Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Mantan Suamiku Berlutut di Lobi
"ALESHA! AKU TAHU KAU DI ATAS! TURUN DAN TEMUI AKU!"
Suara Rian Mahardika pecah di interkom darurat lantai empat puluh. Serak, panik, putus asa. Menggema memecah keheningan.
Di layar CCTV besar di dinding koridor, lobi utama Gedung Konsorsium Vion terlihat jelas seperti siaran langsung.
Rian berdiri di tengah lobi marmer. Jas putih yang kemarin ia pakai gagah di altar kini kusut, kancing lepas satu, dasi miring. Rambutnya yang biasanya rapi dengan pomade mahal sekarang berantakan, berminyak, semalaman tidak tidur.
Di tangannya ia menggenggam buket mawar merah yang sudah layu. Kelopaknya menghitam di ujung. Buket yang sama yang seharusnya ia berikan pada Alesha kemarin di Hotel Grand Mulia. Sekarang tidak lebih dari sampah.
Di belakangnya, Clarissa Mahardika berdiri dengan wajah merah padam menahan malu. Gaun merah menyalanya kemarin sudah ganti setelan kasual mahal, tapi arogansinya masih sama. Ia menarik-narik lengan jas Rian kasar.
"Rian! Hentikan! Kau mempermalukan keluarga Mahardika! Semua orang lihat! Ayo pulang! Papa sudah menunggu di kantor!" bisik Clarissa tertahan, tapi lolos jelas lewat mikrofon lobi yang sensitif.
"Aku tidak akan pulang sebelum ketemu Alesha!" bentak Rian, menepis tangan Clarissa sampai wanita itu hampir jatuh karena hak tingginya. "Dia yang lakukan ini semua! Dia yang buat bank blokir semua rekeningku! Dia yang buat investor tarik modal! Hanya dia yang bisa perbaiki ini!"
Di lantai empat puluh, Alesha menatap layar itu dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Tidak ada lagi sakit. Tidak ada sisa cinta. Yang tertinggal hanya jijik yang perlahan merayap naik.
Vion di sampingnya melipat tangan di depan dada. Tatapannya tajam, seperti singa mengawasi mangsa di wilayahnya sendiri.
"Ratuku," bisik Vion pelan di dekat telinga Alesha. Suaranya rendah dan intim. "Mau aku suruh security lempar mantan pengantinmu itu keluar, atau kau mau turun dan kasih pelajaran sendiri?"
Alesha tidak langsung jawab. Jemari lentiknya dengan kuku merah marun mengetuk pelan permukaan railing kaca.
Ia ingat semua penghinaan kemarin. Bagaimana Rian menyuruh security mengusirnya. Bagaimana pria itu berkata, "Kau hanya masa lalu yang tidak berguna," di depan ratusan tamu.
Perlahan, senyum tipis yang dingin dan mematikan tersungging di bibir Alesha.
"Aku akan turun," ucap Alesha tenang tapi penuh otoritas. "Seorang ratu harus menyaksikan sendiri bagaimana pengkhianatnya berlutut. Itu bagian dari upacara kemenangannya."
Vion tersenyum puas. "Seperti yang kau mau, Nyonya Vion."
Tanpa buang waktu, Alesha melangkah. Sepatu hak tinggi lancipnya beradu dengan lantai marmer koridor. Tok, tok, tok. Mantap dan penuh wibawa. Vion berjalan di sampingnya, sedikit di belakang. Memberi ruang agar Alesha jadi pusat perhatian, sekaligus menegaskan kepemilikan.
Lift eksekutif pribadi meluncur turun dari lantai empat puluh ke lobi dalam waktu kurang dari dua puluh detik. Waktu yang terasa begitu panjang bagi Rian yang menunggu di bawah dengan napas memburu.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Lobi yang tadinya riuh oleh bisik-bisik karyawan mendadak sunyi senyap.
Semua mata tertuju ke pintu lift.
Alesha melangkah keluar lebih dulu. Setelan jas charcoal grey-nya berkibar anggun. Rambutnya digerai bergelombang, jauh lebih dewasa dan berkelas. Riasan natural tapi tegas menonjolkan sorot mata yang tajam. Di lehernya, kalung berlian tipis berkilau, hadiah pertama dari Vion sebagai tanda selamat datang di keluarga mereka.
Di belakangnya, Vion melangkah keluar dengan aura kukuh yang membuat semua orang di lobi menundukkan pandangan. Setelan jas hitamnya sempurna, menyapu ruangan seperti seorang kaisar yang memeriksa wilayahnya.
Begitu melihat Alesha, mata Rian membelalak. Mulutnya sedikit terbuka.
Wanita di depannya ini bukan Alesha yang ia tinggalkan di altar kemarin. Bukan wanita yang selalu pakai kemeja polos dan jeans murah demi berhemat untuk modal Vantec. Bukan wanita yang selalu menunduk kalau bicara dengan orang berada.
Sosok di depannya sekarang sepuluh kali lebih mahal, sepuluh kali lebih berkuasa, dan seratus kali lebih memesona daripada Clarissa.
