"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah hampir setengah jam perjalanan, Erlangga akhirnya menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah butik mewah.
Pria itu melirik sekilas ke arah Kara. Lalu, ia segera melepaskan dasi yang mengikat tangan wanita itu, setelah itu melepas lakban yang membungkam mulutnya dengan gerakan pelan.
Begitu terbebas, Kara langsung memukul keras bahu Erlangga. "Awas ya lo! Gue bakal ngadu kelakuan lo hari ini ke Tante Lisa, biar lo dibunuh sekalian!"
Mendengar ancaman wanita itu, Erlangga hanya menaikkan sebelah alisnya. Lalu, ia tersenyum miring sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Turun," ucapnya dingin.
Kara langsung membuka pintu mobil dengan gerakan kasar tanpa menjawab ataupun melirik kearah Erlangga.
Begitu kakinya menginjak tanah, kedua alisnya langsung bertaut. Matanya menyipit saat membaca papan nama yang terpampang jelas di atas bangunan megah tersebut.
"Candra Loka? Bukannya ini butik kelas elit yang terkenal dengan koleksi desainer dan harganya yang selangit itu ya?" batin Kara.
Lalu, ia menoleh kesamping dan mendapati punggung Erlangga yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
Sudut bibir Kara perlahan terangkat. "Lo berani main-main sama gue? Baiklah... Gue bakal bikin lo bangkrut hari ini."
Setelah itu, ia langsung melangkah, menyusul Erlangga dengan dagu yang terangkat tinggi.
Begitu mereka mendorong pintu kaca besar, seorang pramuniaga berseragam rapi segera membungkuk hormat sambil tersenyum ramah.
"Selamat siang, Tuan, Nona. Ada yang bisa saya bantu hari ini?" sapa pramuniaga itu.
Belum sempat Erlangga membuka mulut, Kara sudah melangkah ke depan, menghalangi tubuh Erlangga dari pandangan sang pramuniaga itu.
"Bantu saya cari gaun pengantin yang paling mahal di sini. Ingat, yang paling mahal," ujarnya
Pramuniaga itu langsung tersenyum dan mengangguk patuh. "Tentu, Nona. Mari, silahkan ikuti saya.
Sebelum melangkahkan kakinya, Kara sengaja memutar tubuh menghadap Erlangga sepenuhnya. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang meremehkan.
"Lo nggak keberatan kan, kalau gue beli gaun yang paling mahal di sini?" tanyanya.
Bukannya marah, Erlangga justru mengendikkan bahunya dengan santai.
"Tentu saja tidak. Ambil apa aja yang lo mau," jawabnya tenang.
Kara langsung mendengus kesal. Tanpa membalas ucapan pria itu, ia langsung berbalik dengan sentakan kasar, lalu berjalan cepat mengikuti sang pramuniaga itu.
"Ini adalah salah satu koleksi gaun edisi terbatas kami, Nona," ucap sang pramuniaga sembari menurunkan sebuah gaun putih tanpa lengan. Jemarinya yang berbalut sarung tangan tipis menunjukkan detail butiran permata yang berkilau mewah di sepanjang gaun tersebut.
Kara menerima gaun itu dengan binar puas yang sengaja ia tunjukkan.
"Aku mau coba yang ini," ujarnya mantap.
Lalu, ia melirik sekilas ke arah Erlangga yang berdiri tak jauh darinya, sebelum kembali menatap kearah pramuniaga itu. "Dan... carikan lagi model lain. Ingat, harus yang paling mahal."
"Tentu, Nona. Kebetulan kami baru saja kedatangan tiga gaun edisi terbatas dari perancang internasional. Apakah Anda berminat untuk mencoba semuanya?"
"Boleh. Bawa saja semua gaun itu ke ruang ganti," sahut Kara santai sambil memeluk gaun putih di tangannya.
Setelah itu, ia membalikkan badan, lalu melangkah angkuh menuju kamar ganti.
Begitu pintu ruang ganti tertutup rapat, pramuniaga itu langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah mendekati Erlangga.
Pria itu masih berdiri tenang di sudut ruangan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tuan Muda..." Pramuniaga itu membungkuk hormat sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada. "Apakah saya harus menuruti semua permintaan Nona Kara untuk mengambil gaun-gaun mahal itu?"
