NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - Uang Pertama dari Plaza

Intan menjelaskan kepada Bapak sambil membereskan gerobak pada malam itu. "Mungkin besok Bapak harus mengantar bahan sampai dua kali. Nanti kutaruh di rumah saja. Rumah kita sejuk ketika cuaca panas begini; asal kipas dinyalakan, mutiara tidak akan basi meski tidak disimpan di lemari es. Soal teh hitam, Bapak bisa memasaknya waktu pulang siang, biarkan dingin, lalu kirim ke plaza sepulang kerja nanti sore, baik?"

Bapak mendengarnya sampai bersemangat. "Nak! Kamu mau memperbesar usahamu! Ini tidak terlalu berat?"

Intan menggeleng. "Tidak, Pak. Sebaliknya, aku merasa bahagia. Mencari uang dengan keringat sendiri itu terasa aman."

Bapak mulai khawatir lagi. "Kalau begitu, kamu jangan sampai berhenti belajar hanya karena buka gerobak!"

Intan terkejut sesaat, lalu tersenyum. "Pak! Bapak terlalu cemas! Mana mungkin aku tidak belajar demi jualan? Aku juga ingin masuk universitas ternama!"

Mendengar itu, Bapak merasa jauh lebih lega. Bukannya dia tidak percaya kepada Intan; hanya dalam hati Bapak masih menyimpan dugaannya sendiri, bahwa ini baru hari pertama saja; mungkin setelah sibuk sepuluh atau dua puluh hari, Intan tidak tahan lagi, lalu menyerah pulang dan sejak itu tahu hidup ini tidak mudah. Bapak sama sekali belum menyangka, bahwa yang disebut tidak tahan itu tidak akan pernah dialaminya.

Malam itu angin laut bertiup pelan, meredakan sisa panas yang masih menempel di dinding rumah. Isi gerobak yang tadi dibongkar untuk dibersihkan mereka susun kembali untuk esok paginya. Jarum jam sudah lewat pukul sembilan, tetapi tidak seorang pun di antara mereka menghitung lelah; pikiran mereka tertuju pada bayangan mangkuk mutiara yang mengalir segar di siang yang akan datang.

Sayangnya, kali ini Bapak salah menilai kemampuan anak perempuannya.

Intan mengeratkan gigi dan bertahan setengah bulan tanpa sekali pun mengeluh. Usaha gerobak es campurnya bahkan semakin hari semakin bagus, sampai Bapak akhirnya harus ikut membangun gerobak yang lebih besar untuk Intan. Gerobak becak yang dulu sudah tidak muat menampungnya lagi.

Gerobak itu jelas sudah tidak mungkin dipakai. Untungnya, ada jalan keluar: mereka menyewa sebuah pojok di toko air mineral di sisi timur plaza, yang agak tersembunyi dari keramaian tetapi tetap mudah dijangkau pembeli yang lewat. Kebetulan toko air mineral berbeda dengan toko pakaian dan aksesori; karyawannya selalu keluar-masuk mengantar air, jadi tidak masalah kalau tokonya sedikit berantakan di bagian pojok. Lagi pula, sewa yang mereka bayar sebesar Rp 500.000 sebulan itu sudah termasuk tempat yang teduh dan lapang, dengan bos yang malah menyambutnya dengan senyum lebar. Mana ada yang menolak tambahan penghasilan yang sudah menunggu di depan mata? Pojok itu lalu disulap Intan menjadi dapur kecil: ketel teh, kulkas minuman, dan kotak mutiara berderet rapi.

Dan waktu tutup gerobaknya juga berubah. Dari semula pukul empat sore, kini Intan tidak bisa pulang sebelum pukul sembilan malam. Sore hari yang dahulu digunakannya untuk mengayuh pulang sambil menikmati senja, sekarang habis untuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Setiap kali Bapak mengantar makanan pada malam hari, Intan tahu ia harus ikut tinggal dan membantu sampai gerobak beres. Lampu plaza yang menyala kuning itu menjadi saksi betapa mereka berdua mengayuh sampai larut.

Begitu gerobak beres, Intan masih menghitung sisa kembalian dan menyimpannya di laci kecil, sejumlah yang terasa besar karena datang dari tangannya sendiri. Koin-koin itulah yang kelak membeli kebebasan mereka, satu demi satu.

Hari itu, setelah pertengkaran Nina di plaza, keluarga Paman Sudarmo tidak bisa tenang. Nina menceritakan bagaimana dia bertemu Intan dan Bapak yang sedang berjualan di Plaza Cendrawasih, bagaimana Intan tidak memberi muka, dan bagaimana dia dipermalukan di depan umum.

