Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.
Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.
Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Korban Ketiga
Jumat sore datang seperti pisau yang sudah diasah tiga hari sebelumnya.
Pukul 16.22, halaman belakang SMA Garuda Cendekia masih ramai oleh siswa yang pulang les. Pukul 16.31, gerbang samping mulai sepi. Pukul 16.39, seorang siswi kelas sepuluh bernama Naila Pratama mengirim pesan kepada ibunya bahwa ia akan mampir membeli pulpen di toko alat tulis. Pukul 16.52, ponselnya mati.
Pukul 17.04, grup wali murid meledak.
Pak Surya sedang memimpin rapat kecil ketika seorang guru masuk dengan wajah pucat. Ia tidak sempat mengetuk. "Pak, satu lagi. Anak kelas sepuluh. Belum sampai rumah. Tasnya ditemukan di dekat gang belakang."
Ruang rapat langsung kacau. Ada guru yang menyebut penculikan berantai. Ada yang meminta sekolah ditutup. Ada yang marah kepada satpam. Dalam kekacauan itu, Pak Surya hanya memikirkan satu nama. Anak baru yang tiga hari lalu berdiri di kantornya dan mengatakan Jumat adalah hari berikutnya.
Di rumahnya, Arya sedang menempelkan titik merah ketiga di peta ketika ponselnya berdering. Nomor asing. Ia melihat layar, lalu menjawab tanpa salam panjang.
"Dik Arya," suara Komisaris Sari terdengar kaku. "Datang ke Polres sekarang."
"Korban ketiga?"
Di seberang sana, hening setengah detik. "Dari mana kamu tahu?"
"Karena kalau Ibu menelepon saya pukul lima lewat, berarti pola itu terbukti. Kirim lokasi tas ditemukan. Jangan biarkan siapa pun menyentuh tanah di radius lima meter."
Sari tidak suka diperintah anak SMA, tetapi hari itu harga dirinya lebih kecil daripada rasa ngeri di dadanya. Ia mengirim lokasi.
Ayah Arya mengantar dengan motor. Budi tidak banyak bicara. Di lampu merah, ia hanya berkata, "Kalau sudah berbahaya, kamu mundur. Janji."
"Saya janji tidak bertindak tanpa polisi, Yah."
Jawaban itu belum cukup menenangkan, dan Budi tahu ia tidak akan mendapat yang lebih baik.
Di Polres, Arya menemukan suasana yang berbeda. Kemarin staf muda menertawakannya. Hari ini tidak ada yang tertawa. Papan kasus sudah dipenuhi foto Bagas, Lala, dan Naila. Komisaris Sari berdiri di depannya dengan mata kurang tidur.
"Jelaskan," katanya.
Arya meletakkan buku kotak-kotaknya di meja. "Tiga korban dipilih bukan karena kelas atau jenis kelamin. Bagas laki-laki kelas sebelas, Lala perempuan kelas sebelas, Naila kelas sepuluh. Hubungannya bukan identitas. Hubungannya rute. Mereka semua melewati zona lima sampai tujuh menit tanpa saksi tetap."
Ia menunjuk peta. "Titik pertama dekat gudang olahraga. Titik kedua dekat warung fotokopi. Titik ketiga dekat gang toko alat tulis. Kalau ditarik dengan penggaris, bentuknya patah. Tapi kalau memakai jalur servis lama di belakang sekolah, ketiganya terhubung."
Seorang penyidik bertanya, "Jalur servis lama itu sudah ditutup."
"Ditutup untuk orang yang masuk dari depan. Bukan untuk orang yang tahu pintu samping gudang lama masih bisa dibuka dari dalam."
Wajah Pak Surya berubah. "Pintu itu peninggalan bangunan lama. Sudah jarang dipakai."
"Justru karena jarang dipakai, tidak ada yang memeriksa." Arya menatap Sari. "Pelaku mengenal sekolah sebelum renovasi. Ia tahu kamera mana yang mati, tahu jam les tambahan, tahu kebiasaan satpam berganti shift."
Sari menyilangkan tangan. "Mantan pegawai?"
"Kemungkinan besar. Atau orang yang mendapat informasi dari mantan pegawai. Tapi ada satu hal yang lebih penting."
