NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Gadis Desa

Sang Mafia dan Gadis Desa

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Obsesi / Tamat
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Yingiola Macosay

Andrew Quintana menguasai dunia hitam tanpa belas kasihan. Bos kartel yang dijuluki "si iblis" ini punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan sumpah untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Sampai suatu malam, di tengah baku tembak berdarah, seorang gadis berambut merah terjatuh dari mobil musuhnya.

Alondra hanyalah gadis desa yang menjual hasil kebun di pasar—sampai ia diculik, dijual, dan nyaris kehilangan nyawa. Kini ia terbangun di sebuah mansion mewah milik pria paling berbahaya yang pernah ia temui, sebagai sandera. Tapi Alondra bukan perempuan yang mudah ditundukkan. Ia melawan, membalas hinaan, dan sama sekali tak gentar pada sang bos mafia—sesuatu yang belum pernah dialami Andrew seumur hidupnya.

Dari pertengkaran sengit menjadi kesepakatan berbahaya, dari kebencian menjadi gairah yang tak bisa mereka bendung. Namun mencintai seorang mafioso berarti masuk ke dunia penuh peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai di setiap sudut. Ketika kecemburuan, kebohongan, dan rahasia mengancam menghancurkan segalanya, seberapa jauh keduanya rela bertaruh demi cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yingiola Macosay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Pulih Kembali

"Amanda ini parah, cuma itu yang bisa kukatakan padamu."

Waktu wanita itu mendengar bahwa si sinting sedang kritis, kulihat matanya berkaca-kaca. Wanita itu benar-benar jatuh cinta padanya. Tapi kalau begitu, kenapa dia memperlakukan Amanda seperti itu? Siapa yang bisa mengerti manusia.

Lebih baik aku tak ikut campur dalam semua ini. Begitu ada kesempatan pergi, akan kulakukan tanpa menoleh ke belakang.

Beberapa hari berlalu seperti itu. Ia masih tak sadarkan diri, dan aku belum sekali pun menengoknya, sebab aku tak berani. Tapi pagi itu kulihat Luis masuk, lalu aku menyusulnya.

"Bagaimana keadaan temanmu?"

"Ernesto bilang keadaannya sedikit membaik."

"Berarti dia akan selamat."

"Ya dan tidak."

"Aku tak mengerti, Luis."

"Dia belum lepas dari bahaya. Sampai dia siuman, barulah dia lepas dari bahaya."

Sepertinya apa yang dikatakan Luis benar. Si sinting masih tersambung ke berbagai alat, wajahnya lebih pucat daripada mayat. Aku mendekat untuk melihatnya. Ia tampak seperti sedang tidur.

Luis langsung mulai menempelkan kompres basah untuk sedikit menurunkan demam yang masih ia rasakan.

Lalu ia bilang bahwa akulah yang harus melakukannya, karena ia harus pergi ke perusahaan.

"Kenapa aku yang harus melakukannya? Itu bukan pekerjaanku."

"Tapi kau perempuan dan kau tahu cara melakukannya."

"Ish. Keterlaluan kau, Luis. Padahal temanmu itu cukup kusukai."

Luis mulai tertawa dan berkata, "Jangan bilang kau tak mau melakukannya, kau kan tunangannya."

"Kau lebih tahu dari siapa pun kalau itu cuma bohong."

"Tapi menurutku itu bukan bohong. Ada burung kecil memberitahuku kalau Andrew dan kau berciuman."

Mataku hampir copot mendengar ucapan Luis. Dari mana setan ini tahu si sinting keparat itu menciumku. Burung kecil macam apa yang begitu suka bergosip? Aku tak menciumnya, dialah yang menciumku, dan lagi pula aku sama sekali tak menikmatinya.

"Jangan bilang padaku, Alondra, kalau kau tak suka Andrew."

"Enggak? Tak sedikit pun. Dia tak lebih dari si sinting keparat, pemurung, dan sekarang sekarat."

"Aku hampir yakin kalau Andrew menyukaimu."

Kulirik Luis dari sudut mata. Aku tak tahu apa sebenarnya yang ingin diketahui Luis dengan semua omongannya ini, atau apa yang sedang ia rencanakan dengan semua yang ia katakan padaku. "Temanmu itu benar-benar sinting."

Luis hanya tertawa lalu keluar dari kamar. Aku terpaksa meneruskan apa yang tadi dikerjakan Luis. Beberapa saat kemudian dokter Ernesto datang.

Jadi kupilih untuk keluar dari kamar, dan seperti biasa aku pergi ke taman untuk belajar.

