Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Kembali ke Rutinitas
Perjalanan pulang dari rumah keluarga Alvarendra terasa lebih ringan dibandingkan ketika mereka berangkat tadi.
Jove bersandar nyaman di kursi penumpang sambil memandang lampu-lampu jalan yang mulai memenuhi kota. Sesekali ia masih teringat bagaimana hangatnya sambutan Marry sejak mereka tiba hingga saat mereka berpamitan.
Tanpa sadar, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
“Orang tuamu baik sekali,” ucap Jove tiba-tiba.
Nic yang sedang fokus menyetir melirik sekilas.
“Aku menyukai Papa dan Mama.”
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat sesuatu terasa hangat di hati Nic.
Ia tidak langsung menjawab.
Tangannya tetap berada di kemudi, matanya kembali menatap jalan di depan, tetapi pikirannya justru berkelana jauh ke masa lalu.
Alifa.
Mantan kekasih yang pernah begitu ia percaya.
Dulu, Alifa sering mengatakan bahwa ia tidak menyukai kedua orang tua Nic.
Menurut Alifa, Arman dan Marry terlalu banyak mengatur kehidupannya. Terlalu ikut campur. Terlalu menuntut ini dan itu.
Nic masih mengingat bagaimana dulu ia selalu berusaha memahami keluhan Alifa.
Ia bahkan sempat berpikir bahwa setelah menikah, semuanya akan berubah. Ia membayangkan Alifa perlahan akan terbiasa dengan keluarganya.
Namun pada akhirnya, bukan masalah dengan orang tuanya yang menghancurkan hubungan mereka.
Justru Alifa yang mengkhianatinya.
Nic mengembuskan napas perlahan.
Kini, perempuan yang duduk di sebelahnya justru mengatakan bahwa ia menyukai kedua orang tuanya.
Sesuatu yang seharusnya sederhana, tetapi entah mengapa terasa berbeda.
“Kenapa diam?” tanya Jove.
Nic tersadar.
“Tidak apa-apa.”
Jove menatapnya sebentar, tetapi tidak bertanya lebih jauh.
Ia kembali memandang keluar jendela.
Begitu pula Nic.
Tidak ada lagi percakapan setelah itu.
Namun untuk beberapa saat, pikiran Nic masih tertahan pada satu hal.
Jove menyukai Papa dan Mama.
Dan anehnya, ia menyukai kenyataan itu.
Hari-hari berikutnya kembali berjalan seperti biasa. Waktu cuti mereka sudah habis dan membuat mereka kembali pada rutinitasnya semula.
Tidak ada lagi waktu santai seperti ketika mereka masih menjalani cuti. Kesibukan perlahan mengambil alih kehidupan mereka.
Jove kembali ke Dewantara Group.
Pagi harinya kembali dipenuhi jadwal yang padat. Rapat dengan jajaran direksi, laporan dari setiap divisi, pembahasan proyek yang sedang berjalan, hingga pertemuan dengan klien membuat hampir seluruh waktunya tersita di kantor.
Begitu satu rapat selesai, rapat lainnya sudah menunggu.
Begitu satu laporan selesai diperiksa, beberapa dokumen baru kembali masuk ke mejanya.
Kehidupan Jove kembali seperti sebelum pernikahan.
Sibuk.
Teratur.
Dan hampir tidak memberikan ruang untuk memikirkan hal lain.
Begitu pula dengan Nic.
Alva Corp kembali menjadi pusat kehidupannya.
Ada proyek yang harus diawasi, keputusan bisnis yang harus segera diambil, pertemuan dengan klien, evaluasi kinerja perusahaan, hingga beberapa kerja sama baru yang sedang dalam tahap pembahasan.
Sebagai CEO, Nic tidak bisa menyerahkan semua keputusan kepada bawahannya.
Ia harus mengetahui hampir setiap perkembangan penting perusahaan.
Hari-hari mereka pun kembali dipenuhi rapat, meeting, laporan, proyek, dan klien.
Namun, berbeda dengan masa cuti, sekarang mereka hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar berdiam diri di apartemen.
Mereka berangkat pagi dan pulang sesuai dengan kesibukan masing-masing.
Kadang Jove pulang lebih dulu.
Kadang Nic.
Dan sesekali, keduanya baru tiba di apartemen hampir bersamaan pada malam hari.
Seperti malam itu.
Jove baru saja keluar dari lift ketika melihat pintu apartemen terbuka.
Nic sudah lebih dulu tiba.
Pria itu duduk di ruang tengah dengan laptop yang masih menyala di atas meja. Jasnya sudah dilepas, hanya mengenakan kemeja dengan dua kancing bagian atas yang terbuka.
