NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

BAB 5

MALAM BADAI

Hujan turun lagi pada malam Rey pulang.

Lani menemukannya di dapur, berdiri tanpa alas kaki dengan pakaian basah menempel di tubuh. Air menetes dari rambutnya ke lantai. Wajahnya lebih tirus dibanding satu minggu lalu, memar di pelipis sudah menguning, dan luka di bibir berubah menjadi garis tipis.

Di tangannya ada teko kaca yang seharusnya tidak disentuh.

"Jangan diminum!"

Terlambat. Rey menenggak isi gelas sampai habis, lalu menuang lagi dari teko.

Lani merebutnya. Aroma jahe, merica, madu, dan rempah yang terlalu tajam langsung menusuk hidung.

"Itu jamu kuat untuk papamu. Mbak membuatnya sore tadi."

Rey menyeka mulut dengan punggung tangan. "Terus?"

"Kamu baru saja minum dua gelas."

"Gue haus."

Matanya merah. Ada aroma alkohol di napasnya, meski langkahnya masih lurus. Lani meletakkan teko jauh dari jangkauan.

"Kamu dari mana selama seminggu? Papamu mencari."

"Bukan urusan lo."

"Dia pikir sesuatu terjadi padamu."

Rey tertawa hambar. "Kalau gue mati, dia tinggal bikin anak baru sama lo. Katanya pengin anak perempuan, kan?"

Lani membeku.

Gunawan tidak pernah membicarakan kesepakatan itu di depan Rey. Berarti pemuda tersebut menguping, atau sengaja mencari tahu.

"Jangan bicara sembarangan."

"Kenapa? Malu kalau harga lo disebut keras-keras?"

Lani mencium bau darah yang sudah tidak ada. Tubuhnya mengingat sofa, tangan di leher, dan kilatan kamera sebelum pikirannya sempat menahan.

Ia mundur satu langkah.

Rey melihatnya.

Untuk sesaat, ejekan di wajahnya goyah. Namun suara mobil masuk ke halaman memutus apa pun yang hampir muncul.

Gunawan pulang dengan tubuh berat karena alkohol. Sopir membantunya sampai pintu. Lani terpaksa meninggalkan dapur untuk menopang lengannya menaiki tangga.

Ketika menoleh, Rey masih berdiri di bawah lampu dapur.

Tangannya mencengkeram tepi meja. Keringat mulai muncul di pelipis meski pakaiannya sedingin hujan.

***

Gunawan jatuh tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.

Lani melepas sepatunya, menyelimuti tubuhnya, lalu mengunci pintu utama kamar. Dengkur berat segera memenuhi ruangan.

Ia memeriksa kunci sekali lagi.

Kamar utama itu mempunyai ruang ganti kecil di belakang, terhubung dengan lorong servis agar pakaian kotor bisa diambil tanpa melewati ruang tidur. Biasanya pintu itu dikunci Mbak dari luar. Malam ini Lani tidak memeriksanya.

Ia terlalu lelah.

Lani berbaring di sisi paling jauh dari Gunawan. Hujan dan dengkur bercampur menjadi satu. Ia baru saja terlelap ketika sesuatu menyentuh pergelangan kakinya.

"Ko, jangan..."

Sentuhan itu berhenti.

Jari yang melingkari pergelangannya terlalu kuat dan terlalu panas untuk menjadi tangan Gunawan.

Mata Lani terbuka.

Rey berdiri di samping tempat tidur.

Kausnya sudah berganti, tetapi rambutnya masih lembap. Wajahnya memerah, napasnya cepat, dan urat di lehernya tampak jelas. Ia melirik Gunawan yang tidur tidak sampai satu meter dari Lani.

"Kamu masuk dari mana?" bisik Lani.

"Ruang ganti."

"Keluar. Sekarang."

Rey menunduk. "Tidur di sebelah Papa gampang, ya?"

Lani menarik kakinya, tetapi cengkeramannya menguat.

"Kamu sedang nggak sadar. Jamu itu bisa bikin tubuhmu panas, apalagi kamu minum alkohol. Pergi mandi air dingin."

"Gue sadar banget."

Ia naik ke tepi tempat tidur. Kasur turun oleh beratnya. Gunawan bergumam dalam tidur, membuat Lani menahan napas.

"Rey, papamu ada di sini."

"Makanya jangan berisik."

Telapak Rey menutup mulut Lani. Adegan seminggu lalu kembali begitu utuh hingga kuku Lani langsung menusuk tangannya.

