**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05 - TOPENG YANG RETAK
Lantai marmer lobi Arlena Holding memantulkan bayanganku saat pintu lift berdenting terbuka.
Di pantulan kaca pilar gedung, aku melihat seorang gadis bertubuh ramping dengan kemeja putih berpotongan sederhana dan rok span hitam selutut. Wajah itu tampak begitu muda, segar, tanpa lingkaran hitam di bawah mata, dan tanpa sisa air mata keputusasaan yang merusak kulitnya selama bertahun-tahun. Namun, jika siapa pun cukup berani menatap langsung ke dalam pupil mataku, mereka tidak akan menemukan kepolosan seorang mahasiswi tingkat pertama. Di sana, hanya ada abu dingin dari bara api yang telah menghanguskan sebuah kehidupan.
Aku melangkah keluar dari area lift menuju kafe terbuka di sudut sayap timur gedung. Aroma biji kopi sangrai dan mentega hangat menguar di udara, bercampur dengan desau pendingin ruangan yang membekukan tengkuk.
Dari kejauhan, aku sudah melihat mereka.
Dua orang yang paling bertanggung jawab atas darah yang mengalir di lantai apartemen lantai tiga puluh dua pada malam badai itu.
Ryan Arkana duduk di salah satu sofa kulit berwarna cokelat tua. Ia mengenakan kemeja biru langit dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku—gaya kasual namun terkesan berkelas yang selalu ia gunakan untuk memikat orang-orang di sekitarnya. Jam tangan perak melingkar di pergelangan tangannya, memantulkan kilatan cahaya matahari siang. Di hadapannya, Selena Marvia duduk condong ke depan, tertawa renyah hingga helaian rambut cokelat ikalnya bergoyang anggun. Gaun terusan berwarna krem yang ia kenakan membuatnya tampak rapuh, manis, dan membutuhkan perlindungan.
Tangan Selena berada di atas meja, hanya berjarak beberapa milimeter dari jemari Ryan. Begitu intim. Begitu terlatih.
Dulu, aku akan tersenyum melihat kedekatan mereka. Dulu, aku akan merasa sangat beruntung karena sahabat masa kecilku bisa begitu akrab dan rukun dengan tunanganku. Aku bahkan sering memaksa diriku untuk tidak merasa cemburu saat Selena merapikan kerah baju Ryan atau saat Ryan mengantarkan Selena pulang larut malam, meyakinkan diriku sendiri bahwa mereka hanyalah dua orang yang sama-sama menyayangiku.
Betapa naifnya aku. Betapa butanya seorang Nadia Arlena di masa lalu.
Begitu tumit sepatuku berketuk di lantai marmer dekat meja mereka, Selena menjadi orang pertama yang menoleh. Binar keterkejutan melintas sejenak di matanya sebelum dengan cepat digantikan oleh senyuman manis yang selama ini kuanggap tulus.
"Nadia!" Selena berseru riang, bangkit dari sofa dengan gerakan anggun.
Ia langsung merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambutku dengan pelukan erat seperti yang biasa ia lakukan setiap kali kami bertemu. Aroma parfum vanila manis yang pekat langsung menerpa indra penciumanku—aroma yang sama persis dengan yang tercium dari mantel Ryan pada malam-malam ketika ia pulang terlambat dan beralasan lembur di kantor.
Tubuhku secara naluriah menolak kontak fisik itu. Sebelum jemari Selena sempat menyentuh pundakku, aku melangkah setengah tapak ke arah samping. Gerakanku sangat halus, nyaris tak terlihat sebagai penolakan sengaja, saat aku langsung menarik kursi kosong di seberang mereka dan meletakkan tas tanganku di atas meja kayu.
Pelukan Selena menggantung canggung di udara.
Selena mematung selama satu detik penuh. Tangannya perlahan turun ke sisi tubuhnya, sementara senyum di bibirnya sedikit mengendur. Matanya berkedip bingung, menatapku dari atas ke bawah seolah sedang mencari tahu apakah ia telah melakukan kesalahan.
