NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Penguasa Jalanan Palsu

Lima hari setelah kasus Mimpi, Bima pergi ke mal besar di Naga Kota untuk membeli kebutuhan apartemen.

Ia memakai mobil biasa sewaan, jauh dari Spectre. Namun di dunia penipu, korban tidak harus terlihat kaya raya. Cukup terlihat sendirian, tenang, dan tidak membawa banyak saksi.

Parkiran siang itu ramai. Bima baru mematikan mesin ketika seorang lelaki tiba-tiba jatuh di belakang mobil, menjerit sambil memegang kaki.

"Aduh! Kaki saya! Ditabrak!"

Seorang lelaki lain berlari dari samping pilar. Wajahnya dibuat marah. Matanya terlalu cepat melihat posisi kamera parkir.

"Hei! Kamu nabrak adik saya! Mau kabur?"

Bima belum membuka pintu penuh. Ia menatap spion, lalu kamera dashboard kecil yang sengaja ia pasang setelah kasus-kasus sebelumnya. Drone Bayangan juga sudah bergerak otomatis sejak mobil masuk parkiran.

[Pembaca Mikro-ekspresi aktif.]

[Purwadi: rasa sakit palsu.]

[Purwanto: agresi terencana.]

Bima keluar pelan. "Saya belum mundur. Mobil belum bergerak."

Purwanto menunjuk dada Bima. "Jangan banyak alasan. Adik saya luka. Mobil kamu mahal, kan? Bayar biaya rumah sakit. Lima puluh juta selesai di sini."

Beberapa pengunjung mulai menoleh. Seorang ibu berkata, "Kasihan, Mas. Kalau benar nabrak, tanggung jawab."

Bima tersenyum. "Betul, Bu. Karena itu kita panggil polisi dan cek CCTV."

Purwadi yang tadi meraung langsung menurunkan suara sedikit. "Tidak usah polisi. Saya orang kecil. Bayar saja buat berobat."

"Kalau orang kecil ditabrak, polisi justru perlu supaya haknya tercatat."

Purwanto mendekat, mencoba menekan. "Mas, jangan sok pintar. Di parkiran begini, saksi banyak. Semua lihat adik saya jatuh."

"Mereka lihat dia jatuh. Belum tentu lihat saya menabrak."

Satpam mal datang. Purwanto langsung mengambil alih cerita, berbicara cepat, menunjuk mobil, menunjuk Purwadi, menunjuk Bima. Teknik klasik: siapa bicara paling dulu, berharap dianggap paling benar.

Bima menunggu sampai selesai.

Lalu ia berkata kepada satpam, "Tolong panggil supervisor dan amankan CCTV parkiran. Saya juga punya dashcam. Jangan izinkan orang ini pergi sebelum polisi datang."

Purwadi mencoba bangkit sedikit, lupa kaki mana yang sakit. Bima melihatnya. Satpam juga melihatnya.

"Tadi kaki kiri, Pak?" tanya Bima.

Purwadi cepat memegang kaki kiri lagi. "Iya. Kiri."

"Menarik. Waktu jatuh tadi Anda pegang kanan."

Beberapa orang mulai tertawa pelan.

Purwanto panik dan mengeluarkan kartu nama palsu. "Saya wartawan lokal. Kalau kamu mempersulit, saya naikkan berita."

Bima mengambil foto kartu itu. "Bagus. Tambah satu bukti pemerasan memakai identitas palsu."

Aiptu Riyanto datang setelah satpam menghubungi polisi. Ia bertubuh tegap, nada suaranya tidak banyak basa-basi.

"Mana rekamannya?"

Bima menyerahkan dashcam dan potongan feed yang sudah dikonversi sebagai rekaman kamera pribadi. CCTV mal juga diputar di kantor keamanan. Gambar itu jelas: Purwadi berdiri di belakang mobil sebelum mesin menyala, melihat sekitar, lalu menjatuhkan diri sendiri. Purwanto sudah menunggu di sisi pilar.

Supervisor mal memukul meja pelan. "Ini orang yang sama dengan laporan bulan lalu?"

Aiptu Riyanto menoleh. "Ada laporan lama?"

Ternyata ada. Beberapa pengunjung pernah membayar damai karena takut ribut. Ada catatan internal mal, tetapi belum pernah dibawa serius ke polisi karena korban memilih pergi.

Purwadi tidak lagi meraung. Purwanto mencoba tersenyum. "Pak, salah paham. Kami cuma panik."

