Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Dua Dunia, Satu Beban
Kini Vano sendirian di dalam kabin yang kedap suara itu. Ia menekan notifikasi itu, dan video mulai berputar. Seketika itu juga, suara dentuman senar gitar yang berat, tajam, dan penuh tenaga memenuhi ruang sempit itu. Melodi beraliran metal — cepat, penuh serangan nada yang bertubi-tubi — namun di balik kekuatan itu, terselip perasaan yang begitu dalam, penuh amarah yang tertahan dan kepedihan yang tak terucap.
Vano menatap layar dengan tak teralihkan. Di hadapannya, sosok Laudys memetik senar dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, seolah tangannya sendiri yang sedang merasakan setiap getaran nada itu. Cahaya remang di ruangan itu jatuh di wajahnya yang sebagian tersembunyi, namun matanya yang terlihat begitu tajam, begitu penuh perasaan, seolah sedang berteriak tanpa suara.
Namun malam ini, sesuatu berbeda terjadi.
Vano tak hanya mendengarkan. Ia merasakannya.
Di tengah alunan melodi metal yang keras dan penuh tenaga itu, ia menangkap sesuatu yang lain — kepedihan yang tersembunyi di balik setiap petikan senar, beban berat yang dipikul oleh wanita itu di balik sikap tegarnya. Setiap nada yang terdengar kasar dan penuh kemarahan itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang mendalam, seolah ia sedang melawan takdirnya sendiri dengan setiap sentuhan jarinya.
Ia… sedang menanggung sesuatu yang sangat berat, batin Vano perlahan menyadari, dadanya tanpa sadar ikut terasa sesak.
Ada sesuatu yang sedang ia perjuangkan. Sesuatu yang sangat penting. Dan ia melakukannya sendirian.
Sepuluh menit itu berlalu tanpa terasa. Vano tak menyadari waktu berjalan, matanya tetap terpaku pada layar ponsel di tangannya, mendengarkan setiap nada yang keluar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa seolah-olah ia sedang mendengarkan tangisan seseorang yang tak berani bersuara — seseorang yang ia temui setiap hari, namun belum pernah benar-benar ia kenal.
Ketika ketukan lembut terdengar di kaca jendela, Vano tersentak pelan. Ia menurunkan layar ponselnya, menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan memberi isyarat. Pintu terbuka, dan Reino kembali masuk, menutup payungnya.
"Silakan, Tuan. Sepuluh menit telah berlalu."
"Lanjutkan perjalanan," ucap Vano pelan, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, namun tatapannya kini jauh lebih dalam, jauh lebih penuh pertanyaan dari sebelumnya.
Mobil itu kembali melaju membelah malam, namun Vano tahu — malam ini, sesuatu di antara mereka telah berubah. Dan takdir yang menyatukan mereka di tempat yang sama, tak akan membiarkan rahasia itu tersembunyi selamanya.
Siapa pun kau di luar sana… batinnya pelan, menatap sosok yang tak pernah ia temui itu.
Semoga beban yang kau pikul tak terlalu berat untukmu.
Dan semoga… kau tahu bahwa ada orang yang mendengarkan setiap lukamu, dan ikut merasakannya.
Kilas Balik — Meloudy
Suara deru mobil yang melaju kencang masih terngiang di telinganya, seolah baru saja terjadi kemarin. Hari itu, langit mendung kelabu, persis seperti hatinya saat menerima telepon yang mengubah segalanya.
"Nona Tanuwirama… kami turut berduka cita. Ayah Anda mengalami kecelakaan di jalan tol. Begitu tiba-tiba…"
Ponsel itu terlepas dari tangannya, jatuh berdentang ke lantai. Dunianya runtuh seketika. Ayahnya — pria yang selalu menjadi sandaran hidupnya, yang selalu tersenyum dan berkata,
"Tenang, Nak, Ayah yang akan mengurus semuanya" — kini telah tiada. Dan tak lama kemudian, kenyataan pahit mulai datang satu per satu, bagai ombak yang menghantam tanpa ampun, memberi waktu untuk bernapas pun tidak.
Seorang pria berjas rapi berdiri di ambang pintu rumah sederhana itu, wajahnya dingin tanpa belas kasih. Di tangannya, berkas-berkas tebal yang kini menjadi mimpi buruk setiap malam.
