Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan di Jalur Cepat
Guncangan keras memukul kabin SUV hitam itu saat mobil eksekutor di sisi kiri mencoba menghimpit ruang gerak Aran. Dari balik kaca pekat yang mulai diturunkan, salah seorang eksekutor bertopeng melayangkan pipa besi tebal, bersiap menghantam kaca belakang tempat Shanum berlindung.
Aran tidak memberi mereka waktu untuk mengeksekusi serangan. Matanya berkilat dingin. Dengan perhitungan presisi yang teruji di medan tempur masa lalunya, Aran menginjak rem secara mendadak.
Ckiit!
Decitan ban yang beradu dengan aspal panas melengking nyaring. Mobil yang dikemudikan Aran melambat drastis dalam fraksi detik. SUV musuh yang berada di sebelah kanan melaju kelepasan karena tak sempat mengantisipasi manuver pengereman tersebut. Posisi kendaraan musuh yang tadinya sejajar kini bergeser, membuka celah sempit di bagian panel belakang mobil mereka.
Tanpa ragu, Aran berpindah ke gigi rendah dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Ia mengeksekusi dengan cara menghantamkan bumper depan kanan mobilnya tepat pada sudut roda belakang kendaraan musuh.
Brak!
Benturan keras tak terelakkan. SUV hitam milik eksekutor hilang kendali seketika, oleng secara liar, lalu berputar seratus delapan puluh derajat sebelum menghantam pembatas beton tol dengan dentuman dahsyat. Asap tebal membubung dari kap mesin kendaraan musuh yang terhenti melintang di tengah jalan.
Satu SUV musuh lainnya yang tertinggal di belakang berusaha merapat kembali untuk mengejar, namun dari lajur kiri, suara raungan mesin lain terdengar keras. SUV yang dikemudikan Baskara berhasil menembus blokade truk kontainer. Baskara membanting setir secara agresif, memotong rute kendaraan musuh dan menghalangi akses mereka untuk mendekati mobil Shanum.
"Aran! Bawa Shanum keluar dari tol sekarang! Kami yang tahan sisanya di sini!" teriak Baskara melalui sambungan radio yang kembali jernih.
Aran tak membuang waktu. Ia memacu SUV utama menembus sisa jalan tol yang membentang, melaju dengan kecepatan tinggi keluar dari gerbang tol terdekat menuju kawasan aman di perkotaan.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Aran akhirnya menepi di pelataran parkir tertutup gedung Al-Maktoum Group yang dijaga ketat oleh personel keamanan internal. Mesin kendaraan akhirnya dimatikan. Suasana kabin yang tadinya dipenuhi desing angin dan suara benturan mendadak hening.
Aran menarik napas panjang, melepas cengkeramannya yang amat kuat dari lingkar kemudi. Ia segera memutar tubuhnya ke belakang, menatap Shanum yang terduduk di kursi penumpang.
"Mbak Shanum? Anda tidak apa-apa?" tanya Aran. Suaranya tidak lagi menunjukkan ketegangan taktis saat bermanuver tadi, melainkan nada khawatir yang sangat tulus.
Shanum perlahan menegakkan posisinya. Napasnya masih sedikit tersengal akibat guncangan keras dan pacuan adrenalin, namun raut wajahnya tetap tenang. Pakaian dan jilbabnya sedikit berantakan, tetapi ia utuh tanpa luka sedikit pun.
Shanum menatap Aran. Mata pengawalnya itu memancarkan kepedulian yang begitu kuat—sebuah tatapan yang membuat seluruh kecemasan di dada Shanum runtuh seketika.
"Saya baik-baik saja, Aran," sahut Shanum lembut. Ia mengusap sisa keringat dingin di pelipisnya. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, senyuman yang menyalurkan rasa lega yang luar biasa. "Terima kasih... kamu menyelamatkan saya lagi."
Aran menghembuskan napas lega yang berat. Ia menundukkan kepalanya sejenak, menjaga batas kesopanan di antara mereka. "Sudah kewajiban saya untuk memastikan Anda aman."
"Bukan cuma kewajiban," potong Shanum halus. Tangannya yang sedikit gemetar memegang tepi sandaran kursi depan, berjarak hanya beberapa senti dari bahu Aran, tanpa menyentuhnya. Shanum menatap sisi wajah Aran dengan binar mata yang memancarkan rasa percaya yang amat dalam. "Saya tahu betapa besarnya risiko yang kamu ambil tadi. Kalau bukan karena ketenanganmu, mungkin kita tidak akan sampai di sini."
