Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Sidang Para Orang Suci
Ruang Interogasi Utama Akademi Solaria dirancang untuk menghancurkan mental siapa pun yang melangkah ke dalamnya. Dindingnya terbuat dari batu obsidian hitam yang menyerap cahaya, tanpa satu pun jendela. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari besi dingin menunggu di bawah sorotan tunggal lampu kristal magis yang menyilaukan.
Saat aku melangkah masuk dengan santai, diiringi oleh Leon dari belakang, tiga pasang mata langsung menatapku tajam.
Di kursi seberang meja, duduk Profesor Aegis—pria paruh baya dengan bekas luka melintang di wajahnya dan aura sihir pertahanan yang pekat menguar dari tubuhnya. Di sebelahnya adalah Cecilia von Arnault, sang Ketua Komite Kedisiplinan yang masih menatapku dengan raut wajah permusuhan. Dan di sudut ruangan, berdiri seorang Ksatria Kekaisaran bersenjata lengkap yang bertugas mencatat.
"Duduk, Tuan Pendelton," perintah Profesor Aegis dengan suara bariton yang menggema di ruangan sempit itu.
Aku menarik kursi besi itu, yang berdecit nyaring bergesekan dengan lantai batu, lalu duduk dengan postur santai. Kusilangkan kakiku dan menyandarkan punggung, membalas tatapan mereka satu per satu dengan ketenangan absolut.
"Langsung saja, Profesor. Aku belum menyelesaikan sarapanku," ucapku datar.
Leon mendengus marah dari belakang kursiku. "Jangan bersikap arogan, Arthur. Ksatria penjaga gerbang utara melihat kereta kudamu melesat menjauhi area Hutan Merah tepat setelah insiden ledakan sihir semalam."
Profesor Aegis mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan sebuah kristal bening seukuran kepalan tangan di atas meja. Kristal Veritas. Artefak pendeteksi kebohongan. Jika seseorang berbohong saat menyentuhnya, kristal itu akan berubah warna menjadi merah darah.
"Letakkan tanganmu di atas kristal ini, Pendelton," Aegis menuntut. "Dan jawab dengan jujur. Apakah kau berada di Hutan Merah semalam? Apakah kau yang menyewa pembunuh bayaran itu, dan apakah kau tahu siapa 'Penyihir Hitam' yang menghancurkan pembunuh tersebut?"
Aku menatap kristal itu sekilas. Di dalam novel, alat ini adalah kebanggaan sistem peradilan akademi. Namun dengan teknik pernapasan dari Grimoire of Vespera yang baru saja kupelajari semalam, mengendalikan aliran mana agar tidak terdeteksi oleh kristal murahan ini adalah hal yang sangat mudah.
Tanpa ragu, aku meletakkan tangan kananku di atas permukaan kristal yang dingin. Kutahan energi kegelapanku di pusaran paling dalam, menyisakan hanya mana netral yang hampa.
"Tidak, tidak, dan tidak," jawabku lugas.
Kristal itu bersinar putih terang. Tanda bahwa aku mengatakan kejujuran mutlak.
Tentu saja aku jujur. Pertanyaan pertama: Apakah aku berada di Hutan Merah semalam? Tidak, secara teknis aku ada di 'atas' pohon dan di luar zona batas saat pertama kali tiba, bukan di 'dalam' zona hutan yang ditetapkan peta. Pertanyaan kedua: Apakah aku menyewa pembunuh itu? Bukan, Arthur yang asli yang menyewanya, bukan jiwa baruku. Pertanyaan ketiga: Apakah aku tahu siapa 'Penyihir Hitam' itu? Tidak, karena penyihir hitam itu tidak pernah ada; itu hanyalah sihir kegelapan murni milikku, dan aku bukan 'penyihir hitam' penganut sekte seperti yang mereka bayangkan.
Bermain kata-kata dengan artefak sihir adalah seni tingkat tinggi.
Mata Cecilia membelalak melihat kristal itu tetap putih bersih. "Itu tidak mungkin! Alat itu pasti rusak! Atau dia menggunakan trik untuk mengakalinya!"
"Ketua Arnault," tegurku dengan nada merendahkan, seperti guru yang menguliahi murid yang lamban. "Kristal Veritas terhubung langsung dengan fluktuasi Mana Core. Kau sendiri yang bilang pagi tadi bahwa intiku bahkan tidak cukup untuk menyalakan lilin. Bagaimana caraku memanipulasi artefak tingkat tinggi ini?"
Cecilia menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah karena marah namun ia kehabisan argumen.
"Lalu jelaskan keberadaan kereta kudamu di dekat lokasi kejadian!" tuntut Leon melangkah maju.
Aku memutar bola mataku dengan dramatis. "Leon, jika aku adalah seorang Master Penyihir Hitam yang baru saja menghancurkan pembunuh bayaran dari Guild Obsidian... apakah menurutmu aku akan melarikan diri menggunakan kereta kuda mewah berukir lambang emas keluarga Pendelton sebesar roda pedati, lalu sengaja memarkirnya di depan mata para penjaga gerbang?"
Ruangan itu mendadak hening.
Ksatria pencatat di sudut ruangan bahkan sampai berhenti menulis. Logikaku menghantam mereka telak. Itu adalah kebodohan paling dasar. Tidak ada kriminal kelas kakap yang melarikan diri menggunakan kendaraan pribadi yang memancarkan lampu neon bertuliskan "TANGKAP AKU".
