NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5.

Di sebuah rumah megah nan mewah yang berdiri kokoh, tampak tiga orang pria berbeda usia sedang dilanda kecemasan. Mereka terus mondar-mandir menunggu kedatangan seseorang yang hingga larut malam begini belum juga memunculkan batang hidungnya.

"Kemana anak itu? Bilangnya mau langsung pulang, tapi sampai sekarang belum sampai juga," ucap Anton Benedict sembari melirik jam tangannya.

"Mungkin jalanan sedang macet, Mas. Tunggu saja sebentar lagi," sahut sang istri, Louis, mencoba menenangkan suaminya meski hatinya sendiri tidak tenang.

Tak berselang lama, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menggema di dalam rumah mewah tersebut.

"Kenapa, Dad?" tanya anak ketiga mereka, Michael, yang baru saja turun dari lantai atas.

"Maxime sampai sekarang belum pulang. Daddy hanya khawatir kalau di tengah jalan dia dicegat oleh musuh," jawab Anton penuh kecemasan.

"Biar saya saja yang pergi mencari Maxime, Dad," usul Michael dengan sigap.

Namun, baru saja Michael beranjak dari tempat duduknya, suara dering ponsel milik Louis memecah keheningan. Louis bergegas memeriksa layar ponselnya, dan senyum lega langsung terukir saat melihat nama 'Maxime' tertera di sana.

"Halo, Max! Kamu ada di mana sekarang? Kenapa kok belum sampai ke rumah?" rentetan pertanyaan langsung meluncur dari bibir Louis dengan nada terburu-buru.

"Saya di rumah sakit, Mom," jawab Maxime dari seberang telepon dengan suara yang terdengar agak lemas.

" Rumah sakit?! Kamu sakit apa? Kasih tahu Mommy sekarang, di mana rumah sakitnya?!" pekik Louis panik, membuat Anton dan Michael langsung menoleh serentak.

"Mom, tenang. Saya tidak apa-apa. Saya ada di Rumah Sakit Medika," ucap Maxime menenangkan ibunya.

"Mommy ke sana sekarang!" Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Louis langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. "Mas, Max ada di rumah sakit! Kita kesana sekarang!"

"Hmm." Anton mengangguk tegas. Tanpa membuang waktu, mereka bertiga langsung bergegas pergi menuju rumah sakit.

Sementara itu, di koridor rumah sakit...

"Kak, kita pulang yuk. Aku mengantuk sekali," rengek Revangga dengan mata yang sudah memerah karena menahan kantuk yang teramat sangat.

"Hoammm... benar, Kak. Sampai kapan kita harus menunggui dia sih? Lagian dia kan sudah besar juga," timpal Brian ikut menguap lebar.

Tian menghela napas, merasa iba melihat adik-adiknya yang kelelahan. "Ya sudah, kalian berdua pulang duluan saja untuk tidur. Biar Elvian yang tinggal di sini untuk menemani Max."

Mendengar namanya disebut, Elvian yang sejak tadi asyik bermain ponsel langsung mendongak. Dia menatap Tian dengan tatapan horor. "Loh? Kok kenapa jadi saya?!" protesnya menunjuk dada sendiri dengan bingung.

"Kan kamu tadi siang sudah pulang, sudah tidur, dan sudah mandi. Jadi, kondisi kamu yang paling segar sekarang. Kamu harus nungguin Max sampai keluarganya datang," jelas Tian dengan logis.

"Ogah! Lebih baik aku tidur di rumah daripada harus menunggui dia! Saudara bukan, teman bukan, pacar juga bukan!" tolak Elvian mentah-mentah.

Tian langsung memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Elvian."

"Apa sih, Kak? Orang aku tidak mau, kenapa harus El yang tampan ini yang dikorbankan? Coba lihat, di dalam kan ada suster juga yang menjaga dia," gerutu Elvian dengan bibir mengerucut, tidak terima dengan keputusan sepihak kakaknya.

"Apa salahnya sih, El? Hitung-hitung menemani calon pacar elo sendiri, kan?" goda Brian menyengir kuda.

"Semprul! Kagak, ya! Gue mau pulang! Elo aja sono yang nungguin dia. Siapa tahu elo malah dijadikan bodyguard pribadinya, secara badan elo kan gede kayak gorila," balas Elvian sengit.

Revangga yang mendengar itu langsung tertawa pelan. "El kalau ngomong suka benar ya," ucapnya ikut mengejek Brian.

