NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Festival yang Sama Setiap Tahun

Festival Malam Purnama diadakan setiap tahun di lapangan kelurahan, dan setahu aku, aku dan Cahaya sudah datang ke acara itu sejak umur enam tahun, tanpa pernah absen sekali pun, kecuali tahun ketika aku kena cacar air dan harus diisolasi di rumah selama dua minggu, yang kebetulan bertepatan persis dengan tanggal festival tahun itu.

Cahaya masih suka mengungkit itu sampai sekarang. "Tahun yang kamu enggak dateng," katanya, seolah itu peristiwa bersejarah yang perlu dicatat di buku pelajaran, "kembang apinya paling bagus se-dekade. Kamu ketinggalan momen paling epic dalam sejarah festival ini."

"Aku enggak percaya itu."

"Karena kamu enggak lihat sendiri."

"Justru karena aku enggak lihat sendiri makanya aku enggak percaya."

Percakapan semacam itu, yang tidak pernah benar-benar selesai secara logis tapi selalu berakhir dengan kami berdua tertawa, sudah jadi bagian dari ritual tahunan kami menjelang festival, dan tahun ini tidak berbeda.

Liburan semester baru berjalan lima hari ketika Cahaya mengetuk pintu rumahku sore itu, membawa dua kaos bertema yang, katanya, dibeli dari toko dekat rumah neneknya waktu liburan minggu lalu.

"Buat festival nanti malam," katanya, menyerahkan salah satunya. "Biar kompakan."

Aku membuka lipatan kaos itu. Warnanya biru tua, dengan gambar bulan sabit kecil di dada, cukup sederhana untuk tidak terlihat berlebihan tapi cukup jelas untuk dikenali sebagai pasangan kalau dipakai berdua.

"Kamu beli dua warna sama?"

"Iya, tapi size beda. Punyaku lebih kecil."

"Kenapa harus kompakan?"

"Karena udah tradisi, Ren. Dari SD kita selalu pake baju mirip-mirip ke festival ini. Kamu lupa?"

Aku memang lupa, atau lebih tepatnya tidak pernah benar-benar menyadarinya sebagai pola yang disengaja, tapi setelah dia bilang begitu, aku mulai mengingat samar-samar foto-foto lama di galeri keluarga, aku dan Cahaya berdiri di depan lapangan kelurahan dengan baju yang warnanya senada, dari yang masih pakai sandal jepit sampai yang sudah agak lebih besar memakai sepatu kets.

"Oke," kataku akhirnya. "Jam berapa berangkat?"

"Jam tujuh. Sasa ikut juga katanya."

Sasa muncul di depan rumah Cahaya jam tujuh kurang lima belas menit, memakai kaos yang sama sekali tidak senada dengan tema festival, malah bertuliskan nama band yang aku tidak kenal, dengan alasan, "aku enggak ikut tradisi kalian berdua, aku cuma numpang rame."

"Numpang rame gimana," protes Cahaya, "kamu ikut tiap tahun kok."

"Iya, tapi aku enggak pernah pake baju kompakan sama kalian. Itu privilese khusus buat kalian berdua."

Aku tidak sepenuhnya paham maksud "privilese khusus" itu, tapi aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh, karena Sasa sudah keburu jalan duluan ke arah lapangan kelurahan, memaksa kami berdua menyusul.

Lapangan sudah ramai begitu kami sampai, dipenuhi tenda-tenda kecil yang menjual makanan, mainan anak-anak, dan berbagai pernak-pernik yang muncul khusus setiap tahun ini saja, seolah para pedagangnya menyimpan barang dagangan sepanjang tahun hanya untuk dikeluarkan malam ini. Lampu-lampu warna-warni digantung di sepanjang jalur utama menuju panggung, dan suara musik dangdut dari panggung utama bercampur dengan teriakan penjual dan tawa anak-anak yang berlarian.