"Nadia...?" panggilnya ragu. "Kamu kenapa? Ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa," jawabku datar sambil menarik kursi ke belakang dan duduk dengan punggung tegak sempurna. "Duduklah, Selena. Menghalangi jalan pelayan bukan hal yang sopan di tempat umum."
Selena menelan ludah. Sudut matanya berkedut tipis sebelum ia memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang. "Kamu ini... bercandanya bikin kaget saja." Ia kembali duduk di samping Ryan, namun kali ini ada jarak beberapa inci ekstra di antara mereka yang sebelumnya tidak ada.
Ryan memperhatikanku lekat-lekat. Senyum tampan yang biasanya mampu meluluhkan hatiku tersungging di bibirnya. Ia menyandarkan punggungnya santai ke sandaran sofa, memancarkan aura seorang pria muda yang yakin bahwa dunia berada di bawah kendalinya.
"Paman Edward menelepon papaku tadi pagi, katanya kamu sempat pingsan di rumah," ujar Ryan. Suaranya rendah dan terdengar penuh perhatian, jenis intonasi yang dulu selalu sukses membuat dadaku berdebar hangat. "Makanya begitu Selena bilang kamu ada di kantor, aku langsung membatalkan kelasku dan menyetir ke sini. Harusnya kamu istirahat saja di kamar, Nadia. Biar aku dan Selena yang datang membawakan makan siang untukmu."
Kalian berdua datang ke kamarku?
Sebuah seringai samar nyaris lolos dari bibirku. Ingatan tentang malam pembantaian itu kembali terputar di kepalaku bagai film horor: Ryan yang melangkah dalam kegelapan dengan pisau di tangan, Selena yang menunggu kabar kematianku di balik nomor ponsel tak dikenal, dan kalimat terakhir Ryan di telepon—Pastikan dia tidak pernah bangun lagi.
Aku menatap lurus ke dalam pupil mata Ryan Arkana. Aku tidak berkedip. Tidak ada senyuman hangat seorang gadis sembilan belas tahun yang sedang dimabuk asmara. Tatapanku dingin, tajam, dan setenang permukaan danau yang membeku.
Ryan yang tadinya duduk santai mendadak merasa tidak nyaman. Senyum di wajahnya memudar perlahan. Ia sedikit membetulkan posisi duduknya, dahinya berkerut samar. Ryan terbiasa melihat tatapan memuja dari mataku, tatapan seorang gadis polos yang siap memberikan segalanya demi mendapatkan secuil perhatiannya.
Namun tatapan yang kuberikan padanya saat ini... terasa asing. Menusuk hingga ke sumsum tulang.
"Terima kasih atas perhatianmu, Ryan," kataku, memecah kesunyian yang mulai merayap kaku di antara kami. "Tapi aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena terlalu banyak membaca dokumen."
Ryan tertawa pendek, mencoba mencairkan ketegangan yang entah mengapa mulai mencekik meja itu. "Dokumen apa? Kamu kan baru semester dua jurusan sastra, Nadia. Jangan membebani dirimu dengan hal-hal yang bukan bidangmu."
"Sastra atau bukan, memahami bagaimana uang keluargaku berputar rasanya jauh lebih penting daripada membaca novel fiksi," sahutku pelan, namun setiap kata terucap dengan artikulasi yang sangat jelas.
Selena melirik Ryan sekilas. Ada semacam kode tanpa suara yang mereka lemparkan satu sama lain—gerakan mikro yang dulu selalu luput dari pengamatanku, namun kini terbaca begitu mencolok di mataku.
Selena berdeham pelan, lalu merapikan gaunnya. "Oh ya, Nadia, soal pesan yang kukirimkan tadi pagi... kamu sudah membacanya, kan? Aku sengaja mengajak Ryan ke sini supaya kita bisa meluruskan semuanya bersama-sama."
"Pesan yang mana?" tanyaku dengan nada polos yang dibuat-buat, meski di dalam hati aku tahu betul racun apa yang sedang ia siapkan.