Arya mengambil pulpen merah dan menandai tiga titik lain di luar sekolah. "Kalau ia hanya ingin menculik, korban bisa langsung dibawa jauh. Tapi setiap lokasi punya jeda yang terlalu pendek. Artinya korban dipindahkan ke tempat penampungan sementara yang dekat. Mereka mungkin belum mati."
Ruangan itu seakan berhenti bernapas.
Staf muda yang dulu tertawa bertanya pelan, "Kamu yakin?"
"Tidak ada kepastian sebelum ditemukan. Tapi pola waktu menunjukkan pelaku tidak punya kendaraan besar di titik pengambilan. Ia menyeret atau memapah korban lewat jalur pendek, lalu baru memindahkan mereka. Kalau polisi menutup jalan besar sekarang, pelaku akan panik. Kalau panik, korban bisa dibunuh."
Komisaris Sari menggenggam ujung meja. Ia sudah menerima banyak laporan orang tua menangis, tetapi kalimat Arya membuat semua laporan itu punya jam pasir di atas kepala. Masih hidup berarti masih bisa diselamatkan. Masih hidup juga berarti setiap menit menjadi beban.
"Apa langkahmu?"
Arya tidak tersenyum. "Jangan umumkan operasi besar. Jangan pasang garis polisi di titik pengambilan. Periksa jalur servis diam-diam. Tahan semua mantan pegawai yang punya akses ke denah lama, tapi jangan bocorkan alasannya. Dan besok sore, kita buat pelaku merasa ada korban berikutnya."
"Kamu mau menjadikan siswa umpan?" suara Sari langsung tajam.
"Saya mau membuat pelaku mendekati umpan palsu yang dikendalikan polisi. Kalau Ibu punya anggota perempuan bertubuh kecil dan bisa memakai seragam olahraga, pelaku tidak perlu tahu dia bukan siswa."
Penyidik lain menatap Arya seperti melihat sesuatu yang salah tempat. Anak ini bicara tentang operasi polisi dengan nada yang sama seperti menjawab soal matematika. Tetapi yang lebih mengerikan, masuk akal.
Putri datang bersama Rizky dan Pak Surya beberapa menit kemudian. Putri melihat peta merah, lalu melihat wajah orang dewasa di ruangan itu. Ia tahu sesuatu telah berubah. Arya bukan lagi anak aneh yang kebetulan pintar. Ia sudah memaksa sistem dewasa bergerak sesuai hitungannya.
Komisaris Sari akhirnya berkata, "Mulai sekarang, kamu bicara melalui saya. Tidak ada tindakan sendiri."
"Setuju."
"Dan kalau analisis ini salah?"
Arya menatap foto tiga korban. "Maka Ibu boleh menyita semua buku saya. Tapi kalau benar, kita tidak sedang mengejar penculik. Kita sedang mengejar orang yang merasa sedang menjalankan perintah."
Sari mengernyit. "Perintah siapa?"
Pak Surya meminta izin bicara. "Jika benar mantan pegawai, kami punya arsip lama. Tapi sebagian dokumen renovasi sudah dipindahkan ke gudang kota."
"Ambil yang ada dulu," kata Arya. "Nama, jadwal kerja, alasan berhenti, akses kunci, hubungan dengan korban. Jangan tunggu dokumen lengkap untuk memulai. Data yang terlambat sering hanya menjadi hiasan laporan."
Kapten Wira menghela napas, tetapi tangannya mulai mencatat. Itu kemenangan kecil. Ia belum percaya penuh kepada Arya. Hanya saja, tidak ada opsi lain yang lebih tajam.
Sari membuka foto lokasi tas Naila. Ada noda tanah di salah satu sisi ritsleting. "Ini menurutmu penting?"
"Penting kalau tanah itu bukan dari gang. Kirim ke lab kalau bisa. Kalau tidak, bandingkan dengan tanah di jalur servis lama. Pelaku mungkin menyentuh tas setelah melewati lorong."
"Kamu sadar kamu terdengar seperti orang yang pernah memimpin penyelidikan?"
Arya menutup buku. "Saya sadar orang sering menyebut hal dasar sebagai keajaiban ketika mereka terlalu lama tidak melakukannya."
Tidak ada yang tertawa. Terlalu banyak orang di ruangan itu merasa tersindir.
Arya menutup bukunya. "Itu yang belum saya tahu."