Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Makanlah dan Rasakan!!
Baru setelah Kevin pergi, Jesika yang masih terpaku menoleh kepada Amel dan sedikit menggerutu.
"Nona Amel, apakah sejak awal kau sudah tahu Kevin tidak akan tergoda? Kenapa tidak memberitahuku? Aku tadi sempat khawatir setengah mati."
"Aku tidak tahu," jawab Amel sambil menggeleng. "Aku juga tidak bisa memastikan keputusan yang akan diambilnya. Yang bisa kulakukan hanyalah diam dan mengamati. Jika dia benar-benar orang yang paling penting bagi Divisi Langit, dia tidak akan pergi. Kalau dia memilih pergi, berarti memang bukan."
Jesika membuka mulutnya, tetapi akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah.
Nona Amel memang selalu seperti itu. Dia selalu tenang dalam menghadapi segala situasi, seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu menggoyahkan ketenangannya.
Namun, saat memandangi punggung Kevin yang semakin menjauh, Jesika tetap merasa sedikit gelisah.
Benarkah pemuda itu bisa menjadi orang yang akan membawa Divisi Langit bangkit di dalam Biro Super Nasional?
Sementara itu, di Divisi Kegelapan, Albob yang bertubuh kurus tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
"Kakak, aku punya kabar besar yang pasti akan membuatmu senang."
"Oh? Kabar apa?" Gisela bertanya sambil meregangkan tubuh dengan malas di kursinya.
"Di depan ruang pertukaran, Rangga baru saja mengalami pukulan telak!" Albob berkata dengan penuh semangat. "Dia menawarkan Kevin tiga ribu Poin Jasa dan lebih dari tujuh puluh miliar agar Kevin bergabung dengan Divisi Bumi. Tapi coba tebak? Kevin bahkan tidak menggubrisnya! Rangga sampai marah dan wajahnya membiru!"
"Hahahahahahahah....!"
"Benarkah? Menarik sekali."
Senyum nakal muncul di bibir Gisela.
"Pemuda itu ternyata cukup berkarakter. Berani menolak tawaran sebesar itu. Aku suka pria seperti itu."
"Haaaaaa..... ! Kakak, jangan-jangan kau tertarik pada pria itu?" Albob bertanya dengan gugup.
Begitu melihat senyum penuh arti di wajah Gisela, bulu kuduknya langsung meremang.
Wah, sepertinya masalah besar akan segera muncul.
"Akhirnya ada seseorang di Biro Super Nasional yang berani bertindak berbeda," Gisela terkekeh. "Albob, Kamu memiliki kemampuan kamuflase. Jadi, awasi diam-diam kelompok Rangga. Orang sesombong dia tidak mungkin menerima penolakan seperti itu begitu saja. Dia pasti tidak akan membiarkannya berlalu."
"Baik!"
Tiba-tiba Albob menghilang dalam sekejap.
Sementara itu, ketika Kevin kembali ke rumah tempat tinggal mereka, ketiga wanita di dalam langsung terkejut.
"Kevin, Kamu dari mana saja? Kenapa semalam tidak pulang?" tanya Nagita dengan rasa ingin tahu.
"Hanya menjenguk Kakek, tapi yang terpenting ada sesuatu untuk kalian."
Kevin memperlihatkan senyum lebar.
"Lihat apa yang kubawa. Aku yakin kalian bertiga pasti akan menyukainya."
"Kau membawa hadiah untuk kami? Apa itu? Coba kulihat!"
Nagita langsung bersemangat.
Kevin mengambil tiga mentimun dan lima wortel, lalu mengangkatnya di depan ketiga wanita itu.
"Lihat! Bukankah kalian suka wortel dan mentimun?"
Begitu melihat wortel dan mentimun berukuran besar di tangan Kevin, wajah ketiga wanita itu seketika memerah.
Mereka langsung menatap Kevin dengan tatapan aneh.
"Kevin, menjijikkan sekali!" Nagita memarahiNya dengan wajah merah padam. "Bagaimana mungkin kami menggunakan benda seperti itu?!"
Misela dan Amanda juga langsung memerah.
Kevin benar-benar sudah keterlaluan!
Bagaimana mungkin dia memberikan benda seperti itu kepada mereka dengan begitu terang-terangan?
Yang paling menyedihkan adalah ketiga wanita itu semuanya polos dan sama sekali tidak berpengalaman dalam hal-hal semacam itu. Bagaimana mungkin mereka menghadapi godaan seperti ini?
"Kalian benar-benar mengira benda ini untuk hal seperti itu?"
Kevin benar-benar tidak bisa berkata-kata.
Dia menatap Nagita dengan wajah kesal sekaligus serius.
"Siapa yang pikirannya kotor sebenarnya? Aku jelas-jelas membawa sayuran ini untuk kalian makan! Siapa yang menyuruh kalian menggunakannya? Wortel dan mentimun itu cuma sayuran biasa. Jangan berpikir macam-macam!"
Mendengar penjelasan Kevin, wajah Nagita semakin merah.
Ia merasa, pikiran membuat dirinya terlihat memalukan.
Karena, Begitu melihat sayuran itu, hal pertama yang muncul dalam pikirannya ternyata bukan soal makanan.
Namun, setelah dipikir-pikir lagi, semuanya juga gara-gara Kevin.
