Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak
Pintu kamar nomor 5 masih bergetar pelan setelah dibanting menutup. Jack berdiri mematung di dekat jendela, tangannya terkepal di samping tubuh, matanya menatap kosong ke arah tirai lusuh yang bergoyang tertiup angin dari celah ventilasi.
Suara tamparan Dasha tadi masih berdengung di telinganya, tapi anehnya, bukan rasa sakit di pipi yang paling ia rasakan,melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti retakan kecil di dinding tebal yang selama ini mengurungnya.
Manda duduk di tepi ranjang, masih memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan yang bercampur dengan amukan. Wajahnya yang tadi menyeringai penuh kemenangan di depan para penghuni kos kini berubah masam begitu pintu tertutup rapat.
Brengs3k temannya si Raya, pipi gue sakit banget digampar sama perempuan g!la itu, tutuk Manda dalam hati.
Urusan Raya dan temannya bisa di selesaikan nanti, yang terpenting ia mengamankan "pengaruhnya" pada Jaka.
"Sayang," panggilnya, suaranya melembut sambil mencoba meraih tangan Jack. Namun lelaki itu tak bergeming, matanya masih terpaku ke luar jendela.
" Jack!" ulangnya, kali ini lebih tajam, "kamu kenapa diem aja? Perempuan gil4 itu bener-bener kebangetan, harusnya tadi kamu bela aku dong, bukannya malah kayak orang bingung! kamu kan sekarang cintanya sama aku. "
Jaka menoleh perlahan, seolah kepalanya seberat batu.
"Raya..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Manda seketika berdiri, wajahnya berubah tegang.
"Apa? Kamu manggil nama dia?"
"Dia... dia jatuh," ucap Jack, suaranya bergetar aneh, seperti dua orang berbicara dalam satu tubuh. "Aku yang dorong dia. Aku liat d4rah di kening dia, Manda. Aku sudah sakitin dia, kenapa aku tega ngelakuin itu?"
Manda mendekat, tangannya mencengkeram lengan Jack erat-erat seperti berusaha menahan sesuatu yang mulai lepas dari genggamannya.
"Sayang, dengerin aku. Itu bukan salah kamu. Cewek itu yang maksa masuk, dia yang bikin ribut. Kamu cuma refleks mempertahankan diri, lagipula kamu kan sudah pilih aku."
"Tapi..." Jack mengerjapkan mata, seperti orang yang baru saja tersadar dari mimpi panjang, "kenapa aku merasakan perasaan yang sulit aku mengerti? Saat dia marah dan kecewa, hatiku sesak kayak ada yang narik dari dalam."
Manda menelan ludah. Ia tahu betul apa yang sedang terjadi, ikatan pelet yang ia pasang mulai goyah, retak sedikit demi sedikit setiap kali Jack berhadapan langsung dengan Raya. Ini bahaya. Sangat bahaya karena ia bisa kehilangan orang yang susah payah ia pelet pake dupa.
"Sayang liat aku," ucap Manda, memaksa wajah Jack menghadap ke arahnya, suaranya kini penuh penekanan hampir seperti mantra. "Kamu cinta aku kan? Kamu udah bahagia sama aku. Raya itu masa lalu kamu, dia udah nggak penting lagi sekarang."
Untuk sesaat, mata Jack kembali meredup, kosong seperti biasa. Tapi tidak sepenuhnya karena terlihat kilat kecil yang masih tersisa di sudut matanya, seperti bara api yang enggan padam meski sudah disiram berkali-kali.
"Iya... aku cinta kamu," ucap Jack, namun nadanya datar, seperti membaca skrip yang dipaksakan.
Manda mendengus lega, namun kelegaan itu tak bertahan lama. Insting yang tajam sebagai orang yang bermain dengan ilmu hitam mulai terlihat gelisah. Ikatan yang ia buat susah payah itu seharusnya kuat, seharusnya tak tergoyahkan. Tapi kehadiran Raya tadi, tangisan Raya, sentuhan tangan Raya yang sempat menggapai lengan Jack, semua itu seperti pukulan telak pada mantra yang ia rapal.
Manda memeluk tubuh Jack, memaksakan pengaruhnya lewat sentuhan seperti biasanya. Ia bukan hanya menyentuh Jack lewat mantra, tapi dia juga menggunakan tubuhnya agar membuat lelali itu lupa pada masa lalunya.
" Sayang, kita lanjutin yang tadi yuk, aku bakal puasin kamu. " ucap Manda langsung melum4t bibir Jaka tanpa ampun.
Dan bisa dipastikan, tidak ada seorang lelaki pun yang menolak pesona tubuh Manda yang penuh susuk itu.
