NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Hilang

Malam itu, hembusan angin dingin yang bertiup dari arah bantaran rel kereta api terasa lebih menusuk dari biasanya. Di dalam gubuk reot beratap seng, Dara duduk di tepi ranjangnya, menatap ke arah pintu kayu yang masih terkunci erat. Jam dinding murah bertali plastik di sudut ruangan menunjukkan pukul sepuluh malam. Jarum detik berdetak monoton, seolah-olah menghitung tiap tetes kecemasan yang perlahan membanjiri dada wanita paruh baya itu.

Biasanya, Juwita sudah sampai di rumah paling lambat pukul tujuh malam setelah menyelesaikan sesi belajar mandiri di perpustakaan kota. Namun malam ini, waktu berjalan terlalu jauh tanpa kabar. Makanan sederhana—piring berisikan nasi hangat dan tumis kangkung—terhidang di atas meja kecil, dibiarkan memungut dingin tanpa disentuh.

Dara merogoh saku kain sarungnya, mengeluarkan telepon genggam tua berlayar retak yang dibelikan Juwita dari hasil beasiswa pertamanya. Dengan jari-jarinya yang gemetar dan kasar akibat puluhan tahun bekerja keras, ia menekan tombol panggil cepat menuju nomor putrinya.

Nada dering tersambung... satu kali... dua kali... tiga kali...

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator wanita yang dingin itu memotong harapan Dara. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dadanya begitu keras hingga napasnya yang sesak terasa semakin tercekik. Insting keibuan yang telah terasah oleh penderitaan puluhan tahun memberi tahu Dara satu hal yang amat mengerikan: sesuatu yang sangat buruk telah terjadi pada putri tunggalnya.

Dara bangkit dari ranjang, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di paru-parunya. Ia meraih selendang batik kusam yang tergantung di balik pintu, melingkarkannya ke bahunya yang kurus, lalu melangkah keluar menerobos kegelapan malam.

Jalanan sempit perkampungan rel kereta tampak lengang. Lampu-lampu jalan berkedip lemah, membiarkan bayangan-bayangan panjang merayap di atas tanah berlumpur. Dara berjalan terengah-engah, mendatangi satu per satu rumah tetangga, meremas tangannya yang kedinginan saat bertanya dengan suara parau yang menahan tangis.

"Pak RT... Pak RT, maaf mengganggu malam-malam..." bisik Dara lirih saat pintu rumah ketua RT terbuka. "Apakah... apakah Pak RT melihat Juwita lewat sore tadi?"

Pak RT yang mengenakan sarung mengucek matanya, menggeleng pelan dengan ekspresi prihatin. "Tidak ada, Bu Dara. Sore tadi hujan deras, perkampungan sepi. Ada apa, Bu? Juwita belum pulang?"

"Belum, Pak... HP-nya mati. Anak saya tidak pernah seperti ini..." Air mata Dara mulai meluncur deras, membasahi pipinya yang berkerut.

"Mungkin dia menginap di rumah temannya karena hujan, Bu. Coba tunggu sampai besok pagi—"

"Tidak, Pak! Juwita selalu pamit kalau ada kegiatan sekolah!" potong Dara dengan ketegasan yang jarang terlihat. Ia tahu anak gadisnya. Juwita tidak akan pernah meninggalkan ibunya yang sedang sakit sendirian di tengah malam tanpa memberi kabar.

Dara berbalik, meninggalkan area pemukiman dan berjalan menyusuri trotoar jalan raya menuju arah sekolah dan perpustakaan kota. Setiap langkah kaki Dara terasa begitu berat, seolah-olah bumi menariknya ke bawah. Namun, di dalam hatinya, api cinta seorang ibu menolak untuk padam.

Saat menyusuri gang sempit dekat persimpangan jalan menuju perpustakaan, langkah Dara mendadak terhenti. Di bawah sorotan lampu jalan yang temaram, di atas genangan air hujan yang tersisa di ceruk jalanan, tampak sebuah benda merah jambu yang familier.

Dara berlutut di tanah berlumpur, mengabaikan rasa sakit di lututnya. Tangannya yang gemetar meraih benda itu: sebuah gantungan kunci berbentuk bunga akrilik yang retak, terlepas dari tas sekolah Juwita—hadiah ulang tahun buatan tangan yang Juwita berikan padanya dua tahun lalu. Di samping gantungan kunci itu, terdapat bekas gesekan roda mobil yang memotong tajam di atas tanah basah dan beberapa bercak cairan merah yang telah mengering.

Dara mendekap gantungan kunci retak itu ke dadanya, meluapkan tangisannya yang memecah kesunyian malam.

"Juwita..." jerit Dara parau, suaranya tercekat di tenggorokan.

