NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Kecil Dibarisan Belakang

Hari Selasa siang selalu menjadi waktu yang paling dihindari oleh hampir seluruh murid kelas 7-B. Di jam-jam terakhir setelah istirahat kedua, udara luar yang panas berpadu dengan dengung lambat kipas angin gantung di langit-langit kelas, menciptakan gelombang kantuk yang luar biasa. Ditambah lagi, papan tulis di depan kini sudah dipenuhi oleh barisan rumus Matematika yang ditulis rapat oleh Pak Danu, guru paling killer di sekolah menengah mereka.

Auren mencoba sekuat tenaga untuk tetap fokus. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang pulpen gel hitam pemberian Evan, menggoreskan angka-angka ke dalam buku catatan sekretarisnya. Namun, konsentrasinya mendadak buyar saat sebuah robekan kertas kecil yang dilipat rapi mendarat tepat di atas bukunya.

Auren melirik ke samping kanan. Evan sedang menatap lurus ke papan tulis dengan wajah yang dibuat seolah-olah sangat serius mendengarkan penjelasan Pak Danu. Namun, tangan kirinya diam-diam mengetuk meja dua kali.

Tok... tok...

Auren perlahan membuka lipatan kertas kecil itu di bawah kolong meja. Di dalamnya, ada sebuah gambar karikatur wajah Pak Danu yang digambar dengan sangat lucu oleh Evan, lengkap dengan kumis tebalnya yang digambar meliuk-liuk seperti ulat bulu. Di bawah gambar itu, Evan menulis: “Sekretaris, kalau lo merem semenit lagi, gue laporin ke Pak Danu lo lagi mimpiin ring basket.”

Auren spontan menggigit bibir bawahnya, menahan sekuat tenaga agar suara tawa kecilnya tidak pecah dan mengundang perhatian. Ia menoleh ke arah Evan, lalu berbisik dengan suara yang sangat pelan. "Evan, ih! Penghapusnya mana? Sini aku hapus kumisnya, kasihan tahu."

Evan ikut mendekatkan kepalanya ke arah meja Auren, mereduksi jarak di antara mereka hingga bahu seragam putih mereka kembali bersentuhan. "Jangan dihapus, Ren. Itu mahakarya gue siang ini. Lagian lo lemas banget, belum makan ya pas istirahat tadi?" bisik Evan, matanya sesekali melirik ke arah depan kelas untuk memastikan posisi Pak Danu.

"Udah kok, cuma rumus di depan itu bikin pusing," balas Auren sambil cemberut kecil, mengarahkan telunjuknya ke papan tulis.

"Tenang, nanti pulang sekolah gue jamin lo paham. Gue ajarin di halte, tapi bayar pakai senyuman ya," goda Evan lirik. Kerlingan mata jahilnya dan lesung pipit yang menyembul samar membuat debaran di dada Auren mendadak berdegup jauh lebih kencang daripada rasa kantuknya.

Auren mencubit pelan lengan jaket olahraga yang dipakai Evan. "Evan, jangan bercanda terus, nanti ketahu—"

"Evan! Auren! Barisan pojok belakang!"

Suara lantang dan berat milik Pak Danu mendadak menggelegar, memutus aliran udara di dalam kelas 7-B dalam sekejap. Ketukan keras penggaris kayu panjang pada papan tulis membuat seisi kelas yang tadinya mengantuk langsung menegakkan punggung mereka. Puluhan pasang mata—termasuk Balisya yang duduk di barisan paling depan—serentak memutar tubuh mereka, menatap lurus ke arah pojok belakang.

Auren merasa seluruh darahnya surut dari wajahnya. Jantungnya mencelos hebat. Ia langsung duduk tegak, menyembunyikan kertas karikatur tadi rapat-rapat di dalam kepalan tangannya yang gemetar karena takut.

"Sepertinya obrolan kalian berdua jauh lebih menarik daripada rumus fungsi di papan tulis ini, ya?" sindir Pak Danu sambil menurunkan kacamata bacanya, menatap tajam ke arah mereka dari balik meja guru. "Ketua Kelas dan Sekretaris baru kita ini kompak sekali. Coba, Evan, berdiri! Jelaskan apa yang baru saja kalian diskusikan sore-sore begini!"

Suasana kelas mendadak sepi senyap, menyisakan derit canggung dari kursi kayu Evan yang bergeser. Auren menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung rok birunya dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Ia takut Evan akan dihukum keliling lapangan atau dijemur di depan tiang bendera gara-gara keisengannya membalas bisikan tadi.