Jove meletakkan tas kerjanya.
“Belum tidur?”
Nic mengangkat wajah dari laptop.
“Belum. Ada laporan yang harus aku selesaikan.”
Jove mengangguk.
Ia hendak masuk ke kamarnya, tetapi kemudian matanya menangkap sebuah dokumen yang terbuka di layar laptop Nic.
“Proyek kawasan bisnis itu?”
Nic melihat layar laptopnya.
“Iya.”
Jove berhenti sejenak.
“Bukannya progresnya masih menunggu persetujuan dari pemerintah daerah?”
“Sudah. Tadi sore mereka memberikan persetujuan awal.”
Jove akhirnya duduk di sofa yang berseberangan dengannya.
“Kalau begitu, menurutmu langkah berikutnya apa?”
Nic sedikit mengangkat alis.
Tidak menyangka Jove akan tertarik membicarakan pekerjaannya.
“Mempercepat pembangunan fasilitas utama. Kalau terlalu lama, biaya operasional akan meningkat.”
Jove mengangguk pelan.
“Benar. Tapi kalau aku di posisimu, aku akan menahan pembangunan untuk beberapa bagian.”
“Kenapa?”
“Karena kondisi pasar sedang berubah. Kalau semuanya dibangun sekaligus, risiko overbudget lebih besar.”
Nic menatap Jove beberapa detik.
“Jadi menurutmu?”
“Kerjakan bagian yang paling menghasilkan lebih dulu. Sisanya bisa menyusul setelah ada kepastian.”
Nic kembali melihat dokumennya.
Kemudian mengangguk.
“Itu cukup masuk akal.”
Jove tersenyum tipis.
“Makanya jangan selalu mengambil keputusan sendiri.”
Nic menatapnya.
“Kamu juga sering melakukan itu.”
“Tidak juga, karena aku biasanya benar.”
Nic terkekeh kecil.
“Percaya diri sekali.”
“Bukan percaya diri. Tapi pengalaman.”
Keduanya terdiam.
Namun bukan diam yang canggung.
Mereka kembali membicarakan proyek tersebut. Sesekali Jove memberikan sudut pandang dari sisi yang berbeda, sementara Nic menjelaskan alasan perusahaan mengambil keputusan tertentu.
Tidak terasa hampir setengah jam berlalu.
Pembicaraan mereka akhirnya berhenti ketika Jove menyandarkan tubuh ke sofa.
“Sudah cukup. Aku sudah terlalu lelah untuk membicarakan pekerjaan.”
Nic menutup laptopnya.
“Aku juga.”
Jove berdiri.
“Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Jove masuk ke kamarnya.
Nic juga kembali melanjutkan kegiatannya.
Sederhana.
Tidak ada percakapan panjang tentang kehidupan pribadi.
Tidak ada pertanyaan tentang perasaan.
Hanya dua orang yang kebetulan berada di perusahaan berbeda, tetapi memiliki dunia pekerjaan yang sama-sama penuh tekanan.
Dan tanpa mereka sadari, percakapan seperti itu mulai terjadi lebih sering.
Kadang mereka membahas proyek.
Kadang tentang keputusan bisnis.
Kadang hanya bertukar pendapat mengenai sesuatu yang mereka lihat dari berita ekonomi atau perkembangan dunia usaha.
Tidak selalu lama.
Bahkan terkadang hanya lima atau sepuluh menit.
Namun perlahan, Jove mulai mengetahui cara Nic berpikir.
Begitu pula sebaliknya.
Nic mulai memahami bahwa Jove tidak pernah mengambil keputusan secara terburu-buru. Ia selalu mempertimbangkan risiko sebelum menentukan langkah.
Sementara Jove menyadari bahwa Nic ternyata tidak sedingin yang selama ini ia bayangkan.
Ia hanya tidak banyak bicara.
Di luar apartemen, mereka tetap menjadi dua CEO yang sibuk dengan perusahaan masing-masing.
Di dalam apartemen, mereka tetap menjalani kehidupan masing-masing.
Tetapi kini, sesekali mereka memiliki ruang untuk berbicara.
Bukan sebagai pasangan.
Bukan karena kewajiban.
Melainkan karena mereka mulai merasa nyaman bertukar pikiran satu sama lain.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, kenyamanan itulah yang perlahan akan mengubah hubungan mereka.
Bukan hari ini.
Belum sekarang.
Tetapi semuanya sedang dimulai dari hal-hal kecil yang bahkan tidak mereka anggap penting.