"Itu... yang kukatakan ada sesuatu tentang Ryan," Selena mulai memainkan peran andalannya: sahabat baik yang merasa bersalah karena harus menyampaikan kabar buruk demi kebaikan temannya. Matanya dibuat berair, ekspresinya dipenuhi kekhawatiran palsu. "Beberapa hari lalu, aku melihat Ryan dijemput oleh seorang wanita dengan mobil mewah di depan kampusnya. Aku tidak ingin berburuk sangka, tapi aku takut ada orang ketiga yang mencoba memanfaatkan Ryan. Karena aku menyayangimu, aku merasa harus jujur. Dan hari ini, Ryan setuju untuk menjelaskan semuanya padamu agar tidak ada salah paham di antara kalian."
Aku mendengarkan monolog dramatis itu dengan rasa jijik yang bergemuruh di dada.
Trik murahan.
Di kehidupan pertama, Selena menggunakan cerita rekayasa ini untuk membuatku merasa cemas dan tidak aman. Ia menciptakan musuh imajiner agar aku semakin bergantung padanya untuk mencari tahu 'kebenaran', sementara Ryan akan berpura-pura menjadi korban fitnah yang terluka, menuntutku untuk meminta maaf dan membuktikan kepercayaanku. Pada akhirnya, untuk menebus rasa bersalah karena telah meragukan Ryan, aku memohon kepada Ayah untuk menyetujui proyek konsorsium pelabuhan milik keluarga Arkana.
Itu adalah jebakan manipulasi psikologis yang dirancang begitu rapi oleh dua orang di hadapanku ini.
"Begitu?" Aku menopang daguku dengan punggung tangan, menatap Selena dengan tatapan geli. "Wanita bermobil mewah?"
Ryan buru-buru menyahut, wajahnya dipasang dengan ekspresi tersinggung yang dramatis. "Itu cuma rekan bisnis papaku, Nadia! Beliau tante dari temanku yang kebetulan lewat dan menawarkan tumpangan ke kantor konsorsium. Selena hanya salah paham, makanya aku memintanya untuk membicarakan ini langsung denganmu. Kamu percaya padaku, kan?"
Ryan mengulurkan tangannya melintasi meja marmer, bermaksud menggenggam jemariku untuk memberikan kepastian palsunya.
Tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kulitku, aku bergerak cepat meraih gelas air mineral yang disediakan pelayan. Gerakanku begitu tepat waktu sehingga tangan Ryan kembali mengambang hampa di udara untuk kedua kalinya. Ia menarik tangannya kembali dengan rahang yang sedikit mengencang.
Aku menyesap air dingin itu perlahan, membiarkan esnya membasahi kerongkonganku, sebelum meletakkan gelas kaca itu kembali ke meja dengan ketukan pelan yang tegas. Tuk.
"Tentu saja aku percaya," ucapku santai, bibirku melengkung membentuk senyuman tipis yang tidak mencapai mata. "Lagi pula, buat apa meributkan hal sekecil itu? Siapa pun wanita yang bersamamu, tidak ada hubungannya dengan keputusan bisnis Ayah."
Ryan mengernyit. "Keputusan bisnis? Maksudmu?"
"Proposal kemitraan konsorsium pelabuhan yang kamu ajukan pada Ayah pagi ini," jawabku lugas.
Mendengar kata-kata itu, mata Ryan seketika berbinar cerah. Ambisi serakah yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng pria terpelajar mencuat tanpa bisa ia cegah.
"Paman Edward sudah menandatanganinya?" tanya Ryan cepat, nada suaranya tak lagi setenang tadi. "Hebat! Papaku sudah menunggu kabar ini sejak kemarin. Kalau nota kesepahaman ini berjalan, aku akan resmi ditempatkan sebagai kepala pengawas lapangan di dermaga logistik Arlena Holding. Nadia, ini langkah besar untuk masa depan kita. Kita bisa lebih sering bertemu, bukan cuma di akhir pekan."
"Siapa yang bilang Ayah menandatanganinya?" potongku dingin.
Kalimat pendek itu menghantam udara di antara kami layaknya palu godam.
Binar di mata Ryan membeku seketika. "Apa?"