Di atas tanah berlumpur itu, ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan. Juwita tidak sekadar terlambat pulang. Putrinya telah diculik. Dan Dara tahu persis siapa iblis berjas mewah yang bertanggung jawab di balik semua ini: Riko Aditama.

Garis batas telah dilalui. Jika selama ini Dara memilih mengalah, menerima penghinaan, dan bersembunyi di gubuk reot demi keselamatan anak gadisnya, maka malam ini, ketakutan itu menguap sepenuhnya. Sosok wanita lemah penyakitan itu lenyap, digantikan oleh seorang ibu yang bersiap merobek neraka demi menyelamatkan buah hatinya.

Tanpa membuang waktu, Dara merogoh saku kemejanya dan mendatangi pos polisi terdekat di persimpangan kota. Ia menerobos masuk ke dalam ruangan berpenerangan lampu neon yang dingin, menghampiri petugas piket dengan napas berburu dan baju yang ternoda lumpur.

"Pak Polisi... tolong saya, Pak! Anak saya diculik!" seru Dara hysteris, meletakkan gantungan kunci retak dan tas kecilnya di atas meja.

Petugas piket menyandarkan punggungnya di kursi, memandang Dara dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Bu, tenang dulu. Duduk. Anak Ibu hilang sejak kapan?"

"Sejak sore tadi, Pak! Saya menemukan bekas seretan dan barangnya jatuh di persimpangan perpustakaan!"

"Bu, prosedur laporan anak hilang itu harus tunggu 1x24 jam," jawab petugas itu acuh tak acuh sambil mencatat santai. "Bisa jadi anak Ibu cuma main sama teman-temannya atau pacarannya terlambat pulang. Lagipula, tempat yang Ibu sebutkan itu tidak ada CCTV-nya. Kita tidak bisa main tuduh penculikan begitu saja."

"Anak saya tidak pernah bolos atau main tanpa kabar!" suara Dara naik satu oktav, matanya menatap tajam petugas tersebut. "Anak saya bernama Juwita! Dia siswi berprestasi, dan dia diculik oleh keluarga Aditama—"

Mendengar nama Aditama, raut wajah petugas itu mendadak berubah keras. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berdehem pelan, mengalihkan pandangannya. "Bu, jangan asal sebut nama pengusaha besar. Itu bisa jadi fitnah pencemaran nama baik. Pulanglah dulu, tunggu sampai esok hari. Kalau belum pulang juga, baru balik ke sini membawa foto terbaru."

Dara mengepalkan tangannya di atas meja. Ia melihat keraguan dan ketakutan tersembunyi di mata petugas itu saat nama Aditama diucapkan. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit yang meremukkan hatinya: hukum dan keadilan tidak pernah berpihak pada orang-orang miskin seperti mereka. Mengharapkan bantuan dari sistem yang telah dibeli oleh uang Riko Aditama adalah kesetiaan pada kesia-siaan.

"Baik..." bisik Dara dengan suara dingin yang mengejutkan petugas tersebut. "Kalau hukum kalian tidak bisa menyentuh orang kaya itu... saya yang akan mendatangi nerakanya sendiri."

Dara membalikkan badan, menyambar kembali gantungan kunci Juwita, dan melangkah keluar dari pos polisi tanpa menoleh lagi.

Langkah kaki Dara yang tertatih membawanya menyusuri trotoar basah di tengah malam yang kian pekat. Batuk darah kembali menghantam dadanya, membuat wanita tua itu terhuyung dan bersandar di tiang listrik. Ia memuntahkan darah segar ke sapu tangannya, rasa asin dan amis memenuhi mulutnya. Rasa sakit di paru-parunya serasa mencabik-cabik bagian dalam tubuhnya, seolah-olah organ tubuhnya menolak untuk terus berjalan.

Namun, setiap kali pandangannya kabur dan lututnya hendak menyerah pada gravitasi, bayangan senyuman Juwita melintas di ingatan Dara. Ia teringat bagaimana Juwita kecil menangis saat kelaparan, bagaimana gadis itu belajar di bawah temaram lilin, dan bagaimana tangan mungil Juwita mengusap dahinya saat Dara terbaring sakit.

"Ibu tidak boleh mati malam ini..." bisik Dara pada dirinya sendiri, menyapu darah di bibirnya dengan kasar. "Juwita sedang menunggu Ibu... Ibu tidak boleh menyerah..."

Dara mengingat sebuah alamat tua dari masa lalu—sebuah villa pribadi tersembunyi milik Riko Aditama di kawasan perbukitan sunyi pinggiran kota, tempat yang dulu sering digunakan keluarga Aditama untuk 'menyelesaikan' masalah-masalah kotor mereka jauh dari jangkauan publik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!