NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Merinding

Dua malam kemudian, ponselku bergetar tanpa henti di atas meja.

Grup WhatsApp Keluarga Besar Suryani sedang merayakan daftar seserahan Mbak Laras seperti pengumuman kemenangan nasional. Ibu mengirim foto kain, perhiasan, perlengkapan ibadah, dan dua puluh kotak makanan yang akan dibawa keluarga Wirajaya.

Budhe Sari membalas dengan enam stiker bunga. Bulik Yah menulis bahwa Laras memang membawa rezeki. Pakdhe Warto bertanya apakah undangan dari pihak Damar termasuk pejabat.

Namaku baru muncul ketika Ibu menandai akun pribadiku.

Sekar, kok diam saja? Doakan Mbakmu.

Aku mengetik selamat, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Semoga semua lancar untuk Mbak Laras.

Ibu langsung membalas.

Cuma begitu?

Aku meletakkan ponsel, tetapi panggilan video grup masuk. Saat kuangkat, layar dipenuhi wajah kerabat. Ibu duduk di ruang tengah bersama Ayah dan Mbak Laras. Rupanya aku satu-satunya yang bergabung dari kamar, padahal jarak kami tak sampai sepuluh meter.

"Sekar, keluar sini," panggil Ibu dari layar dan dari balik dinding pada saat yang sama.

Aku membawa ponsel ke ruang tengah. Mbak Laras menggeser duduk agar aku masuk bingkai. Beberapa kerabat memuji kebayanya. Aku tersenyum ketika diminta.

"Mas Damar ikut, dong," seru Budhe Sari.

Beberapa detik kemudian, akun Damar bergabung. Ia berada di ruang kerja dengan dinding abu-abu dan lampu redup. Wajahnya tetap rapi meski sudah malam.

"Assalamualaikum," sapanya.

Semua orang menjawab hampir bersamaan. Ibu mencondongkan ponsel agar kalung emas koleksi Dewi terlihat di lehernya.

"Ibu pakai hadiah dari Mas Damar. Cocok, kan?"

"Cocok, Bu."

Mbak Laras tersenyum kepada layar. "Mas sudah makan?"

"Sudah."

Percakapan berpindah ke jadwal kunjungan ke Surabaya. Aku menurunkan mata ke ponsel sendiri. Di layar kecil itu, video dari kamera Ibu menampilkan kami bertiga di sofa.

Lalu bingkai bergeser.

Wajahku membesar di layar.

Damar telah mengubah fokus kameranya. Indikator kecil menunjukkan ia memperbesar tampilan. Matanya menatap lurus, tidak kepada Mbak Laras yang sedang bicara, melainkan ke sudut tempatku duduk.

Bulu di lenganku berdiri.

Aku bergeser keluar bingkai. Beberapa detik kemudian kamera Ibu ikut bergerak karena ia hendak memperlihatkan kain. Wajahku muncul lagi.

Tatapan Damar kembali menemukan.

"Sekar kelihatan pucat," katanya.

Ruangan hening sesaat.

"Dia kebanyakan begadang cari kerja," jawab Ibu. "Sudah dibilang minta bantuan Mas Damar saja, gengsi."

"Saya siap membantu kapan pun."

"Nggak perlu," kataku.

Nada suaraku terlalu tajam. Mbak Laras menoleh. Ibu mencubit pahaku di luar jangkauan kamera.

Damar hanya berkata, "Baik."

Sama seperti saat ia membuka kunci mobil.

Panggilan berakhir setelah hampir tiga puluh menit. Ibu langsung memarahiku karena bersikap dingin.

"Mas Damar perhatian sama kamu karena kamu adik Laras. Jangan sok jual mahal."

"Dia nggak perhatian seperti kakak ipar."

Kata-kata itu lolos sebelum sempat kutahan.

Ayah menatapku. Mbak Laras perlahan menurunkan ponsel.

"Maksudmu apa?" tanyanya.

Ibu lebih dulu menjawab. "Maksudnya dia iri. Sejak Mas Damar datang, tingkahnya memang macam-macam."

"Ibu jangan asal bicara," kata Ayah. "Sekar mungkin punya alasan."

"Alasan apa? Mas Damar salah karena baik?"

Ayah menoleh kepadaku. "Pernah ada sesuatu saat kalian berdua?"

Jantungku berdetak keras. Mbak Laras juga menungguku. Di belakang mereka, foto daftar seserahan masih terbuka di layar ponsel Ibu, semua benda mahal yang mengikat dua keluarga dalam rencana besar.

