NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Melawan dengan Bukti

Serangan berikutnya tidak datang melalui pagar.

Ia datang melalui layar ponsel.

Satu minggu setelah rekaman Kirana diserahkan kepada penyidik, sebuah akun infotainment mengunggah foto Vila Reksonegoro dari jalan atas. Keterangan fotonya menyebut Sekar meninggalkan suami, membawa aset keluarga, lalu tinggal bersama seorang lelaki berseragam.

Dalam satu jam, potongan video konvoi militer di depan gerbang ikut beredar.

`Istri pejabat kabur dengan jenderal?`

`Pantas berani melawan keluarga suami.`

`Katanya mandul, sekarang cari lelaki berpangkat.`

Nama Arka tidak ditulis, tetapi wajahnya terlihat samar dalam satu foto saat membawa Sekar masuk setelah penyerangan.

Ningsih menutup laptop dengan kesal. "Mereka memakai foto malam Mbak hampir dibunuh untuk menuduh tinggal bersama."

"Buka lagi," kata Sekar. "Kita jawab dengan urutan waktu."

Pak Djoyo membawa map kepemilikan Vila. Bening mengumpulkan nomor laporan polisi dan bukti bahwa kehadiran petugas keamanan terkait penyelidikan serangan. Sekar memilih apa yang boleh dibuka dan apa yang tetap disimpan.

Rekaman pengakuan Kirana tidak disentuh.

Jejak transfer dan ponsel Yulia tetap menjadi urusan penyidik.

Yang mereka keluarkan hanya fakta yang tidak membahayakan perkara.

Pernyataan resmi Astarasa memuat sertifikat hak Vila atas nama cabang keluarga Reksonegoro, kronologi Sekar meninggalkan rumah setelah akses uang dan komunikasi dibatasi, serta keterangan bahwa kendaraan militer berada di jalan publik untuk urusan logistik dan bantuan keamanan pascaserangan.

Sebelum dipublikasikan, pengacara memeriksa setiap kalimat melalui panggilan video.

"Jangan tulis bahwa Danuwijaya menculik Tuti kalau keberadaannya belum ditemukan," pesannya. "Tulis fakta bahwa dia dibawa dari rumah dan sampai sekarang tidak dapat dihubungi."

"Bagaimana dengan pembatasan rekening?"

"Lampirkan pemberitahuan bank dan pesan Rendra yang mengakui penghentian akses. Jangan memakai kata pencurian sebelum audit."

Sekar menghapus tiga kata yang terdengar memuaskan tetapi belum dapat dibuktikan. Ia menggantinya dengan tanggal, dokumen, dan kutipan yang bisa diperiksa.

"Pernyataan seperti ini tidak akan terdengar emosional," keluh Ningsih.

"Bagus," jawab Sekar. "Mereka sudah menjual emosi. Kita jual kepastian."

Bening memeriksa metadata foto agar lokasi anak-anak dan tata ruang Vila tidak terlihat. Nomor pribadi, tanda tangan, serta alamat lengkap ditutup. Bahkan ketika melawan fitnah, mereka tidak boleh membuka celah keamanan baru.

Pukul tujuh malam, pernyataan diunggah serentak melalui akun resmi Astarasa dan kuasa hukum. Mereka tidak membeli tagar atau mengirim pasukan akun palsu. Sekar hanya meminta setiap cabang menyimpan tautan asli agar potongannya tidak mudah dipelintir.

Kontrak percobaan Astarasa ditampilkan dengan bagian harga dan data sensitif ditutup. Nomor proses pengadaan terlihat jelas, lengkap dengan pernyataan bahwa penilaian dilakukan tim resmi.

"Jangan sebut Arka sebagai pelindung pribadi," kata Sekar.

"Padahal memang beliau membantu," ujar Ningsih.

"Itu akan mengubah bantuan menjadi gosip hubungan. Tulis fungsi dan waktunya, bukan perasaan orang."

Mereka juga mengunggah foto Sekar menandatangani berita acara polisi pada malam serangan. Wajah petugas disamarkan. Keterangan hanya berbunyi: `Foto yang dipakai untuk menuduh hubungan tidak pantas diambil ketika korban baru saja selamat dari percobaan kekerasan.`

Respons publik berubah perlahan.

Seorang jurnalis memeriksa nomor pengadaan dan membenarkan prosesnya ada. Akun pemeriksa fakta menunjukkan Vila bukan milik Danuwijaya. Warganet mulai menggali kembali waktu Kirana datang dalam keadaan hamil dan status nikah siri yang belum mendapat izin pengadilan.

