NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Realitas yang ironi

Kesunyian menyergap gubuk reyot itu setelah Nyonya Lin dan Lin Bao sempat keluar sebentar untuk mencari bantuan atau sisa air bersih.

Di atas meja kayu yang miring, sebuah mangkuk tanah liat berisi air putih hangat tersaji, sisa tetesan terakhir yang berhasil dikumpulkan oleh ibunya sebelum pingsan tadi.

Lin Wanru perlahan menggerakkan jemarinya yang kurus, mencengkeram pinggiran mangkuk kasar tersebut dengan hati-hati. Ia mengangkatnya dan meneguk air itu dengan perlahan.

Sensasi cairan hangat mengalir melewati tenggorokannya yang tadinya kering seperti terbakar, membawa sedikit kesegaran dan memulihkan fungsi saraf motoriknya yang sempat lumpuh karena syok psikologis.

"Ini nyata. Air ini nyata, rasa laparnya nyata, dan dinding kayu lapuk ini sama sekali bukan ilusi," batin Wanru menegaskan pada dirinya sendiri, meskipun akal sehatnya sebagai CEO modern masih menjerit keras menolak takdir gila ini.

Meski ia tahu keberadaannya di sini bukan lagi sebuah mimpi buruk yang bisa diakhiri dengan terbangun di kamar penthouse nya, tetap saja ia tidak habis pikir: Kenapa? Kenapa harus aku? Kenapa aku bisa terlempar ke zaman kuno yang biadab ini, meninggalkan kerajaan bisnis, portofolio investasi global, dan kehidupan nyamanku tanpa penjelasan logis sedikit pun?

Namun, meratap tidak akan mengembalikan mobil yang hancur di jalan tol abad ke-21 sana.

Berbekal asupan air minum yang baru saja diteguknya, Lin Wan merasakan sedikit tambahan tenaga mengalir ke pembuluh darahnya. Otot-ototnya yang kaku mulai merespons perintah otaknya.

Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang kayu yang keras. Matanya memutar ke seluruh penjuru ruangan yang sempit, kumuh, dan sangat tidak layak huni.

Wanru kemudian menunduk. Ia mengangkat kedua tangannya, membalik telapak tangannya bolak-balik di bawah cahaya temaram yang masuk melalui celah dinding.

Kulitnya begitu pucat, kekuningan, dengan tulang-tulang pergelangan tangan yang menonjol keluar tanpa balutan daging yang cukup.

Ia meraba lengannya sendiri, dan merasakan betapa tipisnya lapisan otot di sana. Jari-jarinya menyentuh tulang selangka yang mencuat tajam di balik kain baju yang kasar dan penuh tambalan.

"Ternyata masih ada manusia di era modern—ah, ralat, di era kuno ini—yang berada dalam keadaan semenyedihkan dan sekritis ini," gumam Wanru pelan, suaranya terdengar getir dan penuh ironi.

Sebagai seorang eksekutif puncak di perusahaan agrikultur multinasional, Wanru terbiasa melihat statistik kemiskinan global di atas kertas atau laporan bank dunia.

Ia tahu ada orang kelaparan di luar sana, ia tahu ketimpangan sosial itu ada. Namun, membaca angka di atas laporan tahunan dan merasakannya langsung menempel di sel-sel tubuh sendiri adalah dua hal yang sangat berbeda.

Ini adalah level penderitaan ekstrem di mana setiap tarikan napas adalah perjuangan, dan esok hari adalah sebuah ketidakpastian.

Kreeeekkk...

Tiba-tiba, derit pintu yang bergeser pelan memecah keheningan. Wanru menoleh ke arah pintu depan, namun tidak ada siapa-siapa.

Nyonya Lin dan Lin Bao rupanya sedang pergi entah ke mana, mungkin mencoba mencari sedikit sekam gandum atau meminjam tetangga, meninggalkan Wanru sendirian di dalam gubuk.

Namun, kesendirian itu justru memberinya kesempatan untuk menguji batas fisik tubuh barunya. Wanru mengepalkan kedua tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam.