"Kepada ahli waris almarhum Bapak Tanuwirama," ucapnya datar, menyodorkan amplop merah muda yang tebal seolah itu hanyalah selembar surat biasa.
"Utang piutang almarhum berjumlah satu miliar dua ratus juta rupiah. Jatuh tempo bulan depan. Jika belum lunas, aset yang dijaminkan akan kami lelang."
Meloudy menatap kertas itu dengan tangan gemetar, suaranya nyaris tak terdengar.
"Satu miliar…? Tapi… Ayah tak pernah menyebutkan soal ini…"
"Itu bukan urusan kami," jawab pria itu dingin, tanpa sedikit pun menurunkan nada bicaranya.
"Tugas saya hanya menyampaikan peringatan. Pilihan ada di tangan Anda — lunasi, atau kehilangan rumah ini."
Pintu tertutup. Meloudy terjatuh di kursi, menatap kosong ke ruang tamu yang kini terasa begitu sempit dan menyesakkan. Satu beban baru saja diletakkan di pundaknya — dan itu baru permulaan.
Beberapa minggu berlalu, dan kabar yang lebih menghancurkan datang. Di ruang tunggu rumah sakit, dokter berdiri di hadapannya dengan wajah penuh belas kasih yang justru terasa semakin menyakitkan.
"Bu Tanuwirama mengalami gagal jantung mendadak, Nona Meloudy. Kondisinya sangat kritis. Kami harus menempatkannya di ruang perawatan intensif." Dokter itu menunduk pelan, suaranya berat seolah setiap kata yang diucapkannya adalah beban yang tak tertahankan.
"Biayanya sangat besar. Setiap hari akan ada biaya tambahan untuk perawatan dan obat-obatan. Saya mohon Anda segera mengurus administrasinya."
"Berapa… berapa per harinya?" tanya Meloudy, berharap angkanya masih bisa ia jangkau, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Dokter menyebutkan satu angka. Meloudy mundur selangkah, kakinya terasa lemas seolah tulangnya hancur seketika. Itu jumlah yang mustahil baginya. Bahkan jika ia bekerja dua puluh empat jam sehari, ia takkan sanggup menutupinya.
"Ibu… Ibu tidak boleh kenapa-napa," bisiknya bergetar, air mata jatuh tanpa izin, membasahi pipinya yang dingin.
"Saya akan bayar. Apapun caranya… saya akan bayar."
"Kami beri waktu tiga hari, Nona. Jika belum ada pembayaran, kami terpaksa memindahkan ke ruang perawatan biasa."
Kini, di ruangan kecil yang sepi itu, semua itu kembali berputar di kepalanya — satu demi satu, tak kenal ampun, seolah menghakiminya tanpa jeda. Di meja kayu tua itu, tumpukan amplop merah muda dan tagihan menumpuk tebal, seolah menatapnya dengan ancaman nyata yang tak bisa ia abaikan. Di laci tersimpan berkas rumah sakit yang setiap barisnya berisi angka yang terus bertambah, menanti untuk dilunasi. Di bawah tempat tidur, surat peringatan pelunasan utang itu menanti — satu miliar dua ratus juta, jatuh tempo semakin dekat, dan ia masih belum menemukan jalan keluar.
Semua itu jatuh kepadanya. Semua itu kini menjadi tanggung jawabnya seorang diri.
Ia memeluk dirinya sendiri erat-erat, berusaha menahan isak tangis agar tak pecah, berusaha menjadi kuat di tengah badai yang tak kunjung reda.
Ayah… Ibu… kenapa harus aku yang menanggung semua ini? Namun tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang menjawab, dan kesadaran pahit bahwa ia tak punya pilihan lain. Ia harus kuat. Ia harus bertahan. Demi ibunya, demi nama ayahnya yang telah tiada.
Kembali ke Masa Kini
Beban-beban berat itu masih menjadi kenyataan yang harus ia hadapi setiap hari, dan mendorongnya untuk bekerja sekuat tenaga di kantor sekaligus me musik di malam hari — satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, satu-satunya cara agar ia bisa bernapas kembali.
^^^Bersambung...^^^
ah cowok kan emang begitu