Aran berpaling sedikit, menangkap pandangan mata Shanum. Ada kehangatan asing yang mengalir di antara mereka—bukan sekadar hubungan formal antara majikan dan pengawal, melainkan ikatan batin yang mulai terbentuk di tengah ancaman bahaya.
"Selama saya bertugas, saya tidak akan membiarkan siapa pun melukai Anda, Mbak Shanum," ujar Aran dengan nada rendah yang mantap.
Shanum mengangguk pelan, menyerap setiap kata yang diucapkan Aran. "Saya tahu," bisiknya singkat, namun tatapan matanya menyiratkan rasa aman yang kini sepenuhnya ia titipkan pada pria di depannya.
Sementara itu, di sebuah ruang kerja mewah berlantai atas di kawasan elit Jakarta, Surya Wijaya berdiri di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Di tangannya, sebuah gawai tergenggam rapat. Wajah politisi senior itu tampak tenang, dingin, dan penuh wibawa, karakter khas seorang pemain politik papan atas yang tak mudah digoyahkan oleh kegagalan kecil.
Telepon di genggamannya tersambung ke nomor pribadi Gus Azhar. Begitu sambungan diangkat, suara Gus Azhar menyambar dari seberang telepon dengan nada tinggi dan gusar.
"Surya! Apa yang dilakukan orang-orangmu di jalan tol?" cetus Gus Azhar, tak mampu menyembunyikan kekesalan atas kegagalan rencana penyerangan. "Mereka tidak bisa melumpuhkan satu mobil saja? Pria bernama Aran itu justru meloloskan Shanum tanpa tergores sedikit pun!"
Surya Wijaya tidak terpancing oleh nada bicara Gus Azhar yang meninggi. Ia justru tersenyum tipis, mengusap cangkir kopinya dengan gerakan tenang dan elegan. Wibawa kepemimpinannya sama sekali tak tergerus oleh luapan emosi sang pemuka agama.
"Tenanglah, Gus," potong Surya Wijaya dengan suara berat dan berwibawa yang seketika menekan dominasi percakapan. "Di dunia politik dan pertempuran nyata, kegagalan di ronde pertama adalah hal biasa untuk mengukur kekuatan lawan. Tidak perlu panik seperti amatir."
"Saya tidak panik!" sanggah Gus Azhar, meski nada suaranya bergetar menahan kejengkolan. "Tapi Aran itu ancaman nyata. Dia bukan sekadar pengawal biasa. Kalau dia terus berada di sisi Shanum, rencana menundukkan Shanum akan berantakan!"
Surya melangkah pelan menuju meja kerjanya, menduduki kursi kulitnya dengan santai. "Justru karena kita sekarang tahu kapasitas pengawal itu, kita tidak akan menggunakan cara-cara kasar di jalanan lagi. Eksekutor jalanan terlalu ceroboh. Lagipula, jika terjadi sesuatu yang fatal pada Shanum di jalan tol, polisi akan fokus menyisir lingkaran saya dan Devan."
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Gus Azhar dari seberang telepon, berusaha meredam emosinya dan mendengarkan kendali dari Surya.
Surya mengetukkan jarinya di atas meja kayu mahoni. "Kita kembalikan permainan ini ke arena yang lebih tertutup. Tempat di mana pengawal hebat seperti Aran tidak bisa berkutik dengan senjatanya, dan Shanum tidak punya pilihan selain menerima uluran tanganmu."
Gus Azhar terdiam sejenak di ujung telepon. "Maksudmu... lingkungan keluarga?"
"Tepat," jawab Surya tenang namun penuh taktik. "Manfaatkan posisimu yang terpandang di mata keluarga Al-Maktoum. Buat sebuah situasi di mana Aran tersingkir secara sosial dan hukum dari posisi pengawal, sementara kamu hadir sebagai satu-satunya pelindung yang sah bagi Shanum. Biarkan saya yang mengurus tekanan hukum dari luar, dan kamu selesaikan bagian dalam."
Gus Azhar menghembuskan napas panjang di balik telepon. Keangkuhan dan obsesinya untuk memiliki Shanum kembali membakar dadanya, namun kali ini terarah di bawah skenario dingin Surya Wijaya.
"Baik," sahut Gus Azhar akhirnya, suaranya kembali dingin dan penuh persekongkolan. "Saya akan atur pertemuan keluarga besar akhir pekan ini. Kita jebak Aran di sana."
"Pilihan yang bijak, Gus," ujar Surya Wijaya dengan senyum penuh kemenangan sebelum memutus sambungan telepon. Ia meletakkan gawainya di meja, menatap keluar jendela dengan tatapan penuh intrik. Perang belum berakhir, dan ia baru saja menyiapkan jebakan yang jauh lebih mematikan.
saling support sabi kali thor🤭