NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Investasi Pertama

"Berapa perusahaan Anda butuh untuk tidak mati?"

Hendra Salim belum sempat menawarkan kopi ketika Raka menanyakan itu di ruang VIP lantai eksekutif PT Mutiara Emas Properti. Wulan yang baru masuk membawa map hampir berhenti di ambang pintu. Hendra sendiri diam selama dua detik, lalu justru tertawa pendek.

"Langsung ke jantung, Pak Raka?"

"Saya baru belajar memakai uang. Saya tidak punya waktu mendengar presentasi yang dibuat untuk menipu bank."

Wulan menaruh map di meja dengan hati-hati. Sri tidak ikut naik. Herman tentu sudah menghilang dari lobi, membawa malu yang lebih berat daripada baki restoran.

Hendra membuka jas dan menggulung lengan kemejanya. Sikapnya berubah. Direktur yang menjaga citra lenyap; di kursi itu tersisa pengusaha yang tahu meja ini bisa menjadi tempat hidup atau mati.

"Mutiara Emas Properti punya aset bagus, tetapi arus kas buruk. Dua proyek tertahan karena bank menunda fasilitas kredit. Vendor menekan. Kalau dalam tiga bulan tidak ada dana segar, saya harus menjual aset inti dengan harga banting."

"Angka."

"Minimal lima ratus miliar untuk bernapas. Satu koma lima triliun untuk menyerang balik."

Di mata Raka, Mimpi menampilkan kalkulasi.

[Investasi Rp50.000 setara daya beli Rp5.000.000.000.000. Saran: ambil posisi minoritas besar tanpa menyentuh kendali operasional. Target loyalitas Hendra dapat naik jika tuan rumah menghormati keahliannya.]

Raka menyandarkan punggung.

"Saya investasikan lima triliun rupiah. Sebagai gantinya, tiga puluh persen kepemilikan ekonomi atas holding aset pilihan Anda. Anda tetap menjalankan operasi. Tapi semua transaksi besar di atas batas tertentu harus memberi notifikasi kepada saya."

Wulan hampir menjatuhkan pulpen.

Hendra tidak langsung menjawab. Matanya tajam, mencari lelucon, jebakan, atau kegilaan. Ia tidak menemukan satu pun.

"Pak Raka, saya harus tahu sumber dana. Saya tidak akan menerima uang panas."

Raka menyukai pertanyaan itu.

"Dana pribadi. Pembayaran lewat bank, dicatat, diaudit. Anda boleh menunjuk auditor. Saya juga akan menunjuk pengacara sendiri nanti. Tidak ada pencucian, tidak ada titipan pejabat, tidak ada nama belakang keluarga besar."

"Kalau begitu Bapak tahu tawaran ini terlalu murah bagi saya?"

"Saya tahu." Raka menatapnya. "Tapi Anda tidak hanya menjual saham. Anda menjual akses kepada seseorang yang bisa membeli ketika semua orang lain takut."

Ruangan mendadak sunyi.

Hendra menatap map proyek, lalu maket kecil di sudut ruangan. Mungkin selama berbulan-bulan ia dikejar bank, vendor, dan investor yang hanya mau memotong dagingnya. Sekarang ada orang muda berpakaian lusuh menawarkan oksigen dengan cara paling tidak masuk akal.

"Tiga puluh persen," kata Hendra akhirnya. "Dengan klausul veto terbatas dan audit penuh. Saya loyal kepada investor, Pak Raka. Tapi saya tidak mau jadi boneka."

"Saya tidak butuh boneka. Saya butuh orang yang bisa menghasilkan uang saat saya tidur."

Senyum pertama Hendra yang benar-benar tulus muncul.

"Kalau begitu kita cocok."

Mereka berjabat tangan.

[Mimpi mencatat kerja sama strategis: Hendra Salim. Loyalitas naik menjadi 78.]

Raka menahan napas. Angka loyalitas itu bukan mainan. Itu peta risiko manusia. Herman mungkin minus. Vera sudah masuk catatan hitam di kepala Raka.

Setelah dokumen awal ditandatangani secara elektronik dan jadwal notaris dibuat, Raka meminta alamat vila utama Bukit Amerta. Hendra menawarkan sopir, tetapi Raka menolak.

"Saya ingin melihat sendiri."

Sore itu, mobil online menurunkannya di depan gerbang komplek vila. Security yang menerima instruksi dari kantor langsung membungkuk dan memanggilnya Pak. Kata itu masih terasa asing di telinga Raka.