Seorang mantan pegawai hotel ikut menulis bahwa kamar 1108 hanya dapat dibuka dengan kartu yang tercatat. Ia tidak mengaku mengetahui pelaku, tetapi pertanyaannya sederhana: kalau Sekar benar datang sukarela, mengapa data akses tidak pernah dibuka oleh pihak hotel?

Unggahan itu dibagikan ribuan kali.

Seorang ibu lain menulis pengalaman pernah disalahkan bertahun-tahun karena belum punya anak sementara suaminya menolak diperiksa. Kolom komentar yang sebelumnya dipenuhi ejekan mulai berubah menjadi cerita para perempuan yang mengenali luka Sekar.

`Kalau Sekar yang kabur, kenapa keluarga suami menyiapkan istri kedua diam-diam?`

`Dia tinggal di rumah warisan sendiri. Di mana bagian membawa aset suami?`

`Foto jenderal itu malam ada polisi dan ambulans. Narasinya sengaja dipotong.`

Wida mengirim pesan suara ke grup keluarga, menuduh Sekar membuka aib rumah tangga. Tangkapan layarnya bocor dalam hitungan menit dan justru memperburuk keadaan.

`Kalau tidak ada yang disembunyikan, kenapa takut kronologi dibuka?`

Di Jakarta, Kirana melempar vas kecil ke lantai.

"Kenapa mereka percaya kepadanya?" teriaknya.

Yanti mematikan ponsel yang terus menerima pertanyaan wartawan. "Karena ada nomor dokumen. Orang bisa mengecek."

"Buat narasi lain. Bilang dia memakai anak-anak jenderal agar dikasihani."

"Mbak, polisi sudah memanggil vendor. Kita sebaiknya diam dulu."

Kirana memegang perut ketika gerak bayi terasa keras. Keringat muncul di bibir atasnya.

"Kalau aku diam, Sekar akan mengambil Rendra, perusahaan, semuanya."

"Mas Rendra bahkan sedang marah kepada Mbak setelah telepon itu."

"Justru karena itu dia harus dibuat berhenti."

***

Di Puncak, Sekar menghentikan unggahan lanjutan ketika arus komentar mulai berpihak kepadanya.

"Kita masih punya hasil toksikologi," kata Ningsih. "Kalau dikeluarkan sekarang, mereka akan jatuh lebih dalam."

"Belum. Hasil itu terhubung perkara hotel. Kalau mereka tahu semua bukti yang kita punya, mereka akan menyiapkan jawaban."

"Jadi kita berhenti saat menang?"

"Kita berhenti karena tujuan kita sudah tercapai. Vila tidak lagi disebut aset curian. Kontrak tidak lagi dianggap hadiah. Jangan mengubah pembelaan menjadi tontonan."

Pak Djoyo mengangguk. "Eyang Wiryo juga selalu bilang, jangan menghabiskan semua peluru pada pintu pertama."

Sekar menatap grafik percakapan media sosial. Untuk pertama kalinya, nama Danuwijaya tidak otomatis menentukan kebenaran. Orang-orang masih bergosip, tetapi sekarang mereka mengajukan pertanyaan kepada kedua pihak.

Telepon dari Ratih masuk.

"Mama membaca pernyataanmu," katanya. "Ayah marah karena nama proyeknya ikut dibahas orang. Tapi untuk pertama kalinya, tetangga bertanya apakah kamu benar-benar diperlakukan buruk."

"Mama aman?"

"Untuk sekarang. Bayu sudah kembali ke Jakarta dan sering datang. Ayah tidak berani membentak seperti dulu kalau dia ada."

"Kalau keadaan berubah, pergi ke tempat Bayu."

"Kamu juga hati-hati. Orang yang kalah di depan umum kadang lebih berbahaya saat tidak dilihat."

Setelah panggilan berakhir, Bening masuk membawa hasil pemantauan. Tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar Vila. Yulia masih belum ditemukan, tetapi akun-akun berbayar yang menyerang Sekar berhenti mengunggah hampir bersamaan.

"Mereka menerima perintah baru," kata Bening.

Ponsel Sekar bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

Sekar membukanya. Darah di ujung jarinya seolah berhenti mengalir ketika sebuah gambar dimuat perlahan.

`Berhenti, atau anak-anak Jenderal itu yang kena.`

Di bawah kalimat tersebut terdapat foto Bimo dan Nala turun dari mobil sekolah, diambil dari seberang jalan pada pagi yang sama.

Mereka diawasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!