NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pekan perkenalan II

Genggaman jemari Ukhty Maya tiba-tiba mengendur dari buku catatan kecilnya. Ia melihat binar mata Aira—mata bulat yang semalam basah oleh air mata kerinduan pada rumah, kini menatapnya tanpa kedip dengan pijar kekaguman yang jujur.

Ukhty Maya tidak langsung mengajak mereka keluar. Perlahannya ia menyimpan buku catatan itu ke dalam saku gamisnya, lalu melangkah dua tindak mendekati lingkaran anak-anak itu. Suasana kamar Khadijah yang tadinya dibalut kekakuan aturan tiba-tiba melunak, terisi oleh aroma minyak kayu putih, wangi sabun mandi pagi, dan hangat napas yang mengembun tipis.

"Aira..." panggil Ukhty Maya pelan. Suaranya tidak lagi menyisakan ketegasan pengurus Ubudiyah, melainkan kelembutan seorang kakak yang sedang membujuk adiknya.

Aira sedikit tersentak, refleks membetulkan letak jilbab putihnya. "I-iya, Ukhty?"

Ukhty Maya berlutut di atas lantai semen kamar yang dingin, menyamakan tingginya dengan Aira dan Najwa. Tindakan sederhana itu membuat Kak Nisa dan Kak Ririn saling lempar senyum hangat di belakang.

"Ukhty tahu apa yang ada di pikiran kalian saat mendengar deretan aturan tadi," kata Ukhty Maya seraya merengkuh jemari Aira dan Najwa yang masih terasa dingin sisa air Subuh. "Pasti rasanya berat banget, ya? Di rumah, jam segini mungkin kalian masih selimutan. Kalau kangen Mama, tinggal peluk. Kalau males, bisa selonjotan. Di sini? Harus bangun sebelum fajar, wudhu pakai air dingin yang menusuk tulang, lalu disuguhi segudang aturan..."

Najwa tertunduk pelan, jemarinya memilin tepi mukena yang sudah terlipat rapi di sampingnya. "Takut nggak bisa, Ukhty... Takut melanggar terus dihukum," bisiknya jujur, kacamatanya yang sedikit melorot dibetulkan oleh jemari telaten Ukhty Maya.

"Dulu, enam tahun yang lalu..." Ukhty Maya menarik napas panjang, sorot matanya menembus kenangan masa lalu. "Ukhty duduk persis di ranjang tempat Aira duduk sekarang. Menangis sesenggukan sampai mata bengkak, memeluk bantal yang baunya masih bau rumah, dan rasanya ingin kabur saja saat mendengar azan Subuh."

Aira mendongak, matanya membesar. "Benaran, Ukhty? Ukhty Maya yang hebat begini pernah nangis juga?"

"Pernah, Sayang. Malah paling kencang nangisnya se-kamar," sahut Kak Nisa tertawa kecil, memecah kecanggokkan. "Dulu Ukhty Maya ini paling sering ngumpet di balik pintu kamar mandi cuma buat usap air mata."

Tawa kecil meletus santun dari bibir anak-anak baru. Ketegangan yang tadi mengepung Kamar Khadijah seketika mencair.

Ukhty Maya tersenyum manis, membiarkan kenangan itu mengalir hangat. Ia mengusap bahu Aira pelan. "Pondok ini bukan tempat untuk menyiksa kalian dengan aturan. Pondok ini adalah rahim kedua kalian. Di sini, aturan dibuat bukan karena kami galak, tapi karena kami ingin memeluk kalian dari jauh, menjaga kalian supaya nanti saat keluar dari sini, kalian jadi perempuan-perempuan yang berdiri tegak di atas kaki sendiri."

Ia menatap satu per satu wajah polos di depannya—wajah-wajah muda yang kelak akan menempuh jalan panjang pengabdian.

"Nanti, kalau rasa kangen rumah datang lagi... jangan disimpan sendiri, ya? Cerita sama Kak Nisa, Kak Ririn, atau ketuk kamar Ukhty kapan saja. Kalau capai, rehat sebentar. Tapi jangan menyerah. Air dingin yang kalian basuhkan pagi ini, langkah gontai kalian menuju masjid, itu semua sedang mencatat sejarah keberanian kalian."

