kecil itu! Ketua mengangkatnya menjadi murid pribadi di depan kita semua, lalu inilah balasannya! Dia membunuh Ketua dan menjarah gudang pusaka!"

"Dia tidak akan bisa pergi jauh." Tetua Jiang menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan kasar. "Dalam sehari, seorang Fondasi Roh tidak bisa pergi lebih dari tiga ratus li. Kita sisir seluruh pegunungan sekitar dan seret dia kembali, hidup atau mati."

Tetua Shen melangkah maju, dan jemarinya mengetuk tongkat sekali. "Aku ikut."

"Tidak." Tetua Huo menoleh dengan mata merah, dan suaranya tajam. "Kau tinggal menjaga sekte. Dengan Ketua mati dan kami pergi, tidak boleh ada yang meninggalkan gerbang. Kalau ada penyusup memanfaatkan kekacauan ini, kau yang bertanggung jawab." Ia berhenti sebentar dan mengatur napas yang memburu. "Dan satu lagi. Mulai hari ini, jatah sumber daya murid luar dikurangi. Semuanya dialihkan kepada Lu Heng dan Lan Shuang. Kalau kami semua gagal menangkap anak itu, merekalah yang akan membalas dendam."

Tetua Shen menatap wajah-wajah penuh amarah itu satu per satu. Ia mengangguk pelan, dan suaranya tetap datar. "Baik, akan kulaksanakan."

'Empat tetua puncak sekaligus. Seorang anak Fondasi Roh tidak akan sanggup bertahan. Mereka pasti membawa kepalanya pulang, dan pengalihan sumber daya itu hanya berjaga-jaga.' Tangannya mengencang di tongkat tanpa ia sadari.

Para tetua saling mengangguk. Satu per satu mereka mencabut pedang dari sarungnya, melompat ke atasnya, dan melesat naik membelah awan pagi dengan dengung dingin yang memudar cepat di langit.

Tetua Shen berdiri sendirian di dataran itu sampai suara terakhir lenyap, memandangi pintu batu yang kosong, jasad yang dingin, dan teh yang mengering di meja paviliun.

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!