Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Suaminya
Keesokan sore, Laras salah memeluk orang di bandara.
Lelaki tinggi yang keluar dari jalur VIP mengenakan topi, masker, dan jaket hitam. Laras langsung menarik lengannya sambil berkata, "Kamu akhirnya pulang juga."
Lelaki itu membeku. Istrinya yang berjalan di belakang ikut membeku.
"Maaf," ujar Laras dan segera melepaskan tangan.
Tawa terdengar dari samping. Seorang pemuda setinggi hampir seratus delapan puluh delapan sentimeter berdiri sambil mendorong koper. Rambutnya yang dulu dicat merah sudah kembali hitam, tetapi senyum mengejeknya tidak berubah.
"Pianis internasional ternyata nggak bisa mengenali adik sendiri."
"Kamu bilang akan pakai topi."
"Aku juga bilang sweater cokelat."
Laras memeluk Rakai sebelum adiknya sempat menghindar. Setahun tidak bertemu membuat bahu itu terasa lebih lebar dan wajahnya lebih dewasa.
"Kak, banyak orang lihat."
"Biarkan."
"Tadi salah orang juga bilang begitu?"
Laras memukul lengannya.
Rakai mengamati wajah kakaknya sesudah mereka berjalan menjauh dari kerumunan. "Kamu kurusan. Beneran sakit waktu itu? Ibu bilang kamu pindah untuk pemulihan."
"Sudah sembuh."
"Kenapa aku baru dikasih tahu setelah semuanya selesai?"
"Karena kamu sedang menyelesaikan tesis."
"Alasan."
Laras tersenyum tipis. Dari seluruh rumah, Rakai mungkin satu-satunya orang yang akan datang tanpa menanyakan efek masalahnya pada nama keluarga. Justru karena itu ia belum berani bercerita. Adiknya baru mendarat setelah penerbangan belasan jam. Ia ingin memberinya setidaknya satu malam sebelum menyeretnya ke dalam perang pertunangan.
"Besok kita bicara," janji Laras.
"Soal akad juga?"
"Terutama soal akad."
Dalam perjalanan, Rakai menuntut makan malam penyambutan. Laras meminta rekomendasi Kirana dan mendapat alamat rumah makan di sebuah kawasan pejalan kaki populer. Sebelum ke sana, ia memberikan hadiah yang dibeli beberapa minggu lalu: sweater cokelat bermotif geometris mencolok.
"Ini hukuman karena tidak pulang waktu pertunangan saya?" tanya Rakai.
"Pakai. Udara malam dingin."
Rakai menurut sambil terus mengkritik motifnya.
Pada saat yang sama, Bram duduk di lantai dua kedai minuman yang menghadap kawasan tersebut bersama Bimo dan Gilang. Ia baru mengangkat gelas ketika melihat Laras berjalan di bawah.
Seorang lelaki tinggi merangkul bahunya.
Lelaki itu memakai sweater cokelat yang motifnya sama persis dengan sweater merah muda pemberian Laras kepada Bram.
Laki-laki liar nomor seribu dua.
Bram berdiri begitu cepat hingga meja bergeser.
"Mau ke mana?" tanya Bimo.
"Turun."
Gilang melihat ke jendela, menangkap sumber masalah, lalu ikut berdiri dengan minat terang-terangan. Bimo tertinggal karena masih mencari dompet.
Di jalan, Laras berhenti ketika Bram muncul di depan mereka. Ia pertama-tama melihat wajahnya, lalu sweater Rakai. Rasa malu karena membeli dua warna dari model sama langsung menyerang.
"Kamu pakai itu juga?" tanyanya.
"Jadi ini seribu dua?"
Rakai maju setengah langkah. "Siapa dia, Kak?"
Ponsel Laras berdering. Mbak Ranti menelepon soal naskah pernyataan media. Laras menunjuk rumah makan di ujung jalan. "Tunggu di sini. Saya harus angkat."
Ia menjauh beberapa meter.
Rakai memandang Bram dari kepala sampai kaki. "Kamu siapa?"
"Suaminya."
"Apa?"
"Ada masalah?"
"Kakakku belum menikah."
"Belum."
"Kalau begitu berhenti mengaku-ngaku."
Bram tersenyum dingin. "Aku bukan suaminya? Memangnya kamu?"
Rakai mencengkeram kerah Bram. "Jangan ganggu dia lagi."
Orang-orang mulai berhenti. Beberapa ponsel terangkat. Gilang berdiri di dekat mereka tanpa buru-buru melerai, seolah menonton pertandingan yang terlalu menarik untuk dihentikan.
