**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Lemon Madu
Pukul dua belas lewat empat puluh menit, lampu di bawah pintu kamar Naila masih menyala.
Ia sudah mencoba memejamkan mata sejak satu jam lalu. Tetap gagal. Kasurnya terlalu empuk, pendingin udara terlalu sunyi, dan suara jam dinding terdengar lebih jelas daripada di rumah Pondok Indah.
Tenggorokannya kering.
Naila membuka pintu dan berjalan menuju dapur dengan langkah pelan. Rumah Adiwangsa sudah gelap. Hanya lampu kecil di sepanjang lorong yang menyala, membentuk garis keemasan di lantai.
Aroma mi instan menyambutnya sebelum ia sampai.
Radhika duduk di kursi bar, mengenakan kaus hitam dan celana santai. Mangkuk mi mengepul di depannya. Rambutnya masih sedikit basah, membuat penampilannya jauh berbeda dari laki-laki rapi yang duduk di sebelah Naila saat makan malam.
Naila melirik mangkuknya. "Bukannya tadi dapat uang buat makan di luar?"
"Kamu nggak ikut."
"Terus?"
"Malas pergi sendiri."
"Uangnya balikin ke Tante Laras."
Radhika meniup mi dengan santai. "Sudah masuk rekening, pantang keluar lagi."
"Karyawan biasa tapi pelitnya luar biasa."
"Kamu masih ingat pekerjaanku? Perhatian juga."
Naila mendecakkan lidah. Setidaknya perkiraannya benar. Laki-laki ini hanya banyak gaya karena lahir di keluarga kaya. Mobil mewah, rumah besar, dan ruang kerja satu lantai penuh tidak otomatis membuatnya punya penghasilan sendiri.
Ia tidak tahu bahwa transfer Larasati tadi bahkan belum mencapai harga satu kancing kemeja yang dipakai Radhika ke kantor.
Naila mengabaikannya. Ia mengambil gelas dari rak dan membuka dispenser.
Sebuah tangan lebih cepat merebut gelas itu.
"Hei."
Radhika mengangkat gelasnya ke bawah cahaya. "Ini bukan gelasmu."
"Semua gelas di rumah ini punya nama?"
"Yang itu punya Bunda."
"Terus aku minum pakai apa? Tangan?"
Tanpa menjawab, Radhika membuka lemari di atas wastafel. Ia mengambil gelas bening dengan gambar seiris lemon kecil di bagian bawah.
"Pakai ini."
Naila menerima gelas tersebut, lalu kembali hendak menekan keran air.
Radhika menahan pergelangan tangannya. "Kamu mau minum air putih?"
"Memangnya kenapa?"
"Nggak akan habis."
"Sok tahu."
Ia melepaskan pegangannya dan membuka kulkas. Dari rak bagian dalam, Radhika mengeluarkan toples kaca berisi irisan lemon yang tenggelam dalam madu kental. Tutupnya diberi label tanggal dua hari lalu.
Naila memicingkan mata. "Itu apa?"
"Racun."
"Nggak lucu."
Radhika memasukkan dua iris lemon dan sesendok madu ke gelas, lalu menuangkan air hangat. Aroma segar segera memenuhi dapur. Ia mengaduknya pelan sebelum mendorong gelas ke depan Naila.
"Coba."
Naila mencicipi dengan hati-hati. Rasa manis dan asamnya pas, tidak membuat gigi ngilu. Ia menyesap lagi tanpa sadar.
Senyum kecil muncul di wajah Radhika.
"Kenapa senyum?" Naila menurunkan gelas. "Kamu racunin aku, ya?"
"Kalau mau meracunimu, aku nggak akan pakai lemon. Kamu pasti habiskan."
Jawaban itu terlalu tepat. Sejak kecil Naila memang tidak suka air putih. Ia bisa menghabiskan dua botol minuman lemon, tetapi segelas air biasa akan bertahan di meja sampai malam.
Di kepala Radhika, sebuah gambar lama bergerak lagi.
Naila berumur dua tahun berdiri di dapur rumah Dago dengan sebuah lemon sebesar telapak tangannya. Pipi bulatnya mengembung kesal karena Wulan menyuruhnya minum air.
"Mas Aka bikin aer Lemon."
Radhika yang baru delapan tahun mengiris buah itu terlalu tebal dan memasukkan semuanya ke gelas. Naila meneguk penuh semangat, lalu wajahnya mengerut seperti kertas diremas. Tangisnya pecah begitu keras sampai dua ibu berlari dari ruang depan.
