Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
Soraya memperhatikan punggung kekar yang masih menghadap kompor dalam diam. Entah hanya perasaannya atau memang benar, tetapi sejak kepergian Ines dan Julia, Alexander tiba-tiba menjadi pendiam.
Hal itu tidak biasa baginya. Soraya perlahan mulai terbiasa dengan sikap gentleman dan penuh perhatian yang selalu ditunjukkan Alexander.
Apa aku ajak bicara saja? pikir Soraya.
Setelah mempertimbangkannya cukup lama, Soraya akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.
Dengan menopang dagu menggunakan telapak tangan di atas meja makan, Soraya berdeham.
“Ehm ….”
Alexander, seperti laki-laki pada umumnya, tidak menanggapi. Tubuhnya memang sedang sibuk memasak, tetapi pikirannya justru dipenuhi oleh hasil percakapannya yang tidak sengaja terdengar dari pembicaraan Soraya dan teman-temannya.
Sejak tadi, dia hanya memikirkan satu hal: siapa pria bernama Laith itu?
Laith memang sepupu Soraya, tetapi dari pembicaraan yang sempat didengarnya, pria itu ternyata memiliki kemungkinan untuk menikahi Soraya.
Sungguh, hal tersebut sama sekali tidak pernah masuk ke dalam pemikiran Alexander.
Bagaimana bisa? pikirnya.
Sepupu adalah sepupu. Mereka masih bagian dari keluarga, dan menurut budaya serta nilai keagamaan yang dianut Alexander, tidak ada hubungan antara sepupu yang seharusnya berkembang lebih jauh dari ikatan keluarga.
Alexander memang dapat melihat bahwa Soraya berasal dari latar belakang budaya Timur yang memiliki adat seperti itu. Namun, dia selalu mengira hal tersebut hanya berlaku pada masa lalu, bukan di zaman sekarang.
Sebenarnya, dia sangat ingin mempertanyakan hal itu kepada Soraya. Namun, dia terlalu malu jika sampai ketahuan bahwa dirinya telah menguping pembicaraan wanita muda itu.
“KAK ALEXANDER!”
Prang!
“Apa? Apa?”
Alexander sedikit terkejut dan melatah setelah tidak sengaja menjatuhkan sendok masaknya.
Soraya yang melihat kejadian itu sama sekali tidak merasa bersalah. Dia memang tidak bermaksud mengejutkan Alexander, tetapi pria itu sudah beberapa kali dipanggil dan tetap tidak mendengarnya. Karena itu, Soraya akhirnya sedikit berteriak.
Beruntung, sayuran yang sedang dimasak Alexander tidak sampai tumpah meskipun sudah melewati tingkat kematangan yang seharusnya.
Dengan telaten, Alexander mengambil wadah sayur dan membereskan semuanya dengan cepat. Setelah itu, dia menoleh kepada Soraya yang masih menunjukkan wajah tidak puas.
“Maaf. Kamu pasti sudah lapar.”
Soraya diam.
Dia masih memperhatikan Alexander yang mulai mengatur dan menata meja makan. Di hadapannya, terdapat masakan buatan pria itu yang sama sekali tidak menggugah selera.
“Kenapa?”
Alexander yang menyadari Soraya terus diam langsung mengedipkan mata beberapa kali. Sedikit panik, dia menatap wanita itu.
“Kak Alexander yang kenapa?” tanya Soraya balik.
Alexander mengernyit, tidak mengerti.
Soraya yang tidak ingin bersikap terlalu kekanak-kanakan akhirnya memutuskan untuk bertanya secara terbuka. Dia ingin tahu mengapa Alexander terlihat diam sejak teman-temannya pergi.
Ines dan Julia memang tidak berlama-lama setelah pembicaraan mereka di luar. Soraya bahkan mendesak keduanya untuk segera pergi.
Mendengar pertanyaan yang tepat sasaran itu, Alexander sempat mempertimbangkan apakah dia harus jujur bahwa dirinya telah mendengar percakapan Soraya dan teman-temannya.
Namun, tidak.
Alexander cepat-cepat menggeleng dalam hati, menolak pemikiran tersebut. Dia merasa harga dirinya akan tercemar jika mengaku telah menguping.
Jadi, alih-alih langsung menjawab pertanyaan Soraya, dia membuka percakapan kecil dengan menanyakan rencana wanita itu mengenai kehamilannya.
“Memangnya kamu tidak ingin bicara dengan orang tua atau keluargamu?”
Soraya yang mendengar pertanyaan tersebut langsung terdiam. Pertanyaan itu menyentuh kegelisahan yang selama ini tersimpan di dalam hatinya.
Naluri untuk menghindar membuatnya mengambil sendok dan menaruh makanan ke dalam piring tanpa menunggu Alexander.
Dia memasukkan satu suapan ke mulut, masih dengan pikiran serius yang belum juga teralihkan.
“Ueeek!”
“Kenapa? Soraya, kamu kenapa? Sakit?”
Alexander bergerak cepat. Dia langsung menuangkan air ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada Soraya, bahkan memegang gelas tersebut ketika wanita itu meminumnya.
Melihat mata Soraya yang berkaca-kaca dan memerah, Alexander semakin khawatir.
“Sudah? Kamu tidak enak badan?”
Soraya menggeleng dengan mata terpejam sebelum akhirnya mengeluarkan perkataan tanpa filter.
“Bukan aku yang tidak enak badan. Makanannya yang tidak enak sekali.”
Deg.
Alexander menatap mangkuk ikan berkuah dan sayuran buatannya dengan tatapan sayu.