Tapi aku tak berhenti memikirkan apa yang dikatakan Luis, bahwa si sinting itu menyukaiku. Aku tersadar dan berkata pada diriku sendiri, "Sudah, berhenti memikirkan hal-hal bodoh, Alondra. Dia itu tak mencintai siapa pun. Kalaupun itu terjadi, begitu dia bosan denganmu, dia akan mencari yang lain dan membuangmu, seperti yang dia lakukan pada si Amanda itu." Setelah itu kulanjutkan tugasku.

Beberapa hari kemudian temanku sudah pulih. Kupikir kau takkan lolos, kawan. Kau tadinya kritis sekali, dan semua itu gara-gara tak memakai rompi antipeluru sialan itu.

Tubuhku masih terasa nyeri.

"Sudahlah, aku baik-baik saja, tak usah terlalu cemas, Luis." Begitu terbangun, kutengok ke segala arah. Kupikir Alondra akan ada di sini bersamaku, tapi ternyata tidak. Aku ingin sekali menanyakan Alondra pada Luis, tapi begitu terpikir bahwa itu akan jadi bahan ejekannya, kutahan saja keinginan itu.

"Kau tak akan menanyakan si Merah-mu?"

Waktu kudengar Luis berkata, bertanya apakah aku tak berniat menanyakannya, sesaat aku tak tahu harus menjawab apa. Sepertinya setan ini bisa membaca pikiranku. Maka kujawab, "Aku tak perlu menanyakan si Bintik itu." Tapi tepat di saat aku mengucapkan si Bintik, ia masuk.

"Wah, si pemurung, si sinting, dan sekarang sekarat sudah bangun rupanya. Aku cuma mau melihat apa dia baik-baik saja, tapi lebih baik aku pergi."

"Tak diragukan lagi, kalian berdua memang jodoh. Kalian malah berkelahi terus alih-alih mengakui perasaan masing-masing. Sudahlah, kalian berdua berhenti bertengkar, seperti suami-istri saja."

Waktu Luis mengucapkan kebodohan macam itu, aku hampir tersedak air liurku sendiri. Amit-amit, jangan sampai Tuhan menakdirkan aku jadi apa pun bagi si sinting pemurung ini. Aku langsung keluar dari kamar si sinting itu, karena sejujurnya sekarang yang sinting justru Luis, dengan segala kekonyolannya.

Setelah beberapa hari, akhirnya aku bisa bangkit dari ranjang itu, ranjang yang kini kubenci sekali gara-gara semua hari yang kuhabiskan terbaring di sana seperti orang tak berguna.

Hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke kamar mandi untuk sedikit bercukur. Aku berantakan sekali, dan aku tak suka dilihat dalam keadaan begitu. Aku suka tampil rapi.

Lalu aku keluar dari kamarku. Luka-lukaku masih nyeri, tapi begitu saja kuturuni tangga. Kulihat Alondra ada di ruang tamu, dan aku menghampirinya.

"Sedang apa?"

"Tidak kelihatan? Belajar. Beberapa hari lagi aku ada ujian."

"Aku ikut senang untukmu, Alondra."

Waktu kudengar ia memanggilku dengan namaku, kupandang ia dengan heran. Aku sudah terbiasa ia selalu memanggilku si Merah. "Wah, akhirnya Tuan menyebut namaku." Aku bangkit hendak pergi.

"Kumohon, jangan pergi. Mari kita mengobrol saja, jadi teman."

Aku ingin tertawa, tapi kutahan. Ia bicara padaku soal jadi teman, sungguh gila. "Menurutku, Tuan Andrew, sebaiknya kupanggilkan dokter Ernesto. Sepertinya Tuan demam lagi."

"Tidak, aku baik-baik saja, aku cuma ingin kita mengobrol."

Aku kembali duduk dan meneruskan tugasku.

Sekeras apa pun aku mencoba bicara dengannya, aku tak menemukan caranya. Ia selalu punya sesuatu untuk membantah. "Kau tahu, aku ingin ke taman. Kau mau menemaniku?"

Hmm. Sekrup di kepala orang ini benar-benar sudah lepas. Pertama ingin jadi temanku, sekarang ingin ke taman. Dia pikir aku ini perawat, atau lebih parah lagi pengasuhnya, atau apa?

"Jadi sekarang Tuan butuh pengasuh yang menemani ke mana-mana? Kalau ingin pergi, kenapa tak pergi sendiri saja, atau minta salah satu anak buah Tuan menemani?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!