"Ayah menolaknya, Ryan," ujarku tanpa ragu, suaraku mengalun tenang di tengah keheningan kafe yang mendadak terasa mencekam. "Proposal itu sudah masuk ke tempat sampah di ruang kerja Ayah sepuluh menit yang lalu."
Wajah Ryan seketika memucat, sebelum kemudian semburat merah amarah mulai merayap naik ke lehernya. "Ditolak? Tidak mungkin! Paman Edward sendiri yang dua pekan lalu meminta keluargaku menyusun draf investasinya! Kami sudah menghabiskan ratusan juta untuk membayar konsultan hukum demi merapikan pembagian sahamnya!"
"Dan konsultan hukummu menyusun klausul yang luar biasa menjijikkan," sambungku dengan nada santai, seolah sedang membicarakan prakiraan cuaca sore hari.
Mata Selena membelalak ngeri, sementara Ryan terperangah di tempat duduknya.
"Apa maksudmu, Nadia?!" nada suara Ryan mulai meninggi, kehilangan kontrol sopan santun yang selama ini ia agung-agungkan.
"Tiga puluh persen modal ventura awal dari Arkana Group, tapi kalian menuntut hak audit menyeluruh atas seluruh izin konsesi lahan milik Arlena Holding," jelasku terperinci, mengingat setiap detail dokumen audit berdarah yang kutemukan sesaat sebelum kematianku. "Kalian juga menyisipkan klausul penalti likuiditas sebesar tiga ratus persen jika sertifikasi amdal dermaga terlambat terbit dalam kurun waktu enam bulan. Padahal, kalian tahu betul bahwa perizinan amdal pelabuhan membutuhkan waktu minimal sembilan bulan di kementerian."
Aku mencondongkan tubuhku ke depan, memangkas jarak di antara kami. Tatapanku mengunci kedua mata Ryan yang kini bergetar hebat karena rasa terkejut yang luar biasa.
"Kalian berniat membekukan kas operasional Arlena Holding lewat tuntutan ganti rugi fiktif begitu izinnya tertunda, lalu memaksa Ayah melepas saham mayoritas dermaga untuk menutup utang tersebut. Bukankah begitu skenarionya, Tuan Muda Arkana?"
Hening yang menyusul terasa begitu pekat hingga suara tarikan napas Selena terdengar jelas.
Ryan terpaku di sofanya, tubuhnya kaku seperti batu. Seluruh warna darah seolah tersedot habis dari wajahnya. Rencana busuk yang ia rancang bersama ayahnya secara rahasia—sebuah jebakan finansial tingkat tinggi yang bahkan seharusnya tidak dipahami oleh direksi senior—kini dibeberkan dengan begitu telanjang dan akurat oleh seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang selama ini ia anggap bodoh.
"Nadia... kamu... dari mana kamu tahu istilah-istilah itu?" bisik Ryan terbata-bata, keringat dingin mulai berkilau di pelipisnya.
Sebelum Ryan sempat menenangkan kepanikannya, Selena tiba-tiba bersuara. Suaranya melengking tinggi, dipenuhi kepanikan yang tak lagi mampu ia redam di balik senyum manisnya.
"Nadia! Kamu pasti sudah gila!" seru Selena serak, tangannya mencengkeram erat tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu tidak bisa menuduh Ryan seperti itu! Keluarga Arkana berniat baik untuk membantu ekspansi bisnis keluargamu! Ryan sudah begadang berminggu-minggu demi proyek ini! Kenapa kamu jadi sejahat dan sekejam ini pada tunanganmu sendiri?!"
Mendengar ledakan emosi itu, aku perlahan mengalihkan pandanganku dari Ryan menuju wajah Selena.
Tatapan mataku bergerak lambat, menyapu setiap inci wajah sahabatku yang kini merah padam karena amarah dan kecemasan yang berlebihan.
"Kenapa kamu yang berteriak, Selena?" tanyaku dengan suara yang sangat rendah, namun dingin menusuk hingga membuat Selena seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"A-aku..."
