NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Payung di Tengah Hujan

Bel pulang sekolah berbunyi menggelegar, bertepatan dengan langit sore di atas SMA Nusa Bangsa yang mendadak gelap gulita. Tak butuh waktu lama, hujan deras yang disertai angin kencang mengguyur seluruh area sekolah, menahan ratusan siswa yang berkerumun di sepanjang teras depan gedung utama.

Aira berdiri di dekat pilar, memeluk tas sekolahnya rapat-rapat seraya menatap air hujan yang tercurah bagai tirai tebal. Hawa dingin merayap menusuk kulitnya.

Dari balik kerumunan siswa, Darel melangkah mendekat. Pria itu tampak begitu sempurna dengan kemeja seragam yang rapi dan sebuah payung hitam berukuran besar di tangan kanannya.

"Aira," panggil Darel dengan suara lembut yang selalu terdengar hangat. "Hujannya awet banget nih. Kamu belum pulang kan?"

Aira menoleh, tersenyum canggung. "Iya, Kak Darel. Masih nunggu hujannya redaan dikit."

Darel melebarkan senyumannya yang menenangkan, lalu mengembangkan payung hitam di tangannya. "Ayo saya antar ke mobil. Kita kan sekalian pulang ke rumah Pradipta. Biar kamu gak kedinginan nunggu di sini."

Aira sempat ragu. Mengingat bisikan manipulatif Darel beberapa hari lalu, ia masih merasa agak canggung. Namun melihat hujan yang kian deras dan teras sekolah yang mulai dingin, Aira mulai tergerak untuk mengangguk.

"Boleh, Kak—"

Sret!

Belum sempat Aira melangkah, pergelangan tangannya mendadak ditarik kasar oleh sebuah tangan yang besar dan hangat dari arah belakang. Tubuh Aira terdorong pelan hingga menabrak dada tegap seorang cowok.

Vino sudah berdiri tepat di belakang Aira. Jaket hitamnya sudah terpasang rapi, dan wajahnya dipasang dengan raut dingin nan sengit yang amat kentara.

"Gak usah sok baik lu, Darel," desis Vino tajam, matanya menatap sepupunya itu dengan pendar amarah murni.

Darel menghentikan langkahnya, mempertahankan senyuman tenangnya meski tatapan matanya berubah pekat. "Vino? Saya cuma menawarkan tumpangan bareng buat Aira. Kita kan sama-sama mau pulang ke rumah. Kenapa kamu harus sewot?"

"Gue yang bawa Aira berangkat sekolah, jadi dia pulang bareng gue!" potong Vino mutlak tanpa kompromi. Vino lalu menyambar sebuah payung lipat dari dalam tasnya sendiri, membukanya dengan satu gerakan tangkas, dan menjejalkannya begitu saja ke genggaman tangan Aira.

"Pegang," perintah Vino galak pada Aira.

Aira yang terkejut hanya bisa memegang gagang payung itu dengan erat. "Vi—Vino?"

"Pegang payungnya yang bener, payungin gue!" bentak Vino gengsi seraya mendekatkan tubuhnya rapat-rapat ke samping Aira, memangkas jarak di antara mereka hingga bahu mereka bersentuhan erat. "Mobil gue diparkir di seberang lapangan. Lu harus ikut gue sekarang."

Darel melangkah maju satu tapak, berusaha menjangkau tangan Aira yang lain. "Aira, mobil saya diparkir lebih dekat di area parkir depan. Kamu gak perlu jalan nerobos hujan deras sama Vino—"

"Tangan lu jangan sembarangan pegang-pegang dia, Darel!" bentak Vino menggelegar, menepis tangan Darel secara kasar di udara hingga suasana di teras sekolah mendadak membeku. Semua siswa di sekitar mereka refleks terdiam dan menonton ketegangan itu dengan napas tertahan.

Vino tidak memberi kesempatan bagi Darel untuk membalas. Dengan tangan kirinya, Vino langsung merangkul bahu Aira secara protektif, menutupi sebagian besar tubuh Aira dari terpaan angin dan hujan, lalu membimbing cewek itu melangkah menerobos hujan deras menuju parkiran.

"Vino, pelan-pelan!" pekik Aira yang kewalahan menyamai langkah kaki Vino yang lebar.

Di bawah naungan payung yang agak sempit itu, Aira mendongak pelan. Meskipun Vino mengomel kasar menyuruhnya memegang payung dengan benar, Aira menyadari sesuatu yang membuat dadanya berdesir hebat: bahu kanan Vino sepenuhnya basah kuyup tersiram air hujan karena cowok itu sengaja menggeser posisi payung lebih banyak menutupi tubuh Aira daripada tubuhnya sendiri.

Sementara itu di teras sekolah, Darel berdiri mematung memegang payung hitamnya. Tatapan matanya yang membeku menyaksikan bagaimana Vino membawa Aira pergi menjauh. Senyuman di wajah Darel runtuh sepenuhnya, menyisakan raut obsesif yang gelap dan mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!