Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“Yang Mulia,” ucap Aurelia, langsung mengubah ekspresinya menjadi sedih dan peduli. “Hamba sedang mencoba menasihati Selir Elara tentang konsekuensi dari perbuatan kakaknya. Hamba khawatir keselamatan Yang Mulia terancam jika membiarkan anggota keluarga pengkhianat tetap di istana.”
Lucian tidak menatap Aurelia. Matanya langsung terkunci pada Elara yang sedang duduk di kursi rodanya, terlihat sangat tidak berdaya namun matanya bersinar dengan kecerdasan yang mematikan.
“Apakah kau sedang mencoba mengusirnya dari istana, Aurelia?” tanya Lucian, suaranya datar dan dingin.
“Hamba hanya… mengikuti hukum, Yang Mulia…”
“Hukum telah diperbarui,” potong Lucian. Ia menatap Elara. “Aku mendengar semuanya dari luar. Konsep ‘Sanksi Tertarget’ itu. Menarik. Mulai hari ini, hanya Julian Clervant dan konco-konco yang terlibat langsung yang akan diadili. Anggota keluarga lain yang tidak terlibat akan diawasi, namun tidak dihukum. Dan Elara..”
Lucian melangkah lebih dekat, menatap Elara dengan tatapan yang membuat Aurelia ingin menjerit karena frustrasi.
“..Elara tetap di sini. Sebagai penasihat khusus Kaisar untuk urusan keuangan dan reformasi hukum.”
Aurelia memucat. Rencananya hancur lebur. Dia menatap Elara, lalu menatap Lucian, dan akhirnya membungkuk kaku. “Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba permisi.”
Aurelia dan kedua pendeta itu segera pergi, meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa lebih lega.
Lucian menarik kursi dan duduk di depan Elara. Ia menatap kursi roda itu, lalu menatap Elara.
“Kau menyuruh Nira mendorongmu dengan kursi roda?” tanya Lucian, alisnya terangkat.
“Kasur barumu terlalu empuk, Yang Mulia,” jawab Elara tanpa rasa malu. “Ototku menolak untuk bekerja. Lagipula, ini efektif. Putri Mahkota langsung pergi tanpa bisa membantah argumenku.”
Lucian menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mulai tertawa. Tawa yang lepas dan tulus.
“Kau benar-benar luar biasa, Elara,” ucap Lucian, mengulurkan tangannya dan merapikan selimut yang sedikit melorot dari bahu Elara. “Kau baru saja menyelamatkan nyawa puluhan anggota keluargamu, menggagalkan rencana politik Putri Mahkota, dan merancang reformasi hukum baru.. semuanya sambil duduk di kursi roda dan mengeluh karena kasur terlalu empuk.”
“Saya tidak merancang reformasi hukum,” koreksi Elara, memejamkan matanya. “Saya hanya memberi Anda ide. Eksekusinya terserah Anda. Itu namanya delegasi, Yang Mulia. Sebagai bos, Anda harus belajar mendelegasikan pekerjaan. Kalau semua dikerjakan sendiri, Anda akan burnout.”
"Burnout?" ulang Lucian, mencicipi kata asing itu.
“Kelelahan mental yang membuat Anda ingin membakar kantor.. eh, membakar istana,” Elara menguap lagi. “Sekarang, kalau Anda tidak keberatan, saya mau tidur siang. Delegasi saya untuk hari ini sudah selesai. Tolong jangan bangunkan saya kecuali istana diserang naga. Kalau hanya diserang Putri Mahkota, suruh pengawal untuk mengusirnya.”
Lucian tersenyum, menggelengkan kepalanya. “Tidurlah, Penasihat Khususku. Aku akan mengurus naga dan Putri Mahkota.”
Saat Lucian keluar dari ruangan, ia bertemu dengan Nira yang sedang berdiri di koridor, memegang buku catatan kecilnya.
“Nira,” panggil Lucian pelan.
“Y-Ya, Yang Mulia?”
“Catat ini. Mulai besok, berikan Selir Elara ekstra satu porsi camilan malam. Dan pastikan kasurnya selalu dalam suhu yang tepat. Jika dia mengeluh kasurnya kurang empuk, beli yang baru.”
Nira membungkuk dalam, matanya berbinar. “Hamba laksanakan, Yang Mulia! Hamba juga akan mencatat tentang konsep ‘Delegasi’ agar hamba bisa mendelegasikan tugas menyapu kepada pelayan junior!”
Lucian tertawa kecil, meninggalkan paviliun dengan langkah yang jauh lebih ringan dari biasanya.
Di dalam kamarnya, Elara sudah kembali menjadi bentuk selimut yang menggumpal.
Astaga, politik istana ini benar-benar melelahkan. Besok aku harus meminta kenaikan gaji. Atau setidaknya, minta jatah melon impor tanpa batas.
Dengan pikiran tentang melon dan tidur, Elara pun tertidur pulas, tidak menyadari bahwa namanya kini sedang dibicarakan di seluruh penjuru istana bukan sebagai selir yang hampir mati, melainkan sebagai wanita yang membuat Kaisar dan Putri Mahkota sama-sama kehilangan kendali.