NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Setelah mendengar cerita sang paman, tiba-tiba ia mengingat wajah seorang anak kecil yang begitu menggemaskan. Kulitnya putih merona dan terlihat begitu kenyal. Tangisannya begitu keras hingga bisa terdengar dari kejauhan.

“Evren, jangan menyalahkan dirimu sendiri karena kejadian hari ini ya,” pesan sang paman sebelum ia pergi ke kamarnya.

Evren langsung menoleh ke arah sang paman. Wajah anak kecil itu perlahan memudar dari ingatannya. Yang tersisa kini hanyalah kenyataan pahit yang sedang menantinya. Setelah dirinya pergi, keluarganya di ibukota harus bekerja keras untuk melanjutkan hidup. Apalagi muncul larangan bepergian dari ibukota untuk keluarganya. Sama saja seperti menjadi tahanan kota. Menjadikan keluarganya sandera agar ia tidak macam-macam selama berada di pengasingan.

“Kesetiaanku ternyata dipandang serendah ini,” gumamnya lirih.

Tiga hari berlalu dengan cepat dan hari ini sudah menjadi hari pemberangkatan sekaligus perpisahan untuknya dengan keluarganya. Evren berdiri di halaman rumah sambil melihat setiap sudut tempat yang selama ini menjadi tempatnya tumbuh besar. Ia hanya membawa beberapa potong pakaian dan sedikit uang yang cukup untuk perjalanan ini. Ia merasa keluarganya nanti akan lebih membutuhkan uang itu daripada dirinya.

Ibunya keluar dari kamar dengan dipapah oleh seorang pelayan. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Wajahnya terlihat lebih tirus meskipun baru tiga hari berlalu. Kantung matanya pun menjadi sangat terlihat dan semakin menghitam.

“Ibu, aku akan baik-baik saja. Aku putramu, Evren Vance si jenderal muda. Tidak akan ada yang bisa melukaiku. Selama bertahun-tahun aku selalu pulang dalam keadaan baik-baik saja kan?”

Mendengar kalimat itu, air mata sang ibu menjadi lebih deras. Ia tidak mampu mengungkapkan kata-kata untuk putra tercintanya. Kedua tangannya terulur lalu meraih Evren masuk ke dalam pelukannya. Evren pun membalas pelukan sang ibu tidak kalah erat.

“ingat untuk mengirim surat setelah sampai di sana,” hanya satu kalimat itu yang mampu ia ucapkan sebagai kalimat perpisahan. Meskipun raga mereka berpisah, tapi ikatan sebagai seorang ibu dan anak tidak akan pernah bisa putus.

Evren mengangguk sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang putih rapih. Tangannya terangkat menghapus air mata sang ibu dan ibunya pun melakukan hal yang sama. Ia menghapus air mata putranya lalu tersenyum.

Suasana di halaman kediaman keluarga Evren terlalu menyayat hati untuk dilihat. Semua orang yang bekerja di kediaman itu tau sebaik apa keluarga Vance selama ini. Entah dosa apa di masa lalu sehingga mereka harus mengalami nasib malang ini.

“Sudah waktunya berangkat!” Seru seorang pengawal utusan pengadilan yang sejak tadi sudah menunggu di luar.

Evren melepas genggaman tangan sang ibu lalu berjalan perlahan keluar dari rumahnya. Rumah yang kini sudah tidak bisa menjadi rumahnya lagi setelah diusir paksa.

Saat kakinya melewati pintu, bayangan saat ia pergi ke medan perang diantar oleh masyarakat Valenor dengan sorakan. Kali ini mereka juga berkumpul di depan kediamannya seperti biasa. Namun tidak ada sorakan hanya ada suasana hening. Ada yang menatapnya dengan begitu sendu, ada yang diam-diam meneteskan air matanya dan ada juga yang menangis sesenggukan.

Evren melihat kerumunan itu lalu merasakan haru di dalam hatinya. Ia memang dikhianati oleh pemimpin negeri ini. Tapi, dia menang di hati pemilik negeri ini yang sesungguhnya yaitu di hati rakyat.

Ia menarik nafas dalam-dalam dan menguatkan hati serta tekadnya. Mungkin saja perjalanan ini akan menjadi awal dari kehidupannya yang baru.

Menanamkan keyakinan bahwa yang ia lindungi selanjutnya adalah rakyat negeri ini, bukan sekedar istana atau raja. Juga ada keluarganya di ibukota yang harus ia lindungi meskipun dari jauh. Mungkin saja kali ini caranya adalah dengan menjaga perbatasan seumur hidupnya.

