Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANDUNG DAN ANAK PUNK JALANAN
Luna dan Bandung masih duduk berdampingan. Tatapan Bandung tampak kosong. Tidak banyak ekspresi yang bisa terbaca dari wajahnya, sementara wajah Luna justru dipenuhi rasa penasaran terhadap pria di sampingnya.
Bandung bangkit dari jok moge-nya, lalu berjalan tanpa menoleh.
“Kita pindah ke depan aja, Luna. Sambil ngopi.”
Luna mengikutinya tanpa banyak bicara.
Langkah Bandung mengarah ke mesin espresso yang berada di salah satu sudut ruang galeri lukisan.
“Lo suka Indocafe, Luna?”
Luna mengangguk.
Matanya kemudian tertuju pada mesin pembuat kopi instan tersebut. Ia memperhatikan nama merek yang tertera di badan mesin.
Lagi-lagi barang branded yang dimiliki orang ini. Siapa sebenarnya Bandung?
Luna kemudian duduk di sebuah bangku dekat dinding yang menghadap ke dalam ruangan.
Bandung mendekatinya sambil membawa secangkir kopi hangat.
“Ini, Bu Guru. Indocafenya.”
Luna tersenyum dan menerima gelas kopi yang diberikan Bandung.
“Bandung, gue mau tanya soal elu sama Oreo.”
Bandung menoleh. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
“Soal gue sama Oreo? Ada apa emang?”
“Kalau gue perhatikan, hubungan antara lo sama Oreo itu seperti hubungan seorang teman yang sudah dewasa.”
“Maksud lo?”
“Dari cara kalian berkomunikasi saja, menurut gue nggak seperti ayah sama anak. Terutama bahasa yang kalian pakai. Oreo juga seperti bukan anak seumuran sekolah dasar. Dia seperti orang dewasa yang sedang berbicara kepada temannya ketika berkomunikasi sama lo.”
Bandung masih tidak menunjukkan perubahan ekspresi.
“Ya, mungkin karena pengaruh lingkungan. Kalau lo lebih sering main ke sini, lo bakalan tahu. Anak-anak di sini, walaupun mereka masih suka bermain kelereng dan layang-layang, pola pikir dan cara bicara mereka sudah lebih dewasa. Bahkan mereka punya aktivitas yang biasanya dilakukan orang-orang dewasa.”
“Strategis itu kawasan sini?”
Kali ini Bandung menatap Luna dengan wajah agak masam.
“Apakah menurut lo itu aneh?”
“Bukan aneh lagi. Itu artinya parah.”
Bandung menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
“Kalau gue perhatiin, elu sepertinya bukan berasal dari daerah Jakarta. Atau malah elu hidup di luar Indonesia?”
Luna menoleh. Walaupun merasa sedikit bangga karena tebakan Bandung benar, ia tetap mencoba memahami maksud perkataan pria itu.
“Gue memang dari luar Jakarta. Gue keturunan Jawa yang tinggal di Lampung. Waktu kuliah, gue kuliah di luar negeri. Tapi sepengetahuan gue, anak-anak ya tetap anak-anak.”
“Yang gue maksud mungkin bukan dari daerah tempat tinggal lo. Tapi menurut gue, lingkungan lo terbiasa hidup di tempat yang berkecukupan. Nggak ada tekanan sosial yang terlalu berat dan mungkin cenderung hidup dalam kondisi yang datar-datar saja.”
Luna terdiam.
Ia memikirkan perkataan Bandung.
Memang benar, dirinya berasal dari keluarga berada. Walaupun bukan keluarga jutawan, lingkungan tempat ia tumbuh merupakan lingkungan yang cukup bersahaja dan relatif nyaman.
Beberapa saat kemudian, beberapa anak berpakaian punk dengan dandanan dan atribut khas jalanan masuk ke dalam galeri lukisan.
Mereka menghampiri Bandung. Beberapa dari mereka kemudian menyatukan kepalan tangan dan saling membenturkan tulang siku.
“Semangat!”
Melihat kedatangan rombongan anak jalanan tersebut, Luna sedikit menggeser duduknya hingga tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Bandung.
Anak-anak jalanan itu, yang ternyata merupakan teman-teman Bandung, melihat keberadaan Luna.
Mereka segera mengubah sikap. Telapak tangan disatukan di depan wajah, kemudian mereka membungkukkan badan.
