IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Lamaran Penuh Kecewa
Sejak perceraiannya dengan Brooklyn resmi selesai beberapa bulan lalu, Liam Whitmore merasakan sesuatu yang ia yakini sebagai kebebasan sejati untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun terakhir. Tidak ada lagi rasa bersalah yang menghantuinya setiap kali ia menghabiskan waktu bersama Helena, tidak ada lagi kewajiban formal yang mengikatnya pada seseorang yang tidak pernah benar-benar ia cintai. Helena kini tinggal sepenuhnya bersamanya di penthouse mewah tersebut, menggantikan setiap jejak keberadaan Brooklyn yang perlahan mulai menghilang dari kehidupan sehari-harinya.
Liam merasa dirinya telah menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang sejak Helena pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu. Setiap pagi, ia terbangun dengan Helena di sampingnya, setiap malam mereka menghabiskan waktu bersama tanpa beban apa pun—sebuah kehidupan yang selama ini selalu ia impikan namun tidak pernah bisa ia raih karena keterikatan pernikahannya dengan Brooklyn.
Kini, dengan status lajangnya yang telah kembali sepenuhnya, Liam memutuskan bahwa sudah waktunya baginya untuk mengambil langkah besar berikutnya—melamar Helena secara resmi, menjadikan hubungan mereka yang telah lama tertunda akhirnya sah di mata hukum dan masyarakat.
Ia menghabiskan waktu berminggu-minggu merencanakan lamaran yang sempurna, memilih sebuah restoran mewah di puncak salah satu gedung tertinggi Manhattan dengan pemandangan spektakuler ke arah cakrawala kota yang berkilauan di malam hari. Ia juga mengunjungi sebuah toko perhiasan ternama di Fifth Avenue, memilih dengan teliti sebuah cincin bertatahkan berlian yang menurutnya cukup elegan dan berkelas untuk melamar wanita yang telah lama ia cintai.
...***...
Malam lamaran itu tiba dengan suasana yang begitu romantis. Liam telah memesan meja terbaik di restoran tersebut, lengkap dengan lilin-lilin kecil yang tersebar di sekeliling meja dan seorang pemain biola yang mengalunkan melodi lembut sebagai latar suasana. Helena tampak begitu anggun malam itu, mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang menonjolkan kecantikannya, rambut hitamnya tergerai indah di bahunya.
Setelah menyelesaikan hidangan utama mereka, Liam mengumpulkan seluruh keberaniannya, jantungnya berdebar kencang dengan campuran kegugupan dan kebahagiaan yang telah lama ia nantikan. Ia berdiri dari kursinya, berlutut di hadapan Helena yang menatapnya dengan mata membelalak penuh keterkejutan yang dibuat-buat, meski sesungguhnya ia telah menduga momen ini akan segera tiba.
"Helena," ucap Liam, suaranya bergetar oleh emosi yang begitu mendalam, "aku sudah menunggu momen ini sejak lama. Sejak kau kembali ke dalam hidupku, aku menyadari bahwa kaulah satu-satunya wanita yang benar-benar aku cintai sepanjang hidupku."
Ia mengeluarkan kotak beludru kecil dari saku jasnya, membukanya perlahan untuk memperlihatkan cincin berlian yang telah ia pilih dengan penuh kehati-hatian. "Maukah kau menikah denganku, Helena?"
Beberapa tamu di restoran tersebut yang menyadari momen romantis itu mulai bertepuk tangan pelan, menantikan jawaban bahagia yang seharusnya keluar dari mulut Helena. Namun alih-alih memberikan jawaban yang diharapkan, ekspresi Helena justru berubah menjadi kurang menyenangkan ketika matanya menatap lebih dekat cincin yang disodorkan Liam kepadanya.
"Liam," ucap Helena dengan nada yang mulai terdengar kurang antusias, "cincin ini... apakah ini benar-benar yang terbaik yang bisa kau berikan?"
Senyum Liam yang tadinya penuh harap mulai memudar mendengar reaksi tidak terduga itu. "Apa maksudmu? Aku memilih cincin ini dengan sangat hati-hati, Helena. Ini adalah salah satu desain terbaik dari butik perhiasan ternama di Fifth Avenue."
Helena mengambil kotak cincin itu dari tangan Liam, memutar-mutarnya sejenak sambil mengamati dengan ekspresi yang semakin tidak puas. "Berliannya terlalu kecil, Liam. Dan desainnya begitu sederhana, hampir terkesan murahan untuk ukuran seorang wanita sepertiku. Aku pikir kau akan memberikan sesuatu yang jauh lebih mewah, mengingat kekayaan keluarga Whitmore."