Namun, Evan berdiri dengan sikap yang sangat tenang. Tidak ada raut wajah panik atau takut pada Ketua Kelas itu. Ia merapikan sedikit kerah seragamnya, lalu menatap Pak Danu dengan sopan.

"Maaf, Pak," suara Evan terdengar lantang dan tenang memenuhi ruangan kelas. "Tadi saya sedang meminta penjelasan dari Auren soal rumus nomor tiga yang belum sempat saya catat karena ketinggalan minggu lalu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi di jam pelajaran Bapak."

Pak Danu terdiam beberapa saat, mengamati sorot mata Evan yang tampak sangat bertanggung jawab, lalu beralih menatap Auren yang masih menunduk ketakutan. Dari barisan depan, Auren bisa melihat Balisya melemparkan pandangan sinis yang dingin, seolah sedang menikmati momen di mana imej Auren sebagai sekretaris teladan sedikit tercoreng di depan guru.

"Ya sudah, karena kamu Ketua Kelas dan alasanmu jelas, kali ini Bapak maafkan," kata Pak Danu akhirnya, meletakkan kembali penggaris kayunya. "Tapi sebagai konsekuensinya, karena kalian berdua sudah sangat kompak mengobrol, tugas latihan halaman empat puluh dua di buku paket harus kalian selesaikan hari ini juga. Setelah bel pulang, kalian berdua tidak boleh keluar kelas sebelum tugas itu dikumpulkan di meja saya. Paham?"

"Paham, Pak. Terima kasih," jawab Evan tenang sebelum kembali mendudukkan tubuhnya di kursi.

Begitu Pak Danu kembali berbalik menghadap papan tulis untuk melanjutkan pelajaran, seisi kelas mengembuskan napas lega secara massal. Auren pun perlahan mengangkat wajahnya, melepaskan kepalan tangannya yang berkeringat.

Di sebelahnya, Evan kembali menggeser duduknya sedikit mendekat. Alih-alih terlihat kesal atau terbebani karena mendapat hukuman tambahan sepulang sekolah, cowok itu justru menoleh ke arah Auren sambil mengulum senyum lebarnya yang sangat manis. Tangan kirinya bergerak di bawah meja, mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali dengan sangat lembut menggunakan jari telunjuknya.

"Gak apa-apa, Ren. Gak usah takut," bisik Evan pelan, sorot matanya memancarkan kehangatan yang pekat dan menenangkan. "Malah bagus kan? Berarti sore ini kita punya alasan resmi buat tinggal di kelas berdua lebih lama."

Mendengar kalimat tak terduga itu, rasa takut di dada Auren seketika runtuh tanpa sisa, berganti dengan letupan rasa manis yang membuncah hebat hingga membuat pipinya merona merah jambu sempurna. Di bawah deru kipas angin hari Selasa siang yang panas itu, hukuman dari Pak Danu tidak lagi terasa menyebalkan. Di masa remaja yang penuh warna ini, ketahuan mengobrol di kelas justru melahirkan sebuah momen canggung yang berakhir sangat manis—sebuah lembar cerita putih-biru baru yang siap mereka selesaikan bersama di ruang kelas yang sepi nanti.

Auren mengembuskan napas pendek, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dadanya. Ia perlahan meratakan remasan kertas karikatur di bawah kolong meja agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Setiap goresan kapur tulis Pak Danu yang kembali berdecit di papan tulis terasa seperti ketukan waktu yang lambat, mengiringi sisa-sisa rasa tegang yang belum sepenuhnya hilang dari atmosfer barisan belakang.

Meskipun Pak Danu sudah kembali fokus mengajar, perhatian dari bangku depan belum benar-benar surut. Dari sela-sela pundak teman-temannya, Auren bisa melihat Balisya sengaja memutar sedikit tubuhnya ke arah samping. Di balik jilbab putihnya yang tegak tanpa cela, Balisya melemparkan pandangan tajam yang dingin selama beberapa detik. Tatapan itu seolah-olah penuh dengan kepuasan terselubung, seolah ia sedang berkata bahwa Auren akhirnya melakukan kesalahan di depan guru.

Evan yang menyadari arah pandangan itu sengaja menggeser posisi duduknya sedikit lebih tegap, secara tidak langsung menghalangi radar tatapan Balisya agar tidak langsung mengenai Auren. Begitu Balisya kembali memutar tubuhnya menghadap papan tulis, Evan menoleh ke arah Auren sambil menaikkan satu alisnya, memberikan kode jenaka yang seolah berkata, 'Aman, Sekretaris.'

"Van," bisik Auren dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai desisan angin dari kipas langit-langit. "Kamu beneran bisa ngerjain soal halaman empat puluh dua itu nanti? Itu kan bab fungsi yang rumit banget."