“Maaf, Kak. Kami nggak lihat ada Kakak. Selamat malam, ya, Kak.”
Luna tersenyum meskipun masih sedikit merasa canggung.
“Iya, nggak apa-apa.”
Bandung kemudian menyapa salah seorang dari mereka.
“Boril, gimana pendapatan hari ini?”
“Alhamdulillah, Bang. Hari ini kita berhasil mengumpulkan hampir satu truk kecil botol bekas dan sampah plastik.”
Kemudian seorang perempuan yang juga berpenampilan punk menghampiri Luna dan menjabat tangannya.
“Kak, kenalin. Gue Dola. Gue pengelola bank sampah di bawah asuhan Bang Bandung.”
Luna menoleh ke arah Bandung. Wajahnya kembali menunjukkan rasa penasaran.
Bandung menyadarinya.
“Kenapa lo lihatin gue? Kasih tahu nama lo ke Dola, biar lo kelihatan sopan.”
Luna sedikit terkejut. Dengan agak gugup, ia pun memperkenalkan dirinya.
“Oh, gue Luna.”
Beberapa teman anak jalanan itu kemudian berkerumun. Mereka mulai menggoda Bandung dan Luna.
“Wah, Abang Bandung! Ini calon kakak ipar buat kita, ya?”
Salah seorang wanita yang sejak tadi membawa ukulele bahkan langsung memeluk Luna.
“Kakak ipar, lo jangan pergi dari sini, ya. Jangan kayak yang udah-udah. Nggak ada yang bertahan nemenin Abang Bandung. Orangnya terlalu cupu, ngebosenin, katanya.”
Luna tersipu. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Oh, kalian salah paham. Gue bukan apa-apanya Bandung.”
Bandung justru tersenyum.
“Kalian ini. Kapan gue bilang dia calon kakak ipar kalian? Dia ini gurunya Oreo.”
Boril dan Dola langsung menepukkan kedua telapak tangan mereka.
“Hore!”
“Kita punya kakak ipar baru! Seorang guru!”
“Kita nggak bakal bodoh lagi!”
Luna menoleh ke arah Bandung. Tatapannya seolah meminta penjelasan dari pria tersebut.
Bandung mengangkat alis.
“Lo jangan ngeliatin gue kayak gitu. Gue bukan monster atau makhluk halus.”
Luna akhirnya tersenyum.
“Ternyata hidup lo rame juga, ya. Ini semua teman-teman lo?”
Rombongan anak-anak jalanan itu kembali berkerumun.
Salah seorang yang berambut jigrak dan membawa sebuah galon langsung memperkenalkan diri.
“Gue Deden. Gue bagian promosi buat penjualan lukisan.”
Kemudian seorang lelaki berpenampilan punk dengan rambut cepak mohawk ikut memperkenalkan dirinya.
“Gue Cenang. Gue dari grup pengepul sampah.”
Ia menunjuk ke arah luar.
“Kalau tadi Kak Luna berjalan dari pinggiran bantaran kali, terus melihat jalanan yang sangat bersih dan nggak ada sampah sama sekali, itu gue.”
Dola dan Boril langsung meninju pelan pundak Cenang.
“Maksud lo, dari sana sampai sini bersih?”
“Iya.”
“Lo ngarang. Itu kan pekerjaan orang-orang Pemda yang berseragam oren.”
Cenang menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi malu-malu.
“Kalian ini nggak pernah kasih kesempatan gue buat dapat perhatian dari calon kakak ipar.”
Mereka semua tertawa.
Bandung akhirnya membuka suara.
“Udah, kalian sana bikin kopi dulu. Habis itu beresin botol-botol plastik yang ada di gudang. Nanti tanya Oreo, juragan yang mau beli jadi datang atau nggak.”
Mereka semua langsung berbaris.
Secara kompak, mereka melakukan gerakan seperti memberikan penghormatan kepada bendera.
“Siap, Abang Bandung dan Kakak Ipar!”
Luna langsung menyembunyikan wajahnya sambil menahan senyum.
Entah kenapa, hari itu ia merasa sangat bahagia.
Di tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di tengah sebuah galeri lukisan sederhana dan rombongan anak-anak jalanan yang ternyata memiliki kehidupan serta aktivitas mereka sendiri, Luna merasa seperti menemukan sebuah keluarga baru.
Keluarga kecil yang terbentuk di sekitar Bandung.