Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN TAMU PENTING
3 Hari setelah pernikahan. Di istana putra mahkota. Tepatnya di istana timur. Semua terlihat megah, Para pelayan berlalu lalang.
Zephira duduk di depan meja riasnya, Menggunakan hanfu sutra merah, Dengan perhiasan serba giok. Tetapi ia tak merasa sebahagia itu.
Ia memang mendapatkan semua yang ia inginkan, Kekuasaan, Kekayaan dan putra mahkota. Tetapi, Rasanya seperti ada yang kurang. Ia ingin melihat Kehidupan menderita Aluna. Selama 3 hari, Ia sudah lama menunggu kabar buruk dari kediaman pangeran Arya.
"Bagaimana? Apakah sesuai dengan kemauan-ku?"
Pelayan itu menunduk sambil bergetar.
"Yang mulia, Pangeran Arya...tidak berlaku kasar pada nona Aluna, Malah sebaliknya. Dia meminta bibi Yun dari kediaman wangsa untuk melayani nona Aluna..."
Brak!
"Tidak mungkin, Gadis bodoh itu pasti harusnya di bunuh oleh orang gila itu. Bukan malah menikmati hidup menjadi istri seorang bangsawan!" Teriaknya dengan murka.
"Yang mulia, Mohon tenang—"
"DIAM" Bentak Zephira. "kalian semua memang tidak becus!" melempar sisir giok.
3 HARI, tiga hari setelah menikah dan masuk ke dalam istana seharusnya ia merasa senang dan bahagia. Tetapi mengapa justru sebaliknya.
Hari pertama memasuki istana, Bahkan baskara suaminya tak menyentuhnya. Pria itu hanya datang dan menatap sekilas wajahnya. Setelah itu pergi begitu saja menuju ruang kerja. Bahkan hingga hari ini, Pria itu belum juga mendatanginya.
Dengan fakta itu, Ia selalu menguatkan diri. Karna ia tahu bahwa seharusnya. Kehidupan Aluna jauh lebih buruk darinya. Tetapi berita yang menyebar membuat darahnya mendidih.
Berita tentang pangeran Arya yang begitu memperlakukan Aluna dengan baik. Bahkan meminta bibi Yun, Untuk datang melayani Aluna secara langsung. Bibi Yun adalah pelayan kepercayaan sang ibu, Jika ia di panggil untuk melayani Aluna. Itu artinya, Gadis itu sudah mengadukan semua yang di lakukan bibi Yun padanya.
"Sial. Aku terlalu menganggap remeh dirinya." Umpat Zephira.
***
Baskara Memejamkan kedua matanya dengan kelelahan. Otaknya kembali berputar mengingat gadis di depan gerbang keluarga wangsa. Tubuhnya kurus dan tatapannya yang polos.
"Yang mulia, Gadis itu bernama Aluna. Kakak dari putri mahkota."
Baskara membuka kedua matanya, Ternyata benar. Bahwa itu adalah gadis bodoh yang rumornya sangat memalukan. Tetapi gadis itu begitu cantik, Bahkan istrinya tak bisa di bandingkan dengan kedua mata polos itu.
"Bagaimana dengan pernikahannya dan paman?" Tanya baskara penasaran.
"Pada upacara pernikahan, Pangeran Arya tak hadir. Ia hanya memberikan seekor ayam sebagai perwakilannya."
Baskara tertawa pelan...
"Lalu?"
"Tetapi, Saat malam pertama. Pangeran Arya tak keluar dari ruangannya. Mereka menghabiskan malam bersama."
"APA!"
Arya mengepalkan kedua tangannya hingga jari jemarinya memutih, Bagaimana bisa pamannya menghabiskan malam dengan gadis itu? Sesuatu dalam hatinya merasa tak terima.
Baskara menghela nafasnya...
"Katakan pada paman, Aku akan berkunjung ke kediamannya untuk memperkenalkan istriku." Perintah baskara
"Baik yang mulia."
Di balik keadaan istana yang lumayan kacau, Di dalam kediaman pangeran Arya justru terlihat damai. Aluna tersenyum sambil menikmati hidangan menu siang ini.
"Pelan-pelan...Semua ini Untuk-mu." Ucap Arya, Aluna mengangguk pelan.
"Yang mulia, Ada surat dari istana." Juna datang dengan air wajah yang tak enak.
"Ada apa?" Tanyanya, Sedikit menjauh dari Aluna. Gadis itu bahkan tak sadar. Ia hanya sibuk memakan makanan saja.
"Yang mulia putra mahkota ingin datang, Dia ingin memperkenalkan putri mahkota pada anda." Juna menelan selivanya kasar. Sedangkan Arya, Justru tersenyum menyeringai.