Evan sedikit mencondongkan kepalanya, mereduksi jarak di antara mereka hingga Auren bisa mencium lamat-lamat aroma parfum khas cowok itu yang bercampur wangi ruang kelas. "Tenang aja, Ren. Semalem gue udah sempet baca-baca sedikit bab itu. Lagian, kalau gue gak bisa, kan ada lo yang otaknya lebih encer buat bantuin gue."

"Kan yang dihukum gara-gara kamu yang mulai ngajak ngobrol," balas Auren sambil cemberut kecil, berusaha menyembunyikan getaran manis yang mendadak menggelitik hatinya.

"Iya, iya, gue tanggung jawab penuh deh nanti sore," kekeh Evan lirih, matanya berbinar hangat menatap wajah Auren yang masih sedikit merona merah jambu.

Waktu satu jam terakhir itu terasa berjalan begitu lambat bagi semua anak, kecuali bagi Auren dan Evan. Di bawah meja, jemari Auren sesekali tanpa sengaja menyentuh ujung jaket olahraga yang dipakai Evan saat mereka sama-sama bergerak menyalin rumus dari papan tulis. Setiap sentuhan kecil yang tak sengaja itu selalu berhasil mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat dada Auren berdesir hebat sepanjang sisa pelajaran.

Kringgg!!!

Bel panjang tanda berakhirnya jam sekolah akhirnya berdering dengan sangat nyaring, disambut oleh sorak sorai lega dari seluruh murid kelas 7-B. Dalam hitungan menit, ruangan yang tadinya senyap langsung berubah menjadi riuh rendah oleh suara derit kursi, ritsleting tas yang ditarik, dan obrolan anak-anak yang bersiap pulang.

Putra menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, lalu berjalan mendekati meja pojok belakang. Wakil Ketua Kelas itu memandangi Evan dan Auren bergantian dengan senyuman simpul yang dipenuhi rasa geli. "Gue duluan ya, Pasangan Kompak. Selamat menikmati kencan kedok hukuman dari Pak Danu. Kalau butuh bantuan kunci kelas nanti, hubungi gue aja."

"Sialan lo, Put. Udah buruan balik sana," sahut Evan sambil tertawa kecil, melemparkan sebuah penghapus karet ke arah Putra yang langsung ditangkap dengan lihai oleh cowok itu sambil terbahak-bahak berjalan keluar pintu kelas.

Sementara itu, Balisya melangkah keluar kelas di barisan paling akhir bersama beberapa temannya. Kali ini, ia sama sekali tidak menoleh ke arah belakang maupun memberikan pengumuman organisasi seperti biasanya. Punggungnya tampak menegang kaku di balik jilbab putihnya, melangkah cepat menyusuri koridor lantai dua yang mulai sepi dari aktivitas murid.

Kini, pintu geser kelas 7-B telah ditutup rapat oleh murid terakhir yang keluar. Ruangan kelas yang luas itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan dengung lambat dari kipas angin gantung dan berkas-berkas cahaya matahari sore yang menerobos masuk dari celah jendela kaca, menciptakan siluet garis-garis emas di atas lantai ubin tua.

Evan menggeser kursi kayunya hingga kini posisinya benar-benar tepat berada di samping meja Auren. Jarak yang sangat dekat ini membuat Auren bisa merasakan kehangatan tubuh Evan dan melihat dengan jelas lesung pipit tipis yang menyembul di wajah cowok itu saat ia mulai membuka buku paket Matematika berukuran besar di tengah-tengah meja mereka.

"Oke, Sekretaris," ujar Evan pelan, suaranya melembut, menggema halus di dalam ruang kelas yang sepi. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengetuk permukaan buku paket sebanyak dua kali dengan sangat lembut. "Mari kita mulai menenun lembar hukuman ini menjadi bagian cerita kita selanjutnya. Lo mau ngerjain nomor berapa dulu?"

Auren menatap sepasang mata jernih Evan yang kini menatapnya dengan pekat oleh rasa sayang dan ketulusan. Di masa remaja yang canggung ini, di dalam ruang kelas SMP yang temaram oleh sisa senja hari Selasa, Auren perlahan membuka buku catatannya sendiri. Rasa takut atau kesal karena dihukum telah sepenuhnya menguap tanpa sisa dari dalam dadanya. Menatap senyum manis cowok di sebelahnya, Auren tahu bahwa coretan sketsa putih-birunya sore ini akan mencatat satu lembar cerita hukuman yang paling indah dan menolak untuk dilupakan seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!