"Kayak biasa ya," kata Cahaya, menatap sekeliling dengan senyum kecil. "Enggak pernah berubah."

"Tenda batagor itu masih di tempat yang sama."

"Iya, dan masih Pak Yanto yang jualan."

Kami berjalan menyusuri lapangan, membeli batagor dari tenda yang sama seperti setiap tahun, dan Pak Yanto, yang sudah menjual di sana sejak aku ingat pertama kali datang ke festival ini, menyapa kami dengan cara yang sudah familiar.

"Dateng lagi ya kalian," katanya, sambil menyiapkan batagor. "Udah gede sekarang. Dulu masih kecil banget, sekarang udah kuliah."

"Masih inget kita, Pak?" tanya Cahaya.

"Ya inget lah. Kalian dua yang paling setia dateng tiap tahun. Anak-anak lain kadang bosen, kalian mah enggak pernah absen."

Sasa, yang berdiri agak di belakang, menahan senyum, jelas menyimpan komentar yang tidak dia ucapkan langsung tapi cukup terlihat dari ekspresinya.

Kami menghabiskan sekitar satu jam berkeliling lapangan, mencoba berbagai permainan yang disediakan panitia, sebagian besar permainan lempar bola untuk memenangkan boneka kecil yang kualitasnya diragukan, dan tembak balon yang hadiahnya cuma permen.

Sasa, yang ternyata jago melempar, memenangkan tiga boneka berturut-turut dan langsung menghadiahkan satu ke Cahaya, satu lagi dia simpan sendiri, dan yang terakhir dia berikan ke seorang anak kecil yang sedang menangis karena kalah terus di permainan yang sama.

"Kamu baik juga kadang," kataku, waktu anak itu sudah pergi sambil tersenyum lebar memeluk boneka barunya.

"Kadang doang?" Sasa menatapku dengan alis terangkat. "Aku baik terus, Ren, cuma kamu enggak peka aja liatnya."

Kalimat itu terasa seperti punya lapisan lain di baliknya, mengingat beberapa kali sebelumnya Sasa juga menyebut soal kepekaan dengan nada yang serupa, tapi aku memutuskan untuk tidak mengejarnya lebih jauh malam itu, karena suasana festival terlalu ramai dan menyenangkan untuk diinterupsi analisis yang lebih dalam.

Cahaya mencoba permainan lempar cincin, gagal lima kali berturut-turut, dan akhirnya menyerah dengan wajah kesal yang dibuat-buat.

"Permainan ini curang," gerutunya, waktu kami berjalan menjauh dari tenda itu.

"Kamu aja yang enggak jago."

"BUKAN AKU YANG ENGGAK JAGO, CINCINNYA YANG KEKECILAN."

"Cincinnya sama kayak yang orang lain pake."

"Berarti botolnya yang kegedean."

Aku tertawa, dan Sasa ikut tertawa, dan Cahaya akhirnya ikut tertawa juga meski masih dengan nada protes, dan kami melanjutkan berkeliling sampai akhirnya sampai di area yang agak lebih sepi, dekat pinggir lapangan, tempat orang-orang mulai duduk menggelar tikar untuk menunggu kembang api utama yang biasanya dimulai jam sembilan.

Kami menggelar tikar kecil yang dibawa Cahaya dari rumah, di sudut lapangan yang cukup jauh dari kerumunan tapi masih punya pandangan bagus ke arah langit tempat kembang api biasa diluncurkan.

Sasa duduk sebentar bersama kami, tapi sekitar dua puluh menit sebelum kembang api dimulai, ponselnya berbunyi, dan setelah membaca pesan yang masuk, dia berdiri dengan tergesa.

"Aduh, aku ketemuan anak organisasi dulu bentar, mereka lagi di dekat panggung utama. Aku balik lagi sebelum kembang apinya mulai."

"Buruan," kata Cahaya. "Jangan sampe ketinggalan."