'Putra mahkota memang cari mati' Juna menahan nafasnya.
"Sejak kapan seorang putra mahkota menjadi begitu sopan. Katakan padanya, Aku mengizinkannya mendatangi kediaman-ku." Ucap pangeran Arya tersenyum.
"Ba—baik yang mulia." Juna menunduk hormat setelah itu berjalan pergi.
"Yang mulia, Coba ini...ini enak!" Aluna menyuapi Arya dengan paha ayam yang sudah ia potong, Arya menerimanya dengan heran. Entah sejak kapan gadis itu menjadi begitu dermawan. Biasanya hanya di habiskan sendiri.
Di tengah, Makan siang...
"Pelayan bernama Yun itu akan aku datangkan ke sini, Dia akan menjadi pelayan pribadimu."
Aluna berhenti mengunyah, Menatap Arya dengan tatapan gelisah dan bergetar.
"Ampuni aku yang mulia, Aluna tidak akan makan banyak lagi. Aku–Aku..."
Aluna terlihat begitu gelisah, Bahkan ia menghentikan makannya. Dan bersimpuh di hadapan Arya. Melihat respon Aluna yang begitu ketakutan. Darah Arya kembali mendidih.
"Aku membawanya ke sini bukan untuk menghukum-mu. Tapi untuk memberinya pelajaran." Ucap Arya, Aluna masih terlihat gelisah. Arya menepuk pelan surai hitam milik Aluna dengan lembut.
"Aluna, Selagi aku masih hidup. Tidak ada siapapun yang bisa menyentuh-mu. Kau mengerti?" Aluna mendongak,
"Jangan...jangan tinggalkan aku." Gumamnya, Arya tersenyum dan untuk pertama kalinya. Ia mendekap seorang gadis. Yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Pelukan Arya memang terkesan tak hangat, Lebih ke canggung. Karna ia tak pernah memeluk seorang gadis.
Di dalam dekapannya, Aluna bergetar.
"Yang mulia, Benar tak akan pernah meninggalkan-ku?"
"Tidak." Bisik Arya di telinganya. "Tidak akan pernah." Aluna mengangguk pelan, Hingga kini ia teringat sesuatu.
"Yang mulia, Makanannya dingin!" Teriaknya mendorong pelan Arya.
Arya berdehem, melepaskan pelukan dan kembali memasang wajah dingin.
"Ayo kembali makan."
"BAIK!" Aluna kembali duduk dengan rapih dan nyuapin ayam lagi.
***
Sore harinya. Gerbang besi hitam Kokoh itu terbuka. Baskara-lah yang turun pertama kali. Kedua Matanya langsung menyapu halaman.
Kosong.
Selanjutnya zephira turun. Senyumnya Di paksakan.Juna menunduk. "Silahkan Yang Mulia." Sepanjang jalan ke paviliun barat, Baskara diam. Tapi otaknya Terus berjalan.
3 hari lalu gadis itu begitu kurus, Sekarang bagaimana keadaannya?
Pintu Terbuka.
Dan disana...
Aluna. Duduk di lantai dengan Rambut diikat asal. Wajahnya merah karena dapur. Di pangkuannya ada semangkuk bubur. Dan di sebelahnya Arya.
Arya sedang makan. Disuapi Aluna.
"Pangeran, tiup dulu. Panas."
Aluna meniup pelan. "Nah gitu."
Arya meliriknya. "Aku bukan anak kecil."
"Tapi Pangeran batuk kalau kemakan makanan panas." Aluna ngotot.
Baskara berhenti di ambang pintu.
Ini paman Arya? Pria yang 3 tahun tidak keluar kamar. Yang membunuh utusan dengan panah.
'Sekarang... nurut disuapi ?'Dadanya sesak. Bukan karena cemburu. Tapi karena... penasaran.
"Yang Mulia?" Zephira menyenggol untuk Mengingatkan. Baskara tersadar. "Paman." Panggilnya
Arya mengangkat kepala. Tatapannya kosong ke Baskara. Lalu ke Zephira. Setelah itu kembali fokus ke mangkuk.
"Duduk." Titahnya. Mereka duduk di kursi tamu. Dengan Jarak 3 meter dari Aluna.
Zephira langsung buka suara, Terlihat manis Tetapi beracun. "Paman, kami kesini menjenguk. Dan sekalian... mengambil kembali kakak saya. Aku sangat kasihan pada Paman, Paman pasti kerepotan."