Rey tidak melepaskan. Ia merunduk, bibirnya menyentuh sisi rahang Lani, lalu mencari mulutnya. Ciumannya panas dan kacau. Lani memalingkan wajah, membuat bibir itu hanya mengenai sudut mulutnya.

Ia menendang tulang kering Rey.

Gunawan bergerak di samping mereka.

Keduanya membeku.

"Mei..." gumam Gunawan tanpa membuka mata.

Lani menunggu sampai dengkur itu kembali. Air mata panas sudah mengumpul di pelupuknya, bukan karena sentuhan Rey, melainkan karena ia tidak bisa berteriak di ranjang tempat hidupnya telah lama menjadi transaksi.

"Apa yang kamu mau?" bisiknya setelah Rey mengangkat tangan.

"Gue nggak tahu."

Jawaban itu terdengar lebih jujur daripada semua ancamannya.

Rey mencengkeram seprai. "Gue lihat lo sama Papa, rasanya sama kayak waktu lihat Lynn sama Ivan. Kayak semua orang sepakat bikin gue jadi orang paling bodoh."

"Aku tidak pernah menjanjikan apa pun kepadamu."

"Tapi lo ada di rumah ini. Di tempat Mama dulu. Mau kasih Papa anak baru."

"Aku bukan mamamu. Aku juga bukan Lynn."

"Semuanya tetap pergi."

Suara Rey retak pada kata terakhir. Tubuhnya masih mengurung Lani, tetapi amarahnya seperti kehilangan tulang.

Lani bisa merasakan panas dari kulitnya dan getaran kasar di lengannya. Jamu, alkohol, kurang tidur, atau luka yang selama ini dipelihara sendiri, semuanya bercampur menjadi sesuatu yang berbahaya.

"Tolong, Rey," katanya. Air matanya akhirnya jatuh ke bantal. "Aku takut. Berhenti."

Tatapan Rey turun pada air mata itu.

Ia tidak bergerak selama beberapa detik. Kemudian tangannya terlepas dari pergelangan Lani.

Rey mundur dari tempat tidur seolah baru tersadar berada di sana. Wajahnya menegang, antara malu dan marah pada dirinya sendiri.

"Gue benci lo," bisiknya.

"Kalau begitu, jauhi aku."

Rey berbalik. Ia melewati ruang ganti dan membanting pintu servis, tetapi tidak cukup keras untuk membangunkan Gunawan.

Lani meringkuk di tepi ranjang sampai pagi.

***

Dalam tidurnya yang singkat, Gunawan memergoki mereka.

Wiwid berdiri di belakangnya sambil membawa test pack bergaris dua. `Lo hamil anak Rey, Lan.`

Semua wajah berubah menjadi mulut yang menertawakan. Gunawan, para tetangga, Leo, Tante Lanny. Di tengah mereka, Rey hanya menatap tanpa mengulurkan tangan.

Lani terbangun dengan napas tercekik.

Tidak ada hubungan badan. Ia tahu itu. Tidak ada kehamilan yang mungkin muncul dari dua ciuman paksa dan sentuhan di atas pakaian. Namun ketakutan tidak selalu tunduk pada pengetahuan.

Pagi itu ia pergi ke apotek.

"Pil KB harus diminum teratur, bukan untuk kejadian darurat," jelas apoteker setelah Lani bertanya dengan suara terlalu pelan. "Kalau Ibu ingin mulai kontrasepsi, sebaiknya konsultasi dulu, terutama kalau ada riwayat tekanan darah atau obat lain."

"Saya mengerti. Saya ingin mulai untuk perlindungan ke depan."

Apoteker menanyakan beberapa hal, lalu menyerahkan satu kemasan disertai aturan pakai dan saran pemeriksaan dokter. Lani membeli air mineral, membaca lembar petunjuk dua kali, dan menelan pil pertama dengan tangan gemetar.

Itu bukan solusi untuk Rey.

Hanya satu keputusan panik agar ia merasa masih punya kendali atas tubuhnya sendiri.

Di dalam taksi online, Lani membuka WhatsApp.

`Aku akan pergi dari Papa kamu.`

Pesan itu terkirim kepada Rey tanpa balasan.

Untuk pertama kalinya, keputusan meninggalkan Gunawan terasa lebih menakutkan sekaligus lebih mudah daripada bertahan.

Taksi berhenti di depan vila menjelang siang.

Lani turun sambil memasukkan obat ke tas. Di bawah pohon dekat gerbang, seorang perempuan berkacamata besar segera memalingkan wajah dan pura-pura memeriksa ponsel.

Lani mengenali tas bermerek serta gelang emas yang beradu di pergelangan itu.

Tante Lanny sedang menunggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!