Vila utama berdiri di ujung jalan paling tinggi. Pintu kayu tebal, garasi kosong, kolam renang yang airnya jernih, kamar-kamar luas tanpa suara orang mengeluh soal uang sekolah. Tidak ada yang perlu dipuji berlebihan. Satu hal saja cukup: tempat ini bisa membuat Bibi Lestari tidur tanpa takut digedor penagih.

Raka masuk ke kamar utama dan mengunci pintu.

"Mimpi. Hadiah pemula selain panduan?"

[Hadiah tersedia: Ramuan Fisik Dasar, Ramuan Keberuntungan Dasar. Konsumsi dapat menaikkan atribut dasar. Efek samping: nyeri otot, peningkatan suhu tubuh, kelelahan ringan.]

"Gunakan."

Dua botol kecil muncul di telapak tangannya. Tidak ada rasa sulap panggung di sana. Kaca itu dingin dan nyata. Kaca dingin, cairan bening keemasan, tutup logam yang ketika diputar mengeluarkan bunyi nyata.

Raka meminum keduanya.

Panas langsung meledak dari perut.

Ia jatuh berlutut di lantai marmer. Pembuluh di lengannya menonjol. Otot punggung seperti ditarik dari dalam, tulang-tulang kecil di jarinya berderak. Ia menggigit handuk agar tidak berteriak.

Tidak ada pemandangan puitis. Hanya sakit.

Sepuluh menit kemudian, ia berdiri dengan kaus basah keringat. Napasnya berat, tubuhnya terasa lebih padat. Ia masih jauh dari pendekar. Namun tangannya mulai meninggalkan kebiasaan pelayan yang hanya kuat mengangkat nampan.

[Status diperbarui: Fisik 18, Keberuntungan 18, Mental 12.]

Ponselnya menyala.

Pesan dari Vera masuk.

Raka, aku dengar kamu datang ke kantor properti. Jangan bikin masalah lagi. Ahmad punya kenalan polisi. Kamu tidak akan menang kalau melawan kami.

Raka membaca dua kali. Lalu ia tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena untuk pertama kalinya, ancaman Vera terdengar kecil.

[Misi aktif: Balas Dendam Sang Penambal.]

[Objektif: hadir di pertunangan Vera Anggraini dan Ahmad, bongkar pengkhianatan dengan bukti legal, jatuhkan status sosial pelaku utama di depan publik.]

[Hadiah: 10.000 poin sistem, Manual Tai Chi Dasar, akses Toko Sistem Level 2.]

Raka mengeringkan wajah. Ia tidak punya bukti. Belum. Tetapi ada CCTV restoran, rekam medis kehamilan, panggilan, pesan suara, dan orang-orang yang selama ini menganggap orang miskin tidak bisa menyimpan luka dengan rapi.

Ponsel berdering. Hendra.

"Pak Raka, saya sudah bicara dengan tim legal. Besok kita bisa siapkan struktur investasi. Ada lagi yang Bapak perlukan malam ini?"

Raka melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Wajah yang sama. Mata yang berbeda.

"Ada. Saya butuh ballroom terbaik di Hotel Empat Musim untuk minggu depan. Atas nama saya. Paket paling mahal."

"Untuk acara apa, Pak?"

"Pertunangan. Bukan pertunangan saya."

Hendra diam sebentar. "Saya mengerti. Mau dibuat semewah mungkin?"

Raka menatap layar pesan Vera, lalu menghapusnya tanpa membalas.

Ia juga meminta Hendra menghubungi Hotel Empat Musim dengan jalur korporat. Jalur tamu biasa terlalu mudah diganggu. Raka ingin semua tercatat: siapa yang memesan ballroom, siapa yang membayar, siapa yang memegang akses layar, dan siapa yang boleh menyentuh sistem audio. Fajar belum bergabung, jadi ia membuat daftar sendiri di ponsel: bukti, tempat, saksi, keamanan.

Di halaman vila, security komplek menyapa dari jauh. Raka membalas singkat, lalu kembali melihat ruang tamu kosong. Kekayaan mendadak bisa membuat orang mabuk. Ia memilih membuatnya menjadi daftar kerja. Vera dan Ahmad punya panggung. Ia akan mengambil lampunya, suaranya, dan pintu keluarnya.

"Buat acaranya semewah mungkin. Saya ingin mereka merasa sedang naik ke surga sebelum lantainya hilang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!