"Hmm... Turuti saja maunya," sahut Erlangga santai. Ia merogoh saku dalam jasnya, dan mengeluarkan sebuah kartu hitam, lalu menyodorkannya kepada sang pramuniaga itu. "Aku yang akan membayar semuanya."
Mendengar hal itu, sang pramuniaga itu justru menahan tawa kecil, lalu menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menolak kartu hitam itu dengan sopan.
"Maaf, Tuan Muda, tapi anda tidak perlu repot-repot membayar," ucap pramuniaga itu. "Nyonya Besar Lisa tadi sudah menelepon butik sebelum anda datang. Beliau berpesan agar Nona Kara bebas mau mengambil apa saja. Semua aset di butik ini kan milik keluarga anda, jadi Nyonya Lisa bilang... tidak ada istilah anak pemilik butik ini membayar di butiknya sendiri."
"Ambil," ucap Erlangga sambil menyodorkan kembali kartu hitamnya. "Aku tidak ingin Kara tahu, kalau butik ini milik keluarga Maheswara."
Pramuniaga itu tertegun sejenak. "Tapi Tuan Muda..."
"Aku yang akan menjelaskan semuanya nanti pada Mama," Potong Erlangga cepat.
Pramuniaga itu langsung menundukkan kepalanya sambil menerima kartu hitam itu.
"Baik, Tuan Muda. Saya mengerti. Saya akan segera mengambilkan tiga gaun edisi terbatas lainnya untuk Nona Kara," ucap pramuniaga itu, lalu membungkuk sekali lagi sebelum melangkah pergi.
Setelah kepergian pramuniaga itu, Erlangga langsung melangkah kearah sofa di depan ruang ganti, lalu menyandarkan punggungnya di sofa.
Tak lama kemudian, pintu ruang ganti terbuka. Kara keluar dengan anggun. Gaun putih tanpa lengan itu melekat sempurna di tubuhnya yang sintal. Ia sengaja memutar tubuhnya di depan Erlangga, lalu menatap pria itu dengan senyum puas.
"Coba lo lihat. Bagus kan gaun ini?" tanyanya.
Erlangga tak langsung menjawab. Ia perlahan berdiri dari sofa dan melangkah mendekat ke arah Kara. Tatapannya tertuju pada potongan dada gaun itu yang menurutnya terlalu rendah.
"Gue nggak suka gaun ini," jawab Erlangga.
Kara langsung berkacak pinggang, menatap Erlangga dengan jengkel. "Mau lo suka atau nggak, gue nggak peduli, Erlangga! Yang mau pakai itu gue, bukan lo! Dan gue mau beli yang ini!"
Erlangga menghentikan langkahnya tepat di depan Kara. "Ganti! Gaun ini terlalu terbuka."
Kara langsung tertawa kecil. "Halah, bilang aja lo panik kan lihat harganya? Lo pasti nggak punya uang sepeser pun buat bayar gaun ini, makanya lo cari-cari alasan suruh gue ganti!"
"Permisi Nona, ini tiga gaun edisi terbatas lainnya yang anda minta tadi," sela suara pramuniaga yang baru saja kembali dengan tiga gantungan gaun baru di tangannya.
Erlangga menoleh sekilas. Matanya memindai cepat ketiga gaun itu, hingga pandangannya jatuh pada sebuah gaun berwarna ivory, berbahan satin premium. Gaun itu memiliki potongan lengan pendek yang elegan, dengan bagian dada yang tertutup rapat.
Dengan gerakan cepat, Erlangga langsung merebut gaun ivory itu, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Kara
"Ganti pakai yang ini."
Kara melipat kedua tangannya di depan dada, menolak menyentuh gaun pilihan Erlangga itu. "Gue. Nggak. Mau. Lo nggak berhak ngatur gue."
Mendengar penolakan keras itu, Erlangga langsung menurunkan gaun di tangannya. Lalu maju satu langkah dan berbisik pelan di telinga Kara. "Coba ulangi perkataan lo?"
"Gue nggak mau! Lo budek atau gimana sih?!"
Erlangga semakin mencondongkan tubuhnya kedepan, matanya menelisik belahan dada Kara yang semakin menyembul keatas.
"Baiklah... Gue yang akan bantu lepas gaun lo sekarang."