Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Yang Tersembunyi
Riana berdiri dari kursi belajarnya dan berjalan mendekati sisi tempat tidur sebelah kanan. Ia mengambil posisi berbaring di tepi kasur, memberikan jarak seluas mungkin antara tubuhnya dan Reza yang berada di sisi kiri. Tempat tidur king size itu terasa seperti benua yang dipisahkan oleh samudra tak bertepi.
"Kalau kamu mau mandi atau ganti baju, lakukan sekarang," suara Riana memecah keheningan dengan nada datar. "Jangan sampai lampu kamar harus menyala terus hanya karena kamu ketiduran dengan baju luar."
Reza menurunkan tangannya dari dahi, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap Riana. Matanya yang gelap memantulkan bayangan redup dari lampu meja kamar. Ada guratan kelelahan yang nyata di wajahnya, tetapi ketajaman tatapannya tidak pernah benar-benar memudar.
"Gak perlu ngatur aku," balas Reza singkat. Suaranya serak dan terkesan dingin, khas nada bicara yang selalu ia gunakan jika berhadapan dengan Riana.
Reza kemudian bangkit dari tempat tidur, meraih pakaian ganti dari dalam lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi dalam tanpa menoleh lagi. Pintu kamar mandi tertutup rapat, disusul suara gemericik air shower yang mulai terdengar.
Riana menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya membelakangi sisi tempat tidur Reza. Ia menatap dinding kamar yang bisu. Di luar pintu sana, lensa kamera CCTV mungkin merekam pergerakan mereka masuk dan keluar dari kamar yang sama, menyajikan ilusi bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang hidup harmonis.
Namun di dalam ruangan ini, realitasnya sangat berbeda. Tidak ada kehangatan, tidak ada pembicaraan manis, dan tidak ada ruang untuk saling mendekat. Bagi Reza, Riana hanyalah beban akibat janji masa lalu, sedangkan bagi Riana, Reza adalah pria dingin yang pikiran dan hatinya telah seutuhnya dimiliki oleh perempuan lain bernama Sela.
Di mata banyak orang di kampus, Riana bukanlah sosok yang bisa diabaikan begitu saja. Ia memiliki kecantikan alami yang memikat—kulit bersih, paras manis dengan mata berbinar, serta bentuk tubuh yang berisi dan proporsional (bohay) dengan tinggi badan sekitar 160 sentimeter. Penampilannya yang sederhana dan tidak berlebihan justru semakin memancarkan daya tarik tersendiri. Bahkan, tak sedikit mahasiswa dari berbagai jurusan yang secara terang-terangan mengakui bahwa paras dan aura Riana jauh lebih menawan dibandingkan Sela.
Namun, Riana tak pernah memanfaatkan kecantikannya untuk mencari perhatian. Ia tetap menjadi pribadi yang rendah hati dan tidak neko-neko, berbanding terbalik dengan Sela yang selalu ingin menjadi pusat perhatian dengan gaya glamornya.
Malam itu di dalam kamar, Riana baru saja selesai mengeringkan rambutnya yang basah seusai mandi. Ia mengenakan kaus rumahan santai dan celana kain panjang. Ketika berdiri di depan cermin meja rias untuk mengoleskan pelembab wajah, pantulan dirinya terlihat sangat jelas. Reza, yang sedang bersandar di kepala tempat tidur sembari memeriksa dokumen kuliah semester empat di ponselnya, tanpa sengaja mengalihkan pandangan.
Untuk pertama kalinya dalam dua bulan ini, Reza benar-benar memperhatikan penampilan Riana dari jarak dekat tanpa batasan. Pria itu sempat tertegun selama beberapa detik. Dalam balutan pakaian rumahan yang sangat biasa tanpa sentuhan make-up tebal, Riana tetap terlihat sangat cantik dan menarik. Ada pesona alami yang begitu kuat, sesuatu yang sangat berbeda dari kecantikan Sela yang selalu dipoles sempurna setiap hari.
Menyadari tatapan Reza yang tertuju padanya melalui pantulan cermin, Riana menghentikan usapan jemarinya di wajah. Ia memutar badan, menatap balik Reza dengan alis yang terangkat sebelah.
"Kenapa? Ada yang aneh sama muka aku?" tanya Riana datar.