NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekadar Peduli, Katanya

Dari kaca spion, aku melihat Alya yang sedang merentangkan tangannya perlahan, senyum terukir di wajahnya. Kemudian wanita itu mendongakkan wajahnya ke atas, menerima setiap tetesan hujan yang turun membasahi tubuhnya.

Untuk kali ini, aku melihat senyuman Alya yang terlihat bahagia. Lebih lebar dari senyuman pernikahan kami. Melihat Alya tersenyum seperti itu, membuat guratan senyum tipis juga muncul pada wajahku.

Jalanan mulai berkabut, hawa dingin semakin menusuk. Daerah perbukitan, aku harus segera menarik gas karena jalanan menanjak. Tanpa aba-aba, motor custom berwarna hitam milikku kembali meliuk cepat.

Membuat Alya kembali melingkarkan tangannya pada pinggangku.

"Kak Revan, kamu masih demam. Apa kita tidak berteduh dulu?" Aku masih bisa mendengar suara teriakan Alya, walaupun samar.

"Kaluna sudah menunggu, kita harus segera sampai." Aku semakin menarik kencang gas motor, berusaha fokus dengan jalanan yang berkabut disertai hujan.

"Ya sudah, lanjut saja, Kak. Ini sangat seru," pekiknya girang.

Aku tahu, usia Alya memang jauh di bawahku. Kami berbeda lima tahun, jadi aku bisa melihat sisi kekanak-kanakan Alya yang masih menyukai hujan-hujanan.

Pelukan Alya semakin mengerat saat motorku mulai meliuk-liuk pada belokan, turunan, dan tanjakan.

Akhirnya kami sampai di rumah sakit dengan waktu yang singkat. Menerjang hujan, angin, dan kabut membuat tubuh ini terasa kebas kedinginan.

Aku melirik Alya. Pakaian batik yang ia kenakan basah kuyup, begitu juga hijabnya. Aku jadi merasa bersalah padanya.

"Temui Kaluna sebentar saja, setelah itu saya akan mengantarmu pulang."

Alya melangkah jauh di belakangku. Terlihat tubuhnya semakin menggigil karena pakaiannya yang basah.

Aku mulai membuka ruang isolasi tempat Kaluna mendapat perawatan. Gadis kecil itu terlihat sedang tertidur.

"Kaluna..." Aku membangunkan Kaluna pelan.

Aku melirik Alya yang sudah berdiri di sampingku. Sorot matanya tertuju pada Kaluna yang sedang tertidur pulas.

"Dokter..." Pandangan Kaluna beralih pada seseorang di sampingku. Binar matanya sontak terlihat. Senyumnya kembali mengembang.

"Ibu guru Alya ada di sini, Kaluna..."

Alya melambaikan tangannya pada Kaluna, membuat Kaluna tersenyum manis memandangi wajah Alya.

"Bu guru Alya. Cantik sekali, persis seperti yang ada pada foto pernikahan Bu guru dan Pak Dokter."

"Makasih, sayang. Kaluna enggak kalah cantik juga, kok. Ayo, semangat. Bu guru Alya punya hadiah untuk Kaluna."

Alya terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Kaluna tahu enggak, lukisan Kaluna itu sangat bagus. Bu guru Alya sampai menyimpannya di atas nakas. Terima kasih, ya, sudah dibuatkan lukisan sebagus itu. Kamu hebat..."

Binar kebahagiaan terlihat di wajah Kaluna. Gadis kecil itu terlihat bahagia ketika bertemu dengan sosok yang menginspirasi hidupnya.

"Ini untuk Kaluna. Kalau Kaluna merasa bosan, Kaluna bisa menggoreskan warna di buku ini."

Alya menyerahkan sketchbook tebal beserta pensil warnanya.

"Tapi untuk saat ini, Kaluna tidak boleh banyak bergerak dulu, ya. Setelah sembuh, baru boleh berkarya lagi," ujarku.

Aku melirik ke sebelah. Jemari Alya tampak semakin gemetar, disertai wajahnya yang semakin pucat.

"Makasih, Bu guru Alya. Aku senang sekali. Semangatku untuk sembuh untuk kembali lagi. Terima kasih sudah datang ke sini."

"Maaf, Kaluna. Bu guru Alya harus segera pulang dulu. Lain kali, dokter akan membawanya ke sini lagi."

Setelah berpamitan, aku dan Alya melangkah keluar dari ruang isolasi. Kami melangkah menuju ruang kerjaku.

"Kak... padahal aku enggak apa-apa kalau lebih lama menjenguk Kaluna."

Aku membuka pintu ruang kerjaku, lantas menyuruh Alya untuk duduk di kursi tunggu. Aku memberinya segelas air hangat.

"Ingat, jangan salah mengartikan sebuah kebaikan."

"Aku ingat. Jika seperti ini, status Kak Revan berubah, bukan seorang suami. Melainkan seorang dokter, bukankah begitu? Karena kamu selalu melupakannya, Kak..."

Aku menghentikan langkah saat Alya berbicara seperti itu. Apa sebutan pasien waktu itu masih membuatnya sakit hati? Karena sampai saat ini Alya masih mengungkitnya.

"Terserah kamu mau menganggapnya seperti apa."

"Hatsyu... hatsyu..." Suara bersin, tubuh Alya tampak semakin menggigil.

Aku mengambil sweater tebal yang tergantung di ruang kerja, lalu memberikannya pada Alya.

"Aku enggak bawa mobil, jadi aku akan mengantarmu memakai motor lagi. Pakai ini, pakaianmu basah."

"Lalu Kak Revan...?"

"Cepat, Alya. Saya masih banyak kerjaan yang menunggu."