Sasa berlari kecil menjauh, meninggalkan aku dan Cahaya berdua di tikar itu, dengan suasana festival yang masih ramai di kejauhan tapi terasa lebih tenang di sudut ini, hanya diselingi suara angin malam dan sesekali teriakan anak-anak yang berlarian tidak jauh dari sana.

"Sasa selalu punya urusan mendadak," kataku.

"Iya, dia emang gitu orangnya. Aktif banget di mana-mana."

Kami duduk dalam diam sebentar, menatap langit yang mulai gelap sepenuhnya, bintang-bintang mulai terlihat meski tidak terlalu banyak karena polusi cahaya dari lampu-lampu festival di sekitar.

"Ren," kata Cahaya, tiba-tiba, suaranya lebih pelan dari nada bicaranya biasa.

"Hm?"

"Kita udah berapa tahun ya, ke festival ini bareng terus?"

Aku menghitung sebentar dalam kepala. "Dari umur enam. Berarti dua belas tahun, minus satu tahun waktu aku cacar air."

"Dua belas tahun." Dia mengulang angka itu, seperti mencoba merasakan beratnya. "Lama juga ya."

"Kenapa emangnya?"

Cahaya tidak langsung menjawab. Dia menarik lututnya, memeluknya seperti kebiasaannya kalau sedang memikirkan sesuatu yang lebih serius dari biasa, menatap ke arah langit yang masih kosong menunggu kembang api pertama.

"Aku cuma kepikiran," katanya akhirnya, "gimana kalo suatu hari nanti kita enggak bisa dateng bareng lagi ke sini. Kayak, mungkin salah satu dari kita pindah kota, atau sibuk kerja, atau..."

Dia berhenti, tidak melanjutkan kalimat itu, dan aku menunggu, merasa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dia coba katakan tapi belum sepenuhnya berani.

"Atau apa?" tanyaku, pelan.

Cahaya menatapku, dan dalam cahaya remang dari lampu-lampu festival yang jauh, ekspresinya terlihat berbeda dari yang biasa aku lihat, lebih terbuka, lebih rentan, seperti dia sedang berjuang melawan sesuatu di dalam dirinya untuk memutuskan apakah akan melanjutkan kalimat itu atau tidak.

"Ren, sebenernya aku..."

Dari kejauhan, tiba-tiba terdengar suara yang sangat tidak pas dengan momen itu.

"WOI RENDY, CAHAYA, KALIAN DI SITU YA."

Sasa berlari ke arah kami, sambil membawa tiga tusuk sate yang entah dari mana dia dapatkan, wajahnya penuh semangat yang sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi sebelum dia datang.

"AKU BAWA SATE," teriaknya, masih dari jarak sepuluh meter, "TADI KETEMU TEMEN ORGANISASI TERUS DIA TRAKTIR, ENGGAK ENAK KALO CUMA AKU YANG MAKAN—"

Cahaya langsung menjauhkan diri sedikit, membetulkan posisi duduknya, ekspresinya berubah kembali ke yang lebih biasa, dan momen yang tadi terasa begitu dekat dan penuh sesuatu itu menghilang secepat kedatangannya, digantikan oleh Sasa yang duduk dengan berisik di antara kami, menyodorkan tusuk sate ke masing-masing tangan.

"Ini punya kalian," katanya, "makan selagi anget. Kembang apinya bentar lagi mulai katanya, aku denger dari panitia tadi."

"Sas," kata Cahaya, suaranya masih agak kaku, "kamu ganggu banget sih tadi."

"Ganggu apanya? Aku bawain makanan."

"Bukan soal makanannya."

"Terus soal apa?" Sasa menatap bergantian ke arah kami, dan aku bisa melihat ada sesuatu yang berkelebat di matanya, seperti dia baru sadar mungkin dia baru saja memotong sesuatu yang penting, tapi dia memilih untuk tidak mengejar topik itu lebih jauh, mungkin karena tidak yakin, atau mungkin karena memang sengaja.