"Enak aja elo samain gue dengan gorila! Gue ini rajin nge-gym ya, makanya badan gue berotot! Bukannya kayak elo, badan kerempeng begitu kena angin dikit aja langsung terbang," cibir Brian tidak mau kalah

Aduh, kalian berdua ini bisa diam tidak sih? Ribut melulu setiap bertemu, sudah kayak Tomcat tahu tidak? El, pokoknya kamu yang jaga di sini. Titik, tidak pakai koma!" tegas Tian memotong perdebatan.

"Ck, iya, iya, Kakakku sayang, honey, sweetie, bunny," ucap Elvian pasrah seraya memutar bola matanya malas.

"Dadaaa, El! Selamat pendekatan ya!" seru Brian riang sambil melambaikan tangannya penuh kemenangan.

"Gue lempar juga nih kursi ke muka lo ya!" kesal Elvian mengepalkan tangannya.

"Hahaha! Hahaha!" tawa Brian berderai riang saat melangkah pergi menjauh bersama Tian dan Revangga.

Dengan langkah gontai dan wajah cemberut, Elvian membuka pintu kamar rawat. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang ada di sudut ruangan.

"Kemana teman-temanmu?" tanya Maxime yang sejak tadi memperhatikan kedatangan pemuda manis itu.

"Pulang. Gue disuruh Kak Tian buat jagain elo di sini," jawab Elvian ketus dengan wajah murung.

"Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Kamu tidak mau menjaga saya di sini?" tanya Maxime lagi, suaranya terdengar dingin namun matanya terus mengunci sosok Elvian.

"Kalau tidak dipaksa Kak Tian, ogah banget gue nungguin elo di sini," ketus Elvian blak-blakan.

"Kenapa?"

"Gue kan tidak kenal sama elo. Ngapain juga harus ditungguin? Saudara bukan, teman bukan, pacar juga bukan," gerutu Elvian tanpa beban.

Mendengar kata 'pacar', sebuah ide melintas di kepala sang bos mafia. "Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menjadi pacar saya sekarang?"

Hee?!"

Belum sempat Elvian mencerna ucapan tersebut, Maxime dengan gerakan cepat menarik pergelangan tangan Elvian. Karena tidak siap, tubuh Elvian kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh tepat di atas dada bidang Maxime.

"E-elo ngapain?!" gagap Elvian seketika. Jantungnya berdegup kencang saat merasakan lengan kekar Maxime melingkar erat di pinggangnya, mengunci posisinya agar tidak bisa kabur.

"Mau jadi pacar saya?" bisik Maxime intens.

"Tidak mau! Lepas!" berontak Elvian mencoba mendorong dada Maxime.

"Tidak akan saya lepaskan sebelum kamu mau menjadi pacar saya," ancam Maxime dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.

"Kenapa memaksa banget sih?! Baru juga kenal beberapa jam, malah maksa orang jadi pacar!" Elvian mendengus kesal, wajahnya memerah karena malu dan marah yang bercampur jadi satu.

Mau atau tidak?" tanya Maxime lagi, mempererat pelukannya.

Elvian yang mulai merasa sesak akhirnya menyerah kalah. "Huuuh, iya, iya! Sekarang lepasin gue!"

Maxime tersenyum miring penuh kemenangan. Dia melonggarkan pelukannya dan menatap lekat manik mata Elvian. "Sekarang, kamu resmi jadi pacar saya."

"Iya, tapi bohong! Hahaha!" Elvian langsung menjulurkan lidahnya dan tertawa mengejek. Dia segera bangkit dan bersiap untuk berlari menuju pintu keluar. Namun, refleks seorang mafia tentu jauh lebih cepat. Maxime kembali menarik tangan Elvian dengan sentakan kuat hingga pemuda itu kembali terjatuh ke pelukannya.

"Huaaaa, tolong! Emmph—"

Kata-kata Elvian terputus seketika saat bibir Maxime langsung membungkam bibirnya. Elvian membelalakkan matanya dengan lucu, terkejut setengah mati karena ciuman pertamanya telah direbut secara paksa oleh pria asing di hadapannya.

"Emm... ber... emmph... ti..." Elvian mencoba memukul dada Maxime saat pasokan udaranya mulai menipis.

Maxime akhirnya menyudahi ciuman sepihak itu dengan perlahan saat menyadari Elvian mulai kesulitan bernapas.

"Ha... ha... elo... ha... gila ya?! Mau buat gue mati lemas, hah?!" bentak Elvian dengan napas tersengal-sengal, menatap tajam ke arah Maxime yang tampak santai.

"Manis," gumam Maxime dengan tatapan menggelap. Dia kembali memajukan wajahnya, berniat untuk mencicipi bibir ranum itu sekali lagi.