"Proyek ini adalah urusan Arlena Holding dan Arkana Group," lanjutku, membedah setiap reaksinya tanpa belas kasihan. "Keluarga Marvia sama sekali tidak menanamkan modal sepeser pun di sini. Kamu bahkan bukan mahasiswi jurusan hukum atau bisnis. Lalu, atas dasar apa kamu merasa begitu terpukul dan hancur saat rencana finansial Ryan digagalkan?"
"Aku cuma peduli padamu, Nadia!" bela Selena dengan suara bergetar, air mata kepalsuannya mulai menggenang di pelupuk mata. "Aku tidak mau melihat hubungan kalian rusak hanya karena kesalahpahaman konyol ini!"
"Peduli padaku?" Aku tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu hampa dan mengerikan, membuat pelayan kafe yang berdiri beberapa meter dari kami menoleh cemas. "Atau kamu peduli pada komisi lima persen dari pengalihan aset yang dijanjikan Ryan kepadamu jika jebakan ini berhasil?"
Wajah Selena berubah pasi seketika. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, napasnya tercekat di tenggorokan seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya kuat-kuat. Ia menatapku dengan tatapan ngeri yang tak terbantahkan—tatapan seseorang yang baru saja melihat hantu di siang bolong.
Di kehidupan pertamaku, aku baru mengetahui tentang komisi rahasia Selena setelah bertahun-tahun menikah, ketika aku tak sengaja menemukan buku tabungan atas nama Selena yang dialiri dana siluman dari rekening Ryan. Melihat reaksinya saat ini, dugaanku tepat: persekongkolan menjijikkan mereka sudah dimulai bahkan sejak kami masih duduk di bangku kuliah.
Ryan yang menyadari situasi telah berbalik menjadi bencana total, menghentakkan tangannya ke atas meja.
BRAK!
Cangkir kopi bergetar hebat. Beberapa pasang mata pengunjung kafe langsung tertuju pada meja kami. Topeng pria santun yang melekat di wajah Ryan runtuh seutuhnya, memperlihatkan sosok arogan dan manipulatif yang selama ini bersembunyi di baliknya.
"Cukup, Nadia!" bentak Ryan dengan gigi terkatup rapat, urat-urat di lehernya menegang tegang. "Aku tidak tahu iblis apa yang merasukimu hari ini sampai kamu berani menghina aku dan Selena seperti ini! Kamu masih kekanak-kanakan, kamu sama sekali tidak mengerti bagaimana dunia korporasi bekerja! Aku akan naik ke atas sekarang dan bicara langsung dengan Paman Edward. Paman pasti jauh lebih bijaksana daripada mendengarkan ocehan histeris anak perempuannya!"
Ryan berdiri tegak, merapikan kemejanya dengan kasar, bersiap melangkah menuju deretan lift eksekutif.
"Paman Edward tidak punya waktu sedetik pun untuk meladeni penipu amatir sepertimu, Tuan Muda Arkana."
Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan otoritas mutlak membelah ketegangan di udara.
Langkah Ryan membeku di tempat.
Suara langkah sepatu kulit mahal berketuk teratur di atas marmer, membawa hawa dingin yang luar biasa menekan ke area kafe. Kami semua menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
Seorang pria bertubuh jangkung melangkah mendekat. Jas hitam arang bermerek rancangan penjahit Italia membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Kemeja putih bersih tanpa cela dan dasi sutra hitam melengkapi penampilannya yang memancarkan kekuasaan absolut. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dan tajam bagai pahatan marmer, dengan sepasang mata kelam yang begitu dingin dan menusuk, seolah tak ada satu pun rahasia di dunia ini yang bisa bersembunyi darinya.
Adrian Varell.
Di belakangnya, dua orang pengawal pribadi berbadan tegap dan seorang asisten berpakaian formal berdiri dalam posisi siaga penuh, menjaga jarak tiga langkah di belakang sang pemimpin konglomerat Varell Group.
Napas Ryan tercekat di tenggorokan. Seluruh arogansi dan kemarahan yang tadi meluap dari tubuh pemuda itu mendadak lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rasa takut dan rasa kerdil yang luar biasa.
Di hadapan seorang Adrian Varell, Ryan Arkana tak ubahnya seekor serangga kecil yang bisa diremukkan kapan saja tanpa perlu usaha berarti.
