kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu lagi kebohongan
Delara berusaha mendekat ke arah Dikta yang tak berpindah dari posisi duduknya.
Mata laki-laki itu dingin dan ada kilat kemarahan di disana, namun Delara tetap bersikap biasa-biasa saja seolah tak ada sesuatu pun yang dia sembunyikan di belakang Dikta.
"Baby... Aku tahu kau pasti stres akhir-akhir ini dan aku tidak berada disisimu... Tapi percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu seperti perempuan itu...." Delara mengusap pipi Dikta dan tangannya bergerak turun ke bahu.
Jari-jari lentik Delara terus turun ke arah kerah kemeja Dikta.
Tapi sayang, baru saja perempuan itu hendak membukanya, Dikta segera mencegatnya.
Menahan pergelangan tangan Delara hingga membuat perempuan itu meringis kesakitan.
"Jangan lewati batasanmu Delara!" tegas Dikta.
"Baby... Kau kenapa? Biasanya kau tidak pernah menolakku... Dan... Dan suaramu tidak pernah keras kepadaku, kenapa sekarang kau kasar? Apa salahku?" isak Delara seperti biasanya.
"Apa salahmu? Kau bertanya apa salahmu?" Dikta melepaskan pergelangan Delara secara kasar hingga membuatnya terhuyung.
"Kau menyakitiku baby...." airmata Delara mengalir deras dipipi yang penuh dengan riasan tebalnya.
"Menyakitimu? Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu dibelakangku selama ini?"
Wajah Dikta merah padam, urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sudah lama ia pendam. Di hadapannya, Delara berdiri gemetar, namun bibirnya masih terus berkilah seolah tak pernah bersalah.
"Me... Memangnya aku berbuat apa baby...? aku tak paham maksud mu apa?"
"Kau bilang tidak berbuat apa-apa?" tanya Dikta dengan suara rendah namun penuh amarah yang menggetarkan dada.
Ia membuka laci kerjanya, dan mengeluarkan lalu melempar beberapa lembar foto ke meja hingga menyebar tepat di hadapan wajah perempuan itu. "Lalu apa ini? Foto kau berpelukan erat dengan laki-laki itu di cafe, dihotel? Jangan bilang hanya teman?"
Delara menelan ludah, matanya berkaca-kaca namun tak ada air mata yang jatuh. "Dikta, kau salah paham! Dia hanya rekan kerjaku, dia sedang menenangkanku karena aku sedih! Tidak ada apa-apa di antara kami, aku bersumpah!"
"Cukup!" bentak Dikta keras, membuat seluruh ruangan seakan bergetar. Ia menatap tajam ke arah perempuan yang dulu pernah ia percaya sepenuh hati itu. "Kau terus berbohong! Kau yang mengarang cerita buruk tentang Seraphina, kau yang membuatku membenci istriku sendiri hingga aku menceraikannya! Dan sekarang kau berani bilang tidak pernah berbuat salah?"
"Aku tidak bermaksud begitu... Aku hanya mencintaimu, Dikta! Aku takut kau kembali padanya..." suara Delara semakin lirih, berusaha menyentuh lengan laki-laki itu namun Dikta dengan kasar menepisnya.
"Cintamu penuh kebohongan dan pengkhianatan!" Dikta mundur perlahan, menatap Delara dengan pandangan kecewa yang jauh lebih menyakitkan daripada amarahnya. "Kau telah menghancurkan kebahagiaanku sendiri. Kau membuatku kehilangan wanita yang paling tulus mencintaiku. Dan sekarang kau masih berani berkilah?"
Dikta menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri namun dadanya masih sesak menahan rasa sakit. "Pergilah! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Mulai saat ini, tak ada hubungan apa pun di antara kita. Kau bebas pergi bersama siapa pun yang kau mau. Dan jangan sekali-kali menampakkan wajahmu dihadapan ku! Paham!"
Delara terisak, mencoba merayu namun Dikta tak lagi mendengarkan. Ia berbalik memunggungi perempuan itu, menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong.
Perempuan itu jatuh berlutut di lantai, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Tolong jangan usir aku, Dikta! Aku sungguh mencintaimu! Semua yang terjadi itu hanya kesalahan tak sengaja! Aku bisa menjelaskan semuanya!"
Dikta tak menoleh sedikit pun. "Kesalahan yang tidak disengaja dengan kau berada dihotel bersama laki-laki" desis Dikta rendah.
Tangannya mencengkeram ambang jendela hingga buku jarinya memutih. Suaranya terdengar dingin dan tegas, tak lagi menyisakan sedikit pun rasa iba.
"Penjelasanmu sudah tak berarti lagi. Kau sudah terlalu sering berbohong. Kau yang merusak kepercayaanku!"
Ia berbalik perlahan, menatap tajam perempuan yang kini tampak hancur di hadapannya.
"Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Aku rela melepaskan Seraphina hanya karena kata-kata manismu yang penuh kebohongan. Dan ternyata... kau sendiri yang tak pantas aku percaya."
Dikta melangkah mendekat, lalu melempar selembar surat ke pangkuan Delara.
"Ini surat pernyataan. Tanda tangani. Mulai hari ini, nama kita tak boleh disebut bersama lagi. Aku tak ingin ada sedikit pun jejak keberadaanmu dalam hidupku."
Delara gemetar hebat, air matanya semakin deras. Ia meraih tangan Dikta, namun laki-laki itu segera menariknya kembali dengan kasar.
"Pergilah sebelum aku menyesal telah bersikap sopan padamu."
Dengan langkah gontai dan tubuh yang gemetar, Delara akhirnya bangkit. Ia menatap Dikta untuk terakhir kalinya, berharap ada sedikit belas kasih di mata laki-laki itu. Namun yang ia temukan hanyalah pandangan dingin dan kebencian yang mendalam.
Delara pun berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu, menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya, termasuk kebahagiaan yang tak pernah pantas ia miliki.
Saat pintu tertutup rapat, Dikta jatuh terduduk di kursi kerjanya. Pandangannya menerawang jauh, memikirkan wajah Seraphina. Rasa penyesalan menyergapnya begitu kuat, hingga ia tak sanggup menahan tangis yang sejak tadi ia tahan.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