Radhika dimarahi. Naila tetap menolak melepaskan gelasnya.
"Apa?" tanya Naila ketika melihatnya masih tersenyum.
"Dulu kamu lebih bodoh."
"Kamu dari dulu lebih jahat."
Radhika mengangkat telunjuk dan menjentik dahinya.
"Aduh!"
Naila menutup dahi. Bekas merah langsung muncul di kulitnya. Radhika sempat mengulurkan tangan untuk memeriksa, tetapi Naila mundur satu langkah.
"Aku benci kamu."
"Habis minum buatanku bilang benci. Nggak tahu balas budi."
Naila mengambil gelas dan hendak pergi. Radhika kembali menangkap pergelangan tangannya, kali ini lebih ringan.
"Bayar jasanya dulu."
"Bayar apa? Bahan ini punya rumah Tante Laras."
"Aku yang bikin."
Naila menatap label tanggal di tutup toples. Dua hari lalu. Sebelum ia datang.
"Kamu bikin buat siapa?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat. Mata Radhika turun ke wajahnya, membuat Naila buru-buru mengalihkan pandangan.
"Buat orang yang nggak suka air putih," jawabnya.
"Banyak orang nggak suka air putih."
"Di rumah ini cuma satu."
Jantung Naila berdetak aneh satu kali. Ia segera menarik tangannya. "Bagus. Karena kamu minta bayaran, sekarang gantian aku bikin aturan."
"Aturan?"
"Pertama, jangan ganggu aku."
"Aku cuma kasih minum."
"Kedua, jangan ajak aku bicara."
"Kamu yang datang ke dapur."
"Ketiga, kalau kita ada di tempat yang sama, jaga jarak minimal tiga meter."
Radhika melirik jarak di antara mereka yang bahkan tidak sampai setengah meter. "Kamu yakin bisa?"
"Kenapa nggak?"
"Sejak tadi kamu berdiri dekat sekali."
Naila mundur dua langkah dan hampir menabrak meja. Radhika refleks meraih pinggangnya, tetapi berhenti sebelum menyentuh. Tangannya menggantung sesaat di udara, lalu turun.
"Pokoknya setuju." Naila mengulurkan jari kelingking. "Janji kelingking. Seratus tahun nggak boleh dilanggar."
Radhika menatap jari kecil itu.
Kalimat yang sama pernah ia ajarkan kepada Naila di halaman Dago. Waktu itu anak perempuan itu menangis karena takut Radhika tidak akan pulang setelah sekolah. Ia mengaitkan kelingking mereka dan berkata janji semacam itu berlaku seratus tahun.
Rupanya Naila mengingat kebiasaan itu, meski tidak mengingat siapa yang mengajarkannya.
"Cepat," desak Naila.
Radhika mengaitkan jari kelingkingnya. Jari Naila terasa hangat, masih memegang sisa panas dari gelas lemon.
"Setuju," katanya.
Senyum puas merekah di wajah Naila. "Bagus. Mulai sekarang jangan bicara lagi."
Ponsel Radhika berdering di atas meja. Nama Gilang muncul di layar. Begitu diangkat, suara musik keras dan ucapan tidak jelas menabrak telinganya.
"Dhika... jemput gue."
Radhika menjauhkan ponsel sedikit. "Di mana?"
"Crescent. Cepat."
Sambungan terputus.
Radhika meletakkan ponsel, meraih jaket yang tersampir di kursi, lalu menoleh kepada Naila. "Gilang mabuk. Aku jemput sekarang. Jangan mikir aneh-aneh."
Naila mengernyit. "Siapa juga yang mikir? Aku bahkan nggak tahu Gilang siapa."
Radhika terdiam sejenak, seolah baru sadar tidak ada alasan baginya untuk menjelaskan.
"Tidur. Besok kamu kuliah pagi."
"Katanya setuju nggak bicara sama aku."
Ia tidak membalas. Radhika mengenakan jaket sambil berjalan keluar, mengambil kunci mobil, lalu menutup pintu samping di belakangnya.
Naila berdiri sendiri di dapur dengan gelas hangat di tangan. Aroma lemon masih tertinggal di udara, bersama pertanyaan yang tidak sempat ia ajukan.
Ia menyesap minuman itu lagi. Rasanya tetap pas, seperti dibuat oleh seseorang yang hafal persis seberapa asam yang masih sanggup ia nikmati.
Kenapa toples itu dibuat dua hari sebelum ia datang?