"T-Tuan Varell..." sapa Ryan terbata-bata, suaranya tercekat di kerongkongan. Ia secara otomatis menundukkan sedikit kepalanya, sebuah gestur takluk yang tak bisa ia sembunyikan. "K-kebetulan sekali bertemu dengan Anda di sini."
Adrian Varell bahkan tidak repot-repot melirik ke arah Ryan. Tatapan matanya yang kelam meluncur melewati Ryan dan Selena yang kini gemetar di tempatnya, lalu terkunci lurus padaku yang masih duduk tenang di kursi.
Ada secercah kilatan penuh minat yang sangat tipis di dasar mata pria itu—sebuah kilatan yang menyadari bahwa gadis di hadapannya bukanlah pion biasa di papan catur ini.
"Nona Arlena," suara Adrian terdengar tenang namun bergema di seluruh sudut ruangan. "Ayah Anda meminta saya untuk menjemput Anda secara pribadi. Ruang rapat lantai tiga puluh lima sudah dipersiapkan."
Aku mengangkat alis, menatap pria yang di masa depanku menjadi sosok penguasa bayangan yang tak tersentuh itu. "Rapat untuk apa, Tuan Varell?"
Adrian menarik sudut bibirnya sangat tipis—sebuah senyuman dingin yang membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri.
"Penandatanganan nota kesepahaman konsorsium logistik dan dermaga pelabuhan antara Arlena Holding dan Varell Group," jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Kami menyuntikkan modal segar sebesar tujuh puluh persen tanpa menuntut hak audit izin tanah keluarga Anda. Segala klausul yang diajukan oleh nona muda Arlena tadi pagi... telah disetujui sepenuhnya oleh dewan direksi saya."
DEG.
Darah di dalam tubuh Ryan seolah berhenti mengalir seketika. Matanya membelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Ia menatap Adrian Varell, lalu menatapku bolak-balik dengan rasa tidak percaya yang bercampur dengan teror murni.
Proyek pelabuhan yang telah ia incar selama dua tahun, tambang emas yang seharusnya menjadi alat keluarganya untuk menelan Arlena Holding hidup-hidup, kini diserobot begitu saja di depan matanya oleh raksasa bisnis terbesar di negeri ini. Dan yang lebih mengerikan baginya... aku lah yang mengatur semua ini di balik layar.
Selena menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya lemas hingga ia harus berpegangan pada sandaran sofa agar tidak merosot ke lantai. Rencana busuk yang mereka bangun dengan penuh percaya diri telah hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan menit.
Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman kemenangan yang dingin dan mematikan.
Perlahan, aku bangkit dari kursiku. Aku mengambil tas tangan di atas meja, merapikan rok hitamku tanpa tergesa-gesa, lalu melangkah keluar dari area meja kafe.
Sebelum melangkah melewati Ryan yang masih berdiri mematung bagai patung lilin yang meleleh, aku berhenti tepat di sampingnya. Aku mencondongkan wajahku sedikit ke arah telinganya, berbisik dengan nada yang begitu manis namun mematikan bagai racun sianida.
"Bawa sahabat tersayangmu pulang, Ryan. Dan sampaikan salam hangatku pada papamu di rumah. Katakan padanya... Arlena Holding bukan lagi tempat bermain untuk pencuri amatir."
Ryan gemetar hebat, namun ia tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya yang kelu.
Aku berbalik dan melangkah menghampiri Adrian Varell. Pria itu sedikit memiringkan tubuhnya, memberi ruang bagiku untuk berjalan lebih dulu di sampingnya menuju lift pribadi eksekutif.
Saat pintu lift logam keemasan itu tertutup perlahan, memutus pandangan ngeri Ryan dan Selena di luar sana, aku menatap pantulan diriku di dinding lift yang berkilau.
Ini baru permulaan. Rasa sakit yang kurasakan di lantai apartemen malam itu belum terbayar seperseratusnya. Namun hari ini, aku telah meretakkan topeng mereka.
Dan aku tidak akan berhenti sampai seluruh hidup mereka hancur berkeping-keping hingga menjadi debu.