"Baiklah, mari kita lihat seberapa rapuh raga gadis berumur delapan belas tahun ini."

Ia menggeser bokongnya ke tepi tempat tidur, menurunkan kedua kakinya yang terbungkus kain tipis hingga menyentuh lantai tanah yang lembab dan dingin.

Begitu telapak kakinya menapak tanah, seluruh persendiannya terasa bergetar hebat. Lututnya lemas seolah tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri, meskipun berat tubuh itu praktis hanya tinggal tulang dan kulit.

"Ugh..." Wanru mendesis pelan saat gelombang pusing mendadak menyerang kepalanya.

Namun, ia menolak tunduk. Tangannya terulur, mencengkeram kuat bilah kayu dinding gubuk yang berdiri miring dan rapuh. Kayu itu terasa kasar, berdebu, dan nyaris copot dari pasaknya.

Dengan mengerahkan seluruh sisa tekad dan kontrol mental baja yang ditempa selama bertahun-tahun di dunia korporasi, Wanru memaksakan kakinya untuk berdiri tegak.

"Bahkan... bahkan untuk berdiri saja tubuh ini membutuhkan usaha yang sangat menyiksa," gumamnya di sela-sela napasnya yang terengah-engah. Keringat dingin pun kembali membasahi pelipisnya.

Akan tetapi ia tidak menyerah. Dengan berpegangan pada dinding kayu yang berderit protes di setiap langkahnya, Wanru menyeret kakinya perlahan-lahan.

Langkah demi langkah, ia bergerak menyusuri ruangan sempit itu hingga akhirnya tiba di dekat pintu depan gubuk yang setengah terbuka.

Wanru meraih daun pintu yang lapuk, dan mendorongnya pelan agar terbuka lebih lebar. Cahaya matahari sore yang kemerahan langsung menyiram wajahnya, membuat matanya harus menyipit beberapa saat untuk beradaptasi.

Dan begitu pandangannya fokus ke luar, napas Wanru seolah tertahan di tenggorokan. Pemandangan yang terbentang di hadapannya bukanlah hamparan ladang hijau yang subur atau pemandangan pedesaan asri seperti dalam lukisan klasik dinasti Tiongkok.

Yang ia lihat adalah sebuah pemandangan yang sangat menyesakkan dada dan memprihatinkan.

Gubuk tempat tinggalnya ternyata berada di ujung paling terpencil dari sebuah desa miskin bernama Desa Hutan Batu. Di sekitarnya, berdiri gubuk-gubuk reyot lain yang bernasib serupa, bahkan ada yang beratapkan tumpukan jerami busuk yang sudah ambruk separuh.

Jalanan setapak di antara rumah-rumah itu berupa tanah liat kering yang berdebu jika panas, dan akan berubah menjadi lautan lumpur busuk saat hujan turun.

Di kejauhan tampak beberapa anak kecil berpakaian compang-camping, dengan perut buncit tanda kekurangan gizi, sedang memulung sisa-sisa dahan kayu kering atau mencari akar tanaman di tanah lapang.

Tidak ada tawa ceria anak-anak, yang terdengar hanya batuk parah orang dewasa dan suara angin dingin yang berhembus melintasi lembah gersang.

"Mereka... mereka tinggal di tempat seperti ini?" gumam Wanru tak percaya, matanya menatap nanar ke arah lingkungan sekitar. "Bahkan tempat-tempat ini sama sekali tidak layak disebut sebagai rumah. Ini lebih mirip kandang hewan yang diabaikan."

Sebagai seseorang yang terbiasa hidup di lingkungan steril dengan standar higienitas dan kenyamanan tertinggi, realitas sosiologis di hadapannya ini menampar kesadarannya dengan sangat keras.

Ini bukan sekadar masalah tidak punya uang, ini adalah jurang kemiskinan struktural di era feodal, di mana kaum bawah diperlakukan tidak lebih baik dari debu di jalanan.

"Ya Tuhan... Apa yang mereka rasakan selama ini?," batinnya.

Wanru mencengkeram kusen pintu yang rapuh erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Angin sore yang dingin meniup helai rambut kusutnya, namun ia tidak bergeming.