Bima membuka video kedua: Purwanto menuntut Rp50 juta dan menyebut kartu wartawan.

"Salah paham biasanya tidak punya tarif," kata Bima.

Aiptu Riyanto mengamankan keduanya. "Dugaan penipuan dan pemerasan. Kalau kartu wartawan palsu, tambah urusan."

Purwadi tiba-tiba berjalan normal saat hendak dibawa. Semua orang melihat. Seorang pengunjung yang tadi kasihan menutup wajah malu.

Di kantor keamanan, Bima menandatangani keterangan. Ia juga meminta supervisor mal mengumpulkan laporan-laporan lama agar korban sebelumnya bisa dihubungi.

"Kalau mereka sudah melakukan ini dua puluh kali, satu laporan hari ini belum cukup," katanya.

Aiptu Riyanto menatap Bima. "Anda sering begini?"

"Sering didatangi orang yang salah pilih target."

"Kalau begitu Naga Kota harus tambah map khusus nama Anda."

[SBE: Misi Penguasa Jalanan Palsu selesai]

[Peringkat: B+]

[Poin +2.200]

Berita kecil tentang penipu parkiran tertangkap menyebar sore itu. Tidak sebesar kasus Siska, tidak sebesar Perkara 1317. Namun cukup membuat grup warga Naga Kota ramai memperingatkan modus tabrak palsu.

Bima akhirnya membeli rak, panci, dan kabel terminal yang ia butuhkan.

Di kasir, ia melihat ponselnya. Ratna mengirim pesan:

Mas, nanti malam videocall. Ada hal soal kos dekat kampus.

Bima menatap pesan itu lebih lama daripada berita penipu parkiran.

Urusan kecil hari ini selesai.

Aiptu Riyanto meminta supervisor mal membuka arsip keamanan tiga bulan terakhir. Ternyata Purwadi dan Purwanto muncul di beberapa video berbeda, berganti pakaian dan pintu parkir. Polanya sama. Jatuh dekat mobil, teriak sakit, muncul saksi keluarga, minta uang damai.

Seorang satpam muda memukul dahinya. "Pantas wajahnya kayak pernah lihat."

Purwanto mencoba membela diri. "Itu orang lain. Banyak orang mirip."

Bima memperbesar satu frame: tato kecil di pergelangan tangan Purwadi dan cincin batu hitam Purwanto. Dua benda itu muncul di tiga rekaman lama.

"Mirip sekali sampai tatonya ikut mirip," kata Bima.

Aiptu Riyanto menahan senyum. "Masukkan ke berkas. Kita hubungi korban lama."

Satu korban berhasil ditelepon malam itu, seorang sopir travel yang dulu membayar dua juta karena takut dituduh tabrak lari. Suaranya bergetar marah saat melihat rekaman baru. "Pak, saya mau buat keterangan. Saya kira cuma saya yang kena."

Purwadi menutup wajah. Permainan kecilnya berubah menjadi pola kriminal.

Setelah Purwadi dan Purwanto dibawa, supervisor mal meminta maaf kepada Bima karena keamanan mereka lambat mengenali pola. Bima tidak menyalahkannya. Ia memberi satu saran: tempel pengumuman resmi tentang modus tabrak palsu, simpan CCTV minimal tiga bulan, dan jangan mendorong korban membayar damai di tempat.

"Kalau mal takut ribut lalu selalu menyuruh bayar, penipu menganggap parkiran ini ladang," katanya.

Supervisor itu mengangguk serius. "Kami buat SOP baru."

Aiptu Riyanto mendengar dan menambahkan, "Kirim juga laporan internal lama ke kami. Kalau korban lama mau bersaksi, pola mereka makin kuat."

Bima melihat Purwadi dari jauh, duduk di kursi keamanan tanpa berani meraung lagi. Beberapa menit lalu ia orang tertabrak. Sekarang ia hanya orang yang lupa kaki sakitnya sebelah mana.

Seorang saksi pengunjung mendekat ke Bima. "Mas, saya tadi hampir percaya mereka."

"Hampir percaya tidak masalah," jawab Bima. "Yang masalah kalau sudah ada bukti masih memilih percaya teriakan."

Aiptu Riyanto juga memberi nomor laporan awal, lalu meminta Bima siap dihubungi jika korban lama mulai datang memberi keterangan tambahan.

Urusan keluarga, rupanya, baru mengetuk pintu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!