Kata-kata itu membuat Liam terdiam, sedikit terkejut dengan reaksi yang begitu jauh dari yang ia bayangkan. "Helena, aku memilih cincin ini karena desainnya yang elegan, bukan karena ukurannya semata. Aku pikir kau akan menyukai kesederhanaan yang timeless dari cincin ini."
"Kesederhanaan?" Helena tertawa kecil, namun tawa itu terdengar sinis, jauh dari tawa hangat yang biasa ia tunjukkan di depan Liam. "Liam, aku sudah lama meninggalkan gaya hidup sederhana. Aku pikir kau memahami itu setelah bertahun-tahun mengenalku. Aku pantas mendapatkan sesuatu yang jauh lebih spektakuler dibandingkan cincin sekecil ini."
Beberapa tamu di sekitar mereka yang tadinya bersiap untuk merayakan momen bahagia itu kini mulai saling bertukar pandang canggung, menyadari suasana yang mulai berubah menjadi tidak nyaman. Liam sendiri merasakan wajahnya memanas karena rasa malu bercampur kekecewaan yang mendalam, menyadari bahwa lamarannya yang telah ia rencanakan dengan begitu matang kini berujung pada penolakan yang begitu menyakitkan di depan umum.
"Jadi... kau menolak lamaranku?" tanya Liam pelan, suaranya terdengar begitu kecewa, jauh berbeda dari keyakinan penuh yang ia tunjukkan beberapa menit sebelumnya.
Helena menghela napas, menutup kotak cincin itu dan mengembalikannya kepada Liam dengan gerakan yang terkesan acuh tak acuh. "Aku tidak bilang aku menolakmu sepenuhnya, Liam. Aku hanya berpikir kau seharusnya bisa memberikan yang lebih baik. Mungkin kau bisa mempertimbangkan kembali pilihan cincin ini, atau bahkan lebih baik lagi jika kita bicara tentang perjanjian pranikah yang lebih... menguntungkan bagiku, mengingat semua yang telah kukorbankan dengan meninggalkan kehidupanku sebelumnya demi kembali kepadamu."
Kata-kata itu terdengar begitu dingin dan penuh perhitungan, sebuah sisi dari Helena yang belum pernah benar-benar Liam saksikan sebelumnya dengan begitu jelas. Namun kecintaannya yang telah lama membutakan penilaiannya membuat Liam memilih untuk mengabaikan tanda bahaya yang seharusnya begitu jelas terlihat dalam ucapan Helena malam itu.
"Baiklah," ucap Liam akhirnya, suaranya terdengar lelah namun masih berusaha mempertahankan sedikit harapan. "Aku akan mencari cincin yang lebih sesuai dengan seleramu. Dan kita bisa membicarakan lebih lanjut tentang perjanjian pranikah yang kau maksud."
Helena tersenyum tipis mendengar jawaban itu, meski senyumnya kali ini lebih terlihat seperti kepuasan atas keberhasilannya menekan Liam untuk memenuhi keinginannya, dibandingkan kebahagiaan seorang wanita yang baru saja menerima lamaran dari pria yang ia cintai.
Malam itu, dalam perjalanan pulang menuju penthouse mereka, Liam duduk diam di dalam mobil, pikirannya dipenuhi kekecewaan yang sulit ia jelaskan. Ia menghela napas panjang, menatap keluar jendela mobil yang melintasi jalanan Manhattan yang berkilauan di malam hari, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa reaksi Helena malam itu hanyalah kesalahpahaman kecil yang bisa diperbaiki dengan mudah.
Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah pertanyaan kecil yang tidak nyaman mulai muncul—pertanyaan tentang apakah Helena benar-benar mencintainya seperti yang selama ini ia yakini, ataukah ada sesuatu yang jauh lebih dangkal dan mementingkan diri sendiri yang tersembunyi di balik kecantikan dan pesona yang selama ini begitu memikat hatinya.
Ia teringat sekilas pada Brooklyn, pada bagaimana wanita itu tidak pernah sekali pun mengeluh tentang hadiah-hadiah yang ia berikan, bahkan ketika Liam sendiri yang terus menolak dan menghancurkan setiap usaha tulus yang Brooklyn tunjukkan selama bertahun-tahun pernikahan mereka. Namun dengan cepat ia menepis pikiran itu, tidak ingin membandingkan Helena dengan mantan istrinya yang telah menjadi bagian dari masa lalunya yang telah ia tinggalkan jauh di belakang.
"Ini hanya awal yang canggung," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mulai diliputi keraguan. "Semuanya akan membaik setelah aku memberikan apa yang dia inginkan."