Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELAPNYA MALAM, DINGINNYA RUKO
Suara derit gerbang besi toko kelontong di kawasan pinggiran Jakarta Pusat itu berbunyi sangat nyaring, membelah kesunyian malam yang lembap. Seseorang dari dalam telah memutar kunci, menandakan toko itu resmi tutup dan tempat persembunyian sementara kami malam ini harus segera disiapkan sebelum satpam kompleks melintas.
Aku menghela napas panjang. Udara malam yang membawa aroma aspal basah dan bau sampah dari gang sebelah menyeruak masuk ke dalam dada. Dengan hati-hati, aku melipat almamater abu-abu bekas SMA milikku satu-satunya barang kenangan dari masa lalu yang masih tersisa lalu meletakkannya di atas semen dingin teras ruko yang beralaskan kardus bekas mi instan.
"Tidur di sini lagi ya, Kak?"
Sebuah suara serak dan mungil memecah lamunanku. Aku menoleh, menatap Awan, adik kecilku yang baru berusia lima tahun. Tubuhnya yang kurus kering terbungkus kaos oblong kebesaran yang warnanya sudah memudar. Matanya yang bulat tampak sayu, dikelilingi lingkaran hitam karena tidur yang tidak pernah nyenyak selama dua bulan terakhir.
"Iya, Sayang. Cuma untuk malam ini," bisikku seraya mengusap lembut rambutnya yang kasar. Aku tersenyum seramah mungkin, menutupi rasa sesak yang menghimpit dada. "Besok Kakak usahain kita udah dapat tempat tidur yang empuk, ada bantalnya, ada selimutnya. Awan sabar ya?"
Awan mengangguk polos. Dia memeluk erat sarung lusuh yang sudah berlubang di beberapa bagian, lalu merebahkan kepalanya di atas lipatan almamaterku. Di sisinya, Ibu berbaring telentang. Tubuh wanita yang dulu sangat anggun itu kini terlihat sangat kurus, tulang pipinya menonjol, dan napasnya terdengar berat serta berbunyi.
Guk... guk... batuk...
Ibu terbatuk keras hingga tubuhnya terkulai ke samping. Tangan kirinya yang gemetar mencengkeram dada sebelah kiri dengan sangat erat, seolah menahan rasa sakit yang menusuk tajam ke dalam jantungnya. Aku refleks berlutut di samping Ibu, memangku kepalanya dengan cemas.
"Ibu... Ibu kenapa, Bu?" tanganku gemetar saat merogoh botol air mineral bekas dari dalam tas ransel kusam milikku. "Dada Ibu sakit lagi? Ibu minum air dulu ya?"
Ibu menggeleng pelan, menolak air minum itu. Mata wanita tua yang mulai meredup itu menatap wajahku dalam-dalam. Ada lelehan air mata yang mengalir di sudut matanya, membasahi kerutan di pipinya yang kian tirus.
"Aisyah... maafkan Ibu, Nak," suara Ibu terdengar sangat lirih, hampir tak bertali. "Harusnya kamu di usia sembilan belas tahun ini sibuk kuliah... sibuk ngejar cita-cita kamu jadi arsitek... bukan terlunta-lunta di jalanan kayak orang buangan begini... Maafkan Ibu yang nggak berguna ini, Nak..."
Seketika dada ini rasanya seperti dihantam godam yang amat besar. Sembilan belas tahun. Di usia ini, teman-teman SMA-ku sedang menikmati indahnya kehidupan kampus, memposting foto jalan-jalan di media sosial, atau sekadar memikirkan baju apa yang akan dipakai besok pagi. Tapi aku? Aku harus berdiri di atas tanah yang tandus, menatap kenyataan bahwa hidupku telah hancur berkeping-keping hingga tak berbekas.
"Ibu jangan ngomong gitu!" tekasku, mencoba menahan napas agar air mataku tidak menetes di depan Ibu. "Aisyah kuat, Bu. Aisyah nggak papa. Besok Aisyah dapat giliran shift pagi di restoran ternama itu lagi. Tipnya gede, Bu. Nanti uangnya Aisyah kumpulin buat sewa kontrakan dan beli obat jantung Ibu. Ibu tenang aja ya?"
Restoran ternama di Jakarta Pusat. Itulah kebohongan indah yang kurangkai dengan begitu rapi setiap hari untuk membungkus kehancuran kami. Sebuah dongeng pengantar tidur agar Ibu tidak kehilangan harapan hidupnya.