"Enggak apa-apa," kata Cahaya akhirnya, menghela napas, mengambil tusuk satenya. "Makasih ya udah bawain sate."

Aku juga mengambil satenya, tidak berkomentar lebih jauh, meski di kepalaku masih berputar kalimat yang terpotong tadi.

Ren, sebenernya aku...

Aku sebenernya apa?

Kembang api pertama meluncur sekitar sepuluh menit kemudian, disambut sorak-sorai dari seluruh lapangan, dan untuk sesaat, semua orang, termasuk kami bertiga, menatap ke atas, ke langit yang tiba-tiba dipenuhi warna, merah dan hijau dan emas yang meledak dan menghilang dan meledak lagi.

Sasa berkomentar setiap kali ada kembang api yang bentuknya unik, "eh itu bagus, kayak bunga," atau "itu yang tadi kayak air mancur," dengan antusiasme yang tulus, dan Cahaya sesekali ikut berkomentar, meski nadanya masih sedikit berbeda dari biasa, seperti sebagian pikirannya masih ada di tempat lain.

Aku menonton kembang api itu, tapi lebih sering mencuri pandang ke arah Cahaya daripada ke langit, mencoba membaca ekspresinya, mencoba mencari petunjuk soal apa yang tadi hampir dia katakan, tapi wajahnya, diterangi kilatan warna-warni dari langit, hanya menunjukkan kekaguman biasa yang sama seperti setiap tahun sebelumnya, tidak memberi petunjuk apa pun soal kalimat yang terpotong.

"Ren," katanya, di sela-sela kembang api, tanpa menoleh, matanya masih ke atas.

"Hm?"

"Kembang api tahun ini bagus ya."

"Iya."

"Sama kayak tahun-tahun sebelumnya sih sebenernya."

"Iya, sama."

Dia tidak melanjutkan lebih jauh dari itu, dan aku juga tidak mendesak, karena entah kenapa terasa lebih aman untuk membiarkan percakapan itu berhenti di situ, di permukaan, daripada memaksa masuk lebih dalam ke sesuatu yang mungkin belum siap dia bagikan.

Festival berakhir sekitar jam sepuluh, dan kami bertiga jalan pulang bersama sampai persimpangan biasa, di mana Sasa berbelok ke arah rumahnya sendiri, meninggalkan aku dan Cahaya berjalan berdua sisa jalan yang tersisa.

"Sori ya tadi," kata Cahaya, di tengah jalan, memecah keheningan yang sudah berlangsung beberapa menit.

"Sori kenapa?"

"Enggak, cuma... tadi aku sempet mau ngomong sesuatu, terus keputus. Lupain aja, enggak penting kok."

Aku menoleh ke arahnya, mencoba membaca ekspresinya di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. "Kamu yakin enggak penting?"

Dia diam sebentar, cukup lama sampai aku hampir mengira dia tidak akan menjawab sama sekali.

"Yakin," katanya akhirnya, meski nadanya tidak sepenuhnya meyakinkan. "Cuma kepikiran random doang. Enggak usah dipikirin."

Aku menerima jawaban itu, meski ada bagian dari diriku yang merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar "pikiran random" yang dia sembunyikan, sesuatu yang cukup penting sampai dia butuh waktu untuk memutuskan mengucapkannya atau tidak, sebelum akhirnya diinterupsi oleh kedatangan Sasa yang tidak sengaja.

Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menanyakannya lebih jauh tanpa terdengar memaksa, jadi aku memilih diam, dan kami berjalan sisa perjalanan dalam suasana yang lebih tenang, tidak canggung tapi juga tidak sepenuhnya seperti biasa.

Sampai di persimpangan gang, tempat kami biasa berpisah, Cahaya berhenti sebentar, menatapku dengan ekspresi yang sudah kembali ke yang lebih ringan, meski masih ada sisa sesuatu di matanya yang aku tidak bisa sepenuhnya baca.

