NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Nguping

Istirahat kedua baru saja berbunyi. Seperti biasa, Danu, Rio, dan Zahra beranjak menuju kantin. Namun, saat melewati area kelas 10A, langkah mereka mendadak terhenti ketika telinga mereka menangkap suara perdebatan yang familiar dari balik jendela kelas yang sedikit terbuka.

​Penasaran, ketiganya kompak mengintip lewat celah jendela. Di dalam sana, tampak Dimas sedang menatap tajam ke arah seorang siswi bernama Aira.

​"Loh, lu ternyata Aira, dalang di balik poster 100 juta ini?!" tanya Dimas kaget, nyaris tak percaya.

​Aira mengangguk santai. "Iyalah."

​"Emangnya lu punya motif apa bikin selebaran kayak begitu?" kejar Dimas dengan dahi berkerut.

​"Ohh, gue sih iseng aja," jawab Aira santai.

​"Yang serius, Woy!" gerutu Dimas kesal karena merasa dipermainkan.

​Melihat ekspresi kesal Dimas dan jawaban santai Aira, Danu spontan membekap mulutnya. Kali ini, tawa kecil lolos begitu saja dari bibirnya—tanpa ada rasa ragu atau takut terlihat bodoh. Rio dan Zahra yang melihat Danu bisa tertawa lepas tanpa beban ikut tersenyum tipis, senang melihat perubahan kecil pada diri sahabat mereka.

​Setelah puas menonton drama singkat itu, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan ke kantin.

​Suasana kantin siang itu terasa cukup adem, apalagi dengan kabar gembira adanya menu hidangan baru yang terpampang di papan kantin.

​Mata Zahra langsung berbinar begitu melihat gambar menu tersebut. Ia menunjuknya dengan penuh antusias. "Eh, lihat! Ada menu baru, es krim, Guys! Cepetan ke sana sebelum kehabisan!"

​"Hahaha, semangat banget," tawa Danu renyah.

​Rio mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas. "Duh, gue masih gak ngerti, cewek satu ini sebenarnya punya berapa kepribadian sih? Bentar-bentar galak, bentar-bentar heboh gara-gara es krim."

​Tanpa mempedulikan omelan Rio, Zahra sudah lebih dulu melangkah cepat mendahului mereka berdua. Mau tidak mau, Rio dan Danu buru-buru mempercepat langkah untuk menyusul.

​Sesampainya di meja makan, ternyata Zahra sudah sigap mengamankan pesanan es krimnya.

​"Wih, kelihatannya enak banget nih..." ucap Zahra penuh kemenangan, menatap es krim di depannya dengan mata berbinar-binar.

​Rio menarik kursi lalu duduk dengan gaya malas, melipat tangan di dada. "Alah, cuma es krim doang, segitunya amat heboh."

​"Bodo amat! Mending lu pesen sana, gue mau melahap es krim ini duluan," balas Zahra ketus.

​Melihat dua temannya mulai adu argumen lagi, Danu langsung panik kecil dan menengahi. "Duh, Guys, jangan berkelahi... kita kan mau makan tenang."

​"Gapapa, gak bertengkar kok, cuma berdebat kecil aja," jawab Rio meluruskan dengan santai.

​Danu mengedipkan matanya, bingung. "Emang apa bedanya...?"

​Zahra tertawa kecil melihat kepolosan Danu, lalu buru-buru mengalihkan topik. "Emm, ya... pokoknya mending lu beli makanan juga sekarang, Danu, mumpung kita udah di kantin!"

​"Oke," jawab Danu singkat.

​Mereka berdua mulai beranjak menghampiri ibu kantin dan memilih camilan yang diinginkan. Setelah selesai membayar, keduanya kembali dan duduk di meja yang tadi ditempati Zahra.

​"Enaknya ngobrolin apa lagi ya?" tanya Rio sambil mengetuk-ngetuk meja.

​"Hmm... gimana kalau aku ceritain progres ceritaku?" usul Danu ragu-ragu.

​"Widih, boleh tuh! Gimana-gimana?" sambut Rio antusias.

​"Ehh, tunggu... Danu bikin cerita?" tanya Zahra kaget, baru tahu kalau Danu mengunggah karya tulisnya di aplikasi novel.

​"Iya..." jawab Danu pelan.

​"Judulnya apa?" cecar Zahra penasaran.

​"Judulnya Kebal Ilusi," jawab Danu malu-malu.

​"Ohh, berarti tokoh utamanya kebal terhadap ilusi gitu? Terus, ini genre fantasy atau bukan?" tanya Zahra lagi.

​"Iya, fantasy," jawab Danu.

​"Udah lah, jangan bahas detail genrenya, bahas progresnya aja, Dan," potong Rio yang ingin langsung to the point.