"Kereta kudaku ada di sana," lanjutku dengan nada bosan, "karena aku menyuruh kusirku, Barnaby, pergi ke pasar gelap di Distrik Rook untuk membeli obat pereda nyeri. Tabib bodoh di akademi ini tidak bisa menyembuhkan tulang rusukku yang patah gara-gara duel barbar dua hari lalu. Barnaby mengambil jalan pintas melewati perbatasan hutan untuk menghindari patroli jam malam. Silakan interogasi dia kalau kalian punya banyak waktu luang."
Alibi yang sempurna. Barnaby memang selalu menggunakan rute itu jika disuruh melakukan urusan kotor, dan dia pasti akan membenarkan ceritanya.
Profesor Aegis terdiam lama. Wajahnya keras, namun aku bisa melihat keraguan mulai merayapi matanya. Ia perlahan menarik Kristal Veritas dari bawah tanganku.
"Satu hal terakhir untuk memastikannya," geram Aegis. "Penyihir hitam itu meninggalkan residu mana yang sangat pekat di udara. Jika kau memang pelakunya, jejak mana kegelapan itu pasti masih menempel di inti sihirmu. Izinkan aku memeriksa Mana Core milikmu."
Leon tersenyum miring, yakin bahwa aku akan menolak dan akhirnya ketahuan. "Kenapa, Arthur? Kau takut rahasiamu terbongkar?"
Aku menyeringai tipis. "Silakan. Tapi jika kau tidak menemukan apa-apa, Profesor, aku menuntut permintaan maaf secara tertulis dari Komite Kedisiplinan karena telah mencemarkan nama baik keluarga Pendelton."
Aegis mengangguk kaku. Ia bangkit, berjalan memutari meja, dan meletakkan telapak tangannya yang besar dan kasar di dada kiriku.
Wush.
Aku bisa merasakan seutas sihir sensorik masuk ke dalam jaringan tubuhku, merayap menuju jantung. Tepat di saat itu, aku menggunakan teknik Vespera. Aku menekan pusaran hitam pekat itu hingga mengecil seukuran debu, menyembunyikannya di balik lapisan mana sisa yang kotor dan tersumbat.
Mata Aegis terpejam saat ia meraba kondisi intiku. Detik berikutnya, raut wajahnya berubah menjadi campuran antara kasihan dan jijik. Ia menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyentuh bangkai.
"Bagaimana, Profesor?" tanya Cecilia tidak sabar.
Aegis menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya. "Bersih. Inti sihirnya... masih sama seperti sebelumnya. Sangat kotor, tersumbat, dan tidak beraturan. Mustahil dia bisa mengeluarkan sihir di atas tingkat dasar, apalagi memanifestasikan kutukan kegelapan tingkat Master."
Leon menatapku tak percaya. "T-Tapi... keretanya..."
"Sudah cukup, Leon," potong Aegis tegas. "Tuan Pendelton bukan pelakunya. Kita hanya membuang-buang waktu menginterogasi murid tanpa bakat sihir."
Meski kata-katanya adalah sebuah hinaan, bagiku itu adalah musik yang sangat indah. Status 'sampah' ini adalah perisai paling tebal yang bisa kumiliki saat ini.
Aku berdiri perlahan, merapikan jas seragamku. "Jika sidang orang-orang suci ini sudah selesai, aku permisi."
Aku berjalan melewati Leon dan Cecilia yang masih mematung tak percaya. Namun, tepat sebelum aku mencapai pintu, Profesor Aegis kembali bersuara.
"Tuan Pendelton. Ada satu hal lagi."
Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh.
"Pagi ini, seekor burung gagak kekaisaran mengirimkan surat resmi berlambang naga emas untukmu," ucap Aegis, suaranya berubah menjadi sangat formal dan kaku. "Putra Mahkota, Yang Mulia Pangeran Julian, mengundangmu secara pribadi untuk hadir di Pesta Perburuan Musim Gugur akhir pekan ini."
Langkahku terhenti sepenuhnya.
Pesta Perburuan Musim Gugur.
Di dalam novel, acara itulah yang menjadi panggung eksekusi bagi Arthur Pendelton. Pangeran Julian—sang hakim absolut yang sangat membenci keluarga Pendelton—telah menyusun rencana untuk menjebak Arthur di hutan perburuan dan memenggal kepalanya atas tuduhan pengkhianatan.
Sepertinya, meski aku telah membatalkan pembunuhan Leon, takdir dunia ini masih berusaha mencari cara untuk menyeretku ke tiang gantungan.
"Terima kasih atas informasinya, Profesor," balasku tenang, lalu mendorong pintu besi itu hingga terbuka.
Aku melangkah keluar menyusuri koridor yang terang benderang. Otakku kembali bekerja dalam kecepatan maksimal. Akhir pekan ini. Itu artinya aku hanya punya waktu kurang dari lima hari untuk bersiap menghadapi seorang Putra Mahkota yang memiliki pasukan ksatria elit dan otoritas mutlak.
Jika sang Pangeran ingin bermain catur denganku di arena perburuan, maka aku akan memastikan... dialah yang menjadi pionnya.