Berbeda dengan tahanan pada umumnya yang pergi ke pengasingan dengan berjalan kaki, Evren secara khusus bisa pergi menggunakan kereta kuda karena jarak ibukota ke perbatasan di utara sangatlah jauh. Bisa membutuhkan waktu hingga satu bulan kalau harus berjalan kaki. Dengan menaiki kereta kuda, setidaknya bisa memotong setengah dari waktu berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan, Evren tidak berani membuka tirai kereta kudanya. Ia hanya mengintip dari celah tirai dan melihat banyaknya warga yang berdiri di sepanjang jalan.

Saat kereta hampir mencapai gerbang ibukota, Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil berlari dan menghadang keretanya. Prajurit pengawal langsung bertindak dan hampir saja ia mendorong anak itu kalau Evren tidak segera keluar dari kereta.

“Dia hanya anak kecil, jangan bersikap kasar,” Ucapnya dengan tegas kepada dua Prajurit itu.

Meskipun statusnya sekarang lebih rendah dari kedua Prajurit itu, tapi Evren dulu tetaplah seorang jenderal yang memiliki pengalaman perang selama bertahun-tahun. Kedua prajurit itu langsung merasakan tekanan saat mendengar nada bicara Evren yang tegas.

Evren berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan anak kecil tersebut lalu tersenyum manis. Ia menepuk-nepuk pakaian anak tersebut yang kotor karena sempat jatuh ke jalan.

“Ada apa?” Tanyanya dengan nada bicara yang sangat lembut jauh berbeda dibandingkan saat ia berbicara dengan Prajurit tadi.

Anak itu meraih tangan Evren agar membuka telapak tangannya. Evren hanya mengikuti dengan sebelah alis terangkat karena merasa kebingungan.

“Permen?” Tanyanya saat melihat benda apa yang diletakkan anak itu di telapak tangannya.

“Ibu bilang permen bisa hilangkan sedih,” Ucapnya lirih.

Evren lagi-lagi tersenyum, ia memeluk anak kecil itu lalu menepuk kepalanya pelan.

“Terimakasih, sekarang kakak sudah tidak sedih lagi berkat permen ini.”

“kalau sudah besar nanti, aku akan menjadi jenderal seperti kakak!” Seru anak itu dengan penuh semangat membuat Evren tersenyum kecil.

Setelah mengatakan itu, anak kecil itu berlari ke arah kerumunan dan memeluk seorang wanita muda. Anak itu terlihat senang dan langsung mengadukan apa yang baru saja Evren katakan. Evren bertemu tatap dengan wanita itu lalu keduanya tersenyum ramah.

Ia tidak mengenalnya sama sekali, wanita itu hanya orang asing baginya. Namun Evren adalah penyelamat bagi wanita itu. Tanpa jendral muda Evren, anaknya mungkin tidak akan memiliki kesempatan untuk makan permen akibat perang yang tidak ada ujungnya.

Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam kereta kuda dan melanjutkan perjalanan. Evren terus menatap permen di tangannya lalu ia memasukkannya ke dalam kantong bajunya.

Kereta kuda meninggalkan ibukota tepat di bawah teriknya matahari. Setelah keluar ibukota, hanya tanah gersang yang terlihat. Cukup lama hingga akhirnya ia kembali melihat rimbunnya pepohonan.

Evren sudah terbiasa melihat dunia luar, namun baru kali ini ia benar-benar bisa melihatnya seperti ini. Dulu ia hanya melewatinya saja dengan kudanya yang membawanya berlari sangat cepat. Tapi kali ini ia bisa menikmatinya dari balik jendela kereta.

Kereta berhenti di depan sebuah penginapan yang tidak jauh setelah batas masuk kota Meridia. Pepohonan di sekitar sini cukup rimbun hingga membuat suasananya terasa sangat sejuk. Tempat yang jauh berbeda dengan tanah gersang di luar gerbang ibukota.

“Tempat yang tepat untuk disergap,” Celetuknya tiba-tiba setelah melihat-lihat sekitar sebelum ikut masuk ke dalam penginapan.

Pandangannya menyapu area sekitar penginapan. Tidak ada rumah penduduk dalam jarak dekat. Semak belukar di belakang bangunan tumbuh setinggi dada orang dewasa, sementara pepohonan besar menutupi sebagian cahaya matahari. Jika ada seseorang bersembunyi di sana, bahkan dirinya pun mungkin tidak akan langsung menyadarinya.

Evren menggelengkan kepalanya pelan lalu mengingatkan dirinya untuk tidak berlebihan. Ia sudah bukan lagi jendral yang perlu waspada seperti sebelumnya. Ia menahan instingnya lalu ikut memesan makanan bersama dengan dua Prajurit pengawal dan membiarkan dirinya menikmati makan siang seperti pengembara biasa.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!