NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kehangatan yang Tak Sengaja

Sejak pagi itu, hari-hari berjalan jauh lebih tenang dari yang kubayangkan. Aku tak lagi mengejar perhatian Arga, tak lagi melontarkan kata-kata tajam tiap kali ia pulang terlambat atau bersikap dingin. Aku memilih menenangkan diri di kamar, membaca buku, sekadar berjalan-jalan di taman luas rumah ini, atau sesekali membantu pelayan mengurus hal-hal kecil yang selama ini tak pernah disentuh Freya.

Semua orang tampak bingung melihat perubahanku. Pelayan yang dulu gemetar ketakutan tiap kali lewat di depanku, kini mulai berani menyapaku dengan ragu, lalu perlahan dengan senyum tulus. Kabar itu pun pasti sampai ke telinga Arga. Setiap malam saat ia pulang, tatapannya makin lama makin sering tertuju padaku—bukan lagi tatapan dingin penuh kebencian atau curiga, melainkan keraguan yang perlahan bercampur rasa ingin tahu.

Malam ketiga, hujan turun deras memukul kaca jendela. Angin kencang membawa udara dingin menusuk hingga ke dalam kamar. Aku terbangun karena demam tinggi, tubuh terasa lemas tak berdaya, keringat dingin bercampur rasa panas yang membakar. Aku nyaris tak mampu bergerak.

Pintu tiba-tiba terbuka. Arga masuk, sepertinya hendak mengambil berkas yang tertinggal. Langkahnya terhenti seketika saat melihatku yang terbaring lemah, wajah memerah, napas tersengal-sengal pelan.

Ia mendekat dengan langkah cepat, suaranya terdengar cemas yang tak bisa disembunyikan. "Kau sakit? Mengapa tak memanggil siapa pun?"

Aku mencoba mengangkat kepala pelan, menatapnya dengan pandangan kabur. "Tak ingin menyusahkanmu... dan tak ada yang perlu kau khawatirkan."

Kalimat itu seketika membuatnya terdiam. Wajahnya tampak berubah. Tanpa sepatah kata pun, ia menjatuhkan tasnya, lalu mendekat dan meletakkan telapak tangannya yang hangat di keningku. Rasa hangat itu menembus rasa panas yang menyelimuti tubuhku, membuatku seketika terdiam.

"Panas sekali..." gumamnya pelan, nadanya tak lagi tajam. Ia langsung berbalik, memanggil pelayan dengan suara tegas, menyuruh membawa air hangat dan obat serta kompres. Ia sendiri yang membantu menyeka wajah dan tanganku, memastikan suhu tubuhku turun.

Aku terbaring mematung, menatap wajahnya yang tampak fokus dan penuh perhatian. Cahaya lampu remang-remang menerangi wajahnya yang tampan, menyembunyikan sifat dingin yang biasa ia tunjukkan. Hatiku bergetar hebat. Dalam cerita aslinya, tak ada satu pun momen seperti ini. Saat Freya jatuh sakit, Arga bahkan tak sudi menengok sedikit pun.

"Mengapa..." suaraku terdengar parau dan pelan, "Mengapa kau melakukan ini? Bukankah kau membenciku?"

Gerakannya terhenti seketika. Ia menatapku lekat-lekat, dalam sorot matanya terlihat pergolakan batin yang samar.

"Dulu... aku pikir aku mengenalmu seutuhnya," ucapnya pelan, suaranya terdengar berat dan tak biasa lembut. "Namun beberapa hari terakhir... kau berubah begitu banyak. Kau tak lagi kasar, tak lagi menuntut. Kau justru terlihat rapih, tenang, dan... entah mengapa, aku merasa seolah baru pertama kali melihatmu yang sesungguhnya."

Jantungku berdegup kencang tak menentu. Tatapannya begitu dalam, seolah mencoba menembus ke dalam jiwaku.

"Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, Freya," lanjutnya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. "Tapi... aku takut sekaligus penasaran. Perubahanmu ini... membuat hatiku yang sedingin es itu perlahan mulai mencair tanpa sadar."

Ia kembali menempelkan kompres di keningku, lalu berdiri perlahan seolah menahan diri agar tak terlalu lama mendekat. "Istirahatlah. Aku akan tetap di sini sampai demammu turun."

Malam itu, ia benar-benar duduk di tepi tempat tidurku, tak beranjak pergi. Sesekali ia memeriksa suhu tubuhku, memastikan aku baik-baik saja. Di bawah sinar remang lampu dan diiringi suara hujan di luar, aku mulai menyadari sesuatu yang luar biasa...

Perubahan kecil yang kubawa ternyata tak hanya mengubah pandangan orang lain terhadapku. Lebih dari itu, ia perlahan mengubah alur cerita yang seharusnya berakhir tragis. Dan mungkin... hati pria yang seharusnya menjadi musuh terbesarku itu, perlahan mulai terbuka untukku.

Namun pertanyaan besar masih membayangi pikiranku: berapa lama lagi aku bisa menyembunyikan siapa diriku yang sebenarnya? Dan jika ia tahu... apakah perasaan yang baru saja tumbuh itu akan hancur seketika?

 

Lanjut lagi ke Bab 4?

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!