Kenyataan yang sebenarnya? Kami tidak punya tempat tinggal. Rumah peninggalan Kakek yang menjadi satu-satunya tempat kami berteduh telah digusur dan disita paksa oleh puluhan debt collector berbadan tegap dua bulan lalu. Semua itu terjadi karena ulah satu pria bajingan: ayah kandungku sendiri.
Pria yang seharusnya menjadi pelindung keluarga itu tega mempertaruhkan sertifikat rumah, menjual seluruh perhiasan Ibu, dan menggadaikan masa depanku demi memenuhi kecanduan judi online. Ketika angka kekalahannya menumpuk hingga mencapai Rp 2,4 Miliar, pria penakut itu memilih kabur tanpa jejak, melarikan diri bagai tikus got dan meninggalkan kami Ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang belum tahu apa-apa, dan aku yang baru saja lulus sekolah untuk menanggung seluruh neraka yang diciptakannya.
Sejak malam penagihan yang mencekam itu, Ibu terkejut hebat hingga mendapat serangan jantung. Kami diusir tanpa membawa harta benda selain baju di badan. Dan sejak malam itu pula, tempat tidur kami berpindah-pindah setiap hari: kadang di selasar masjid, teras ruko yang sudah tutup, hingga stasiun kereta hingga subuh menjelang.
Tuhan?
Aku terkekeh sinis dalam hati sambil menatap langit malam Jakarta yang tertutup asap polusi tanpa ada satu pun bintang yang terlihat.
Aku sudah lama lupa cara berdoa. Aku sudah lama meninggalkan sajadah dan mukena yang dulu selalu kupakai setiap kali adzan berkumandang. Dulu, aku adalah gadis yang taat, gadis yang selalu percaya bahwa doa bisa mengubah takdir. Tapi di mana Tuhan saat rumah kami digusur paksa? Di mana Tuhan saat Ibu menjerit kesakitan memegangi dadanya di pinggir jalan? Di mana Tuhan saat Awan menangis kelaparan karena kami tidak punya uang sepeser pun untuk membeli sepotong roti?
Jika Tuhan itu ada dan Maha Adil, kenapa Ayah yang berbuat dosa, tapi aku, Ibu, dan Awan yang harus menelan racunnya? Kenapa takdir begitu murka pada kami? Tidak. Tuhan tidak adil. Tuhan telah menelantarkan kami. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak lagi menyembah-Nya. Aku hanya percaya pada diriku sendiri.
Pagi harinya, debu jalanan dan kebisingan klakson kendaraan mengusir kami dari teras ruko. Setelah memastikan Ibu dan Awan duduk di sebuah warung kopi pinggiran dan mengorderkan mereka dua bungkus nasi uduk serta air hangat dari uang sisa hasil mencuci piring semalam, aku berjalan terburu-buru menuju sebuah kafe kecil di sudut jalan utama.
Di sana, Melati sudah menunggu. Sahabatku sejak SMP itu duduk dengan gelisah, berkali-kali menatap pintu masuk sampai akhirnya matanya menangkap sosokku.
"Aisyah!" Melati langsung berdiri dan memelukku erat. "Kamu ke mana aja? Aku cariin ke tempat kemarin kamu bilang, tapi kamu udah nggak ada!"
"Kami diusir satpam semalam, Mel. Harus pindah ke ruko depan pasar," jawabku datar sambil melepas pelukannya. Aku duduk di hadapannya, merapikan rambut panjangku yang terikat asal.
Melati menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengambil sebuah amplop cokelat dari tasnya dan mendorongnya ke arahku. "Ini... ada sedikit uang dari tabungan aku, Sya. Tolong terima. Buat beli obat Tante dan susu Awan."
Aku menatap amplop itu, lalu mendorongnya kembali dengan pelan namun tegas. "Nggak, Mel. Aku nggak bisa terima uang kamu lagi. Kamu udah bantu banyak minggu lalu. Ini bukan solusi."
"Tapi kamu butuh uang itu, Aisyah!" pangkas Melati dengan suara menahan tangis. "Lihat diri kamu! Kamu makin kurus, muka kamu pucat! Ibu kamu butuh dokter spesialis, bukan cuma obat warung! Awan butuh gizi!"
"Aku tahu!" potongku keras. Beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah kami, tapi aku tidak peduli. Mataku menatap Melati dengan tatapan yang sangat dingin, hampa, dan penuh keputusasaan. "Aku tahu betul keadaan keluargaku, Mel. Tapi uang lima ratus ribu atau satu juta dari kamu nggak akan bisa menyelesaikan masalah ini!"
"Terus kamu mau gimana?" tanya Melati lirih.
"Aku butuh pekerjaan," jawabku tegas. "Pekerjaan yang bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam satu malam."