​"Oh iya..." Danu mengangguk. "Jadi, awal-awal cerita aku sepi. Ya, gak apa-apa sih, emang sepi, lagian ini kan hobiku. Nah, pas kemarin pulang sekolah dan cek HP, tiba-tiba pembacanya jadi ramai. Entah kenapa..."

​"Wah, bagus dong! Dengan begitu lu bisa dapat motivasi sekaligus penghasilan," semangat Rio menimpali.

​"Iya sih..."

​"Terus-terus, gitu doang cerita lu?" tanya Rio penasaran.

​"Emm, iya. Silakan kalau ada pembicaraan lain, aku udah gak tahu mau ngomong apa lagi."

​"Hmm, kalau gitu giliran lu yang cerita, Zahra," tunjuk Rio tiba-tiba.

​"Dih, kenapa jadi aku yang disuruh?!" protes Zahra dengan mata menyipit.

​"Biar adil, lagian gue lagi gak ada bahan cerita," jawab Rio santai.

​"Iya deh, iya! Awas ya kalau kalian motong pas aku lagi cerita," gerutu Zahra pasrah. "Hmm... cerita ya? Kalau gitu, aku punya cerita horor..."

​"Weh, ini siang-siang bolong malah cerita horor!" protes Rio spontan.

​"Ya... terserah aku lah! Orang aku yang mau cerita, emangnya kenapa?" bela Zahra sengit.

​"Kayaknya kalimat itu mirip banget... apa perasaan gue doang ya? Yaudah, cepet ceritain, gak usah banyak basa-basi," balas Rio sambil memutar bola matanya malas.

​"Oke, jadi ada seorang pegawai kantoran yang baru pulang kerja. Setiap mau pulang, dia harus melewati sebuah rumah yang konon terkenal angker. Tapi pas dia melangkah terlalu Cepat, ia malah dikejar-kejar oleh sesosok hantu! 👻" Zahra menjeda kalimatnya sejenak. "Dan... tamat!"

​"Dih, apaan... gak jelas banget ceritanya," keluh Rio kecewa.

​"Ya... soalnya ini aku buat dadakan, jadi gak usah protes soal kualitasnya!"

​"Haaa... ya udah deh, mending kita balik ke kelas yuk, sebentar lagi bel masuk," ajak Rio sambil berdiri.

​Mereka bertiga lantas bangkit dari tempat duduk dan berjalan beriringan meninggalkan kantin. Begitu sampai di kelas, ketiganya segera duduk di bangku masing-masing, bersiap mengikuti pelajaran berikutnya.

Pelajaran berlangsung dengan khidmat. Di tengah kelas, ada siswa yang terkena hukuman penggaris karena tidak bisa menjawab pertanyaan, ada pula yang berlagak pamer karena berhasil menjawab dengan benar.

​Hingga akhirnya, waktu pelajaran selesai. Guru mata pelajaran tersebut mulai membereskan buku, mengucapkan salam, lalu meninggalkan ruangan kelas.

​Suasana kelas langsung berubah riuh. Para siswa mulai membentuk kelompok kecil untuk mengobrol bebas, dan hal serupa juga dilakukan oleh Danu, Rio, serta Zahra.

​"Hmm... bosan nih, enaknya ngobrolin apa lagi ya?" tanya Rio sambil menopang dagu.

​"Iya juga ya... enaknya ngobrolin apa?" balas Danu berbasa-basi mengikuti alur.

​"Ah! Gue tahu. Lu berdua tahu gak tentang gadis di poster yang bernama Alya—yang dijadikan sayembara berhadiah 100 juta bagi siapa saja yang bisa meluluhkan hatinya?" cecar Rio antusias.

​"Iya tahu, kan tadi siang kita sempat lihat poster dan dramanya," jawab Zahra mengingatkan.

​"Hahaha, benar juga. Sebenernya gue penasaran, si Alya ini sembunyi di mana, sih? Padahal pas istirahat tadi seisi sekolah heboh mencarinya ke mana-mana," lanjut Rio.

​"Hmm, iya juga ya? Jangan-jangan dia punya kekuatan teleport," celetuk Zahra asal.

​"Dih, apaan... mana ada kekuatan teleport, kocak banget," sanggah Rio cepat.

​Melihat kedua temannya kembali berdebat dengan topik-topik konyol seperti biasa, Danu hanya bisa tersenyum lebar. Tawa kecil yang renyah lolos dari bibirnya.

​Di dalam kelas yang mulai bising itu, Danu menyadari satu hal yang paling berharga. Huru-hara sekolah, teka-teki poster misterius, hingga perdebatan kecil di sekitarnya—semua itu kini terasa begitu hangat. Kegelapan dan rasa minder yang dulu selalu mengekang hari-harinya perlahan melebur, digantikan oleh tawa dan rasa aman yang ia temukan bersama dua sahabatnya.

​Hari demi hari di SMA Negeri Garuda mungkin masih menyimpan banyak kejutan dan misteri, tetapi satu hal yang pasti: Danu tidak lagi melangkah sendirian.

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!