NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Riak di Bawah Permukaan

Ombak dari Jakarta tidak datang sebagai satu gelombang besar.

Ia datang sebagai ratusan akun kecil.

Malam setelah identitas Bos Gunawan terkunci, Kevin menemukan seratus delapan puluh tujuh akun mengunggah kalimat serupa dalam menit yang sama. Foto Arya keluar dari sebuah kafe dipasangkan dengan judul berbeda: pewaris liar, suami kontrak, pemilik PE yang memakai uang perusahaan.

"Lihat waktunya," kata Kevin. "Semua antara pukul 21.14 dan 21.15. Manusia bisa ikut tren. Tapi manusia enggak mengetik dengan selisih dua detik memakai tanda baca sama."

Arya membaca komentar. Sebagian akun berusia beberapa tahun, tetapi baru aktif minggu ini. Profil mereka menampilkan foto curian dan riwayat unggahan makanan sebelum mendadak membahas PE.

"Pusatnya?"

"Agensi Trending Nusantara. Secara resmi konsultan pemasaran digital. Kantornya kecil, omzet di laporan pajak biasa. Tapi mereka mengelola dua ribu akun melalui panel luar negeri."

Kevin mengikuti pembayaran dari klien palsu ke agensi. Jalurnya berakhir pada perusahaan offshore yang memakai direktur nominee.

"Di sini putus," katanya. "Kalau kita paksa masuk, bukti jadi tidak bisa dipakai dan mereka tahu kita melihat."

"Simpan pola waktunya. Hubungkan hanya data publik."

Keesokan malam, mereka berpindah ke ruang bawah tanah Puri Adiwangsa yang tidak tercantum dalam denah tamu. Ruangan itu dulunya tempat penyimpanan arsip, kini berisi layar, peta pelabuhan, dan jalur komunikasi terpisah.

Seorang pria berjaket kulit sudah menunggu.

"Cak Arya," sapanya. "Lama tidak bertemu."

"Herman."

Herman menjabat tangan Arya, lalu mengangguk kepada Kevin. Ia dikenal di jalanan Surabaya sebagai orang yang bisa mencari pemilik kendaraan tanpa bertanya ke kantor polisi dan mengetahui kabar pelabuhan sebelum masuk koran.

"Ada orang Jakarta membeli berita buruk," lapornya. "Bukan lewat redaksi besar. Mereka bayar reporter lepas, admin akun gosip, dan pemilik portal kecil. Topiknya apa saja asal menyentuh Pak Wisnu, PE, atau lo."

"Nama pembayar?"

"Mereka cuma sebut klien besar. Uang lewat perantara. Satu wartawan bilang ada daftar topik siap pakai: anak haram Adiwangsa, suami makan uang istri, konflik Halim, sampai kematian Bella yang belum terjadi."

Kevin menoleh cepat. "Belum terjadi?"

Herman mengoreksi, "Maksud gue, daftar dibuat sebelum kabar-kabar terakhir. Mereka menyiapkan banyak arah dan memilih yang cocok."

Arya berdiri di depan peta. "Jadi tujuan mereka bukan satu fitnah. Mereka ingin membangun keraguan terus-menerus sampai fakta apa pun terlihat mencurigakan."

"Persis," kata Kevin. "Kalau kita membantah satu, mereka pindah ke lima yang lain."

"Jangan kejar semua. Petakan koordinator dan sumber pembayaran."

Herman mengeluarkan foto seorang pria menyerahkan amplop di warung dekat sungai. "Orang ini ketemu tiga reporter lepas. Anak buah gue bisa ambil dia malam ini."

"Tidak," jawab Arya. "Ikuti saja. Kalau kita menculik orang, Gunawan mendapat berita yang ia butuhkan."

"Dia mungkin hilang duluan."

"Karena itu dua tim, bergantian, tanpa kontak."

Herman mengangguk. Ia tidak selalu menyukai perintah menahan tangan, tetapi memahami tujuan. Naga Timur belum boleh tampak. Tuan Besar tidak boleh muncul hanya untuk memukul pembawa amplop.

Ponsel Arya berdering. Anindya menelepon.

"Saya di kantor," katanya. Suaranya terkendali, sedikit terlalu terkendali. "Tim komunikasi menerima foto anonim."

"Foto apa?"

Sebuah gambar masuk. Arya terlihat berdiri di luar kafe bersama seorang perempuan muda dari tim kreator. Sudut pengambilan membuat tangan perempuan itu seolah menempel pada dada Arya, padahal foto asli kemungkinan menangkapnya menyerahkan mikrofon nirkabel.

Teks pendamping berbunyi: Suami baru Bu Anindya sudah mencari hiburan di kantor.

"Perempuan itu Nisa dari tim produksi," kata Arya. "Ada enam orang lain di luar bingkai. Kami memeriksa lokasi kampanye."

"Saya tahu. Jadwalnya ada."