Di dalam pikirannya yang cerdas, roda gigi strategi mulai berputar dengan kecepatan penuh. Kemarahan, kebingungan, dan rasa frustrasi perlahan-lahan surut, digantikan oleh kalkulasi dingin seorang pemimpin bisnis.

Utang tiga tael perak kepada paman yang biadab. Tenggat waktu tiga hari. Tubuh yang nyaris lumpuh karena kelaparan. Lingkungan sosial yang menindas dan memandang rendah orang miskin.

Jika ia hanya diam dan menunggu keajaiban datang, dalam tiga hari ke depan ia akan diseret secara paksa ke rumah bordil, ibunya akan mati karena syok dan penyakit, dan adiknya akan dibuang menjadi pengemis jalanan. Itu adalah kepastian mutlak di dunia yang kejam ini.

Namun, Lin Wanru bukanlah gadis desa biasa yang bisa diinjak-injak begitu saja. Di dalam tubuh yang ringkih ini, bersemayam jiwa seorang CEO multitalenta yang telah terbiasa membalikkan kerugian korporasi bernilai jutaan dolar menjadi keuntungan fantastis.

"Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja pada kemiskinan ini?" bisik Wanru pada angin sore, sudut bibirnya pun terangkat membentuk sebuah senyumen tipis yang dingin namun penuh percaya diri.

Ia lalu menatap hamparan hutan liar di balik bukit desa. Di mata orang-orang desa, hutan itu adalah tempat terlarang yang dipenuhi binatang buas dan tanaman beracun.

Namun, di mata seorang ahli bioteknologi dan agrikultur modern, hutan liar di era kuno adalah sebuah gudang harta karun mentah yang belum tersentuh oleh peradaban modern seperti tanaman obat langka, rempah-rempah eksotis, dan peluang bisnis yang luar biasa besar.

"Tunggu saja, Paman Dehai... dan kalian semua yang meremehkan keluarga Lin," lanjut Wanru dalam hati, tatapannya menyalang tajam menatap ufuk senja. "Permainan baru saja dimulai."

Belum sempat Wanru melangkah keluar lebih jauh untuk memeriksa lingkungan sekitar, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah jalan setapak.

"Wan-er! Ya ampun, Wan-er! Kenapa kau berdiri di ambang pintu?!"

Suara panik Nyonya Lin terdengar membahana. Wanita paruh baya itu tampak berlari kecil dengan napas memburu, sambil membawa sebuah mangkuk tanah liat kecil di tangannya yang berisi beberapa butir kacang polong liar dan segenggam kecil umbi hutan yang kotor.

Di belakangnya, Lin Bao mengekor erat sambil memegang ujung kain baju ibunya dengan wajah yang cemas.

Melihat putri sulungnya yang baru saja siuman dari pingsan kini berdiri sendiri di ambang pintu, Nyonya Lin hampir menjatuhkan mangkuk di tangannya. Ia segera berlari menghampiri, dan merangkul bahu Wanru dengan penuh kecemasan.

"Masuklah, Nak! Angin sore di luar sangat tidak baik untuk kesehatanmu. Tubuhmu masih terlalu lemah untuk berdiri!" ujar Nyonya Lin dengan setengah memohon, lalu membimbing Wanru kembali ke dalam gubuk dan mendudukkannya di atas ranjang kayu.

Wanru tidak melawan. Ia membiarkan ibunya merawatnya, karena menyadari bahwa untuk saat ini, ia masih membutuhkan perlindungan dan kerja sama dari keluarganya.

Ia kemudian menatap mangkuk kecil berisi umbi hutan yang dibawa ibunya, makanan yang sangat menyedihkan, namun itulah satu-satunya aset bertahan hidup yang mereka miliki saat ini.

Lalu, sebuah ide cemerlang, tajam, dan penuh perhitungan pun mulai terbentuk di dalam benaknya. "Besok pagi, saat matahari terbit, langkah pertama dari misi mengubah nasib ini harus segera dimulai."

Bersambung...

1
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!