Ukhty Maya merengkuh bahu Aira dan Najwa lebih erat, mengumpulkan ketujuh santri baru itu dalam satu pelukan hangat melingkar. Aroma keikhlasan dan kasih sayang seorang kakak begitu meresap di dada mereka.

"Ingat kata Ukhty ya, adek-adekku..." bisik Ukhty Maya tepat di samping telinga Aira. "Suatu hari nanti, kalian yang akan berdiri di posisi Ukhty hari ini. Menyirami adik-adik kalian dengan kasih sayang yang sama. Kalian pasti bisa."

Aira meremas pelan baju gamis Ukhty Maya. Dadanya mendadak berdesir hangat, menghalau sisa-sisa dingin pagi yang menembus ventilasi kamar. Bayangan rumah yang semalam merantai hatinya kini perlahan berganti menjadi rasa memiliki yang dalam pada kamar sederhana bernomor Khadijah ini.

"InsyaAllah, Ukhty... Aira mau bertahan. Aira mau belajar," bisik Aira mantap, matanya berbinar penuh tekad.

"Najwa juga, Ukhty!" timpal Najwa dari balik kacamatanya, menyunggingkan senyum terlebarnya.

"Alhamdulillah..." Ukhty Maya bangkit berdiri, menyapu pandangan ke seluruh ruangan dengan rasa bangga yang membuncah. Ia merapikan lipatan jilbabnya, kembali menampilkan sosok pengurus OPPK yang anggun dan berwibawa. "Nah, sekarang musrifah dan pengurus hebat Kamar Khadijah... mari kita tunjukkan pada seluruh pondok, bagaimana senyum terbaik santri baru kita!"

Langkah kaki mereka keluar kamar pagi itu tak lagi gontai. Di sepanjang koridor asrama, gema selawat, denting gayung dari kamar mandi, dan derap langkah ratusan santri berseragam rapi menyambut mereka. Aira berjalan tepat di samping Ukhty Maya, menggenggam erat lipatan mukenanya, siap menyongsong riuk panggung Pekan Perkenalan dengan dada yang tak lagi berdebar takut, melainkan hangat oleh keteguhan jiwa.

Pintu gerbang Aula Utama terbuka lebar, menyembunyikan riuh rendah ratusan suara santri dari berbagai penjuru angkatan. Bau khas kertas brosur baru dan kerumunan menyambut langkah Aira dan kawan-kawan. Di bawah naungan atap aula yang tinggi, ribuan santri duduk bersila dalam barisan rapi berdasarkan asrama masing-masing.

Ukhty Maya mengantar Kamar Khadijah hingga ke barisan tengah, tepat di bawah sorot lampu gantung besar. Sebelum ia bergeser menuju tempat duduk khusus jajaran pengurus OPPK di barisan depan dekat panggung kehormatan, ia sempat menoleh sekali lagi, memberikan kedipan mata yang menenangkan.

Di atas panggung utama, jajaran pimpinan pondok dan pengurus inti pengasuhan duduk bersisian. Namun, bukan deretan ustazah sepuh yang membuat mata Aira mendadak terkunci dan aliran darahnya terasa berhenti.

Di ujung meja pimpinan, seorang santri senior bagian Keamanan—sosok legendaris yang terkenal paling ditakuti seantero pondok karena ketegasannya—sedang memegang mikrofon. Ketika lampu sorot panggung bergeser menyoroti wajahnya, napas Aira tersengat di tenggorokan.

Wajah itu... bukan orang asing. Sosok berhijab rapi dengan tatapan setajam elang tersebut adalah orang yang sama yang semalam, tepat sebelum Aira turun dari mobil ayahnya di gerbang belakang pondok, berdiri dalam bayangan gelap pilar dan berbisik sinis padanya: “Selamat datang di penjara suci, adik kecil. Kita lihat seberapa kuat tangismu bertahan di sini.”

Belum sempat Aira mencerna keterkejutannya, suara ketukan mikrofon berderak nyaring. Alis tajam santri senior bagian Keamanan itu terangkat, menatap lurus ke arah barisan Kamar Khadijah.

"Untuk mengawali Pekan Perkenalan pagi ini," suara dingin itu menggema lewat pengeras suara, menusuk langsung ke jantung Aira, "panggilan kepada santri baru perwakilan Kamar Khadijah... Aira Nadhira. Silakan naik ke atas panggung sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!