Dia yakin sudah mengikuti resep yang dilihatnya di ponsel. Namun, kenapa rasanya tetap tidak enak?
Tidak ingin berdebat ataupun mencoba masakannya sendiri, karena dia tahu dirinya memang tidak pernah memasak sebelumnya, Alexander hanya bisa meminta maaf berulang kali.
“Kita makan di luar saja bagaimana?”
Soraya mengembuskan napas lelah. Dia sedang tidak ingin keluar pada malam hari.
Kehabisan ide, Alexander akhirnya memilih memesan makanan.
Karena masih harus menunggu pesanan datang, Soraya yang tadi sempat makan untuk menghindari pertanyaan Alexander kini seolah tidak memiliki alasan lagi untuk menghindari pembicaraan.
Tidak lama kemudian, mereka duduk berdua di dekat perapian yang untuk pertama kalinya dinyalakan malam itu.
Soraya duduk dengan tubuh terbalut selimut, sementara Alexander menghadap kepadanya.
“Jadi, bagaimana?”
Soraya menarik napas panjang sebelum menatap Alexander dengan tawa kecil.
Dia tertawa karena malu. Malu sekaligus bingung mengenai apa yang harus dikatakannya.
“Aku tidak punya keluarga ….”
Alis Alexander terangkat.
Soraya kembali tertawa, tetapi kali ini tatapannya menghindari mata Alexander.
“Bukan tidak ada. Hanya saja, aku sudah lama tidak pulang. Sudah sekitar empat tahun. Bahkan sebenarnya bukan sekadar tidak pulang. Aku memang memilih untuk keluar dari rumah.”
Mendengar hal tersebut, Alexander langsung menyadari bahwa masalah ini jauh lebih serius daripada yang dia kira.
Dia mengubah posisi duduknya dan menghadapkan tubuh kepada Soraya.
“Tunggu. Tunggu. Maksudnya bagaimana?”
Soraya jelas merasa tidak nyaman membicarakannya, tetapi dia berpikir bahwa Alexander tetap harus tahu.
Bagaimanapun, dia sedang mengandung anak pria itu. Alexander berhak mengetahui latar belakang keluarga dari ibu anaknya.
“Orang tuaku sudah berpisah. Ibuku meninggalkanku, sementara Ayah membenciku,” tutur Soraya dengan getir.
Namun, meskipun kisah itu terdengar pahit, tidak ada lagi air mata yang menggenang di matanya.
Seolah-olah dia sudah terlalu lama menyerah.
Sementara itu, Alexander perlahan membuat Soraya terbuka mengenai asal-usul dan keluarganya.
Dan ya, perbedaan dunia mereka memang seperti langit dan bumi.
Alexander tidak pernah menyangka akan mendengar kisah tentang seorang ayah yang melampiaskan kemarahannya kepada putri satu-satunya karena ibu dari anak tersebut melarikan diri setelah menipunya.
Namun, siapa sebenarnya yang menipu siapa?
Alexander sangat terkejut ketika mengetahui bahwa ibu Soraya merupakan istri keempat ayahnya. Bersama dengan istri-istri sebelumnya, mereka tinggal dalam satu kediaman yang memang sangat besar.
Membayangkan rumitnya hubungan keluarga tersebut saja sudah cukup membuat kepala Alexander pusing.
Sekali lagi, dia adalah pria yang berasal dari keluarga konservatif dan taat pada nilai-nilai keagamaan serta norma masyarakat. Orang tuanya merupakan pasangan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Bagi Alexander, mereka adalah salah satu contoh pernikahan yang membuatnya ingin memiliki kehidupan keluarga serupa.
Namun, bagaimana mungkin?
Dia tidak bisa membayangkan membangun hubungan dengan Soraya.
Terlebih lagi, wanita itu kembali mengingatkannya pada satu hal.
“Kak, aku tidak ingin menikah. Aku tidak mau dan belum siap. Makanya, soal anak ini, aku sempat berpikir ….”
Soraya terdiam sebentar sebelum akhirnya didesak Alexander.
“Berpikir apa?”
“Berpikir, kenapa tidak kamu dan tunanganmu saja yang merawatnya?”
Alexander melengos. Rasanya dia benar-benar kehilangan akal sehat.
Namun, Soraya memiliki alasan atas pemikirannya.
Dia teringat kepada istri-istri ayahnya yang lain, atau ibu-ibu tirinya, yang justru memperlakukannya dengan lebih baik daripada ibu kandungnya sendiri.
Soraya percaya bahwa tidak semua ibu tiri itu buruk.
Pikiran polos tersebut membuat Alexander terkekeh dan sekali lagi hanya bisa mengusap wajahnya.
Tidak. Dia tidak akan pernah memiliki rencana seperti itu.
Selain tidak masuk akal, dia juga tidak mungkin bersikap kurang ajar kepada Hana dengan memintanya merawat anak yang bukan anaknya.
“Lalu, siapa Laith?”
Alexander mengalihkan pembicaraan dengan mempertanyakan siapa pria bernama Laith tersebut.
Soraya hanya sempat menyebut nama sepupunya itu sekali, tetapi hal tersebut sudah cukup memberi Alexander alasan untuk bertanya.
Namun, siapa sangka?
Soraya yang sebelumnya terlihat sedikit lebih tenang ketika membicarakan keburukan orang tuanya tiba-tiba menegang saat mendengar nama Laith.
Beruntung, pada saat suasana mulai terasa tegang, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Alexander.
Adiknya, Patris.
--- Kakak, cepat pulang. Ibu sakit. ---