"Makasih ya udah nemenin festival," katanya. "Kayak biasa."

"Kayak biasa," ulangku. "Tahun depan juga sama?"

"Tahun depan juga sama," jawabnya, tersenyum, senyum yang lebih dekat ke yang biasa aku kenal. "Kalo kita masih di sini."

"Kenapa enggak bakal di sini?"

"Enggak, cuma... entahlah. Masa depan kan enggak pasti." Dia mengangkat bahu, mencoba terdengar ringan. "Ya udah, aku masuk dulu. Udah malem."

"Malem," kataku.

"Malem, Ren."

Dia berbalik, berjalan ke arah rumahnya, dan aku berdiri sebentar di persimpangan itu, menatap punggungnya yang menjauh, memikirkan kembali seluruh malam itu, dari kaos kompakan sampai batagor Pak Yanto sampai kalimat yang terpotong di tikar kecil dekat lapangan.

Di rumah, sebelum tidur, aku mengambil ponsel, membuka chat dengan Cahaya, mempertimbangkan apakah akan bertanya lagi soal kalimat yang terpotong tadi.

Aku mengetik: "Tadi mau bilang apa sebelum Sasa dateng?"

Menghapusnya.

Mengetik lagi: "Aku masih kepikiran soal yang tadi."

Menghapusnya lagi.

Akhirnya aku mengetik sesuatu yang lebih aman, lebih tidak memaksa: "Makasih udah beliin kaos kompakan. Festival tadi seru."

Balasan masuk beberapa menit kemudian.

"Sama-sama. Seneng juga kamu masih mau ikut tradisi enggak jelas ini tiap tahun."

"Ini bukan tradisi enggak jelas. Ini tradisi yang udah berjalan dua belas tahun."

"Iya iya, tradisi keren. Puas?"

"Puas."

Ada jeda sebentar sebelum pesan berikutnya masuk.

"Ren."

"Hm?"

"Makasih ya, buat semuanya. Bukan cuma festival tadi."

Aku menatap kalimat itu cukup lama, mencoba mencari makna di baliknya, sama seperti setiap kali Cahaya mengucapkan sesuatu yang terdengar sederhana tapi terasa lebih berat dari yang seharusnya.

"Buat apa maksudnya?"

"Enggak tau. Buat udah ada aja kali ya. Dari kecil sampe sekarang."

"Kamu juga udah ada dari kecil sampe sekarang."

"Iya. Makanya makasih."

Percakapan itu berhenti di situ, tidak berlanjut ke arah yang lebih jelas, dan aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit kamar, memikirkan kembali kalimat yang terpotong di tikar tadi, kalimat "Ren, sebenernya aku..." yang tidak pernah sampai ke bagian akhirnya.

Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan kalau saja Sasa tidak datang tepat waktu itu. Bisa jadi sesuatu yang sepele, keluhan soal ujian, atau rencana liburan, atau apa saja yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipikirkan selama ini.

Tapi entah kenapa, cara dia mengucapkan kalimat itu, nada suaranya, ekspresi wajahnya yang berubah sesaat sebelum terpotong, semua itu membuatku merasa bahwa apa pun yang hampir dia katakan malam itu, itu bukan sesuatu yang sepele.

Aku menutup mata, mencoba tidur, tapi kalimat yang terpotong itu tetap menempel di kepalaku, seperti kembang api yang meledak lalu memudar tapi meninggalkan jejak cahaya yang butuh waktu lebih lama untuk benar-benar hilang dari pandangan.

Besok, aku pikir, mungkin aku akan bertanya lagi. Atau mungkin tidak. Aku belum tahu.

Yang aku tahu, malam ini, entah kenapa, terasa sedikit berbeda dari festival-festival tahun sebelumnya, meski semuanya, dari kaos kompakan sampai batagor Pak Yanto sampai kembang api yang sama, terlihat persis seperti setiap tahun.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!