"Les... Alesha..." Rian terbata, melangkah maju dengan buket layu di tangan. Wajahnya pucat berusaha menampilkan senyum penuh harap. "Akhirnya kau mau menemuiku, Les. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu kau tidak tega melihatku hancur seperti ini."
Alesha berhenti tepat dua meter di hadapan Rian. Ia menatap buket layu itu dengan jijik.
"Jangan pernah panggil aku Les lagi," ucap Alesha dingin. Suaranya tidak tinggi, tapi terdengar jelas di tengah hening. "Nama saya Alesha Zahra. Atau Nyonya Vion. Pilih salah satu yang membuatmu lebih nyaman saat berlutut."
Rian tertegun. Kalimat itu menghantamnya seperti tamparan keras.
Melihat situasi itu, Clarissa langsung maju dengan ekspresi angkuh.
"Kau! Perempuan tidak tahu diri! Kau pikir dengan tidur semalam dengan Tuan Vion kau bisa seenaknya membekukan rekening perusahaan suamiku?! Kau pikir kau siapa?!" teriak Clarissa melengking, menunjuk wajah Alesha dengan telunjuk berkuku panjang.
Belum sempat jarinya mendekat setengah meter, sebuah tangan kekar berbalut jas hitam sigap mencengkeram pergelangan Clarissa dari samping. Pengawal pribadi Vion bergerak.
"Jangan pernah arahkan jarimu pada Nyonya Vion," ujar pengawal itu dingin tanpa emosi, lalu memelintir perlahan pergelangan Clarissa hingga wanita itu memekik.
"Argh! Lepas! Rian! Lakukan sesuatu! Dia menyakitiku!" jerit Clarissa, menatap Rian dengan mata berkaca-kaca.
Tapi Rian tidak lagi peduli. Pandangannya terkunci sepenuhnya pada Alesha dan Vion.
Vion melangkah maju, berdiri tepat di sisi Alesha. Ia merangkul pinggang wanita itu posesif, menariknya merapat. Gestur sederhana itu memberi pesan mutlak ke seluruh lobi. Wanita ini milikku.
"Tuan Rian Mahardika," sapa Vion dengan suara bariton berat dan penuh wibawa. "Buket mawar layu yang kau bawa itu... apa itu sisa dari pesta pernikahan sampahmu kemarin di hotel milikku?"
Wajah Rian semakin kehilangan warna. Hotel milikku. Dua kata itu menghantam kepalanya seperti palu godam. Ia baru sadar Hotel Grand Mulia adalah bagian dari aset Konsorsium Vion.
"Kau... pemilik Grand Mulia?" tanyanya dengan suara bergetar.
Vion tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis.
Alesha membuka tas tangan kecil bermerek, lalu mengeluarkan sesuatu.
Bukan cek. Bukan uang tunai.
Melainkan sebuah map kulit hitam serupa dengan yang ia terima semalam, beserta sebuah Black Card yang memantulkan kilau logam mewah.
Ia melemparkan map itu ke lantai marmer, tepat di ujung kaki Rian.
Brak!
Map itu terbuka, menampilkan lembar Akta Pernikahan resmi tertanggal 15 September 2026 atas nama Vion Adhyaksa dan Alesha Zahra, lengkap dengan stempel sah negara di bawah pasfoto mereka.
Mata Rian membelalak hingga nyaris keluar. Lututnya melemah seketika.
"Apa... apa ini? Tidak... tidak mungkin..." gumam Rian putus asa, sementara buket layu di tangannya terlepas dan berserakan di atas lantai marmer yang mengilap.
"Selamat pagi, mantan pengantinku," ucap Alesha dengan senyuman paling manis sekaligus paling mematikan. Ia sedikit mencondongkan tubuh, berbisik tepat di depan wajah pria itu.
"Kemarin kau bilang aku hanya wanita biasa yang tidak sepadan dengan status dan ambisimu. Dan kau benar. Aku memang tidak sepadan denganmu."
Alesha menegakkan tubuhnya, lalu melingkarkan lengan pada lengan Vion.
"Karena mulai hari ini, statusku adalah istri dari pemilik tempat di mana kau mengadakan pesta pengkhianatanmu kemarin. Dan perusahaan rintisan yang dulu kau banggakan itu..."
Alesha mengangkat Black Card di tangannya dan menggesekkannya pelan di udara.
"...sudah kubeli lunas pakai kartu ini. Termasuk seluruh tumpukan utangmu."
Rian kehilangan seluruh kekuatannya. Kakinya runtuh.
Di tengah lobi megah Konsorsium Vion, disaksikan ratusan karyawan, Clarissa yang menangis histeris, serta tatapan dingin Vion dari atas, Rian Mahardika jatuh berlutut di hadapan kaki Alesha, dikelilingi kelopak mawar merah yang telah layu.
"Les... Alesha... ampun... jangan hancurkan aku... aku mohon..."
Vion menatap pemandangan itu dengan kepuasan, lalu menoleh ke arah Alesha.
"Bagaimana, Ratuku? Apakah hukuman ini sudah cukup untuk hari pertamamu?"
Alesha menunduk menatap Rian yang tak berdaya, kemudian beralih memandang Clarissa yang berlinang air mata.
Belum, batin Alesha.
Ini baru permulaan.