Paman Sudarmo sedikit terkejut mendengar Bapak Sutrisno berjualan gerobak, sedangkan Tante Sri Rahayu semakin memandang rendah keluarga Intan. Sebelumnya, dia memang sudah memandang rendah, tetapi dia masih memberi Paman Sudarmo muka dan tidak pernah membicarakan keburukan keluarga Intan di depan Sudarmo. Sekarang keluarga Intan sampai membuka gerobak jalanan, bagaikan menyenggol sarang lebah.

Tante Sri Rahayu berkata dengan nada tidak enak. "Saudaramu semakin 'hebat' saja! Sekarang sampai jualan gerobak! Dengarkan baik-baik: mulai sekarang, kalau bertemu mereka di jalan, kamu tidak boleh menyapa! Tak perlu sungkan! Kalau orang di unitmu tahu kamu punya adik yang jualan gerobak, apa kata mereka? Kamu juga tidak akan sanggup mengangkat wajah seperti itu!"

Setelah mengomeli Paman Sudarmo, Tante Sri Rahayu menatap Nina lagi dan memberi pelajaran dengan suara keras. "Sudah kubilang dari dulu, jangan memprovokasi Intan. Nanti dia juga jadi marah. Sekarang kau sudah mendapat balasan di tangan orang lain. Kalau sampai kudengar kejadian semacam ini lagi, uang jajananmu kupotong semua!"

Paman Sudarmo dan Nina sama-sama kesal karena Tante Sri Rahayu sudah keterlaluan. Begitu Sri Rahayu pergi, Nina menyeka air matanya lalu menatap Paman Sudarmo. "Papa, kalau Papa tidak menuruti Mama kali ini, Mama benar-benar akan bertengkar dengan Papa."

Wajah Paman Sudarmo berubah, ia tampak gelisah dalam pertarungan batinnya. Sejujurnya, dia tidak begitu sayang kepada adiknya, Bapak Sutrisno. Saudaranya itu memang bersifat egois. Ketika dulu dia memilih merapat ke keluarga yang lebih terhormat lewat menikah dengan Sri Rahayu, dia sudah membuat ayahnya kecewa dan putus hubungan dengan keluarganya. Lagi pula, setelah sekian tahun tidak saling mengunjungi, hubungan dua keluarga itu sudah lama renggang. Waktu Bapak Sutrisno kekurangan uang, Paman Sudarmo khawatir rumahnya akan didatangi. Beruntung Bapak Sutrisno tidak pernah datang untuk kepentingan uang, jadi mereka berdua masih bisa saling menyapa sesekali. Itulah yang membuat keputusan malam ini terasa jauh lebih berat daripada yang ingin ia akui.

Sekarang tampaknya, mulai seterusnya mereka benar-benar harus berpura-pura asing kalau bertemu. Kalau sampai orang tahu adiknya berjualan gerobak, dia yang kini menjadi kepala Dinas Pertanahan itu tidak akan sanggup mengangkat kepala!

Memikirkan itu, Paman Sudarmo merasa luka hati, lalu mengangguk gusar. "Dengarkan saja, Mama. Mulai sekarang tidak boleh mengunjungi sepupumu lagi. Kalau Mama tidak senang, Papa tidak akan membelamu."

Nina tidak rela, tetapi dia tidak mengenal siapa pun di sekitar Intan, jadi mustahil baginya untuk berbuat apa-apa. Lagi pula dia sudah kelas tiga SMA dan tidak punya banyak tenaga untuk berpikir macam-macam. Dia hanya bisa mengumpat-nyebut nama Intan beratus-ratus kali dalam hatinya, sambil membayangkan suatu hari nanti Intan akan tersandung di depannya. Namun, di luar itu, kejadian hari itu meninggalkan satu pelajaran yang tidak bisa dia sangkal: sepupu miskin yang dulu suka dia tinjau dari atas itu kini berdiri di tengah keramaian Plaza Cendrawasih, berjualan dengan gagah perkasa, dan tidak Sedikit pun putus asa.

1
Kartika Candra Buwana
pasti ada rahasia disitu
Kartika Candra Buwana
mungkin bisa pakai masker
Kartika Candra Buwana
kakek yang luar biasa
Putry Chan
sebenarnya tadi itu apa ya
Kartika Candra Buwana: nanti akan tau deh
total 1 replies
Putry Chan
rumah ini beneran udh tua ya gak da yang tempatin juga banyak debu nya
Putry Chan
Kakek nya sudah tidak ada tapi kenangan itu masih ada sampai saat ini
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!