Nasibmu Jack...
🌸🌸🌸
Manda mondar-mandir di depan kamar kost sambil merokok. Kejadian tadi pagi membuatnya geram dan gelisah.
"Siapa yang kasih tau cewek itu alamat sini, sig?" gumam Manda sambil menatap aktivitas penghuni kost yang ada di lantai bawah.
Jack menggeleng pelan, masih setengah linglung setelah "pertempuran dua ronde" bersama Manda.
"Aku nggak tau, Manda. Aku bahkan sudah lost kontak sama banyak orang semenjak berhubungan sama kamu. "
Manda mondar-mandir di depan kamar sempit itu, pikirannya berputar cepat. Kos ini adalah tempat rahasia, tempat yang bahkan tak diketahui oleh rekan-rekan kerja Jack di dealer. Ia sengaja memilih tempat tersembunyi ini agar tak ada yang bisa mengganggu proses "penjinakan" yang sedang ia lakukan pada Jack.
Lantas, bagaimana bisa Raya muncul tepat di depan pintu kamarnya? lengkap dengan para personel yang mendukungnya?
"Ada yang bocorin," desis Manda, matanya menyipit penuh curiga. "Nggak mungkin dia tempat ini."
Ia masuk kembali ke dalam kamar kost dan berjalan ke arah cermin kecil yang tergantung di dinding. Wanita itumengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari dalam lemari yang selama ini disembunyikan di balik tumpukan pakaian.
Di pakaian tersimpan sehelai kain putih yang sudah menguning, terikat rapi dengan benang merah. Disana ada simbol dari pelet kurung ayam yang selama ini mengikat jiwa Jack.
Jack yang melihat gerak-gerik Manda hanya bisa menatap dengan pandangan bingung, seperti anak kecil yang tak paham apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk bertanya, namun lidahnya terasa kelu, seolah ada sesuatu yang menahan setiap kali ia ingin bersuara lantang.
"Manda... itu apa?" tanyanya pelan.
"Bukan urusan kamu, Sayang" jawab Manda cepat, buru-buru menutup kembali kotak itu dan menyimpannya rapat-rapat.
Ia menoleh ke arah Jack dengan tatapan tajam, seperti sedang menilai seberapa jauh kesadaran lelaki itu telah kembali.
"Sayang, kamu istirahat aja dulu. Aku mau keluar sebentar," ucap Manda, nadanya berubah lembut kembali, seolah mencoba menutupi kepanikan yang baru saja muncul.
" Kamu mau kemana?" tanya Jack, entah kenapa ada nada khawatir yang tak biasa dalam suaranya.
"Ada urusan sedikit, Sayang." jawab Manda singkat, sudah sibuk mengganti baju dengan kemeja dan celana jeans, wajahnya kini dipoles cepat dengan bedak tipis.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak di depan pintu. Ia menatap Jack yang masih duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang campur aduk antara bingung dan sesuatu yang mirip kerinduan yang tak bisa ia jelaskan sendiri.
"Sayang, kamu di sini aja. Jangan kemana-mana. Inget, kamu cuma butuh aku. Cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia."
Jack mengangguk pelan, meski matanya sempat melirik ke arah jendela. Ada bisikan kecil dalam hatinya, bisikan yang begitu lemah namun tak sepenuhnya padam.
Raya... maafin aku.
🌸🌸🌸🌸
Manda berjalan cepat menuruni tangga kos, pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar. Ia menyapa ibu kos sekilas dengan senyum dipaksakan, lalu bergegas keluar menuju gang sempit yang menghubungkan kos itu dengan jalan utama.
Di ujung gang, ia berhenti sejenak, mengeluarkan ponselnya, dan mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang yang selama ini menjadi "mentor"-nya dalam dunia perdukunan, seorang paranormal yang membantunya meracik pelet kurung ayam itu.
"Pak, ada masalah. Ikatan yang Bapak kasih ke saya mulai goyah. Cewek yang dulu deket sama target saya, tiba-tiba muncul, tau alamat kos rahasia saya. Ini gimana ya, Pak? Saya takut kalau ini terus kejadian, iketannya bisa lepas total."
Jarinya sempat berhenti sejenak sebelum akhirnya mengirim pesan itu. Angin siang Sukabungah berhembus pelan, membawa debu jalanan yang menari di udara, seolah ikut menyaksikan retakan pertama dari sebuah ikatan gelap yang selama ini disangka tak tergoyahkan.
Manda menatap layar ponselnya, menunggu balasan dengan gelisah, tak menyadari bahwa langkah kaki seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri sedang mengamatinya diam-diam dari balik sebuah warung kelontong kecil di seberang gang.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target