"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Berbekal informasi yang dikumpulkan Gery, Juna mulai bergerak menyebarkan bisik-bisik kecil di kalangan Bully, memperbesar keretakan yang sudah mulai muncul di antara mereka sejak insiden pengorbanan Rudi itu.
Ia memanfaatkan Kevin untuk menyisipkan kabar-kabar kecil lewat mulut ke mulut, cerita-cerita yang sedikit dilebihkan tentang bagaimana Kaisar Dirgantara sebenarnya memandang rendah anak buahnya sendiri, menganggap mereka semua tidak lebih dari alat yang bisa dibuang kapan saja begitu sudah tidak berguna lagi.
"Katanya, Kaisar pernah bilang ke orang luar, anak buahnya itu cuma sampah yang kebetulan berguna," Kevin membisikkan cerita itu kepada seorang anak Bully yang kebetulan duduk semeja dengannya di kelas tambahan sore itu, wajahnya dibuat sepolos mungkin seolah hanya menyampaikan gosip biasa.
Kabar itu menyebar cepat, seperti api kecil yang menjalar di antara ranting kering, membakar kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi kekuasaan Kaisar Dirgantara di dalam faksinya sendiri. Dalam beberapa hari, cerita itu sudah berkembang jauh lebih besar dari versi aslinya, ditambahi detail-detail baru setiap kali berpindah dari mulut ke mulut.
Di markas Bully sendiri, ketegangan mulai terasa jelas. Beberapa kubu mulai berkumpul diam-diam di sudut-sudut gudang, berbisik dengan wajah tidak puas, sementara yang lain masih setia mengikuti perintah Kaisar Dirgantara tanpa banyak bertanya, meski keraguan kecil mulai tampak bahkan di wajah mereka yang paling loyal sekalipun.
Suatu sore, seorang anak buahnya yang sudah tidak tahan lagi memberanikan diri angkat bicara di hadapan yang lain, suaranya bergetar namun cukup keras untuk terdengar oleh seluruh ruangan markas.
"Kita ini anak buah lu, bukan boneka yang bisa lu korbanin seenaknya!" teriaknya, suaranya bergetar antara marah dan takut, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Rudi udah patah tulang gara-gara rencana lu yang ngasal, dan lu cuma bilang dia pantes jadi umpan!"
Seluruh ruangan mendadak senyap, semua mata tertuju pada dua sosok yang kini berhadapan di tengah markas.
Kaisar Dirgantara menoleh perlahan, matanya menyipit tajam menatap sosok yang berani menentangnya di depan umum. Tanpa peringatan, ia melangkah maju dan melayangkan pukulan telak ke wajah anak buahnya sendiri.
BUAGH!!
Tubuh itu terjerembab ke lantai, darah mengalir dari hidungnya yang patah, erangan kesakitan memenuhi keheningan yang mencekam seisi markas. Tidak ada satu pun yang berani bersuara lagi setelah menyaksikan kekerasan itu, semua mata menunduk menghindari kontak langsung dengan sang raja yang kini berdiri dengan napas berat, tinjunya masih terkepal.
"Ada yang mau nyusul?" Kaisar Dirgantara berucap dingin, matanya menyapu seluruh ruangan, membuat semua yang hadir menunduk menghindari tatapannya, tidak ada satu pun yang berani mengangkat wajah.
Tidak ada yang menjawab. Namun di balik keheningan itu, kekesalan yang tadinya hanya bisikan kecil kini mulai berubah menjadi kebencian yang tertahan, siap meledak kapan saja begitu ada celah yang tepat untuk melampiaskannya.
Kaisar Dirgantara berbalik, melangkah pergi meninggalkan markasnya dengan wajah datar, seolah tidak peduli sedikit pun dengan keretakan yang baru saja ia ciptakan sendiri di antara pasukannya.
"Juna brengsek," gumamnya pelan sambil berjalan menyusuri lorong gelap sendirian, suaranya penuh dendam yang membara. "Gue bakal bikin lu mati, anjing."
Ia menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang mengikuti dari belakang dengan langkah waspada, tidak berani mendekat terlalu jauh setelah menyaksikan kejadian di markas tadi.
"Kasih tahu Juna," ucapnya dingin, seringai tipis kembali terukir di wajahnya meski matanya menyala penuh amarah yang tidak sepenuhnya terkendali, "gue nunggu dia di deket gudang pelabuhan sekolah."
Anak buah itu mengangguk cepat, tidak berani bertanya lebih jauh, lalu segera berlari menjauh untuk menyampaikan pesan itu ke jaringan informan yang sudah lama tersebar di antara Bully sendiri.
Kabar itu sampai ke telinga Juna lewat Gery keesokan paginya, disampaikan dengan wajah tegang sambil menyerahkan secarik kertas kecil yang dititipkan salah satu anak buah Kaisar yang sudah mulai berpihak diam-diam.
"Dia nungguin kamu di gudang pelabuhan," Gery berkata pelan, suaranya penuh kekhawatiran. "Kayaknya dia udah nggak sabar buat nyelesain ini semua."
Juna menatap kertas itu lama, jarinya meremasnya perlahan sambil menyusun rencana di kepalanya.
'Gudang pelabuhan,' batinnya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang masih menyimpan luka lama. 'Kalau kamu maunya di sana, aku bakal ke sana. Tapi kali ini, aku yang bakal siapin permainannya sendiri.'