"Waktu Mas Damar mengantar aku, dia sempat mengubah jalan," kataku perlahan.

"Karena macet?" tanya Mbak Laras.

"Mungkin."

"Tuh, kan." Ibu mengangkat tangan. "Hal kecil dibesar-besarkan. Orang kaya seperti dia banyak urusan. Jangan karena dia bicara baik sedikit, kamu salah paham lalu merasa dikejar-kejar."

Panas menjalar ke wajahku. Belum sempat kukatakan pintunya dikunci, Ibu sudah membangun cerita yang membuatku terlihat haus perhatian.

Ayah hendak menyela, tetapi Mbak Laras menyentuh lengannya. "Biar aku bicara sama Sekar nanti."

Tatapannya tidak marah. Justru lembut, penuh keyakinan bahwa masalah ini hanya salah paham kecil yang bisa diselesaikan kakak yang bijaksana.

"Nggak apa-apa. Aku capek."

Aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Daftar peristiwa di ponsel kubuka. Kubaca dari awal.

Lebaran: semua orang menerima hadiah, tetapi ia memperhatikan reaksiku.

Malam hujan: pintu terbuka, aroma dingin, suara yang terasa kukenal.

Sedan hitam: seseorang mengawasi aku dan Rangga.

Mobil terkunci: Damar tahu rencana kerja dan keinginanku pindah.

Ia juga tahu nama Rangga, padahal aku tidak pernah memperkenalkan mereka. Saat nama itu kusebut, wajahnya berubah. Hanya sedikit, tetapi cukup untuk mengingatkanku pada cara seseorang menandai barang yang dianggap miliknya.

Aku menggarisbawahi nama Rangga, lalu mengunci catatan itu dengan kata sandi.

Menara Cakrawala: rumah Mbak Laras diisi dengan kesukaanku.

Hadiah: lontong, obat migrain, batu biru.

Gedung wawancara: ia muncul di tempat yang tak pernah disebut Mbak Laras.

Aku menulis baris baru.

Panggilan grup: kamera diperbesar ke wajahku saat Laras berbicara.

Jika setiap kejadian berdiri sendiri, semuanya bisa disebut kebetulan. Ketika disusun, mereka membentuk garis yang terlalu lurus untuk diabaikan.

Garis itu menuju Damar.

Ketukan terdengar. Aku refleks menutup aplikasi.

"Sekar? Ini aku," suara Mbak Laras.

Aku membuka pintu. Ia berdiri sambil membawa dua cangkir teh. Aku hampir mundur karena aroma bunga, lalu melihat isinya teh hitam biasa.

"Boleh masuk?"

Mbak Laras duduk di tepi kasur. Aku tetap berdiri dekat meja.

"Kamu akhir-akhir ini aneh kalau ada Mas Damar," katanya. "Dia pernah bicara sesuatu yang membuatmu nggak nyaman?"

Inilah pertanyaan yang kutunggu. Namun mata Mbak Laras terbuka penuh kepercayaan, dan cincin pertunangannya berkilau ketika ia mengangkat cangkir.

"Mbak yakin dia baik sama Mbak?"

"Iya." Jawabannya cepat. "Dia nggak romantis, tapi selalu jujur. Waktu ayahnya sakit dulu, dia yang mengurus semuanya. Di kantor juga semua orang bergantung padanya."

"Kalau dia menyembunyikan sesuatu?"

Mbak Laras tersenyum kecil. "Semua orang punya rahasia. Kamu juga, kan?"

Pergelangan tanganku berdenyut meski bekasnya sudah hilang.

"Aku cuma takut Mbak terluka."

"Aku bisa menjaga diri." Ia menggenggam tanganku. Sentuhannya hangat. "Dan Mas Damar nggak mungkin menyakitiku. Dia sempurna dalam banyak hal."

Aku ingin berkata pria sempurna tidak mengunci adik tunangannya di mobil. Tidak mengubah rumah calon istrinya sesuai selera perempuan lain. Tidak berdiri di pintu pada subuh setelah malam yang tak bisa kujelaskan.

Namun jika aku salah, aku akan menghancurkan kebahagiaan Mbak Laras.

Jika aku benar, aku mungkin tetap menghancurkannya.

"Mungkin aku cuma terlalu banyak pikiran," kataku.

Mbak Laras memelukku sebentar lalu pergi. Setelah pintu tertutup, kubuka kembali daftar itu.

Delapan kebetulan.

Satu nama.

Dan tidak seorang pun selain aku yang melihat garis di antara keduanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!