Jalanan masih tampak basah, aroma tanah masih sangat tercium jelas. Aku mulai menyalakan motor dan menyuruh Alya untuk segera naik. Wanita itu sudah memakai sweaterku yang kebesaran di tubuhnya.

"Kak... tidak lewat jalan pintas tadi, kan?"

Aku mulai melajukan motor perlahan.

"Memangnya kenapa? Jalan pintas bisa memangkas waktu untuk segera sampai ke rumah."

"Aku sedikit trauma dengan jalanannya yang terjal. Tapi terserah Kak Revan saja..."

Pada akhirnya, aku memilih jalan yang biasa dipakai. Macet dan klakson kendaraan bersahutan, membuat jalan bising.

Butuh waktu setengah jam lebih. Akhirnya aku sampai ke rumah untuk mengantar Alya pulang, kemudian lanjut pergi kembali ke rumah sakit.

"Hem... Revan, kamu akan membuat wanita ini semakin ngelunjak. Lihat saja nanti. Kamu sekali menjemputnya pulang, maka nanti dia akan terus-terusan minta dijemput."

Bude Arum tiba-tiba muncul saja dari dalam rumah. Seperti biasa, dia akan menatap Alya dengan tatapan meremehkan.

"Tenang saja, Bude. Kak Revan tidak akan lagi menjemputku. Dia hanya membutuhkanku untuk menemui pasiennya. Dan aku senang akan hal itu."

"Kak, pakai sweternya. Apa perlu aku ambilkan pakaian dari dalam?"

"Heleh, jangan sok baik sama Revan. Percuma, karena Revan tidak akan luluh dengan kebaikan dan senyuman manis mu yang palsu itu. Saya tahu, kamu memiliki siasat yang tidak baik, kan, di rumah ini. Secara, kamu itu dari keluarga rendahan dan ingin mencicipi sebuah kekayaan."

Aku mulai memakai sweater yang Alya berikan.

"Bude, saya pamit dulu ke atas, karena saya sudah selesai memastikan suami saya dalam keadaan baik-baik saja."

Aku melirik Alya sekilas yang sudah memasuki rumah, wanita yang selalu terlihat tangguh. Tapi, aku tidak tahu serapuh apa di dalam hatinya.

Bersambung.

Jangan lupa like komen dan subscribe ya..

1
sunaryati jarum
Terima dengan ikhlas keadaan Alya sekarang Revan jika kau memang mencintainya.Sabar dan berjuanglah itu mungkin karmamu , karena pengkhianatan kamu dengan mantan kekasihmu.
sunaryati jarum
Semoga Alya segera sadar
sunaryati jarum
Kamu harus menerima hukuman dulu jika Alya mau memaafkan kamu.Keenakan kamu, terang - terangan mempercayai fitnah selingkuhan dari pada istri sah.
sunaryati jarum: Dilanjutkan tidak lama banget upnya
total 1 replies
Lembayung Bercerita
sebentar ya kak, author lagi disibukan dengan lain hal 🙏
sunaryati jarum
Ini lanjut nggak , Thoor .Lama tidak up
falea sezi
g sudi lu balik ke ayla🤣🤣
Ma Em
Alya hamil lagi setelah keguguran , bagaimana reaksi Revan setelah tau Alya mengandung anaknya Revan , apakah Alya akan kembali pada Revan .
Tati Yudaningsih
lanjut terus💪
sunaryati jarum
Benar Alya saat pergi sedang hamil,dan ibu Ervan selalu ada untuknya
Ma Em
Revan kamu terlalu cinta pada Aira sehingga membuatmu buta dan bodoh , ada istri yg setia selalu menunggumu pulang dan mengurus semua kebutuhanmu Revan sia siakan , semoga saja Alya tdk akan Sudi lagi kembali padamu Revan lelaki bodoh , selamat menyesal saja seumur hdp mu Revan .
Aretha Shanum
ga usah berbelit belit thor
sunaryati jarum
Kebodohan terbesarmu Revan mengejar ular berbisa dengan mengabaikan bidadari, mungkin jika bertemu akan memaafkan kamu tapi untuk menjadi istrimu semoga tidak bersedia,dia bukan ban serep
Sri Widiyarti
Revan dokter tapi ko bodoh 🤦🤦🤦
mama
alahhhh telat km van,sekarang noh buka matamu lebar2 cwe yg kata ny kakasih km itu adalah iblis..percuma km sekarang nyesel gk ad guna.. semoga aj alya gk mau lgi kembali sm km van.. makany klu ap2 jgn asal ngmbil keputusan,jgn asal njepalak ngusir alya.. selidiki dulu kek bukan ny km org kaya masa byr detektif aj gk mampu🤣
sunaryati jarum
Kau dibutakan oleh cintamu pada Aira,dan sikap manipulatif Aira yang membuat kau menyakiti Alya.Kau tidak pantas menjadi suami Alya.Alya sekarang gajinya lebih besar karena novelnya difilmkan yang sangat laris ditayangkan,dan sepertinya dia mengandung anakmu.Rasain cintamu hanya dimanfaatkan oleh Aira demi mengeruk hartamu
Lembayung Bercerita
kaya flat gitu aja ya kak, kalau gak ada konflik
Rahmawati Amma
ya mudah2 cepat terbongkar kebusukan aira dan kembali bersama alya karna blm ada kata talak dan gugatan cerai 😅
Rahmawati Amma
emang kurang seruh klu ngak ada konflik 😅
sunaryati jarum
Penyesalan kamu akan terasa jika sudah tahu sifat aslinya Aira.
sunaryati jarum
Bangkit dan jangan pernah kembali pada suami yang hatinya mendua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!