"Huaaaa! Tolong! Ada orang mesum di sini! Huaaaa—" teriak Elvian panik, mencoba menghindar.

Brak!

Pintu kamar rawat mendadak terbuka dengan kasar. "Max! Apa yang ter—"

Perkataan Louis terhenti di udara. Matanya membelalak sempurna saat melihat anak keduanya yang biasanya bersikap dingin dan tidak tersentuh, kini sedang memeluk erat seorang pemuda manis di atas ranjang rumah sakit dengan posisi yang sangat intim.

Maxime dengan tenang melepaskan pelukannya, sementara Elvian langsung melompat turun dari ranjang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam karena rasa malu yang teramat sangat. Rasanya dia ingin menghilang dari bumi saat ini juga.

"Loh, kamu siapa, Nak? Kok bisa ada di sini bersama putra saya?" tanya Louis beralih menatap Elvian dengan pandangan menyelidik namun ramah.

"Saya... saya..." Elvian mendadak gagap, bingung harus menjelaskan dari mana.

"Dia kekasih saya, Mom," potong Maxime dengan santai.

Seketika itu juga, Elvian melotot horor ke arah Maxime, sementara sang bos mafia hanya membalasnya dengan tatapan datar tanpa dosa.

"Bu... Bukan, Tuan! Bukan begitu!" sanggah Elvian dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Loh, yang benar yang mana ini? Mommy jadi bingung," ucap Louis menatap bergantian ke arah dua pemuda di depannya.

"Bukan!" / "Iya." Jawab Elvian dan Maxime bersamaan.

"Dia pacar aku, Mom. Kami baru saja jadian tadi. Benar kan, Honey?" ucap Maxime dengan nada yang sengaja dibuat lembut di akhir kalimat, membuat bulu kuduk Elvian meremajang.

"Apaan?! Orang elo tadi paksa gue buat jadi pacar elo!" protes Elvian tidak terima, melupakan rasa takutnya sejenak.

Louis beralih menatap tajam ke arah putra keduanya. "Benar begitu, Max? Kamu memaksa anak manis ini?"

Benar," jawab Maxime jujur tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Louis menghela napas panjang lalu mendekati Elvian. "Aduh, maafkan putra Mommy ya, Nak. Max memang selalu begitu, suka memaksa. Maaf ya kalau dia sudah memaksa kamu jadi pacarnya."

"Eh, tidak apa-apa kok, Tuan... eh, Om... Tan..." Elvian mendadak kebingungan harus memanggil wanita paruh baya yang terlihat sangat berkelas di depannya ini dengan sebutan apa.

"Panggil Mommy saja, Nak," potong Louis lembut sembari tersenyum hangat.

"Iya, Mom." Elvian tersenyum canggung. (Kenapa gue malah ikutan panggil dia Mommy sih?) keluhnya meratapi nasib dalam hati.

"Kalau boleh Mommy tahu, kamu kenal dengan Max dari mana? Karena setahu Mommy, Max tidak punya teman atau kenalan di Indonesia," tanya Louis penasaran.

"Oh, itu, Mom. Tadi sore kami sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen menggunakan mobil. Tiba-tiba saja Tuan Max ini melintas di depan mobil kami dalam keadaan terluka parah. Karena panik, kami langsung membawa dia ke rumah sakit ini," jelas Elvian panjang lebar.

"Kami?" tanya Louis mengulang kata tersebut.

"Maksudnya, saya bersama sahabat-sahabat saya, Mom. Tapi karena sudah larut malam, mereka sudah pulang duluan ke apartemen untuk istirahat. Besok mungkin mereka akan ke sini lagi untuk menjenguk," jawab Elvian, yang langsung diangguk-angguki oleh Louis tanda mengerti.

Sementara Louis sibuk berbincang dengan Elvian, Anton dan Michael melangkah mendekati ranjang Maxime. Tatapan Anton berubah menjadi sangat dingin dan serius.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Anton langsung pada inti masalah.

"Tiger," jawab Maxime singkat, menyebutkan nama pimpinan dari kelompok mafia musuh mereka.

"Dia lagi," desis Michael geram. "Dad, sepertinya kita harus benar-benar menghabisi kelompok mafia Tiger itu sekarang juga, biar mereka tidak terus-menerus mengganggu keluarga kita."

Anton Benedict menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan bahaya. "Daddy sudah memerintahkan seluruh anak buah terbaik kita untuk melenyapkan kelompok mafia kecil itu sampai ke akar-akarnya. Mereka tidak akan melihat matahari esok hari."

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!