"Lalu kenapa suaramu begitu?"

Anindya diam sesaat. "Karena mereka mengirimnya langsung ke saya sebelum menerbitkan. Mereka ingin melihat apakah saya bereaksi."

"Jangan balas. Kirim berkas asli ke Kevin."

"Saya sudah melakukannya."

Arya memandang foto lebih lama. Setelah semua yang terjadi, Anindya memilih memeriksa jadwal sebelum menuduh. Namun serangan itu sengaja menyentuh ruang pribadi yang baru mulai mereka bangun.

"Saya pulang setelah selesai," katanya.

"Tidak perlu karena foto."

"Bukan karena foto. Saya memang pulang."

Nada Anindya melunak satu tingkat. "Baik. Hati-hati."

Panggilan berakhir.

Herman tersenyum. "Bu Nindya sudah tahu markas ini?"

"Tidak. Dan tetap begitu."

Kevin membuka data gambar. "Metadata dibersihkan, tapi kompresinya sama dengan portal yang memakai panel Agensi Trending Nusantara. Satu sumber."

Belum sempat ia membuka folder berikutnya, layar di sisi kanan berkedip. Tiga portal lokal menerbitkan berita pada detik yang hampir sama. Judulnya berbeda, tetapi susunan paragraf pertama identik. Salah satunya menuduh PE memberi proyek inkubator kepada perempuan-perempuan muda untuk kesenangan pemilik baru.

Arya membaca sampai selesai tanpa mengubah ekspresi. Di bawah artikel, komentar sudah mencapai ratusan meski umur berita belum lima menit.

"Kalau kita diam, staf yang disebut akan jadi sasaran," kata Kevin. "Kalau kita bantah sekarang, kita mengangkat jangkauan mereka."

"Lindungi staf dulu."

Arya menelepon Rani dan meminta bagian legal menghubungi Nisa serta semua orang yang hadir di lokasi kampanye. Tidak ada larangan bicara dan tidak ada naskah kebohongan. Mereka hanya diberi bantuan hukum, jalur pelaporan ancaman, serta kebebasan memilih apakah ingin namanya disembunyikan.

"Buat kronologi resmi lengkap dengan daftar kru dan waktu pengambilan gambar," perintah Arya. "Jangan serang balik kehidupan pribadi siapa pun. Jangan beli akun tandingan. Kalau ada media bertanya, beri fakta yang bisa diverifikasi."

"Kalau mereka terus memelintirnya?" tanya Rani.

"Simpan setiap perubahan judul. Besok kita layangkan hak jawab. Kalau fitnahnya berulang setelah bukti diterima, Gilang yang bergerak."

Herman memandangi Arya setelah telepon ditutup. "Dulu kalau nama Adiwangsa disentuh, orang yang menyentuhnya bisa kehilangan usaha sebelum sarapan."

"Itu sebabnya mereka ingin saya marah," jawab Arya. "Satu ancaman dari saya akan lebih berguna bagi mereka daripada seribu akun palsu."

Kevin memperbesar grafik penyebaran. Gelombang pertama menyerang Arya sebagai pewaris. Gelombang kedua menyerang pernikahannya. Gelombang ketiga mulai menghubungkan PE dengan Wisnu. Bentuknya seperti tiga lingkaran yang dipaksa bertemu di satu titik.

"Mereka sedang menguji pagar," katanya. "Mana yang membuat kita keluar."

"Biarkan mereka merasa pagar itu kosong," kata Arya. "Sementara itu, catat siapa yang datang terlalu dekat."

Sebuah pesan dari Anindya muncul di layar ponselnya: kronologi lokasi sudah dikirim, Nisa ditemani kepala produksi, dan konferensi internal pagi hari akan dipimpin langsung olehnya. Tidak ada pertanyaan emosional. Tidak ada tuntutan agar Arya membuktikan kesetiaan. Hanya tindakan yang rapi.

Arya mengetik terima kasih, lalu menghapus kalimat kedua yang sempat ia tulis. Terlalu panjang untuk percakapan saat perang baru dimulai.

Ia menggantinya dengan dua kata: Saya pulang.

Balasan datang cepat. Saya tunggu.

Ia kemudian menampilkan pembayaran baru. Dari agensi, dana bergerak ke tiga reporter dan seorang fotografer. Pengirim awal tetap tertutup, tetapi kolom referensi mencantumkan dua huruf.

AD.

"Bisa nama perusahaan, rekening, atau kode proyek," kata Kevin. "Belum tentu Adiwangsa."

"Justru mereka mungkin ingin kita mengira begitu," jawab Arya.

Herman menunjuk peta. "Jadi kita mengejar siapa?"

Arya mematikan foto fitnah dan membiarkan dua huruf itu memenuhi layar utama.

"Bukan akun yang berteriak," katanya. "Cari tangan yang membayar mereka untuk bersuara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!