Melati tersentak. Wajahnya mendadak pucat pasi. Dia paham betul ke mana arah pembicaraanku. "Sya... plis... jangan gila! Jangan ambil jalan itu!" Melati mencengkeram kedua pergelangan tanganku dengan erat, jemarinya gemetar. "Aku bisa pinjam uang ke bos tempat aku kerja, atau kamu bisa kerja di salon langganan mamaku. Ada lowongan di sana! Tolong, jangan hancurkan diri kamu sendiri!"
Aku tersenyum sinis. Sebuah senyuman pahit yang sarat akan keputusasaan.
"Mel... coba kamu hitung," suaraku merendah, namun setiap katanya menancap tajam. "Gaji salon berapa? Dua juta sebulan? Dipotong makan kita tiga juta sebulan aja udah minus! Sedangkan utang Ayahku dua koma empat miliar rupiah! Bunga dari debt collector itu tiap bulan puluhan juta, Mel! Kalau mereka tahu keberadaan kami, Awan bisa diculik, Ibu bisa dibunuh, dan aku... aku bakal dijual ke tempat yang lebih parah!"
Melati bungkam. Air matanya menetes merembes ke atas meja kayu.
"Aku nggak punya waktu buat merangkak dari bawah, Mel," lanjutku dengan mata yang mulai memerah, menahan beban berat yang teramat sangat. "Ibu butuh tempat tinggal yang layak minggu ini juga. Jantungnya bisa berhenti kapan saja kalau tidur di semen dingin terus. Awan butuh masa depan. Kalau satu-satunya hal yang bernilai dari diriku saat ini adalah tubuh dan wajahku... maka akan kujual itu!"
"Aisyah, itu dosa besar! Kamu bakal nyesel seumur hidup!" tangis Melati pecah.
"Dosa?" Aku tertawa hambar. "Dunia ini udah jadi neraka buat aku, Mel. Dosa nggak ada artinya lagi. Tuhan aja udah menelantarkan aku, buat apa aku menjaga aturan-aturan-Nya? Aku nggak peduli lagi sama harga diri atau dosa. Yang penting ibuku hidup dan adiku bisa makan!"
Melati menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Dia tahu persis betapa keras kepalanya seorang Aisyah jika sudah menyangkut keselamatan keluarganya. Gadis anggun dan berprestasi yang dulu selalu juara umum di sekolah kini telah mati, digantikan oleh seorang wanita yang siap melompati jurang kehancuran demi bertahan hidup.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat dan bibir yang tergigit rapat, Melati akhirnya merogoh saku dalam tasnya. Dia mengeluarkan selembar kartu nama tebal berwarna hitam dengan tulisan bersepuh emas yang mengkilap di bawah lampu kafe.
Dia meletakkannya di atas meja, tepat di depan jemariku.
"Club Velvet," bisik Melati dengan suara yang terputus-putus. "Mami Rosa pengelolanya. Dia... dia kenalan dari sepupu temanku. Tempat itu kelab malam paling eksklusif di Jakarta Pusat. Pelanggan di sana orang-orang kaya kelas atas..."
Aku memandangi kartu nama itu. Club Velvet. Nama yang terdengar sangat elegan untuk sebuah tempat yang menyajikan kemaksiatan.
"Tapi ingat pesan aku, Aisyah..." Melati menatap mataku dengan tatapan yang sangat dalam, penuh ketakutan dan duka. "Sekali kamu menginjakkan kaki ke dalam tempat itu, sekali kamu menjual diri kamu... dunia kamu nggak akan pernah sama lagi. Kamu nggak akan pernah bisa kembali jadi Aisyah yang dulu."
Aku mengulurkan tangan, mengambil kartu nama hitam beraksen emas itu, lalu menyelipkannya ke dalam saku celana jeansku yang kusam. Tidak ada keraguan di mataku. Yang ada hanyalah tekad bulat yang dibakar oleh kebencian pada takdir.
"Duniaku sudah hancur sejak Ayah kabur, Mel," jawabku dingin seraya berdiri dari kursi. "Takdir nggak pernah kasihan sama aku. Jadi, buat apa aku kasihan sama diri aku sendiri?"
Tanpa mengucapkan patah kata lagi, aku berbalik dan melangkah keluar dari kafe. Rintik hujan gerimis mulai turun membasahi jalanan Jakarta, namun dinginnya air hujan tak lagi terasa di kulitku. Hati ini sudah jauh lebih dingin dari malam mana pun yang pernah kulewati. Mulai malam ini, Aisyah yang taat dan lembut telah resmi dikubur hidup-hidup.