Biasanya, seorang pria akan memberikan perhiasan seperti kalung atau gelang kepada seorang wanita sebagai hadiah.
Siapa yang akan memberikan mentimun dan wortel?
Bukankah wajar jika mereka salah paham?
Kevin kemudian menyerahkan masing-masing satu wortel dan satu mentimun kepada mereka.
"Aku hanya berhasil mendapatkan tiga mentimun. Aku sendiri terlalu menyukainya sampai tidak tega memakannya, jadi semuanya kuberikan kepada kalian. Ayo makanlah, dan lihat expresi kalian setelah itu!"
Kevin menatap mereka dengan penuh harap.
Ketiga wanita itu masih merasa sedikit malu, tetapi akhirnya menerima sayuran tersebut.
Jika sayuran ini memang bisa membantu kesehatan mereka, mungkin tidak ada salahnya mencobanya.
Ketika melihat wortel dan mentimun di tangan mereka, mata ketiganya perlahan berbinar.
Sayuran seperti ini sebenarnya terlihat biasa saja, tetapi mereka belum pernah melihat wortel dan mentimun sebesar dan sesegar ini.
Yang paling menarik perhatian mereka adalah aroma harum yang keluar dari sayuran tersebut.
Aromanya begitu menggoda hingga membuat mulut mereka berair.
"Kevin, bagaimana kau bisa berkata begitu?" Nagita mengeluh. "Cuma beberapa wortel dan mentimun, tapi kau malah bilang tidak tega memakannya sendiri. Kau benar-benar pelit!"
"Pelit?"
Kevin langsung terdiam.
Beberapa wortel dan mentimun ini saja nilainya bisa mencapai ratusan juta. Jika diberikan kepada keluarga biasa, jumlah tersebut bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam waktu yang sangat lama.
Dan sekarang mereka malah mengatakan dirinya pelit!
Dia benar-benar merasa sayang untuk memakannya sendiri.
"Sudahlah. Hargai saja niat baik Kevin dan kita coba," Amanda berkata sambil tersenyum.
Mendengar itu, Nagita berhenti mengeluh dan kembali memusatkan perhatian pada wortel di tangannya.
Aromanya benar-benar membuatnya tidak tahan.
Pada akhirnya, ketiga wanita itu memilih memakan wortel terlebih dahulu.
Tidak ada seorang pun yang menyentuh mentimun.
Bukan karena mereka mengetahui betapa berharganya mentimun tersebut, melainkan karena bentuknya benar-benar membuat mereka merasa agak canggung.
Melihat ketiga wanita itu menggigit wortel dengan hati-hati, Kevin diam-diam merasa bersalah.
Pemandangan itu membuat pikirannya melayang ke arah yang tidak seharusnya, terutama ketika lidah Nagita bergerak saat menggigit wortel.
"Gadis ini benar-benar hebat. Bahkan makan wortel saja bisa terlihat begitu menggoda."
Namun, beberapa saat kemudian, Nagita tiba-tiba berseru kaget.
"Bagaimana mungkin wortel ini begitu enak?!"
"Baru satu gigitan, tapi semua rasa lelah di tubuhku langsung hilang!"
"Kevin, dari mana kau mendapatkan wortel ini?" Misela juga bertanya dengan wajah penuh kebahagiaan. "Rasanya luar biasa! Seperti hidangan kelas atas. Tapi anehnya, baru satu gigitan aku sudah merasa setengah kenyang. Sepertinya aku bahkan tidak sanggup menghabiskan satu buah."
"Jangan-jangan ini hasil pertanian khusus dari kampung halamanmu?" Amanda bertanya sambil tersenyum menggoda.
"Benar juga. Sepertinya wortel ini memang memiliki khasiat yang luar biasa."
Kevin langsung merasa sangat gembira.
"Mulai sekarang, aku akan sering membawa wortel untuk kalian. Pastikan kalian makan yang banyak!"
Melihat reaksi mereka, Kevin semakin senang.
Ternyata wortel ini, meskipun terlihat seperti makanan biasa, benar-benar memiliki efek yang luar biasa.
Hanya saja, kandungan energinya terlalu tinggi. Sedikit saja sudah cukup membuat seseorang kenyang.
Meskipun Amanda dan kedua wanita lainnya tidak mampu menyerap energi tersebut seperti seorang praktisi, sebagian kecil energi tetap akan tertinggal di dalam tubuh mereka setelah dikonsumsi. Dalam jangka panjang, hal itu tentu akan sangat membantu meningkatkan kesehatan dan kondisi fisik mereka.
Jika anggota Divisi Langit lainnya mengetahui bahwa Kevin memberikan wortel berharga ini kepada orang biasa hanya untuk meningkatkan kesehatan mereka, mereka mungkin akan menangis darah karena merasa Kevin sedang membuang-buang harta!
Bagaimanapun juga, satu wortel saja bernilai sepuluh juta, dan benda seperti ini sama sekali tidak bisa ditemukan di tempat biasa.
Bagi orang normal, satu-satunya manfaat wortel tersebut hanyalah memperkuat tubuh dan meningkatkan kesehatan.
Mereka sama sekali tidak akan mampu memanfaatkan khasiat luar biasa lainnya yang terkandung di dalamnya.
bibirmu berjenggot?