NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Tapi Panas 28.

"Saya bawa jas hujan Lang, mau pinjam?" Kata Rayhan seraya menatap Galang dengan senyum.

Namun apa yang terjadi berikutnya? Galang justru membalik badan lalu menatap Rayhan dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu siap menikam pria di depan nya. Sebelum akhirnya kepala Galang kembali menoleh ke wajah Livy.

"Tuh Galang, mumpung ada yang minjemin kamu jas hujan. Terima saja, terus cepat pulang" Timpal Livy meminta tanpa beban.

"Kenapa kamu malah ikutan nyuruh saya pulang Liv?..." Galang mendekat ke Livy untuk memegang kedua pundaknya. "Nggak bisa kayak gini, Liv, Kamu egois. Kamu yang mulai permainan ini, kamu yang bikin saya terbiasa ada di posisi kamu, terus sekarang kamu kepengen saya pergi dan seolah-olah saya yang salah? Saya..."

Galang menelan ludah, suaranya bergetar menahan ego yang runtuh. "Saya akhir-akhir ini terus kepikiran kamu"

Livy hanya tersenyum tipis. Sangat tipis hingga nyaris terlihat seperti seringai sinis. Di saat hati nya sudah mati rasa, Galang baru memulai melirik Livy.?

"Ray, pinjemin jas ujan kamu ke Galang. Biarkan dia pulang, saya mau istirahat." Pinta Livy sekali lagi dengan ketenangan yang masih ia punya.

"Gak Liv, Saya mau—"

"Jangan maksa Lang, Livy sudah menyuruhmu untuk pulang" Timpal Rayhan yang kini sedang berjalan mendekat. Sampai Livy dibuat tertegun di tempat. Rayhan memasang badan di depan Livy.

"Ray, masalah jas ujan saya juga bawa.. Tolong jangan ikut campur urusan saya dengan Livy" Galang menggeram, rahangnya mengeras seketika. Harga dirinya sebagai laki-laki langsung terusik melihat kehadiran rival barunya di rumah perempuan yang baru ia sadari ternyata sangat berharga untuknya.

"Orang tua Livy teman baik orang tua saya, maka saya punya hak untuk ikut campur kan?" jawab Rayhan tenang, namun nadanya sarat akan ancaman. Rayhan sedikit menoleh ke belakang, memastikan Livy aman di balik punggungnya. "Kamu denger apa yang Livy bilang tadi, kan?. Livy sedang capek, dia butuh istirahat. Jadi, tolong mulai detik ini jangan ganggu Livy lagi soal cinta. Urusan kamu sama Livy sudah selesai."

"Urusan saya sama Livy tidak ada hubungannya sama kamu, sialan!" Galang menyalak, emosinya tersulut. Dia maju satu langkah, menembus batas pagar. "Kamu gak tau apa-apa soal kami! Dia yang ngejar saya duluan!"

"Itu kemarin. Saat dia belum sadar kalau dia cuma buang-buang waktu demi cowok yang gak punya otak buat ngehargain dia," balas Rayhan tajam, tanpa menaikkan intonasi suaranya sedikit pun.

Setiap kata yang keluar dari mulut Rayhan seperti belati yang menghujam tepat di ego Galang.

Sentilan itu sukses memutus tali kewarasan Galang.

Dengan mata memerah, Galang merangsek maju, tangannya mencengkeram kerah jaket Rayhan dengan kasar. "Jaga mulut kamu! Kamu sengaja kan memanfaatkan situasi ini? Kamu deketin dia biar saya kelihatan keparat di mata dia?!"

Rayhan tidak menghindar. Dia membiarkan kerah jaketnya dicengkeram, namun tangannya sendiri bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Galang dengan kekuatan yang membuat cowok itu meringis kecil. Tatapan mata Rayhan berubah menjadi sangat gelap, siap meledak menjadi perkelahian fisik pertama mereka yang selama ini hanya tertahan di ruang argumen sekolah.

"Kamu mau main fisik?" bisik Rayhan, dingin dan mematikan. Udara di antara mereka mendadak terasa mencekik.

"Galang, cukup!" Suara Livy meninggi, memecah ketegangan yang nyaris berdarah itu.

Gadis itu melangkah maju, melepaskan cengkeraman tangan Galang dari jaket Rayhan dengan sentakan kasar.

Livy berdiri di antara kedua cowok itu, menatap Galang dengan pandangan yang benar-benar asing— bukan pandangan penuh cinta obsesif seperti dulu, melainkan pandangan penuh rasa jengah.

"Pergi dari rumah saya, Lang," kata Livy, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang meluap. "Pergi. Sekarang. Jangan bikin saya makin ilfeel sama kamu."

Kata ilfeel itu telak memukul dada Galang. Selama dua tahun, Galang adalah pusat semesta Livy. Mendengar kata itu keluar dari mulut Livy rasanya seperti dijatuhkan dari lantai sepuluh ke atas beton keras.

Galang menatap Livy, mencari sisa-sisa binar pemujaan yang dulu selalu ada untuknya.

Nihil.

Livy benar-benar menolaknya. Perlahan, Galang melepaskan tangannya sepenuhnya.

Langkahnya mundur satu demi satu, dengan napas yang memburu.

Rambutnya yang basah oleh hujan mempertegas kekalahannya malam itu.

Tanpa sepatah kata lagi, Galang berbalik dan berjalan cepat menembus hujan, memukul setir motornya dengan kepalan tangan saat dia menyalakannya dan melesat pergi, meninggalkan rasa panas yang membakar dadanya sendiri. Dia resmi kehilangan manusianya.

Suasana dalam rumah mendadak hening, hanya menyisakan suara hujan yang kian menderu.

Livy mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seketika. Seluruh kekuatannya seolah menguap. Dia berbalik, mendapati Rayhan masih berdiri di sana, merapikan kerah jaketnya yang sempat kusut dengan gerakan tenang.

"Kamu... ngapain balik lagi, Ray?" tanya Livy.

Rayhan tidak langsung menjawab. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka, sebuah tatapan yang belum pernah Livy lihat sebelumnya—tatapan yang penuh dengan kepemilikan, kecemasan, dan sesuatu yang lebih intens dari sekadar rasa kasihan.

Rayhan mengulurkan tangannya, dengan lembut merapikan anak rambut Livy yang basah dan menempel di pipinya. Sentuhan itu membuat tubuh Livy menegang.

"Saya balik lagi cuma mastiin kamu tidak disentuh oleh Galang... Kalau gitu saya pulang, kamu cepat istirahat" Pinta Rayhan terkesan perhatian. Sementara Livy mengangguk kepala tanpa menjawab.

Sebelum akhirnya Rayhan pergi dari rumah Livy.

......................

...****************...

Tbc,

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!