"Lepaskan," kata Bram, sangat tenang.
"Janji jangan dekati kakakku."
"Nggak bisa."
Jawaban tanpa ragu itu membuat genggaman Rakai makin kuat. Bram tidak membalas, tetapi posisi kakinya berubah sedikit. Gilang mengenali gerakan seseorang yang tahu persis cara menjatuhkan lawan. Ia akhirnya maju, bukan karena khawatir pada Bram, melainkan pada pemuda yang belum tahu siapa yang sedang dicengkeramnya.
Bimo akhirnya tiba dengan napas tersengal. "Bram! Jangan berantem sama adik calon kakak iparmu!"
Kedua lelaki itu menoleh bersamaan.
"Adik?" tanya Bram.
"Calon kakak ipar?" tanya Rakai.
Bimo menunjuk satu per satu. "Ini Rakai Wirasena, adik kandung Mbak Laras. Tahun lalu dia di London, jadi nggak ikut pertunangan. Dan ini Bramantya Adiwangsa, adik kandung Mas Radit."
Rakai perlahan melepaskan kerah. Bram merapikannya dengan wajah tanpa dosa.
"Kenapa dia bilang suami kakakku?"
"Maksudnya keluarga mereka sebentar lagi jadi satu," kata Bimo cepat. "Bram memang suka bicara ngawur."
Gilang batuk untuk menyembunyikan tawa.
Laras kembali dan langsung membaca situasi. "Apa yang terjadi?"
"Suamimu hampir dipukul adikmu," jawab Bram.
"Diam."
Untuk menghindari kerumunan lebih besar, mereka masuk ke rumah makan dan mengambil ruang privat. Kirana dipanggil karena Laras membutuhkan orang lain yang mampu mengalihkan pertanyaan Rakai.
Selama makan, Rakai tetap mengamati Bram dengan curiga. Bram membalas dengan keramahan berlebihan, menambahkan lauk ke piring Laras sebelum Radit pernah melakukannya di depan keluarga.
"Kakakku alergi udang kecil," kata Rakai ketika Bram hendak mengambil sambal terasi.
"Aku tahu."
Laras menendang kaki Bram di bawah meja.
"Dari mana?" Rakai langsung bertanya.
"Profil wawancara lama," jawab Bram tanpa berkedip. "Pianis terkenal punya banyak informasi di internet."
"Kamu membaca wawancara kakakku?"
"Kadang."
"Bram suka kepo," Bimo menyela membantu. "Dia tahu hal nggak penting tentang semua orang."
Gilang menatap Bram sambil mengaduk es tehnya. Dari ekspresinya, jelas ia tidak percaya penjelasan tersebut, tetapi ia belum mengatakan apa-apa.
"Mas Radit tidak ikut?" tanya Rakai.
"Ada rapat," jawab Laras.
"Adiknya lebih santai, ya."
"Aku pekerja fleksibel," kata Bram.
"Dia pengangguran dengan jabatan," tambah Gilang.
Kirana datang sepuluh menit kemudian dan duduk di samping Rakai. Suasana segera lebih ramai. Bimo bercerita tentang hampir terjadinya perkelahian tanpa menyadari alasan Bram marah sebenarnya.
"Kamu hampir memukul keluarga calon suami Kak Laras pada hari pertama pulang," kata Kirana kepada Rakai. "Rekor bagus."
"Dia yang mengaku suami."
"Mungkin jet lag membuatmu salah dengar."
"Aku tidak jet lag."
"Berarti memang gampang terpancing."
Rakai hendak membalas, tetapi Kirana sudah memesan makanan tambahan tanpa bertanya. Laras melihat pertengkaran kecil mereka dan untuk pertama kalinya malam itu bisa menarik napas lebih lega.
Gilang memperhatikan sweater kedua lelaki itu sejak tadi. Akhirnya ia menunjuk motifnya.
"Kalian janjian pakai baju pasangan?"
Rakai melihat sweater Bram, lalu miliknya sendiri. "Kakakku yang beliin."
Semua mata beralih kepada Bram.
Lelaki itu menyandarkan tubuh dengan tenang dan menatap Laras lurus-lurus.
"Istriku yang beliin."
Di bawah meja, jari Laras mencengkeram ujung rok.
Kirana hampir tersedak minuman. Gilang tersenyum seperti baru menemukan potongan terakhir dari teka-teki, sedangkan Bimo masih tertawa karena menganggapnya lelucon biasa.
Kalimat itu hanya perlu satu pertanyaan tambahan untuk merobek rahasia mereka tepat di depan adik kandungnya malam itu.