Aluna yang lagi nyuapin berhenti dan langsung Menoleh. Baskara belum bicara. Matanya masih melihat Aluna yang memakan bubur seperti anak kecil.
'Gadis itu dulu kurus, Pucat, dan penuh Luka. Sekarang? Pipinya ada isinya. Kulitnya bersih. Matanya... hidup. Dia berubah' Pikir baskara.
"Paman?" Panggil Baskara pelan.
"Hm."
"Apa benar Paman baik-baik saja dengan... keadaan ini?"
Arya meletakkan sendok. Tatapannya tajam. "Keadaan apa?"
"Dengan seorang gadis yang..." Baskara melirik Aluna. "...tidak tau aturan."
Aluna langsung salah tingkah. "Aku tau aturan kok!" Bela dirinya cepat. "Aku bisa sujud 3x. Bisa masak, Juga Bisa bersihin gudang!"
Suara polos itu. Berhasil buat jantung Baskara berdetak aneh. Sedangkan zephira, Ia merasa sangat kesal Karna Aluna yang sudah mulai berani menjawab.
"Kakak, Tutup mulutmu!" Geram zephira.
"Tidak usah." Potong Arya dingin.
"Dia boleh bicara." Lanjutnya. Arya menggerakkan kursi rodanya. Mendekat ke arah meja Baskara.
"Yang Mulia mau apa sebenarnya?" Baskara tersenyum. Senyum politik. "Menjenguk. Dan... mengobrol dengan Kakak ipar."
Ia menoleh ke Aluna. "Aluna. Kemari." Aluna menoleh ke Arya dulu. Seolah meminta izin.
Arya mengangguk sekali. "Pergi."
Aluna menurut dan berjalan kecil ke arah Baskara. Bersujud. "Salam Pangeran Baskara." Baskara menatapnya dari atas, Sangat Dekat. Dan terlalu dekat.
"Kau... bahagia di sini?" Tanyanya pelan. Aluna mengangguk jujur. "Bahagia. Karna Ada ayam tiap hari."
Baskara tertawa kecil. "Hanya karena ayam?"
"Dan karena Pangeran baik." Tambah Aluna cepat. "Pangeran nyuapin aku. Pangeran kasih selimut. Pangeran panggil bibi Yun ke sini."
Setiap kata "Pangeran" Rasanya seperti tamparan kuat untuk Zephira. Tangan Zephira mencengkeram kuat di bawah meja.
Baskara bersandar. Matanya menggelap.
"Oh? Paman menyuapi kamu?"
"Iya!" Aluna bangga.
"Pangeran bilang aku bodoh kalau makan sendiri." Baskara menatap Arya. Arya membalas tatapannya dengan Dingin. Ada sesuatu di udara. Seperti ada tegangan tak kasat mata yang memenuhi atmosfir di tengah-tengah mereka.
"Paman memang... berubah." Kata Baskara akhirnya. "Dulu Paman benci keramaian." Arya menjawabnya dengan dingin. "Aku benci orang bodoh." Jawab Arya. " Dan dia pengecualian." Lanjutnya.
Zephira tak kuat lagi. Ia berdiri. "Yang Mulia, saya... saya pusing. Saya Izin ke taman." Baskara mengangguk, Ia tak menahannya.
"Juna. Antar Putri Mahkota." Setelah Zephira pergi, suasana jadi lebih berat dari sebelumnya. Baskara mendekat ke Aluna. 1 langkah. 2 langkah.
"Aluna" Bisiknya lembut.
"Kalau... kau tidak betah di sini. Kau bisa bilang padaku. Aku adik iparmu."
Aluna mengernyit. "Tapi aku betah."
"Tetap. Pintu istanaku selalu terbuka untukmu." Sebelum Aluna menjawab, sebuah tangan dingin menarik lengan Aluna. Arya, Ia menarik Aluna ke belakang kursi rodanya seolah Melindunginya.
"Mata Yang Mulia." Kata Arya pelan. "Apakah tidak di jaga."
"Dia adalah bibi anda." Tegasnya.
Baskara tidak mundur. Ia malah tersenyum. "Paman terlalu protektif."
"Aku hanya menjaga milikku." Arya menatap baskara dengan tajam, Begitu pun baskara.
"Eh... kalian mau ayam?" Tanya Aluna.
Keheningan pecah.
Baskara tertawa. Kali ini terlihat lebih tulus. "Kau memang... Cukup unik, Aluna." Ia berdiri dan berpamitan.
"Kami pamit, Paman." Di ambang pintu, Baskara menoleh sekali lagi kepada Aluna.
"Ingat perkataanku Aluna, Pintu istanaku selalu terbuka untukmu."
TBC
Like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